Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Masalah Mulai Bermunculan


__ADS_3

Setelah selesai mengobati Chen Li, Shin Shui dan yang lainnya pun segera minum arak dan makan daging yang daritadi sudah disediakan oleh tuan rumah. Ruangan tersebut tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, tetapi setiap ornamen yang ada di dalamnya sangat pas sekali.


Sehingga terlihat lebih indah dan menawan. Siapapun pasti akan dibuat betah.


"Pahlawan, apakah kau tahu siapa ketujuh orang ini?" tanya Hwe Koan kepada Shin Shui sambil menenggak gelas berisi arak.


"Jujur saja aku masih kurang pengalaman, sehingga tidak mengenal mereka ini. Mohon maaf kalau aku lancang," kata Shin Shui penuh hormat.


"Hahaha, pahlawan jangan sungkan. Nama kami memang tidak sebesar nama pahlawan Kekaisaran Wei. Sehingga wajar kalau pahlawan tidak kenal kami, tapi kami sudah tentu kenal pahlawan. Walaupun baru kali ini kita bisa duduk bersama. Perkenalkan, namaku Shu Cuan. Kepala Tetua dari Sekte Embun Racun," kata seorang pria berumur lima puluh tahunan memperkenalkan dirinya.


Dia membawa sebatang tombak di punggung. Wajahnya sedikit angker dengan pakaian biru tua.


"Ahh, ternyata seorang yang terhormat. Salam bertemu Kepala Tetua Shu. Sekali lagi mohon maaf atas diriku yang tidak mengenal nama besar tuan," kata Shin Shui.


"Ehh sudah-sudah, tidak perlu seperti itu. Nah dan yang ini, tiga orang Tetua di Sekte Embun Racun. Ini In Tui, ini Ang Mo, ini Xi Lo," katanya sambil memperkenalkan yang lain.


Shin Shui kembali memberi hormat kepada mereka.


"Nah sedangkan ini adalah Tetua Sekte Gunung Batu Hitam. Bian Cheng, Wu Lung, Khu Sie," ucap Hwe Koan memperkenalkan kepada Shin Shui.


Shin Shui akhirnya paham semuanya. Ternyata yang membantu dia merupakan orang-orang dari aliran hitam. Dalam hatinya, dia heran juga. Kenapa Chen Li mencari bantuan dari para pendekar aliran hitam?


Tapi hal itu sepertinya telah terbaca oleh Hwe Koan. Sehingga dia pun menjelaskan semuanya.


"Pahlawan jangan heran. Walaupun kami aliran hitam, tetapi kami tidak ada sedikitpun niat jahat. Jujur saja, kami turut turun tangan dalam mengusir para pendekar yang menggangu Kekaisaran Wei ini. Sebagian anggota Sekte Gunung Batu Hitam sudah menyebar ke berbagai penjuru. Selain itu, ada juga beberapa sekte di bawah kekuasaanku yang menyebar pula. Menurutku dalam menghadapi masalah ini kita memang harus saling membantu," kata Hwe Koan menjelaskan.

__ADS_1


"Kepala Tetua Hwe benar. Memang sudah seharusnya kita menjaga tanah air kita. Hanya saja yang aku herankan, kenapa yang berhasil Li'er bawa justru orang-orang dari aliran hitam. Kenapa tidak aliran putih?" tanya Shin Shui bertanya-tanya tanpa merendahkan orang-orang yang ada di ruangan tersebut.


"Kalau masalah itu, biarlah tuan muda yang menjelaskan supaya lebih rinci lagi. Aku hanya tahu sekilas dari ucapan tuan muda sebelumnya," ucap Hwe Koan.


"Li'er, jelaskan pada ayah apa yang sudah terjadi," pinta Shin Shui.


"Baik ayah. Saat ayah menyuruh Li'er mencari bantuan ke sekte-sekte terdekat, Li'er langsung ke sana. Setelah bertanya kepada orang-orang, akhirnya berhasil juga. Li'er lalu ke sekte itu dan menjelaskan apa yang sudah terjadi,"


"Apakah kau memberitahu bahwa aku yang menyuruhmu dan kau juga memperlihatkan lencana itu?" tanya Shin Shui memotong.


"Tentu ayah. Li'er memperlihatkan lencana dan menjelaskan semuanya,"


"Lalu apa kata mereka?" tanya Shin Shui penasaran.


"Mereka mengatakan berbagai macam alasan. Ada yang bilang sekte mereka terkena musibah, ada yang bilang juga Kepala Tetuanya sedang bertapa sehingga tidak berani memutuskan. Pokoknya semua sekte aliran putih yang Li'er datangi memberikan alasannya masing-masing," kata Chen Li terlihat kesal sekali.


"Aku sengaja mendatangi sekte ini. Lalu kepada para penjaga memperlihatkan lencana pemberian ayah. Setelah diizinkan masuk, aku langsung membicarakan semuanya kepada paman Hwe,"


Shin Shui melirik ke arah Hwe Koan dan dibalas dengan anggukan olehnya.


"Setelah itu aku memanggul tiga tetua lainnya. Lalu aku suruh meminta bantuan juga ke sekte terdekat yang ada di bawah kekuasaanku. Karena kami ada sedikit persoalan, sehingga tidak bisa membawa semua tetua. Harap pahlawan mengerti," kata Hwe Koan.


"Aku justru sangat merasa sangat berterimakasih kepada Kepala Tetua Hwe dan yang lainnya. Karena kalau tidak ada kalian, mungkin aku sudah tewas," ucap Shin Shui.


"Pahlawan terlalu merendah. Kami semua percaya kepada pahlawan. Hanya mungkin untuk membereskan mereka, pastilah membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Apalagi mereka pendekar dari Kekaisaran lain," kata Shu Cuan, Kepala Tetua Sekte Embun Racun.

__ADS_1


"Hahaha, Kepala Tetua Shu terlalu memandang tinggi diriku," balas Shin Shui sambil tertawa.


"Sepertinya ada yang tidak beres," kata Shin Shui mencoba berpikir.


"Itu sudah pasti pahlawan. Berbagai macak persoalan mulai berkecamuk di tanah air kita ini," kata Hwe Koan.


"Ah iya, Kepala Tetua Hwe, sebenarnya apa yang tadi terjadi dengan muridmu? Aku dengar tadi bahwa adik seperguruannya tewas, karena alasan itu dia mau mencoba membunuhku. Aku jadi penasaran," ujarnya lalu minum arak.


"Masalah ini …" Hwe Koan nampak ragu-ragu untuk bercerita.


"Kepala tetua jangan sungkan. Silahkan cerita saja kejadian yang sebenarnya," pinta Shin Shui.


"Baiklah kalau begitu. Kurang lebih tiga bulan yang lalu, aku menugaskan tiga muridku untuk berkunjung ke sahabatku. Ada persoalan yang saat itu terjadi, tidak disangkanya, di tengah jalan mereka diserang oleh orang tak dikenal. Tiga muridku sempat bertarung dengan orang itu. Namun akhirnya, yang dua tewas. Dan yang selamat hanya yang tadi itu. Alasan muridku tadi menyerangmu karena menurutnya, si pelaku yang membunuh dua adik perguruannya adalah dirimu. Orang itu memakai pakaian serba biru terang, jubahnya juga biru dan pedangnya biru pula. Bahkan muridku memberitahukan juga bahwa si pelaku menyebut namanya dengan Pendekar Halilintar," ucap Hwe Koan menjelaskan duduk persoalan.


"Hahhh …" Shin Shui menghela nafas sesaat.


Persoalan yang melibatkan dirinya mulai bermunculan. Entah siapa orang yang dimaksud Hwe Koan. Bahkan dia sendiri merasa aneh.


"Aneh, jujur saja, dua bulan kemarin aku berada di suatu tempat untuk membantu sahabatku. Bahkan kami berdua haru pulang belum lama ini, dan lagi, aku belum ke mana-mana kecuali di daerah ini. Kalau ada kejadian seperti itu, sudah pasti ada orang yang ingin merusak namaku," ucap Shin Shui menyesalkan.


"Aku percaya kepada pahlawan bahwa itu hanyalah orang yang memang ingin merusak namamu. Sama sekali aku tidak curiga, hanya saja yang membuatku bingung, siapa orang itu. Karena menurut muridku, perawakannya persis sepertimu,"


"Hahhh … ada saja persoalan-persoalan yang membingungkan. Sebaiknya aku harus lebih hati-hati lagi,"


"Pahlawan tenang saja. Kami akan membantumu. Walaupun dalam keadaan normal kita beda aliran dan bisa saja bertempur, tetapi kali ini kita adalah teman. Kami siap menyalurkan tenaga apabila kau memerlukan," kata Shu Cuan.

__ADS_1


"Tepat. Hahaha …" Hwe Koan tertawa diikuti yang lainnya lalu kembali berpesta arak.


__ADS_2