
Dua minggu sudah berlalu. Tetapi perang masih terasa baru terjadi kemarin. Perang di Sekte Bukit Halilintar memberikan kenangan tersendiri bagi murid-murid yang ada di sana. Bahkan bagi para tetua juga sama.
Keadaan di sana memang sudah kembali seperti biasa. Semuanya berjalan dengan normal. Namun hati mereka tidak sama dengan apa yang terlihat diluar.
Hati semua orang Sekte Bukit Halilintar masih diselimuti duka. Kesedihan. Amarah, benci dan dendam.
Siapa yang tidak marah melihat saudara sendiri tewas secara mengenaskan di tangan musuh? Semuanya pasti akan merasa marah.
Namun di balik semua ini, ada sebuah hikmah tersendiri. Para murid Sekte Bukit Halilintar menjadi bertambah giat dalam berlatih. Setiap hari, tidak ada kata tidak berlatih. Semua murid pasti akan berlatih.
Kejadian kemarin menjadi sebuah pelajaran berharga bagi mereka. Di zamannya ini, kekuatan yang paling utama. Jika kau kuat, maka kau akan hidup. Dan jika kau lemah, kau akan mampus.
Pepatah tentang di balik cobaan ada hikmah yang terkandung di dalamnya memang terbukti nyata. Yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah kita mau menggali dan mencari hikmah itu, atau tidak?
Shin Shui sudah tidak ada di Sekte Bukit Halilintar. Penyerangan kepada sektenya beberapa waktu lalu menjadi sebuah bukti kuat bahwa perang besar akan terjadi sebentar lagi.
Pendekar Halilintar telah pergi untuk menuju ke Istana Kekaisaran. Dia pergi seorang diri. Tanpa ada yang mengawal ataupun menemani. Dalam situasi sekarang, dirinya harus bergerak cepat. Karena itulah Shin Shui memilih untuk bepergian seorang diri supaya dirinya bisa bergerak lebih leluasa lagi.
Chen Li sendiri masih ada di sektenya. Dia telah sembuh dari dsbsyatnya kekuatan Mata Dewa. Setelah dirinya sadar dan keadaannya kembali pulih, Huang Taiji langsung melatihnya.
Dia di bawa ke sebuah hutan dekat Sekte Bukit Halilintar. Di tempat itulah Pendekar Tanpa Perasaan di gembleng siang dan malam oleh Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.
Bocah itu hanya berhenti berlatih saat waktunya mengisi perut, membersihkan diri dan istirahat. Selain tiga hal tersebut, dia akan terus dilatih dengan sangat keras oleh Huang Taiji.
Orang tua itu mulai melatih Chen Li terkait bagaimana menggunakan dan menguasai Mata Dewa yang sudah bangkit. Bahkan secara perlahan, dia juga mengajarkan bagaimana caranya menyatukan dua unsur tersebut.
Selama proses latihan, Chen Li tidak pernah membantah. Walaupun tubuhnya lelah, walaupun jiwanya ingin menyerah, tapi sekalipun dia tidak pernah membantah.
__ADS_1
Apa yang dikatakan Huang Taiji akan langsung dilakukan. Bahkan jika dia menyuruhnya terjun ke jurang tanpa dasar, Chen Li mungkin akan melakukannya tanpa membantah.
Hal ini dia lakukan karena Chen Li sadar bahwa saat mencari ilmu, tidak ada yang mudah. Semuanya susah. Semuanya butuh perjuangan keras.
"Li'er, terus berlatih. Jangan pernah berhenti, saat Ayahmu kembali, latihanmu baru selesai. Kalau kau menuruti semua perkataan Paman, kau akan sanggup menandingi Pendekar Dewa tahap tiga dari semua tingkatan. Namun jangan mencoba-coba bertarung dengan Pendekar Dewa tahap empat, kau masih belum cukup kuat. Karena selain pengalamanmu masih sedikit, kekuatanmu juga belum memadai. Mata Dewa akan sempurna jika semua unsur telah terbuka," kata Huang Taiji saat Chen Li dan dirinya sedang istirahat di bawah sebuah pohon rindang.
"Baik Paman. Li'er mengerti, apapun yang Paman katakan, Li'er pasti akan melakukannya,"
Huang Taiji tersenyum sambil mengangguk. Dia mengelus kepala keponakannya tersebut. Rasa sayang kepada Chen Li semakin besar. Dia menjadi bertekad untuk menjaga Chen Li hingga tugasnya selesai.
Bahkan kalau memang mungkin, orang tua itu akan menjaganya kembali hingga nyawanya melayang.
###
Shin Shui tiba di Istana Kekaisaran saat malam hari. Ketika itu cuaca cerah. Rembulan bersinar dengan tenang di atas sana.
Pada hakikatnya, Kotaraja memang selalu hidup. Selama dua puluh empat jam, Kotaraja tidak pernah mati walau sesaat.
Shin Shui melesat sangat cepat dari satu atap bangunan ke atap bangunan lainnya. Pendekar Halilintar bergerak seperti bayangan, sangat cepat dan mustahil bisa dilihat dengan jelas oleh orang biasa.
Setelah beberapa saat menempuh jarak, akhirnya dia tiba di tujuan utamanya.
Shin Shui punya niat untuk menguji keamanan Kotaraja. Dia tidak ingin masuk secara baik-baik. Justru sebaliknya, Pendekar Halilintar ingin memasuki Istana Kekaisaran lewat cara yang tidak baik.
Dia bergerak seperti halnya seorang penyusup ulung. Tubuhnya berkelebat tanpa diketahui oleh para penjaga gerbang. Gerbang pertama berhasil dia lewati dengan mudah. Gerbang kedua juga berhasil dilewati tanpa halangan apapun.
Tanpa sadar, Shin Shui mulai merasa kesal. Bagaimana mungkin Istana Kekaisaran mempunyai keamanan yang demikian buruknya. Kenapa tidak ada tokoh kelas atas yang menjaga?
__ADS_1
Shin Shui turun di tengah halaman yang menuju ke gerbang ketiga. Dia menunggu beberapa saat barangkali ada yang datang. Suara tawa seperti raungan iblis dia keluarkan. Sesaat kemudian, dua puluhan tokoh yang terbilang cukup lumayan sudah mengepungnya dengan rapat.
"Siapa kau?" tanya salah seorang di antara mereka.
"Kau belum pantas untuk mengetahui siapa aku," jawab Shin Shui dengan dingin.
Saat itu dia sedang berada dalam penyamaran. Pendekar Halilintar memakai pakaian hitam serta cadar hitam pula. Karena alasan itulah tidak ada seorang pun yang dapat mengenali siapa dirinya.
Wushh!!!
Shin Shui melesat cepat secara tiba-tiba. Kedua tangannya mengibas sehingga mengeluarkan suara mendengung layaknya ribuan lebah berbunyi secara serentak.
Bergulung-gulung angin dahsyat keluar saat kibasan tangannya dilancarkan. Puluhan tokoh itu bergerak secara serentak. Mereka mencabut senjatanya masing-masing, teriakan kemarahan mulai terdengar.
Berbagai macam jurus sudah dilayangkan oleh masing-masing dari mereka. Kilatan berbagai macam senjata pusaka yang tajam terlihat membelah udara. Puluhan desingan angin tajam menerpa tubuh Shin Shui secara bersamaan.
Serangan yang mereka lontarkan terbilang berbahaya. Setiap serangannya mengandung kekuatan hebat.
Untungnya yang sedang mereka hadapai adalah Pendekar Halilintar. Pendekar terkuat Kekaisaran Wei saat ini.
Shin Shui bergerak ke sana kemari seperti sebuah bayangan. Setiap serangan para penjaga Istana Kekaisaran berhasil dia gagalkan hanya dengan empat puluh persen kekuatannya.
Kibasan sepasang tangan, tendangan kedua kaki, semuanya mampu menandingi serangan para penjaga tersebut. Shin Shui mematahkan beberapa senjata pusaka para penjaga itu. Hal seperti ini tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, sehingga saat menyadari pusaka mereka patah, para tokoh penjaga itu semakin tersentak.
Melihat sepak terjang lawan yang bisa menghindari semua serangan gabungan, mereka menjadi kehilangan rasa percaya dirinya. Jumlah mereka cukup banyak, namun sekalipun ditambahkan sepuluh orang lagi, jika kekuatannya masih sama, maka hasilnya akan percuma.
Mereka tetap tidak akan sanggup mengalahkan penyusup tersebut.
__ADS_1