
Lima Pendekar Dewa yang tersisa merasa jeri. Sepak terjang orang asing ini sungguh brutal. Bahkan terkesan lebih ganas daripada seekor singa yang sedang mengamuk sekalipun.
Sesaat pertarungan berhenti. Kelima pendekar tersebut mundur lima langkah ke belakang.
"Tahan sebentar …" kata seorang di antara mereka sambil mengangkat tangannya.
Shin Shui bukan pendekar pengecut. Dia pendekar sejati yang selalu taat kepada peraturan dunia persilatan. Mendapati permintaan semacam itu, dia lantas menahan gerakannya. Serangan yang ingin dia lancarkan, segera ditarik kembali.
"Ada apa?" tanyanya dingin dengan raut wajah yang dingin pula.
Kelima pendekar yang tersisa itu saling pandang untuk beberapa saat. Mulut mereka diam. Tapi matanya mereka bicara.
Seolah masing-masing mata itu berkata "Kau saja yang bicara padanya, aku tidak berani. Aku takut,"
Karena setelah beberapa saat menunggu namun mereka masih diam, pada akhirnya Shin Shui merasa kesal.
"Mau bicara atau tidak? Kalau tidak kita segera bereskan saja pertarungan ini. Aku sudah muak melihat muka kalian yang membosankan," kata Shin Shui sedikit berteriak lantang.
Nyali kelima pendekar tersebut semakin ciut. Tubuh mereka sedikit bergetar dan keringat dingin telah membasahi seluruh tubuh.
Bagi mereka, pendekar asing yang ada di hadapannya saat ini tidak terlihat seperti seorang manusia. Justru sebaliknya, pendekar asing tersebut tampak seperti Malaikat Pencabut Nyawa.
"Ba-baiklah. Aku akan bicara. Sebenarnya kau siapa dan atas dasar apa kau menyerang kami?" tanya seorang pendekar mencoba untuk memberanikan diri.
"Siapapun aku tidak penting. Kalian tidak mungkin mengenalku, tapi si tua bangka itu pasti tahu siapa aku. Alasanku menyerang kemari karena si tua bangka telah melukai sahabatku," kata Shin Shui menahan rasa kesal.
Kelimanya kebingungan. Mereka mengerutkan kening karena belum paham perkataan Shin Shui.
Tua bangka yang mana? Bukankah penghuni bangunan tua di Bukit Hitam hampir semuanya sudah tua?
"Maksudmu siapa?" tanyanya karena tidak bisa menahan rasa penasaran.
"Kiang Mo Kong si Datuk Ular Beracun," tegas Shin Shui dengan sorot mata yang tajam bagaikan pisau.
Mereka tersentak. Ternyata tua bangka yang dimaksud adalah "pemimpin" mereka sendiri.
Seumur hidupnya setelah bergabung dengan Kiang Mo Kong, lima orang tersebut baru mengalami kejadian ada seorang pendekar asing yang bahkan berani mengobrak-abrik orang-orang Bukit Hitam.
Dari sini saja mereka semua sudah paham bahwa orang yang sekarang ada di hadapannya, tentu bukanlah orang sembarangan. Kalau bukan latar belakangnya, sudah pasti ilmu yang dimiliki sudah sangat tinggi.
"Tolong katakan siapa kau sebenarnya? Sebelum kami bertindak lebih kejam, cepat beritahu siapa dirimu supaya saat kau mati, kami bisa memberikan nama," kata seorang pendekar berlagak sombong di depan Shin Shui.
__ADS_1
Mereka berani berucap demikian karena belum mengetahui siapa orang yang akan di hadapinya. Kalau sudah tahu, mana mungkin berani berkata seperti itu. Mungkin mulutnya langsung dibungkam dengan tangannya sendiri jika sudah tahu siapa lawannya.
"Manusia rendahan seperti kalian mana mungkin dapat membunuh Pendekar Halilintar," teriak Shin Shui.
Berbarengan dengan itu, dia langsung melompat tinggi ke udara karena ada satu serangan jarak jauh yang melesat ke arahnya.
Kelima pendekar tersebut terkejut kembali. Mereka ingin kabur dari sana, namun sayangnya sudah terlambat. Sebab pertempuran penentuan sudah terjadi.
Setelah tadi melompat tinggi, Shin Shui berjungkir balik dua kali lalu tangan kirinya langsung mengirimkan serangan.
Sebuah tenaga hebat keluar dari telapak tangannya. Hembusan angin tajam menerjang kelima lawan disertai suara bergemuruh seperti deburan ombak di pantai.
Berbarengan dengan itu, tangan kanannya memainkan Pedang Halilintar dengan jurusnya yang hebat.
Dua jurus dahsyat dalam satu kali serangan langsung dikeluarkan.
Lima Pendekar Dewa itu segera berusaha menangkis dengan jurus tak kalah hebat yang mereka miliki. Benturan antar jurus mulai terjadi lagi. Benturan senjata pusaka juga mulai terdengar.
Suara nyaring seketika terdengar. Percikan api segera terlihat memenuhi langit yang gelap.
Pertarungan mereka baru berjalan lima belas jurus. Tapi keadaan mereka sudah mengkhawatirkan. Kelima Pendekar Dewa merasa sangat sulit untuk menyerang Pendekar Halilintar.
Sehingga semua usaha yang mereka lakukan hanya kesia-siaan semata.
Pendekar Halilintar semakin gencar menyerang lawan. Pedang pusaka itu tidak nampak lagi batangnya. Yang terlihat hanyalah sinar biru berkelebat setiap saat.
Setiap detik mengancam segala titik berbahaya di tubuh. Setiap saat menebarkan ancaman kematian.
Memasuki jurus ketiga puluh, dua Pendekar Dewa tahap dua berhasil di desak oleh Shin Shui.
Dua jurus kemudian, Pedang Halilintar berhasil menembus jantung seorang di antara keduanya. Tak berapa lama, satu orang sisanya tewas juga karena dadanya mengalami robekan yang mendalam.
Tiga Pendekar Dewa yang tersisa masih berusaha keras melawan Shin Shui.
Sayangnya semua yang mereka lakukan selalu nihil. Tenaga yang tersisa semakin berkurang.
Untuk mengeluarkan jurus hebat, rasanya mustahil. Sebab tenaga mereka tidak cukup untuk dapat melakukannya. Ingin mengkonsumsi pil penambah tenaga, apalagi. Itu adalah sesuatu yang lebih mustahil.
Sebab Pendekar Halilintar tidak memberikan sedikitpun waktu untuk sekedar menghela nafas dengan tenang.
Sepuluh jurus kemudian, sebuah sinar biru terang bagaikan pisau raksasa melesat menembus udara.
__ADS_1
Kecepatannya sungguh sulit untuk dilukiskan. Satu helaan nafas kemudian, pisau raksasa tersebut menembus tubuh seorang Pendekar Dewa tahap dua.
Bahkan saking cepatnya, pisau itu tidak berhenti. Pisau tersebut terus meluncur deras hingga menabrak sebatang pohon besar.
"Blarr …"
Ledakan terdengar. Pohon itu hancur berkeping-keping.
Lawan Shinn Shui tinggal dua orang. Dia tidak berlama-lama lagi. Sesaat setelah situasi kembali normal, dia melancarkan serangan dengan jurusnya yang hebat.
"Mata Malaikat Pencabut Nyawa …"
"Wushh …"
Tatapan Shin Shui berubah menjadi sangat tajam. Waktu seolah berhenti. Tidak ada pergerakan di antara dua lawannya. Mereka mendadak terdiam seperti sebuah patung.
"Wushh …"
Pendekar Halilintar melesat cepat ke depan saat itu juga. Tubuhnya sudah diselimuti oleh hawa halilintar yang agung dan menyeramkan. Pedang pusaka yang dia genggam telah mengeluarkan aura pembunuhan mengerikan.
Sekelebat sinar biru membelah malam. Sesaat kemudian terdengar suara sesuatu yang agak berat jatuh ke tanah.
Begitu waktu kembali bergerak, tampak di depannya ada dua mayat yang tewas tanpa kepala. Darah tidak mengucur dari bekas tebasan itu. Justru bekas tebasan tersebut terlihat sangat rapi sekali.
Tak ada noda darah. Tak ada apapun.
Yang ada hanyalah kematian.
Pertarungan selesai. Pedang Halilintar dia masukkan kembali ke sarungnya. Shin Shui mengangkat enam mayat tersebut tanpa menyentuh sedikitpun.
Setelah terangkat karena tenaga dalamnya, dia melemparkan enam mayat Pendekar Dewa tersebut ke arah bangunan tua yang ada di depan sana.
"Wushhh …"
"Brukkk …"
Enam mayat jatuh tepat di atas atap bangunan.
Keadaan di dalamnya langsung riuh. Penghuni yang ada di sana kaget, marah sekaligus penasaran.
"Siapa yang melakukan perbuatan ini?" sebuah teriakan orang tua terdengar penuh amarah dari dalam bangunan.
__ADS_1