Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pedang Kembar Neraka


__ADS_3

Srett!!! Srett!!! Slebb!!!


Pedang Merah Darah menyabet dengan cepat. Pedang pusaka itupun berkelebat secara kilat.


Bayangan Tiga Warna terkejut setengah mati. Mereka ingin menghindar, sayangnya hal itu sudah terlambat. Pedang Merah Darah yang digenggam oleh Pendekar Tanpa Perasaan sudah bersarang di tubuhnya masing-masing.


Ketiga sosok itu tergores dan tertusuk ujung pedang pusaka tersebut. Ketiganya tidak berteriak sama sekali. Meskipun tubuhnya telah menjadi sasaran telak, tapi mereka tidak tampak seperti kesakitan.


Tentu saja, sebab ketiganya bukan manusia. Mereka hanyalah makhluk ciptaan Dewa.


Serbuk merah, serbuk hitam dan serbuk biru seketika memenuhi angkasa raya. Ketiga serbuk itu kemudian berubah menjadi butiran gelembung.


Gelembung-gelembung itu membumbung tinggi. Semakin lama semakin tinggi lalu pada akhirnya lenyap tak tersisa sama sekali.


Chen Li berdiri mematung. Tubuhnya masih diam tidak bergerak. Kedua pusaka miliknya masih digenggam dengan erat di lengannya masing-masing.


Sekarang dia tahu bagaimana kemampuannya. Saat ini dia tahu bagaimana dahsyatnya kekuatan dari Mata Dewa.


Ternyata kemampuannya benar-benar sudah tinggi. Dan kekuatan Mata Dewa ternyata tidak bisa dibayangkan oleh siapapun.


'Ayah, Ibu, tunggulah aku. Aku akan membalaskan dendam atas apa yang sudah menimpa kalian. Jika sudah saatnya keluar, aku akan segera mencari siapa saja pelaku utama yang telah membuat bencana besar kala itu. Setiap aliran hitam akan aku tantang, setiap ada orang yang terlibat dalam perang besar akan aku bunuh. Mereka harus mati. Bagaimanapun caranya, mereka harus tewas di tanganku,' batin Chen Li sambil memandangi langit yang biru tanpa ada awan.


Tanah yang dia pijak langsung amblas. Tanah itupun segera mengepulkan asap putih. Hampir seluruh padang rumput bergetar. Ledakan halilintar yang amat keras terdengar satu kali.


Chen Li disebut-sebut sebagai wakil para Dewa di muka bumi. Itu artinya, kalau dia marah, maka para Dewa di alam nirwana juga marah.


Dia adalah manusia di atas manusia. Dia pun berperan sebagai Dewa di kalangan manusia.


Pemuda itu kemudian membalikkan tubuhnya. Sedikit menjejak kakinya ke tanah, Chen Li sudah tiba di hadapan Dewa Lima Unsur dan Huang Taiji.


Gerakan yang amat cepat. Ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna.


"Kau berhasil melewati ujian pertama Li'er," kata Dewa La Unsur tersenyum bangga.


"Pertarungan yang sangat memukau. Seumur hidup, belum pernah aku menyaksikan pertarungan sehebat tadi," ujar Huang Taiji ikut bicara.


Chen Li sendiri hanya mengangguk sambil tersenyum. Di hadapan mereka berdua, dirinya tidak berani banyak bicara. Kalau sedang berhadapan dengan keduanya, dia seperti orang lain.

__ADS_1


Orang yang biasanya angkuh dan keras kepala, sekarang justru malah terlihat seperti orang bodoh yang ketakutan karena sudah melakukan sebuah kesalahan. Kepalanya terus tertunduk. Dia tidak berani mengangkat kepalanya terlalu lama.


Dalam hatinya, saat ini dia sedang bertanya-tanya. Barusan gurunya, Dewa Lima Unsur berkata bahwa dia baru saja berhasil melewati ujian pertama.


Kalau begitu caranya, bukankah itu artinya masih ada ujian lainnya? Kalau memang ada, lantas ujian apa yang harus dia lakukan selanjutnya?


Meskipun hatinya diliputi rasa penasaran, namun dia tetap tidak berani untuk bertanya. Chen Li tetap terdiam dan membungkam mulutnya.


"Apakah kau siap melaksanakan ujian selanjutnya?" tanya Dewa Lima Unsur setelah beberapa saat terdiam.


"Li'er siap melakukan apapun perintah guru," jawabnya penuh hormat.


"Bagus. Kalau begitu, sekarang berbaliklah. Kau harus bisa mengalahkannya," kata Dewa Lima Unsur sambil menyuruh Chen Li untuk membalikkan badannya.


Seketika juga Pendekar Tanpa Perasaan langsung berbalik. Dia segera terkejut saat di belakangnya sudah ada sosok lain.


Sosok itu berdiri mematung. Sepasang matanya memandang ke arah Chen Li dengan tajam. Perawakannya seperti seorang manusia. Tapi jelas dia bukan manusia.


Pakaiannya berwarna merah darah. Pakaian itupun dihiasi oleh intan permata yang sangat mahal harganya. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup oleh cadar. Rambutnya disanggul.


Di kedua tangannya telah tergenggam dua batang pedang. Pedang kembar yang kemilau. Pedang kembar yang pastinya sangat tajam.


Siapakah sosok itu? Seberapa tinggi kekuatannya?


Chen Li tidak tahu. Sejatinya dia memang tidak tahu apa-apa.


"Dia panglima pasukanku. Namanya Pedang Kembar Neraka. Aku ingin bagaimanapun caranya, kau harus bisa memenangkan pertarungan ini," ujar Dewa Lima Unsur.


Hati Chen Li tergetar. Dari namanya saja sudah menakutkan. Apalagi kekuatannya? Pedangnya saja sudah demikian menyeramkan, apalagi kalau sampai pedang itu berhasil merobek kulitnya?


Namun walaupun demikian, pemuda itu tetap tidak akan gentar. Chen Li tetaplah Chen Li. Bahaya sebesar apapun, bencana sedahsyat apapun, dia tidak akan merasa takut.


Karena sejatinya dia memang tidak berperasaan. Dia tidak punya perasaan. Kalau sudah menghadapi mara bahaya, hatinya mendadak beku. Perasaannya mendadak sirna.


"Baik guru. Li'er akan berusaha sebisa mungkin," jawab Chen Li dengan mantap.


Pendekar Tanpa Perasaan langsung berlaku lebih serius. Wajahnya mulai dingin. Tatapan matanya lebih dingin lagi.

__ADS_1


Dia tidak tahu seberapa hebat Pedang Kembar Neraka itu. Namun terlepas dari apapun, Chen Li tidak akan takut. Sedikitpun tidak.


Wushh!!!


Bayangan putih melesat secepat kilat. Hanya sekejap mata, tubuhnya telah tiba di hadapan Pedang Kembar Neraka.


Wutt!!!


Sabetan pedang memanjang langsung dilancarkan oleh Chen Li. Cahaya merah bersinar terang seperti rembulan di kala purnama. Cahaya itu juga terlihat seperti bianglala di saat senja.


Sangat indah. Sangat memukau.


Hanya saja di balik itu semua, ada suatu ancaman kematian yang dibawa olehnya.


Trangg!!!


Pedang Kembar Neraka mengangkat sebatang pusakanya. Benturan pertama terjadi amat keras. Kedua tubuh mereka bergetar hebat. Kejadian itu amat singkat. Karena detik berikutnya mereka telah bertarung kembali.


Pendekar Tanpa Perasaan tidak mau berlama-lama. Dia tahu kalau mengeluarkan jurus jarak jauh, dirinya bakal kalah telak. Oleh sebab itulah Chen Li berniat untuk mengeluarkan jurus jarak dekat.


Jurus pedang yang sudah mencapai tahap kesempurnaan langsung dia lancarkan. Dirinya adalah pendekar pedang. Begitu juga dengan lawannya.


Jika dua pedang bertemu, maka yang diperhitungkan bukan pedang siapa yang lebih tajam. Tapi pedang siapa yang lebih cepat, lebih tepat, dan lebih dahsyat.


Pedang Merah Darah lenyap. Hawa kematian juga lenyap. Bahkan pemiliknya pun sama. Disusul kemudian oleh sosok Pedang Kembar Neraka yang turut menghilang.


Keadaan di tengah padang rumput mendadak sunyi. Tidak ada suara ledakan. Tidak ada pula suara benturan.


Namun sesaat selanjutnya, satu sosok telah terlempar jauh ke belakang. Sosok itu melayang deras seperti sebuah batu yang dilemparkan sekuat tenaga.


Satu sosok kemudian menyusul. Hanya sekejap, sosok kedua telah tiba di hadapan sosok pertama.


Crashh!!!


Cahaya merah darah mendadak buyar. Kejadian seperti sebelumnya kembali terulang.


Pedang Kembar Neraka telah menghilang. Sekarang yang ada di tengah padang rumput itu hanyalah Pendekar Tanpa Perasaan.

__ADS_1


Pertarungannya terbilang sangat singkat. Namun jurus yang dikeluarkannya adalah jurus tertinggi. Jurus yang sudah mencapai puncak kesempurnaan.


__ADS_2