
Siapapun tidak tahu apa yang sedang dia rasakan saat ini. Entah itu rasa senang, sedih, entah juga ingin menangis atau ingin tertawa. Semua tidak ada yang dapat memastikannya.
Kecuali hanya Chen Li dan si pemilik toko yang tahu.
"Ja-jadi, kau?"
"Benar. Aku adalah anak dari Pendekar Halilintar, Shin Shui. Sang Kepala Tetua dari Sekte Bukit Halilintar," jawab Chen Li sambil tersenyum lembut nan menggemaskan.
Si pemilik toko tertawa gembira. Dia benar-benar bahagia mendapati bahwa bocah di depannya ternyata anak dari Shin Shui.
"Akhirnya aku bisa bertemu dengan anak beliau. Bertahun-tahun lamanya, aku sangat mengagumi Pendekar Halilintar. Bahkan aku sampai membuat patung di depan rumahku untuk menandakan bahwa aku sangat mengagumi sosoknya, kau percaya? Terlebih lagi, aku suka tindak-tanduknya yang selalu membuat gempar. Sayangnya, aku hanya bisa mengagumi dirinya dari jauh. Aku ingin duduk bersama dan minum arak, tapi sayangnya tidak mungkin," kata si pelayan tersebut sambil tertawa getir.
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Chen Li penasaran.
"Karena dia adalah orang yang teramat sibuk,"
"Tapi Ayah bukanlah orang yang suka mempulangkan tamu yang datang secara baik-baik kepadanya. Sesibuk apapun dia, kalau ada yang datang secara sopan dan baik-baik, aku yakin dia tidak akan mengusirnya,"
"Tuan muda sangat yakin?"
"Sangat yakin, sebab aku tahu bagaimana sifat Ayahku,"
"Ayah dan anak ternyata sama saja. Pantas kau begitu tampan dan sangat royal kepada rekan-rekanmu. Persis seperti Ayahmu,"
"Memangnya sejak kapan kau mengenal Ayahku dan mengagumi sosoknya?"
"Semenjak dia memborong barang pusaka di toko ini. Lima tahunan yang lalu, saat aku bertanya, dia hanya menjawab akan memberikan semua senjata pusaka itu kepada sekte-sekte kecil yang membutuhkan bantuan. Sejak saat itu, aku mulai mengagumi soosknya. Mencari tahu latar belakang dan sepak terjangnya,"
"Setelah tahu, kau malah semakin mengagumi Ayahku? Sehingga dibuatlah patung itu?"
"Benar," jawabnya sambil tersenyum bangga.
Pelayan itu memang salah satu orang yang sangat mengagumi Shin Shui. Dia bukan hanya mengagumi lewat mulut saja. Tapi dia benar-benar mengaguminya hingga membuktikannya.
Empat tahunan lalu, wanita tersebut benar-benar membuat patung Shin Shui. Seperti yang terdapat di Istana Kekaisaran. Dia membuatnya sebagai panutan dan menunjukkan sikap hormat serta kekaguman yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
__ADS_1
Bahkan dia berharap bahwa anak-anaknya, kelak bisa menjadi sosok seperti Shin Shui. Sosok yang sangat dia kagumi lebih dari apapun.
Perlu diketahui, setelah Shin Shui terjun ke dunia persilatan dulu, sesudah dia banyak membuat hal-hal menggemparkan, saat itulah banyak orang yang mengagumi sosoknya. Baik itu dari kalangan pria, ataupun wanita.
Jumlah orang yang kagum kepadanya lebih banyak lagi setelah perang lalu berakhir. Sosok Shin Shui menjadi perbincangan hangat di setiap sudut muka bumi.
Setiap detik, setiap saat, orang-orang pasti akan membicarakan dirinya.
Shin Shui sendiri sebenarnya merasa sangat keberatan. Dia bukan Dewa, bukan pula seorang Kaisar. Tapi semakin hari, orang-orang yang mengaguminya semakin banyak.
Dia sebenarnya ingin berbuat sesuatu, bahkan ingin bicara bahwa siapa yang mengagumi dirinya, dia harus dibunuh.
Sayangnya, Pendekar Halilintar bukanlah manusia kejam yang bisa membuat sakit hati orang-orang lemah. Apalagi bukan merupakan pendekar.
Jadi, dia hanya bisa berusaha sabar di mana pun berada.
Jadi sosok yang banyak dikagumi tidaklah mudah. Justru sangat berat dan sangat sulit.
Dia harus selalu melakukan kegiatan positif supaya menjadi contoh. Sebab apapun yang dia lakukan, pasti akan membuat berita menggemparkan. Kalau sampai berbuat negatif, tentu bakal lebih gempar. Dan orang-orang yang mengagumi serta percaya kepadanya, pasti akan merasa kecewa.
Dan Shin Shui tidak mau hal itu terjadi.
Apa yang dia katakan memang benar. Sebenarnya dia tidak ingin melimpahkan tagihan ini kepada ayahnya. Sayang, bagaimanapun juga dia hanya seorang bocah yang belum mempunyai banyak harta.
"Tidak mengapa Tuan muda. Justru aku sangat berterimakasih sekali kepadamu. Aku akan datang sendiri untuk menagih belanjaan ini,"
Tentu saja dia akan melakukannya. Kapan lagi dia mendapatkan kesempatan untuk biss bertemu dengan sosok yang dia kagumi?
Kesempatan paling baik dalam hidup, terkadang hanya akan datang sekali saja.
"Maaf kalau aku telah merepotkanmu," kata Chen Lo sedikit menyesal.
Di luar ruangan, tiga rekannya merasa sangat terkejut sekali. Sekarang mereka benar-benar percaya bahwa Shin Shui adalah orang yang paling berpengaruh di Kekaisaran Wei. Bahkan mungkin Kaisar sendiri pengaruhnya tidak sebesar Shin Shui.
"Tidak masalah. Aku punya sesuatu untuk Tuan muda," kata si pelayan.
__ADS_1
Dia kemudian berjalan ke tumpukan rak buku yang tersedia di lemari dalam ruangan tersebut. Setelah memilih buku yang cocok, akhrinya dua segera kembali ke Chen Li.
"Ini," katanya sambil memberikan satu buku kuno.
Buku itu terlihat sangat lusuh. Bahkan tidak terlihat ada suatu keistimewaan sedikitpun. Bukunya sendiri sangat tipis dan lembaran bukunya sudah kekuning-kuningan.
"Apa ini?" tanya Chen Li keheranan.
"Itu adalah pasangan dari Pedang Hitam,"
"Jadi ini adalah kitab?"
"Tepat,"
"Kitab apa?"
"Kitab Pedang Hitam. Sebenarnya sejarah Pedang Hitam sudah sangat lama sekali. Menurut cerita, Pedang Hitam berasal dari Kekaisaran Tang. Di sana dulunya ada seorang pendekar merdeka (golongan tengah), dia diberi gelar Pendekar Pedang Hitam. Konon dia merupakan pendekar pilih tanding pada zamannya. Dan dalam Kitab Pedang Hitam inilah jurus-jurusnya di abadikan,"
"Dari mana kau mendapatkan benda ini?"
"Dari seorang pencari batu. Dia menemukan kitab dan pedang dalam satu kotak. Karena dia bukan pendekar, jadi memilihnya untuk menjual kepadaku. Siapa sangka, justru kedua benda itu tidak pernah dibeli oleh orang. Mungkin ini memang sudah takdir Tuan muda," kata si pemilik toko menjelaskan.
Chen Li tidak bisa berkata apa-apa lagi selain kata terimakasih. Dia sangat senang membaca. Apalagi membaca sejarah tentang dunia persilatan dan kitab sakti.
Walaupun dia tidak menguasai dan tidak dapat memakai seluruhnya, tapi setidaknya dia mendapatkan pengetahuan.
"Aku berjanji akan mempelajari isinya dan mencobanya nanti. Terimakasih, budi kebaikan ini tidak akan pernah aku lupakan," ujar Chen Li penuh hormat.
"Ayah dan anak sama saja. Keduanya mempunyai sikap yang rendah hati," jawab si pelayan sambil tersenyum.
Chen Li benar-benar senang hari ini. Tidak disangka dia akan sangat beruntung.
Pedang Hitam itu memang cocok untuk dirinya. Setidaknya untuk beberapa waktu. Sebab pedang tersebut memiliki aura misterius. Dingin tapi menyeramkan.
Persis seperti dirinya. Dingin, misterius, menyeramkan.
__ADS_1
Pedang dan pemiliknya mempunyai kesamaan.
sama-sama berdarah dingin.