Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertarungan di Hutan Misteri I


__ADS_3

Ditantang seperti itu, tentu saja Shin Shui tidak merasa takut sama sekali. Bahkan dia sendiri juga sebenarnya penasaran dengan orang itu. Walaupun dari namanya cukup untuk membuat anak kecil menangis, tapi Shin Shui tidak ciut nyalinya.


"Baik, kita buktikan saja sekarang. Aku ingin melihat seperti apa kekuatan Raja Siluman Tampa Ampun. Hemm, apakah sesuai namanya, atau hanya omong kosong saja," balas Shin Shui sambil mengejek.


Setelah berkata seperti itu, dia segera memegang kepala Chen Li. Seperti biasa, sebagai ayah yang baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung, Shin Shui menyalurkan tenaga murninya untuk sang anak.


Hanya saja, penyaluran tenaga dalam dan kekuatan sekarang berbeda dengan yang sebelumnya. Kalau sebelumnya hanya sedikit, kali ini Shin Shui menyalurkan tenaga dalam dan kekuatan dengan jumlah besar.


Cahaya biru terang mulai memasuki kepala Chen Li. Sedangkan si bocah merasakan hawa hangat dan dingin bercampur menjadi satu. Setelah beberapa saat, proses selesai juga.


Chen Li merasa tubuhnya jauh lebih segar beberapa kali lipat. Bahkan dia merasakan hal berbeda, tubuhnya menjadi ringan. Dan kekuatan yang terasa pun semakin hebat. Aliran darahnya deras, begitu juga dengan aliran tenaga dalam.


Tepat ketika Shin Shui selesai menyalurkan tenaga dalam dan kekuatan kepada anaknya, saat itu terlihat sebuah bayangan hitam menyeramkan terbang dengan cepat ke arahnya.


Raja Siluman Tanpa Ampun.


Dia sudah memulai serangan pertamanya. Sebuah hantaman tongkat berkepala ular disabetkan mengincar pinggang Shin Shui. Gerakannya memang sederhana dan sangat lambat. Tapi itu hanya terlihat bagi si orang yang akan diserang, sedangkan bagi orang lain yang melihat, sesungguhnya sabetan tongkat itu sangat cepat sekali.


Kecepatannya tidak bisa dibayangkan. Bahkan mungkin melebihi kecepatan balasan pesan kekasih.


Shin Shui bukan pendekar sembarangan, walaupun dia melihat bahwa serangan tersebut lambat, tapi dia tahu yang sebenarnya. Dengan gerakan yang sedikit lebih cepat, Pendekar Halilintar melompat ke samping lalu segera mencabut pedang pusaka kebangaannya.


Pedang Halilintar.


Kalau pedang pusaka nomor satu sudah keluar, itu artinya musuh yang dihadapi oleh Shin Shui bukanlah sembarang musuh.


Sementara itu di sisi lain, Maling Sakti Hidung Serigala juga sudah memulai pertarungannya bersamaan dengan pertarungan Shin Shui tadi.

__ADS_1


Ratu Siluman Liar. Seorang nenek tua yang ternyata masih memiliki kekuatan luar biasa. Mau tidak mau, Maling Sakti harus mengakui bahwa nenek tua tersebut memang sangat hebat. Dia bisa menilai hanya melihat gerakan dan kelincahannya saja.


Ratu Siluman Liar kira-kira baru berumur enam puluh tahun. Bajunya merah darah dengan perhiasan indah di berbagai macam titk tubuh. Senjatanya berupa pedang berduri dan kipas yang terbuat dari tulang serta kulit binatang.


Dua senjata itu memang terlihat aneh. Namun jangan salah, entah sudah berapa banyak nyawa, baik itu manusia ataupun siluman yang menjadi mangsanya.


Maling Sakti tidak mau gegabah. Dia sadar bahwa lawan sangat tangguh. Bahkan di atasnya satu tingkat. Kalau terjadi sedikit kesalahan saja, maka bisa dipastikan bahwa nyawanya terancam.


Saat pertarungan baru berjalan sebentar, Maling Sakti Hidung Serigala sudah langsung mengeluarkan Pedang Langit Tombak Bumi. Sebenarnya dia jarang mengeluarkan pusakanya saat awal pertarungan, tetapi keadaan sekarang merupakan pengecualian.


Kalau dia tidak mengeluarkan dengan segera, maka nyawanya akan menjadi taruhan.


Ratu Siluman Liar sekarang berada dalam posisi menyerang. Gerakannya penuh dengan tipuan tak terduga. Kipasnya dia kibaskan sehingga mengeluarkan deru angin besar. Bersamaan dengan itu, pedang berduri di tangan kanannya juga disabetkan seperti awal. Namun kali ini lebih hebat lagi.


Maling Sakti tidak tinggal diam. Dia berusaha menghindari deru angin dari kibasan kipas lalu kemudian membenturkan senjatanya dengan milik lawan.


"Trangg …"


Tapi si Maling Sakti juga tidak ciut. Setelah membenturkan pusaka, dia segera menariknya kembali lalu melancarkan serangan lainnya.


Keduanya segera bertarung dengan sengit sambil terus mengeluarkan jurus-jurus hebat.


Sementara itu si bocah kecil Chen Li, kini sedang di kepung oleh lima belas ekor siluman. Kekuatan siluman yang mengepungnya hampir setara dengan Pendekar Langit tahap tiga.


Kalau tidak mendapatkan bantuan dari ayahnya, sudah pasti dia tidak akan sanggup bertahan lama. Tetapi kenyataan sekarang berbeda.


Setelah mendapatkan penyaluran tenaga dalam dan kekuatan, untuk beberapa waktu ke depan, kekuatan Chen Li akan setara dengan Pendekar Surgawi tahap lima akhir.

__ADS_1


Lima belas siluman sudah menyerang secara bersamaan. Berbagai macam siluman menyerang dari segala sisi. Ada yang menyembur, mencakar, menendang, bahkan menyabetkan ekor.


Kekuatan gabungan para siluman memang cukup dahsyat. Sampai-sampai mampu mengeluarkan deru angin yang lumayan hebat.


Chen Li sudah siap dengan kondisi seperti sekarang. Maka tanpa keraguan lagi, dia segera menggelar jurusnya yang hebat.


Pedang Awan dan seruling giok hijau telah keluar. Begitu serangan lima belas siluman hampir tiba, Chen Li bergerak.


Tubuhnya melesat cepat sambil memutarkan Pedang Awan sehingga terbentuk sebuah pusaran angin. Seruling giok hijau dia mainkan dengan sangat cepat. Sebuah sinar hijau berkelebat membabat serangan demi serangan yang dilancarkan lawan.


Pertarungan baru berjalan sebentar. Tapi Chen Li sudah berada dalam gulungan serangan. Berbagai macam sinar menyambar ke arahnya. Puasaran angin yang diciptakan oleh Chen Li menerjang jurus jarak jauh.


Sedangkan seruling hijau menangkis semua serangan jarak dekat. Karena kekuatanya meningkat pesat, maka kedahsyatan jurusnya juga bertambah.


Dalam waktu singkat, bocah berusia dua belas tahun tersebut telah bertarung hebat melawan para siluman.


Shin Shui dan Raja Siluman Tanpa Ampun sudah mengeluarkan berbagai macam jurus dan serangan dahsyat. Di antara pertarungan lain, pertarungan mereka lah yang paling mengerikan.


Setiap serangan yang dilancarkan masing-masing di antara mereka, mampu untuk menghancurkan satu bangunan besar.


Menurut penilaian Shin Shui, si Raja Siluman Tanpa Ampun itu setidaknya berada dalam tingkatan Pendekar Dewa Tahap tujuh awal. Tingkatan yang sama, tetapi dalam tahapan berbeda.


Namun bukan berarti Shin Shui mampu mengalahkannya dengan mudah. Justru dia harus ekstra konsentrasi supaya tidak salah langkah. Satu langkah salah, nyawanya jadi jaminan.


Pedang Halilintar sudah dimainkan dengan gerakan indah dan gemulai. Pedang tersebut menebarkan cahaya biru terang yang membawa kabar kematian.


Tongkat milik Raja Siluman Tanpa Ampun seringkali berbenturan dengan Pedang Halilintar. Setiap benturan terjadi, kakek tua itu merasakan tangannya perih dan bergetar.

__ADS_1


Dia semakin marah, Raja Siluman Tanpa Ampun berteriak. Teriakan yang cukup aneh di telinga Shin Shui. Namun detik selanjutnya, Pendekar Halilintar mengetahui maksud dari suara tersebut.


Ternyata si Raja Siluman Tanpa Ampun memanggil anak buahnya. Mendadak saja dua ekor elang berwarna merah darah menukik secepat kilat ke arah Shin Shui.


__ADS_2