
Selama melakukan pengembaraan, selama melangsungkan sebuah pertarungan, atau bahkan selama hidupnya, belum pernah pemuda itu setenang sekarang ini.
Ketenangan yang sekarang dia perlihatkan lewat ekspresi wajahnya jelas sangat tenang sekali. Lebih tenang dari seorang yang banyak uang, lebih tenang dari air di tengah danau.
Senyuman menghiasi bibirnya. Darah yang keluar di sudut bibir dia seka perlahan. Gerakannya amat anggun, amat indah. Dia melakukannya secara perlahan dan penuh keyakinan.
Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Ada apa dengan Chen Li?
"Kau baik-baik saja? Apakah kau masih sanggup melangsungkan pertarungan ini? Kalau sekiranya tidak, aku sarankan lebih baik kau jangan memaksakan. Karena kalau kau tetap memaksa, cepat atau lambat kau akan mampus," ujar sosok yang menyerupai Pendekar Tanpa Perasaan.
Chen Li tersenyum. Senyumannya masih dingin. Wajahnya juga sama. Hanya saja, sekarang senyuman dingin itu terlihat sangat tenang. Wajah itu terlihat lebih yakin.
Apakah itu artinya pemuda tersebut telah mendapatkan ketenangan dan rasa yakinnya kembali?
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan kembali. Aku akan kembali kalau sudah berhasil membunuhmu," jawab pemuda itu mantap.
Suaranya tegas berwibawa. Saat dia bicara, tanpa terasa bulu kuduk sosok di hadapannya berdiri seketika.
"Kau tidak akan mampu membunuhku,"
"Tadi memang tidak. Tapi sekarang bisa,"
"Kau yakin?"
"Kalau aku tidak yakin, lantas untuk apa aku bicara dan masih berada di sini hingga sekarang?"
Sosok yang merupakan jelmaan dari hawa nafsu itu tidak menjawab. Dia tidak bicara lagi meskipun hanya sepatah kata. Pancaran dendam dan niat ingin membunuh seketika keluar dari tubuhnya.
Tubuh itu mengeluarkan asap putih yang kental. Tanah yang dipijak hancur hingga sepasang kakinya amblas ke dalam tanah.
"Pemuda yang sombong," katanya setengah berteriak.
"Karena akulah kesombongan itu," balas Chen Li tidak mau kalah.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan putih kembali berkelebat. Dua sosok itu telah melanjutkan pertarungan dahsyat kembali. Dua Pedang Merah Darah yang dipegang masing-masing oleh dua sosok itu telah bergerak secara bebas.
__ADS_1
Kedua pedang tersebut tampak seperti dua naga yang sedang mengamuk. Dentingan nyaring kembali memenuhi angkasa raya. Sinar merah menyelimuti ala semesta. Dua batang senjata tingkat tinggi itu terus beradu tanpa henti.
Chen Li yang asli bertarung buas. Dia semakin beringas. Semakin brutal.
Namun di balik itu, dirinya yang sekarang tampak jauh lebih tenang. Pemuda itu terlihat lebih yakin dari biasanya.
Kalau tadi gerakan dua sosok itu tampak sama, sekarang malah sebaliknya. Gerakan mereka berbeda. Sangat jauh berbeda.
Hawa nafsu yang menjelma menjadi dirinya mulai merasa kebingungan. Dia sama sekali tidak dapat menebak dan mengikuti gerakan Pendekar Tanpa Perasaan.
Padahal dirinya pun sudah mengeluarkan seluruh kekuatan seperti apa yang dikeluarkan oleh Chen Li.
Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Dia sendiri mempunyai rasa takut. Dia takut berhasil ditundukkan. Kalau benar hal itu sampai terjadi, maka dirinya tidak bisa bebas seperti sebelumnya.
Kalau dia berhasil ditaklukkan oleh Chen Li, maka selanjutnya dia sama saja seperti seekor binatang yang dikurung. Tidak bisa bebas keluar masuk seperti biasanya.
Grrr!!! Roarr!!!
Raungan menyeramkan terdengar menggetarkan sukma. Suara mengerikan terasa menyusup ke dalam tubuh.
Sosok itu melesat lebih cepat lagi. Serangan yang sekarang dia lancarkan jauh lebih hebat dan lebih dahsyat dari semua serangan sebelumnya.
Wushh!!! Crashh!!!
Satu bayangan putih dan kelebatan sinar merah melesat secara bersamaan. Kecepatan keduanya melebihi apapun. Siapapun tidak akan ada yang dapat melihatnya dengan jelas.
Semuanya terjadi secara singkat. Semuanya berjalan teramat cepat.
Percikan darah segar muncrat ke segala penjuru. Sosok yang tadi ada di hadapan Chen Li, sekarang sudah menghilang entah ke mana.
Di sana tidak ada siapapun lagi kecuali dirinya. Sekarang di tempat itu hanya dia seorang.
Ke mana perginya sosok tadi?
Chen Li tersenyum simpul. Dia amat merasa senang. Amat bahagia.
Akhirnya dia berhasil menundukkan hawa nafsunya. Dia keluar sebagai pemenang.
__ADS_1
Pertarungan dahsyat dari segala pertarungan terdahsyat telah selesai. Semuanya kembali seperti semula.
Alasan kenapa pemuda itu bisa keluar sebagai pemenang tentunya karena di tengah jalan tadi, Chen Li telah kembali berhasil mengingat semuanya.
Dia berhasil menemukan jawaban dari segala pertanyaan yang tadi sempat meliputi sanubarinya.
"Kau menang. Kau berhasil keluar sebagai pemenang. Sekarang aku kalah, aku tunduk kepadamu. Meskipun aku hanya hawa nafsu, tapi aku berbeda dengan hawa nafsu lainnya. Kelak, kau akan menyadari bagaimana perbedaan aku dengan hawa nafsu yang lain,"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Suaranya amat jelas. Suara itupun amat tegas. Bahkan sampai terasa menusuk gendang telinga.
Chen Li tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum. Senyuman itu bukan senyuman dingin. Melainkan sebuah senyum kepuasan.
Dia amat puas.
Itu artinya, perjuangan keras selama tiga tahun belakangan ini tidak sia-sia. Untuk sekarang dan selanjutnya dia akan bebas, dia akan kembali melihat dunia luar yang amat luas.
Ke sananya, dia akan membalaskan dendam yang sudah menempel bersama darah dan dagingnya. Dia akan menjalankan kewajiban sebagai seorang anak yang membalaskan dendam kedua orang tuanya.
Beberapa saat kemudian, pemuda itu telah kembali dari ruang jiwanya sendiri.
Chen Li membuka mata secara perlahan. Kekuatan Mata Dewa masih terlihat dengan jelas. Bola matanya masih sama. Hanya saja, penampilan bola mata yang sekarang itu jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Meskipun masih terlihat menyeramkan, namun bola mata tersebut lebih mendingan. Kekuatan dari bola mata itupun mengalami perubahan. Kalau sebelumnya menyebarkan aura kegelapan, sekarang malah menyebarkan aura keagungan.
Kekuatan yang ada di dalam Mata Dewa merupakan kekuatan amarah. Hawa nafsu dan dendam bercampur menjadi satu. Oleh sebab itulah perbawanya selalu ingin menghancurkan segalanya.
Kalau yang terjadi sekarang malah sebaliknya, lantas apakah hawa nafsu tadi juga merupakan jelmaan dari kekuatan itu?
Chen Li berjalan keluar dari sungai yang terasa sangat dingin tersebut. Langkahnya tenang dan mantap.
Dewa Lima Unsur dan Huang Taiji sedang memandangi dirinya sambil tersenyum lembut. Keduanya belum ada yang bicara. Tapi dari tatapan mata itu saja sudah menggambarkan rasa puas yang teramat sangat.
Dua sosok agung itu bangga kepada Pendekar Tanpa Perasaan. Pemuda ternyata tidak pernah mengecewakan orang-orang yang sudah percaya kepada dirinya.
"Kau berhasil lagi Li'er. Akhirnya kau bisa menundukkan hawa nafsumu sendiri. Aii, tak kusangka ternyata kau mampu melewati ujian yang amat berat tersebut," kata Huang Taiji mendahului Dewa Lima Unsur bicara.
"Terimakasih Paman. Semua ini tidak lepas dari bantuan Paman. Kalau tidak, bagaimana mungkin Li'er bisa seperti sekarang?" Chen Li tersenyum sambil duduk di atas batu hitam di hadapan dua sosok tersebut.
__ADS_1
Orang tua itu segera mengacak-ngacak rambutnya yang masih basah karena air sungai. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Chen Li. Meskipun Huang Taiji tidak bicara, namun pemuda itu tahu bahwa apa yang dilakukannya saat ini merupakan bentuk dari sebuah kasih sayang.