
Gelegar!!!
Ledakan dahsyat terdengar untuk yang kesekian kali. Tujuh batang pedang terbang milik Kaisar Tang Yang melesat menembus debu menghantam telak tubuh Kaisar Wei An.
Lubang tanah tercipta dengan diameter lima puluhan meter. Dalamnya sekitar dua puluh meter. Entah apa yang sudah terjadi di sana, yang jelas, Kaisar Wei An tidak tampak lagi. Tubuhnya lenyap tanpa jejak.
Di sana tidak ada siapa-siapa lagi. Yang ada hanyalah genangan darah. Darah berwarna merah pekat yang membawa bau amis menusuk hidung.
Kaisar Tang Yang tertawa. Suara tawanya sangat lantang mengguncangkan alam semesta. Segulung aura kegelapan menyelimuti bumi. Kaisar itu sangat gembira karena telah berhasil memenangkan pertarungan dahsyat itu.
"Hahaha … akhirnya aku bisa membunuhnya. Sekarang, tinggal satu langkah lagi agar aku dapat menguasai Kekaisaran Wei ini," ujarnya sambil tetap meneruskan tertawanya.
Setelah puas tertawa, dia melesat ke arah pertarungan antara Kaisar Sung Poan Siu melawan Shin Shui si Pendekar Halilintar dan istrinya si Dewi Pedang Kembar.
Pertarungan mereka sangat hebat. Sangat dahsyat. Tentunya sangat mengerikan.
Kaisar Sung Poan Siu bergerak lebih cepat dari bayangan. Pedang pusaka yang di genggam erat di tangan kanannya bergerak seperti seekor naga yang mengamuk.
Kilatan berwarna perak menembus kepulan debu. Serangan demi serangan dilancarkan tanpa kenal lelah. Jurus dahsyat dan mengerikan menggempur sepasang suami istri itu tanpa berhenti.
Shin Shui sudah mengeluarkan jurus Amukan Deww Naga Halilintar. Dia juga telah mengeluarkan Jurus Pedang Cahaya. Begitu juga dengan Yun Mei si Dewi Pedang Kembar, keduanya sudah mengeluarkan jurus tertinggi yang mereka miliki.
Sayangnya, mereka belum sanggup untuk mengimbangi kekuatan Kaisar Sung Poan Siu.
Jurus Pedang Kegelapan Menyelimuti Bumi adalah jurus terdahsyat yang dimiliki Kaisar itu. Dia jarang mengeluarkan jurus tersebut jika keadaan tidak terdesak.
Kalau sekarang Kaisar Sung mengeluarkan jurus tersebut, itu artinya dia tidak memandang remeh lawan. Jika jurus itu sudah keluar, artinya pertarungan hidup dan mati tidak akan terhindarkan lagi.
Dua belah pihak yang bertarung sudah mengeluarkan jurus dahsyatnya masing-masing. Mereka tidak peduli lagi dengan keadaan di sekitarnya.
Pertarungan ini tidak akan pernah selesai. Pertarungan akan selesai jika sudah ada nyawa yang melayang dari raga.
Cahaya biru dan cahaya merah muda berkelebat secepat kilat.
Pedang Halilintar bergerak ke depan. Pedang yang digenggam oleh Yun Mei menebas dari samping kanan ke samping kiri.
Keduanya menyerang secara bersamaan. Mereka menerjang lawan dengan kalap.
Wushh!!! Wushh!!!
__ADS_1
"Hehehe, manusia yang tidak tahu malu," gumam Kaisar Sung sambil menghindari dua serangan dahsyat tersebut.
Wushh!!!
Pedang pusaka itu berkelebat menyongsong datangnya serangan lawan. Aura kegelapan terasa lebih pekat. Hawa kematian bertambah kental seiring berjalannya pertarungan tersebut.
Gelegar!!!
Jurus Pedang Kegelapan Menyelimuti Bumi memperlihatkan kedahsyatannya. Jurus itu menelan segala macam yang ada di sekitar. Termasuk menelan juga jurus Shin Shui dan Yun Mei.
Kedua tokoh kelas atas dunia persilatan itu terlempar seratus langkah ke belakang. Seluruh tubuhnya penuh dengan luka-luka. Baik Shin Shui maupun Yun Mei, keduanya mengalami luka yang sangat parah.
Nafas mereka tersengal-sengal. Wajahnya sangat pucat pasi. Keadaan mereka benar-benar mengkhawatirkan.
"Memei, kalau kita mati sekarang, apakah kau rela?" tanya Shin Shui dengan suara lemah.
"Selama aku bisa mati bersamamu, aku sangat rela Shushi. Hanya saja, bagaimana dengan Li'er?" tanya Yun Mei sangat khawatir.
"Kau tenang saja. Li'er bisa menjalani hidupnya dengan benar. Aku yakin dia mampu melebihi apa yang sudah aku capai,"
"Tapi aku tetap merasa khawatir,"
"Akupun sama. Tapi mau bagaimana lagi? Apakah kau pikir kita bisa selamat dari kematian ini?"
"Apapun yang terjadi, aku siap menerimanya dengan rela," kata Yun Mei.
Suaranya semakin lemah. Matanya terpejam. Begitu juga dengan Shin Shui. Darah sudah mewarnai seluruh tubuh kedua tokoh besar itu. Luka-luka telah menyelimutinya.
Nafas mereka berhenti. Gerakan tubuhnya juga berhenti.
Apakah mereka mati? Ataukah masih hidup?
Terlepas mati atau belum, siapapun tidak ada yang dapat mengetahuinya secara pasti. Yang jelas, semuanya terasa berakhir.
Dunia seperti berakhir. Kehidupan manusia seperti mencapai batas akhir.
Langit berguncang dengan hebat. Bumi bergetar sangat keras. Angin berhembus sangat kencang. Hujan deras turun saat itu juga.
Kaisar Sung Poan Siu mengeluarkan kembali satu jurus dahsyat miliknya. Dia berniat melancarkan serangan untuk memastikan bahwa kedua lawannya tewas, hanya saja sebelum itu, kejadian aneh terjadi.
__ADS_1
Cahaya putih mendadak turun dari langit. Cahaya itu sangat terang sehingga menyilaukan setiap mata yang memandang.
Gelegarr!!! Duarr!!!
Kekuatan dahsyat menghantam semua yang ada di bumi. Kaisar Tang Yang dan Kaisar Sung Poan Siu terpental ratusan langkah ke belakang.
Mereka langsung mengalami luak berat. Hanya satu kali hantaman, keduanya telah berada dalam keadaan kritis.
Cahaya putih semakin turun ke bawah. Cahaya itu menggulung Shin Shui dan Yun Mei. Setelah beberapa saat, cahaya putih itu kembali menghilang dari pandangan.
Bersamaan dengan itu, Shin Shui dan Yun Mei juga lenyap. Entah ke mana perginya, yang jelas, di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi.
Pertarungan terdahsyat sudah berakhir. Perang besar juga sudah mencapai batas akhir. Sekarang, hanya sebagian orang saja yang masih bertempur.
Pihak Kekaisaran Wei kalah telak. Ratusan bahkan ribuan tokoh kelas atas dunia persilatan, gugur menjadi korban perang. Ratusan ribu pasukan juga mengalami hal yang serupa.
Meskipun pihak musuh juga sama, tapi mereka masih terbilang mendingan. Sekarang keadaan di sana telah dikuasai oleh musuh.
Tidak berapa jauh dari pertarungan dahsyat tadi, Chen Li sedang bertarung sengit. Tepat pada saat dirinya digempur oleh puluhan lawan, telinga bocah itu mendengar teriakan yang menyakitkan hati.
Dia sangat kenal dengan suara itu. Dia tahu betul siapa pemilik suara tersebut.
Benar, suara itu milik kedua orang tuanya.
Meskipun tidak diberitahu, tapi Chen Li sudah tahu apa yang sudah terjadi. Sesuatu mengerikan pasti telah terjadi kepada ayah dan ibunya.
"Ayah, Ibu, kalian di mana? Kalian kenapa?" teriak Chen Li kalap.
Pikirannya menjadi kacau. Bocah itu tidak memperhatikan keadaan sekitar.
Pada saat itu, puluhan lawannya langsung bergerak. Mereka pastinya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Puluhan batang senjata melesat ke arah Chen Li.
Mereka yakin bisa membunuh bocah ingusan tersebut. Hanya saja, kejadian diluar dugaan kembali terjadi.
Duarr!!!
Ledakan dahsyat terjadi. Gelombang kejut menyapu keadaan sekitar.
Satu kekuatan menyelimuti tubuh Chen Li. Kekuatan itu membawa serta aura agung tersendiri.
__ADS_1
Begitu debu sudah menghilang, kondisinya telah jauh berbeda. Sekarang di pundak bocah tersebut telah bertengger seekor burung.
Burung Phoenix Raja.