Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kesedihan Fang Giok


__ADS_3

Pagi hari ini sangat cerah sekali. Udara terasa masih asri. Memberikan ketenangan, memberikan kenyamanan bagi siapapun. Saat menghirup udara dalam-dalam, hawa yang menenangkan akan segera memasuki paru-paru.


Burung-burung bernyanyi riang menyambut datangnya pagi. Awan putih bergerak bersama hembusan angin.


Suasana pagi ini sebenarnya amat menyenangkan. Mendatangkan kebahagiaan tersendiri.


Tapi nyatanya, kesenangan dan kebahagiaan itu tidak bisa dirasakan oleh Fang Giok, di gadis kecil yang imut dan menggemaskan itu.


Hatinya justru malah murung. Dia tidak tersenyum seperti biasanya. Wajahnya juga murung, seperti hatinya.


Ternyata dia sedang bersedih karena kepergian Chen Li. Teman barunya itu berada di Sekte Tangan Dewa Kegelapan selama dua hari. Selama itu pula, dia bersama bocah tersebut menghabiskan waktu sepanjang hari di taman bunganya.


Mereka selalu melewati pagi dan sore di sana. Menikmati keindahan bunga. Mencium keharuman yang diberikannya. Juga menyaksikan kupu-kupu dan kumbang yang terbang silih berganti.


Dua hari itu, bagi Fang Giok adalah hari yang menyenangkan sepanjang hidupnya. Sebab dia tidak merasa kesepian lagi. Karena dirinya ada teman main. Orangnya asyik, ramah, juga murah senyum.


Tapi sekarang?


Teman baiknya itu telah meninggalkan sekte. Entah kapan mereka bisa bertemu kembali. Mungkinkah suatu saat nanti keduanya akan berjumpa lagi? Ah, entahlah. Fang Giok sendiri merasa tidak yakin.


Dia sudah bicara kepada ayah dan kakeknya supaya menahan Chen Li lebih lama lagi untuk menetap di sana. Namun ayah dan kakeknya justru malah memberikan nasehat kepadanya.


"Kau harus merelakan dia pergi. Kelak jika sudah dewasa, kau tentu bisa menyusul dan mencarinya lagi. Kakek yakin, Li'er tidak akan pernah melupakanmu," kata Fang Han ketika dirinya merengek agar mau menahan Chen Li.


Sekarang Fang Giok masih berdiri di depan ruangan para tetua. Ayah dan kakeknya juga ada di samping gadis kecil itu. Mereka baru saja melepas kepergian dua tamu istimewa.


Perlahan namun pasti, bayangan dua orang itu menghilang dari pandangan mata.


"Sudahlah Giok'er, jangan bersedih. Nanti jika bekalmu sudah cukup, Kakek dan Ayah pasti akan mengizinkanmu untuk mencarinya. Karena itu, sekarang kau harus belajar dan berlatih lebih giat lagi," kata Fang Han sambil mengusap-usap kepalanya.


"Iya Kek, aku mengerti," jawabnya sambil menundukkan kepalanya.


Fang Giok sebenarnya bukan hanya bersedih karena tidak ada teman saja. Teman lainnya juga banyak. Bahkan beberapa anak tetua lainnya sering bermain bersama.


Hanya saja, ada sebuah perasaan lain yang timbul dalam hati gadis kecil itu. Entah perasan apakah itu. Yang jelas, dia sendiri tidak tahu secara pasti.


Intinya, Fang Giok merasa hatinya hampa. Dia merasa telah kehilangan barang kesayangannya.


Apakah dia sudah jatuh cinta? Entahlah. Karena Fang Giok sendiri belum mengerti tentang cinta.

__ADS_1


###


Chen Li dan Huang Taiji berjalan santai. Keduanya sedang melewati sebuah hutan dan akan tiba di perkotaan. Setelah tiba, mereka langsung pergi mencari restoran, perutnya sudah merasa lapar karena terbiasa sarapan di pagi hari. Soalnya tadi sebelum berangkat, mereka belum melakukan sarapan.


Setiap mereka berjalan, jika ada murid-murid Sekte Tangan Dewa Kegelapan, pasti mereka akan membungkuk hormat kepada keduanya.


"Paman, sepertinya Tuan Fang Han sangat berpengaruh sekali di sini. Aku tidak menyangka ternyata pengaruhnya cukup besar juga," kata Chen Li sambil tetap berjalan di samping pamannya.


"Benar, dia memang orang yang luar biasa," jawab Huang Taiji memujinya dengan tulus.


Pengaruh orang tua itu memang benar-benar membuat kagum. Terbukti sekarang, sepanjang jalan, keduanya selalu mendapatkan hormat dari setiap murid sekte.


Ini termasuk ke dalam salah satu bukti bahwa sosoknya sangat dihormati. Padahal kalau mereka ingin, murid-murid itu bisa saja tidak memberi hormat. Toh tidak ada petinggi sekte yang tahu akan hal tersebut.


Namun nyatanya tidak begitu. Mereka benar-benar memperlakukan tamu sebagai seorang yang spesial.


Chen Li dan Huang Taiji masuk ke sebuah restoran ternama di sana. Setiap pergi ke kota lain, keduanya pasti akan mengunjungi restoran terbesar untuk sekdar mencoba masakan khas di kota tersebut.


Mereka duduk di sebuah meja yang ada di tengah. Seorang pelayan datang, Huang Taiji segera memesan menu makanan. Saat ini, keduanya sedang menunggu pesanan tiba.


Sambil menunggu, seperti biasa, matanya mengawasi keadaan sekitar dan telinganya dipasang tajam-tajam.


"Ke mana lagi? Tentunya kita akan mencari tahu keberadaan Huan Ni Mo si Wanita Tombak Asmara,"


"Apakah Paman tahu di mana dia tinggal?"


"Tidak. Karena menurut kabar yang Paman dapatkan, wanita ini selalu berpindah tempat. Bahkan katanya dia tidak punya tempat tinggal khusus,"


"Aii, kalau begitu pasti akan sulit mencarinya," keluh Chen Li.


"Mungkin. Tapi Li'er tenang saja. Selama kita ada usaha untuk mencarinya, pasti akan bertemu,"


"Itu sudah pasti,"


Keduanya tidak meneruskan cerita karena pesanannya sudah tiba di depan mata. Dua orang pelayan datang membawa nampan besar dan dua guci arak.


Bau harum segera memenuhi ruangan. Makanan yang mereka pesan tentunya adalah makanan ciri khas di kota tersebut. Masalah biaya, tidak menjadi soal.


Jangankan berharga lima puluh keping emas, sekalipun harganya seratus keping emas, keduanya tentu siap untuk membayar.

__ADS_1


Mereka makan dengan lahap. Makanan itu benar-benar sesuai dengan selera. Hingga tanpa terasa, keduanya menghabiskan makanan tanpa ada sisa.


Walaupun perut sudah terasa kenyang, tapi demi minum arak, rasa kenyang bukanlah sebuah persoalan.


Keduanya menikmati arak bersama. Arak tersebut memang sangat enak dan harum. Ditambah lagi araknya tidak terlalu keras. Hal ini sangat cocok bagi Chen Li.


"Arak yang enak," puji Chen Li sambil menjilati bibir dengan lidahnya.


"Benar-benar enak," kata Huang Taiji menyetujui perkataan bocah kecil itu.


Keduanya menikmati arak hingga tetesan terakhir. Huang Taiji segera memanggil pelayan untuk menghitung biaya makan.


Namun dengan cepat, si pelayan segera menolaknya.


"Biaya makan Tuan sekalian sudah dibayar sebelumnya,"


Chen Li dan Huang Taiji terkejut. Siapa yang sudah membayar biaya makannya? Karena tak tahan, maka bocah itu segera mengajukan pertanyaan.


"Kau tahu siapa orang itu?"


"Semua orang pun pasti tahu Tuan muda,"


"Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Tuan Fang Han?"


Keduanya kaget. "Benarkah dia sudah membayar semua biaya makan?" tanya Huang Taiji masih belum percaya.


"Tentu saja. Seorang murid Sekte Tangan Dewa Kegelapan memberikan kepingan emas kepada kami, katanya untuk membayar biaya makan seorang berbaju putih dan seorang anak kecil,"


"Kau yakin orang yang dimaksud adalah kami?"


"Sangat yakin. Karena mereka juga memberitahukan bagaimana ciri-cirinya,"


"Aii. Aku jadi tidak enak. Baiklah, sampaikan saja rasa terimakasih kami," ujar Huang Taiji.


"Pasti Tuan,"


Setelah itu, keduanya segera melangkahkan kaki untuk melanjutkan misinya.

__ADS_1


__ADS_2