
"Tapi …" sebelum Phoenix Raja menyelesaikan ucapannya, Chen Li telah lebih dulu memotongnya.
"Cukup!!! Kalau kau ingin ikut, silahkan ikut. Jika kau tidak ikut, tidak masalah. Seorang diri pun aku berani pergi ke markas Organisasi Elang Hitam. Persoalan apakah masalahnya akan melebar atau tidak, itu urusan nanti. Yang jelas, Organisasi Elang Hitam harus aku basmi,"
Suaranya datar dan dingin. Wajahnya juga dingin. Hawa kematian pekat merembes keluar dari setiap pori-pori di tubuhnya.
Kalau Chen Li sudah seperti ini, jangankan Phoenix Raja, Huang Taiji pun hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginannya.
Bocah itu berbeda dengan ayahnya. Kalau dia sudah mempunyai keinginan, jika keinginannya belum terpenuhi, maka sampai kapanpun dia akan tetap berusaha mencapai dan mewujudkan keinginannya tersebut.
"Haishh, baiklah kalau begitu. Aku akan turut mendampingi Tuan Muda. Tapi Tuan Muda harus ingat perkataan Tuan Huang, kalau situasinya tidak mendesak, tolong jangan keluarkan aku agar masalahnya tidak bertambah semakin rumit lagi," kata Phoenix Raja sedikit lesu.
Chen Li tersenyum simpul. Dia melirik sekejap kepada siluman peliharaan kesayangannya tersebut.
"Kau tenang saja. Aku tidak akan meluapakan pesan Paman Huang," ujarnya sambil mengelus kepala Phoenix Raja.
Chen Li menyambar cawan arak, dia langsung memberikannya kepada burung itu. Meskipun hanya seorang siluman, namun Phoenix Raja mempunyai kebiasaan seperti manusia.
Dia doyan arak. Tentunya arak yang harum dan mahal, bukan arak murahan.
Chen Li juga menyambar guci araknya. Dia menenggak arak tersebut tanpa berhenti. Sesaat kemudian, lebih dari setengah arak sudah dia habiskan.
"Sekarang kita harus bersiap-siap sebelum melakukan semuanya," ucap Phoenix Raja.
"Setuju. Tapi aku ingin membersihkan diri dulu," jawab Chen Li.
Begitu dia selesai berkata, tubuhnya sudah melompat lalu meluncur jauh ke depan.
Byurrr!!!
Chen Li berenang di sebuah sungai cukup besar yang mempunyai air jernih. Phoenix Raja tidak ikut berenang, dia hanya melihat tuan mudanya dari atas dahan pohon.
Di sungai tersebut terdapat satu air terjun yang tidak terlalu tinggi. Chen Li langsung menuju ke sana untuk melakukan semedi. Dia ingin menenangkan pikiran dan memantapkan semuanya.
Dalam hal seperti ini, semuanya harus dipersiapkan. Baik itu ketenangan hati, maupun ketenangan pikiran.
Chen Li bersila di atas batu tepat di bawah air terjun. Sesaat kemudian, dirinya sudah mencapai keheningan. Jiwanya telah menyatu bersama alam.
__ADS_1
###
Malam telah datang kembali. Kebetulan malam ini adalah malam purnama. Malam yang harusnya gelap, sekarang menjadi terang karena cahaya rembulan yang menyorot ke muka bumi.
Bau harum bunga mekar tercium menusuk hidung. Keharuman itu sangat khas, memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi manusia. Suara jangkrik dan lolongan serigala saling sahut. Suara binatang lain juga terdengar silih berganti.
Chen Li baru menyelesaikan semedinya beberapa saat lalu. Tubuhnya basah kuyup, namun dalam sekejap tubuh serta pakaian itu bisa kering kembali karena saluran tenaga dalam dan hawa murni.
Burung Phoenix Raja masih setia menunggu majikannya.
"Ternyata sekarang bulan purnama," ujar Chen Li sambil memandang ke atas.
"Benar, malam ini purnama telah sempurna. Malam yang indah, malam yang sejuk,"
"Juga malam yang cocok untuk melakukan pembantaian," timpal Chen Li sambil membetulkan pakaiannya.
Phoenix Raja tidak menjawab. Sebenarnya dia masih kurang setuju, tapi mau bagaimana lagi, Chen Li sangat keras kepala.
"Apakah kau sudah siap?" tanya Pendekar Merah kepada siluman peliharaannya.
"Kapanpun aku selalu siap mengikuti Tuan Muda,"
Chen Li kemudian mengeluarkan sebuah kantong yang terbuat dari kulit kirin. Phoenix Raja tiba-tiba lenyap dari pandangan. Dia telah masuk ke dalam Kantong Siluman.
Bocah itu tidak langsung bergerak. Chen Li berdiri kokoh tanpa bergerak, sepasang matanya menatap jauh ke depan di balik kain sutera putih yang selalu menutupinya.
"Dendamku abadi. Dendam ini tidak akan tuntas sebelum semua musuhku mati di tanganku. Organisasi Elang Hitam, kalian adalah target pertamaku. Terimalah kemarahanku ini …"
Roarrr!!!
Raungan naga terdengar menggelegar seperti suara halilintar yang mengerikan. Angin mendadak berhembus kencang dan menerbangkan beberapa batang pohon yang ada di sekitar tempat tersebut.
Wushh!!!
Chen Li terbang dengan cepat. Jubah merahnya berkibar agung tapi membawa aura menyeramkan seperti bayangan setan dari neraka. Dia pergi dengan membawa sebuah niat. Niat untuk menghancurkan salah satu organisasi yang berbaya
Bulan sudah berada di atas kepala. Awan kelabu yang tadi menyelimuti bumi, sekarang sudah tidak ada lagi. Awan itu menghilang entah ke mana. Sekarang langit benar-benar lenggang tanpa apapun sehingga membuat sinar rembulan semakin terang menyorot muka bumi.
__ADS_1
Sebuah bangunan megah sekaligus tinggi terpampang di depan Pendekar Merah. Bangunan itu nampak angker. Apalagi di atas atap bangunan terdapat tiga buah patung burung elang berukuran cukup besar.
Suasana di sana terasa menakutkan. Kalau orang yang tidak mempunyai keberanian tinggi masuk ke dalamnya, mungkin orang itu akan langsung jatuh pingsan karena hawa kematian yang teramat kental.
Chen Li berdiri puluhan tombak di depan bangunan tersebut. Dia menatap sekejap ke arahnya.
Senyuman dingin diperlihatkan. Wajah yang datar telah dipasang.
Wushh!!!
Tiba-tiba Chen Li melesat dengan sangat cepat. Tubuhnya meluncur deras ke depan. Dia langsung menyambar para penjaga gerbang yang berjumlah empat orang.
Srett!!! Crashh!!!
Sekali dia meluncur ke depan, empat orang nyawa manusia telah melayang. Darah muncrat membasahi gerbang. Mereka tewas tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Siapapun tidak akan ada yang dapat membayangkan bagaimana cepatnya serangan bocah itu.
Brakkk!!!
Pintu gerbang yang terbuat dari kayu hitam pilihan langsung hancur berkeping-keping karena ditendang oleh Pendekar Merah.
Suara hancurnya pintu gerbang tersebut terdengar ke seluruh area markas Organisasi Elang Terbang. Hal itu membuat para penghuni markas langsung berlarian keluar.
Chen Li berjalan dengan santai. Dia sama sekali tidak memperdulikan orang-orang yang mencoba untuk mengurungnya tersebut. Bocah itu tetap berjalan ke depan. Tatapan matanya juga lurus ke depan.
Wushh!!!
Puluhan sinar mendadak menerjang dari segala arah. Sinar itu merupakan serangan jarak jauh yang dilancarkan oleh pata anggota Organisasi Elang Hitam.
Chen Li berhenti berjalan. Dia mengibaskan tangan kiri bersamaan dengan kibasan Pedang Merah Darah.
Duarr!!!
Ledakan keras terdengar. Puluhan sinar tadi langsung lenyap. Beberapa anggota Organisasi Elang Hitam terlempar sepuluh langkah ke belakang. Mereka langsung muntah darah cukup banyak.
Sesaat kemudian, anggota yang menjadi korban itu telah meregang nyawa akibat luka dalam yang diderita ternyata cukup berat.
"Malam-malam begini, siapa yang berani mengacau di tempatku?" sebuah suara tiba-tiba terdengar menggema.
__ADS_1
Dari suara tersebut terdapat satu kekuatan hebat yang sengaja disalurkan lewat gelombang suara. Kalau orang biasa, maka orang yang dituju pasti akan mampus karena saking bahayanya tenaga tersebut. Sayangnya yang dituju bukan orang biasa, dia adalah Pendekar Merah.
Seorang pendekar muda yang membawa serta dendam sedalam lautan.