
Tentu saja Ye Xia Zhu sangat percaya, bahkan dalam hatinya dia sangat berterimakasih sekali. Tetapi dia tidak mengungkapkannya, sebab wanita itu tahu bahwa Huang Taiji Lu bukanlah tipe orang yang suka dipuji.
Bahkan dia juga tahu, bahwa lelaki tersebut justru lebih suka orang lain tidak memujinya.
Walaupun baru pertama kali bertemu, tetapi dia sudah paham bagaimana sifatnya.
Terkadang seorang wanita memang bisa sangat cepat membaca sifat laki-laki. Walaupun hanya teman biasa, tapi wanita tetap bisa tahu.
"Apakah dalam hati Nona Zhu mempertanyakan tentang bagaimana cara aku mendidik mereka?" tanya Huang Taiji.
"Bagaimana Tuan Huang tahu?"
"Kalau aku menjadi Nona Zhu, tentu aku juga akan mempertanyakan hal yang sama," jawab pria itu sambil tersenyum.
"Kau benar, jadi … bagaimana cara Tuan Huang mendidik anak-anak itu?" tanyanya mulai penasaran.
"Tentunya dengan caraku tersendiri. Aku akan menyuruh anak-anak pergi ke Sekte Seribu Iblis untuk menyampaikan pesan dari Kepala Tetua Shin Shui untuk Pangeran Bayangan Sukma Pencabut Nyawa,"
"Kau akan benar-benar menyuruh mereka menyampaikan pesan tersebut? Bagaimana kalau di tengah jalan terjadi sesuatu lagi? Seperti yang kita semua ketahui, musuh dari Kekaisaran lain sudah bergerak secara terang-terangan," ucap Ye Xia Zhu.
Wajahnya menggambarkan kepanikan. Wanita itu mengira bahwa Huang Taiji akan benar-benar melakukan hal tersebut.
"Tidak, pastinya tidak. Kau jangan salah paham. Aku memang menyuruh mereka, tapi bukan berarti aku tidak bertanggungjawab terhadap tugasku. Yang aku katakan hanyalah sebuah trik. Sedangkan aku sendiri akan tetap mengawasi dan menjaga mereka dalam jarak tertentu. Selama anak-anak sanggup melewati rintangan, maka aku tidak turun tangan. Tetapi kalau mereka kewalahan, baru aku akan bertindak," jelas Huang Taiji.
Sekarang Ye Xia Zhu telah paham rencana yang dimaksudkan oleh orang tua itu. Sebelumnya tidak sempat terpikirkan, tapi sekarang dia tahu yang sebenarnya.
"Ternyata begitu. Aku telah salah menilai Tuan Huang," katanya sedikit malu.
"Jangan sungkan. Kita masih orang sendiri,"
Keduanya segera menenggak cawan arak lagi. Di zaman ini, minuman yang paling enak hanyalah arak. Arak sudah menjadi kebutuhan pokok hampir semua orang. Baik kalangan pendekar, maupun kalan orang biasa.
Dan arak juga ada berbagai macam. Mulai dari yang biasa saja, sedikit bagus, hingga paling bagus. Ada juga yang harganya murah, sedikit mahal, bahkan paling mahal.
Semakin mahal harganya, maka semakin nikmat araknya.
__ADS_1
Dan tentu, arak yang mereka minum mempunyai kualitas paling bagus dan harganya juga paling mahal.
Memangnya, apa yang tidak bisa dibeli oleh kedua orang ini? Jangankan seguci arak, segudang arak sekalipun mereka sanggup untuk memborongnya.
"Sekarang aku benar-benar paham maksudmu," ucap Xia Zhu setelah menghabiskan cawan arak.
"Apa?" tanya Huang Taiji.
"Yang kau maksudkan mendidik adalah membiasakan mereka hidup di alam bebas. Sebab di perjalanan nanti sedikit banyak akan ada rintangan. Karena tidak mungkin jika tidak ada rintangan. Hidup yang nampak nampak mulus saja penuh rintangan,"
"Dengan begitu, secara alami, anak-anak itu akan tahu bagaimana caranya menghadapi suatu masalah. Bagaimana caranya bekerja sama, menambah pengalaman dan memantapkan semua pelajaran yang sudah mereka pelajari selama ini. Sebab teori harus dibarengi dengan praktek, begitu juga sebaliknya,"
"Sekalipun perjalanan ke Sekte Seribu Iblis tidak terbilang sangat jauh, namun itu saja sudah cukup kalau untuk menambah pengalaman mereka bukan? Itu artinya, secara otomatis, anak-anak itu akan menjadi lebih matang, lebih mengerti tentang kerasnya kehidupan, dan lebih paham apa yang disebut pengalaman. Bukankah itu maksud di balik semua tujuanmu?" tanya Ye Xia Zhu setelah dua mencoba menebak maksud Huang Taiji.
"Tepat. Tepat sekali," puji Huang Taiji.
Tujuan orang tua itu memang benar seperti apa yang diucapkan oleh Xia Zhu.
Pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan.
Dengan pengalaman, seseorang bisa suskes. Dengan pengalaman, seseorang bisa meraih impiannya. Dengan pengalaman juga, seseorang bisa mengerti makna kehidupan. Karena pengalaman pula, seseorang dapat belajar dari kesalahannya.
"Lagi-lagi aku telah salah menilaimu. Ternyata kau jauh lebih cerdas dari apa yang sudah aku pikirkan sebelumnya," kata Wakil Kepala Tetua Sekte Teratai putih itu sambil menghela nafas.
"Karena kau sudah menilaiku, itu artinya secara tidak langsung kau paham sifatku. Jadi kalau memuji jangan terlalu berlebihan," katanya sambil tertawa.
"Hahaha, maaf, maaf. Baiklah, semua ini aku percayakan kepadamu,"
"Terimakasih banyak nona Zhu,"
"Aku yang seharusnya berterimakasih,"
Mereka tertawa lagi. Bertemu dengan seorang yang satu jalan dengan kita, memang merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan sekali.
Sebab satu sama lain bisa saling mengerti dan memahami.
__ADS_1
###
Pagi hari telah tiba.
Empat orang anak yang usianya tak lebih dari lima belasan tahun sedang bersiap-siap. Mereka memakai pakaian bersih dan ringkas.
Namun walaupun begitu, hal itu tidak menghilangkan ketampanan dan kecantikan dari anak-anak tersebut. Mereka justru tampak lebih cantik dan tampan dengan pakaiannya yang ringkas.
Seperti anak dari pasangan Dewa dan Dewi dalam dongeng.
Mereka juga anak Dewa Dewi. Lebih tepatnya anak Dewa Dewa dunia persilatan.
"Li'er, kau harus ingat apa yang sudah dikatakan oleh Paman. Jangan sekali-kali melupakannya. Surat ini khusus dari Ayahmu untuk Pangeran Bayangan Setan Pencabut Sukma. Apapun yang terjadi, kau harus memberikannya," ujar Huang Taiji sambil memberikan sepucuk surat kepada Chen Li.
"Baik Paman. Li'er akan mengingat semuanya. Li'er akan mencoba untuk menanggung tanggungjawab," kata bocah itu sambil menerima surat dan langsung memasukannya ke Cincin Ruang.
Di sisinya, Ye Xia Zhu juga sedang memberikan nasihat kepada puteri kecilnya, Moi Xiuhan.
"Xiuhan'er, jangan nakal. Ingat apa kata Yuan Shao. Dia yang dipercayakan sebagai pemimpin perjalanan kalian. Kalau ada masalah di tengah jalan, selesaikan bersama. Apapun yang terjadi, kalian harus selalu bersama. Suka duka jalani bersama, itu namanya sahabat," ucao Ye Xia Zhu memberikan nasihatnya juga kepada puterinya.
"Baik Ibu, Xiuhan'er mengerti,"
"Anak yang baik. Ibu percaya padamu bahwa kau bisa," jawabnya bangga.
Kedua orang tua itu tersenyum penuh percaya diri kepada anak-anak yang ada di hadapan mereka.
Mereka percaya, bahwa pada saatnya nanti, anak-anak yang ada di hadapannya kini akan menjadi para pendekar yang menggetarkan dunia.
Nanti, bukan sekarang.
"Li'er, jangan lupa, tetap merendah kepada siapapun juga. Royal terhadap teman, jangan anggap remeh musuh. Dan yang terpenting, sembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya. Jika tidak terdesak, jangan pernah kau gunakan kekuatan Mata Dewa," kata Huang Taiji menyampaikan perkataannya lewat pikiran Chen Li.
"Baik, setiap kata yang diucapkan oleh Paman, Li'er pasti mengingatnya," jawab Chen dalam hatinya sendiri.
"Apakah kalian sudah siap?" tanya Yao Shi kepada sahabat barunya.
__ADS_1