
Gelegar!!!
Sebuah sinar merah membara tiba-tiba menyerang ke arah tiga orang tersebut.
Pertarungan berhenti. Semua orang memandang ke atas ke arah asal sinar merah tadi.
Keakk!!!
Sebuah suara yang melengking tinggi terdengar menggema di angkasa raya. Pendekar Tanpa Perasaan tersenyum dingin.
Phoenix Raja telah datang. Burung siluman itu langsung bertengger di pundaknya ketika dia sudah mendarat.
"Ada apa ini?" tanyanya lirih kepada Chen Li.
"Aku rasa kau sudah tahu,"
Phoenix Raja langsung terdiam. Matanya yang sangat tajam itu kemudian menatap ke arah Yun Jianying. Tanpa sadar, gadis itu merasa ketakutan. Dia bergidik ngeri dibuatnya.
'Ternyata burung siluman dan pemiliknya sama-sama menyeramkan,' katanya dalam hati.
Phoenix Raja kemudian menatap ke arah Dua Pengusa Bulan dan satu orang lainnya. Tiba-tiba burung itu bersuara kembali, setelah itu dia langsung bicara.
"Aku mencari jauh-jauh hingga ke pelosok negeri, ternyata yang dicari malah ada di sini,"
Semua orang kebingungan. Terutama sekali mereka yang di pihak musuh.
"Apa maksudmu?" tanyanya.
"Aku tidak ada urusan dengan kalian, setidaknya bukan kalian berdua yang aku cari,"
"Lantas siapa?" tanya satu dari Dua Penguasa Bulan.
"Orang tua bangka yang berada di tengah,"
Chen Li kembali menatap tajam ke arahnya. Dia sendiri tidak bicara karena belum mengerti, sejauh ini, hanya Phoenix Raja yang selalu angkat suara.
"Kenapa? Aku tidak mempunyai masalah denganmu sebelumnya," jawab si orang tua yang dimaksud.
"Kau tidak usah berpura-pura bodoh. Orang lain akan tertipu oleh tipuan busukmu, tapi aku tidak," jawab Phoenix Raja dengan sengit.
"Katakan yang sebenarnya," pinta orang tua itu.
"Katakan dulu di mana kau menyembunyikan Tiong Jong si Pengemis Berwatak Aneh,"
Chen Li tersentak. Meskipun baru mendengar hal itu saja, namun pemuda itu sudah tahu seluruhnya.
Ternyata orang yang ada di hadapannya saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah Pang Meng si Macan Kumbang Liar Dari Barat. Orang yang sedang dia cari belakangan ini.
__ADS_1
"Bicara apa kau burung sialan?" bentaknya.
Wushh!!!
Tiba-tiba Pendekar Tanpa Perasaan bergerak dalam kecepatan tinggi. Detik selanjutnya, kedok dari orang tua itu sudah ketahuan. Seluruh jubah dan topeng kulit manusia yang dikenakan oleh Pang Meng telah dicopot oleh Chen Li.
Yun Jianying, Dua Penguasa Bulan dan satu orang tetua Sekte Bulan Merah Lainnya terkejut setengah mati. Mereka tidak mengenal orang itu, bahkan melihat wajahnya pun rasanya baru kali ini saja.
"Siapa kau? Di mana ayahku?" teriak Yun Jianying kemudian.
Pang Meng hanya menjawab dengan senyuman dingin.
Yun Jianying semakin marah, dia ingin sekali membunuh tua bangka itu. Namun Dua Penguasa Bulan segera menahan tubuhnya. Mereka menotok jalan darah gadis itu sehingga seluruh tubuhnya lemas.
"Kita diam saja dulu. Aku rasa masalahnya tidak sesederhana yang terlihat," bisiknya kepada Yun Jianying.
Gadis manja tersebut langsung diam. Di samping itu, sekarang kondisinya sama seperti orang tak berguna. Jangankan menyerang, bergerak sedikit pun tidak bisa.
"Sekarang kau tidak bisa lagi menyangkal tua bangka busuk. Katakan di mana si Pengemis Berwatak Aneh sebenarnya," bentak Pendekar Tanpa Perasaan tidak kalah sangarnya.
"Hahaha … tidak semudah itu aku memberitahukan di mana dia kepada kalian. Hemm, sebenarnya kenapa kalian berdua ikut campur dalam masalah ini?" tanya Pang Meng.
"Orang-orang Perkumpulan Pengemis langsung meminta bantuan kepadaku untuk mencarimu,"
"Hemm, ternyata mereka sudah tidak becus bekerja, hahaha. Lebih baik pulanglah sekarang, jangan ikut campur masalahku atau kalian akan menanggung sendiri akibatnya,"
"Kami akan kembali setelah menemukan Tuan Tiong Jong," jawab Chen Li bersikukuh.
"Dia belum mati. Aku tahu kau menyembunyikannya di suatu tempat," tegas Phoenix Raja langsung terbang dari tempatnya. Dia mengepak sayap dan berdiri di antara tengah-tengah mereka.
"Burung sialan, apakah kau bisa diam?" teriaknya lalu secara tiba-tiba dia menyerang burung siluman tersebut.
Satu buah pukulan jarak jauh segera dilayangkan dengan kuat.
Blarr!!!
Pendekar Perasaan tidak tinggal diam. Melihat Phoenix Raja diserang secara tiba-tiba, pemuda itu langsung bergerak secepat mungkin.
"Lawanmu adalah aku," tegasnya.
"Baik. Biar aku buktikan bahwa kalian akan menyesal karena sudah ikut campur dalam urusanku,"
Wutt!!!
Wushh!!!
Pendekar Tanpa Perasaan menyongsong datangnya tubuh Pang Meng yang meluncur dengan deras ke arahnya.
__ADS_1
Mereka berdua segera beradu pukulan dengan hebat. Puluhan tendangan sudah dilayangkan. Dalam waktu singkat, keduanya sudah melayangkan dua belas jurus secara beruntun.
Pang Meng adalah salah satu datuk sesat dunia persilatan Kekaisaran Sung, sebagai seorang datuk, tentu saja kemampuannya tidak diragukan lagi.
Dia merupakan Pendekar Dewa dan berada pada tahapan tujuh pertengahan.
Suatu tahapan yang sangat tinggi. Tahapan yang patut untuk dibanggakan karena tidak setiap orang bisa mencapainya.
Pendekar Perasaan tahu akan hal tersebut. Oleh sebab itulah dia tidak bercanda, kekuatan Mata Dewa langsung digunakan.
Belasan jurus jarak jauh sudah saling berbenturan sehingga menimbulkan dentuman dahsyat. Berbagai macam sinar bertemu di tengah udara, getaran hebat menyapu segala yang ada di sekitarnya.
Pang Meng meloloskan dua batang kapak hitam legam dari balik punggungnya. Begitu dua kapak tersebut digerakkan, empat buah sinar hitam yang mengadung hawa kematian langsung menerjang dengan deras ke arah Pendekar Tanpa Perasaan.
Lawannya tidak mau kalah, sebagai manusia yang dilatih oleh dua Dewa, Pendekar Tanpa Perasaan tentunya lain dari manusia lain.
Pedang Merah Darah yang digenggam di tangan kirinya menangkis. Kekuatan tenaga dalam dikeluarkan hingga ke titik tinggi.
Semua serangan jarak jauh Pang Meng gagal total. Untuk selanjutnya giliran Chen Li yang menyerang.
Jurus Pedang Sang Dewa segera dikeluarkan saat itu juga.
Tubuhnya menghilang dari pandangan mata semua orang. Yang nampak hanyalah sinar merah pekat melesat ke sana kemari tanpa berhenti.
Pang Meng juga mengeluarkan jurus tertinggi miliknya.
Jurus Dua Kapak Menyambar Cahaya keluar. Jurus itu adalah jurus yang sangat dia andalkan.
Sebab karena jurus dahsyat tersebut dirinya bisa seperti ini. Kalau dia sudah mengeluarkannya, jangan harap ada yang dapat lolos dari jeratannya.
Dua kapak berubah pula menjadi dua buah cahaya tajam menyilaukan. Tubuhnya pun ikut menghilang. Gerakan dua pendekar itu sangat cepat dan sulit diikuti kata.
Bahkan Dua Penguasa Bulan beserta yang lainnya tidak bisa melihat dengan pasti apa yang sudah terjadi. Mereka hanya sanggup menyaksikan tiga sinar yang saling berbenturan tiada hentinya.
Blarr!!! Blarr!!! Gelegarrr!!!
Brett!!!
Setelah belasan jurus beradu, suara robekan kain terdengar. Tiga sinar yang nampak mendadak lenyap. Pertarungan berhenti.
Pang Meng sudah terluka. Perutnya robek cukup lebar, meskipun tidak dalam, tapi luka itu sudah bisa untuk mengeluarkan darahnya cukup banyak.
"Keparat!!!" desisnya.
Datuk dunia persilatan itu mengusap luka tersebut. Sekali usap, darah yang keluar sebelumnya tiba-tiba lenyap tak berbekas.
"Hemm …" Pendekar Tanpa Perasaan mendehem.
__ADS_1
Selama ini, baru orang tua itu saja yang mampu bertahan cukup lama dari jurusnya. Namun meskipun begitu, bukan berarti dia tidak sanggup untuk membunuhnya.
Pertarungan yang sebenarnya baru saja akan dimulai.