Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kemarahan Yuan Shi


__ADS_3

Tanpa berkata apapun, Pendekar Halilintar langsung pergi dari sana. Hanya satu tarikan nafas, bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata semua orang.


Di dunia ini, adalah kecepatan yang bisa membayangkan bagaimana cepatnya kepergian Shin Shui?


Awal perang di satu titik telah berakhir. Namun di titik lain perang masih saja berlangsung.


Perang yang sekarang terjadi bukanlah perang sesungguhnya. Melainkan hanya perang yang merupakan awal dari peperangan sebenarnya.


Para tokoh kelas atas dunia persilatan Kekaisaran Wei sengaja turun tangan supaya meminimalisir korban di pihak mereka. Karena itulah, para tokoh sepakat untuk turun tangan lebih dulu agar semuanya bisa diatasi.


Setelah semuanya selesai atau setidaknya berkurang, mereka akan membahas strategi ke depannya kembali. Yang terpenting untuk sekarang adalah membunuh musuh sebanyak mungkin. Mengagalkan rencana mereka semampunya. Dan menghancurkan kekuatan lawan sebisanya.


Di tempat lain, di tengah lapangan yang sangat luas, perang terjadi lagi. Kejadian yang sama seperti sebelumnya terlihat kembali. Selain bunuh membunuh, adakah kejadian lain yang bisa disaksikan dalam sebuah peperangan?


Asap putih menggulung. Asap itu membumbung tinggi menembus cakrawala. Cahaya matahari tertutup oleh sebuah asap tebal. Asal kematian. Asap kehancuran.


Teriakan dendam yang mengobarkan semangat terdengar tiada henti. Ratusan prajurit Kekaisaran Wei berlari ke arah musuh-musuh mereka. Kilatan tombak, pedang dan senjata lainnya terlihat melancarkan kebencian yang mendalam.


Srett!!! Slebb!!!


Suara senjata menusuk dan menebas tubuh manusia mengiringi jerit lengking kematian. Benturan tameng atau benturan senjata juga terus berkumandang seperti rintihan anak kecil yang terluka.


Suara-suara mengerikan itu tidak pernah berhenti. Selama perang berlangsung, suara itu akan tetap terdengar dan terus terdengar.


Namun walaupun prajurit Kekaisaran Wei sudah berjuang sekeras mungkin, mereka tetap tidak mampu menghabisi musuh-musuhnya. Jumlah musuh semakin banyak. Juga semakin kuat.


Mereka meraung seperti serigala kelaparan. Berbagai macam jurus dikeluarkan dengan segenap kemampuan. Sinar-sinar terang melesat tiada hentinya.


Para prajurit Kekaisaran Wei berteriak. Nyawa mereka melayang saat itu juga. Para warga yang sedang bersembunyi menjadi sasaran kemarahan lawan. Mereka dibunuh. Para wanita diperkosa. Semuanya menjadi korban keganasan dan keserakahan umat manusia.


Benarkah manusia adalah makhluk yang paling menakutkan? Benarkah manusia adalah satu-satunya makhluk yang paling mengerikan?


Jika iya, maka hal semacam itu memang pantas mereka lakukan. Tetapi jika tidak, pemandangan itu sungguh tidak patut untuk diperlihatkan.

__ADS_1


Ratusan nyawa terkapar. Darah mereka mulai mengering. Tubuhnya juga mulai kaku. Cahaya kehidupan telah menghilang. Tapi semangat untuk memperjuangkan tanah air tidak akan pernah hilang.


Semangat itu akan semakin ada. Dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, semangat untuk membela tanah air akan terus tumbuh lalu menyatu dengan jiwa.


Satu bayangan mendadak turun dari langit. Jubahnya yang berwarna emas berkibar agung tertiup angin kematian. Di tangan kanannya sudah tergenggam sebatang pedang yang memantulkan sinar keemasan.


Usianya sudah tua. Tapi semangatnya masih membara.


Dia berteriak sangat keras. Teriakannya terdengar seperti harimau yang sedang marah sekaligus berduka.


Yuan Shi.


Sosok agung itu memang Yuan Shi adanya. Si Raja Seribu Pedang.


Dia melesat ke depan menyongsong ratusan musuh. Pedang emasnya menebas dengan sangat cepat. Setiap tebasan mengandung dendam. Setiap tusukan mengandung semangat yang berkobar.


Sekali pedang bergerak, sepuluh nyawa manusia melayang dengan mudah. Yuan Shi terus bergerak tanpa meninggalkan jejak apapun. Dia hanya meninggalkan jejak kematian kepada setiap lawan yang menghampirinya.


Wushh!!!


Tampak sangat banyak. Deras, membawa hawa keseraman. Dan membawa hawa kematian.


Ratusan prajurit berteriak sekencang mungkin. Kepala, dada, punggung atau bahkan bagian tubuh lainnya menjadi sasaran telak ribuan pedang emas energi milik Yuan Shi.


Hanya dalam waktu sangat singkat, ratusan nyawa melayang lagi sehingga menambah jumlah korban.


Namun saat dia masih mengandalkan jurus tersebut, mendadak sebuah asap hitam pekat dan besar berubah menjadi telapak tangan. Dua telapak tangan muncul di langit yang kelam lalu menangkap semua pedang energi ciptaan Yuan Shi.


Jurus apa itu? Siapa pula yang mengeluarkannya?


Yuan Shi tidak bisa menjawab. Dia tahu musuh berat telah hadir. Karena itulah, kakek tua itu langsung berkonsentrasi untuk menghadapinya.


Wushh!!! Trangg!!!

__ADS_1


Sebuah angin tajam yang dingin melesat secepat kilat dari sisi sebelah kanannya. Satu batang pedang hampir saja menusuk tulang rusuknya. Jiak sampai hal itu terjadi, mungkin Yuan Shi telah tewas bersimbah darah.


Untungnya Yuan Shi sudah berkonsentrasi, sehingga serangan tanpa diduga sebelumnya pun masih sanggup dia tahan.


"Hanya pendekar rendahan yang sanggup melakukan hal serendah ini," katanya dengan suara sangat marah.


"Di sini kita bukan untuk bicara. Di sini kita harus bertarung sekuat mungkin. Yang kuat akan selamat, yang lemah akan mampus," teriak orang tersebut dengan penuh kesombongan.


Yuan Shi tidak menjawab lagi. Baginya, bicara dengan orang itu hanya akan mendatangkan kekesalan. Yang pantas berbicara dengannya bukanlah mulut, tetapi kekuatan.


Wushh!!!


Pedang emasnya mendadak menusuk dengan cepat. Sebuah tusukan yang membawa kematian. Jika pendekar biasa, jangan harap bakal mampu menangkisnya.


Trangg!!!


Orang itu sanggup menahan tusukan yang dilancarkan oleh Yuan Shi. Dia benar-benar sanggup melakukannya.


Padahal Yuan Shi sudah mengeluarkan hampir setengah kekuatannya dalam serangan tusukan barusan. Jika tokoh besar sepertinya, setengah kemampuannya hampir setara dengan kekuatan penuh Pendekar Dewa tahap tiga.


Jika orang tersebut mampu menahannya, bisa dipastikan bahwa dia juga bukanlah tokoh sembarangan.


Yuan Shi tidak menarik kembali pedang pusakanya. Dia justru melanjutkan dengan serangan lain yang tidak kalah berbahaya. Entah bagaimana caranya, pedang itu tiba-tiba lepas dan menebas ke arah leher.


Orang tersebut sedikit terkejut. Dia menarik kepalanya ke belakang. Pedangnya juga bergerak berniat untuk menangkis kembali. Sayangnya kecepatan tangkisan masih kalah dengan kecepatan serangan.


Cahaya emas berpijar. Pedang Yuan Shi terus melancarkan tebasan pedang tiada henti. Setiap tebasannya mampu membelah satu bongkah batu sebesar rumah. Kesiur angin tajamnya mampu melemparkan puluhan manusia sekaligus.


Kedua pendekar pedang kelas atas itu bertarung dengan sengit. Tapi pertarungan tersebut yang berlangsung beberapa jurus saja. Karena tepat pada jurus kesepuluh, Yuan Shi mulai marah.


Tebasan pedang yang dia lancarkan bertambah lebih cepat. Tusukan yang diberikan jauh lebih dahsyat lagi. Yuan Shi lenyap dari pandangan lawan.


Yang terlihat hanyalah cahaya emas yang terus bergerak tanpa mau berhenti. Percikan api membumbung tinggi. Pedang emas mendadak ditarik ke belakang. Tapi dengan gerakan sangat cepat, pedang tersebut mendadak di julurkan kembali.

__ADS_1


Sebuah tusukan di layangkan. Yuan Shi mengeluarkan seluruh kekuatannya dalam tusukan tersebut.


Slebb!!!


__ADS_2