Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertempuran Pecah


__ADS_3

Namun hasilnya tetap sama saja. Dia tetap tidak mampu melepaskan diri dari cengkraman Pendekar Halilintar yang sudah marah besar itu.


Suaranya semakin tertahan. Matanya melotot entah kenapa. Apakah dia mencoba bernafas melalui bola mata? Bisa saja.


Siapapun dia, kalau sedang berada dalam keadaan terjepit, biasanya segala cara akan dilakukan. Mulai dari yang masuk akal, sampai tidak masuk akal.


Begitu merasa puas, Shin Shui membanting tetua tersebut ke bawah dengan sangat keras. Luncurannya sangat cepat.


"Bragg …"


Tubuhnya melesak ke dalam tanah. Bahkan hampir terkubur setengah meter. Dia jatuh tengkurap. Seluruh badan kotor oleh debu. Sebuah lubang berdiameter cukup besar tercipta karena jatuhnya tetua tersebut.


Dia semakin meringis menahan rasa sakit yang sudah menjalar ke seluruh tubuh. Dalam hatinya, dia merasa menyesal karena telah mengejek Shin Shui sampai kelewat batas.


Terkadang seseorang berani melakukan tindakan kurang aja, biasanya karena dia merasa punya orang lain di belakang. Padahal kalau tidak ada, nyalinya lebih lembek dari pada tahu.


Tipe orang-orang semacam ini, di zaman sekarang sudah pasti sangat banyak.


Shin Shui segera meluncur turun ke bawah. Dia tidak ingin memberikan ampun sebelum orang tersebut meminta ampun sendiri. Begitu tiba di bawah, dia menjinjing pundak si tetua.


Tangan kirinya segera di ayunkan untuk memberikan pukulan keras yang tepat mengenai perut.


"Bukk …"


"Heuggh …" si terus mengeluarkan suara tertahan.


Perutnya mendadak mual. Kalau tidak tertahan, mungkin seluruh isi perut akan segera keluar.


"Mana kesombonganmu? Mana kekuatanmu? Bukankah kau tadi sangat arogan sekali padaku? Merasa sok hebat mentang-mentang ini wilayahmu heh? Kau pikir aku tidak berani?"


Shin Shui marah. Sangat marah sekali. Setiap dia berkata, kilatan halilintar selalu menyertainya.


"Bukkk …"


Satu lagi pukulan keras mendarat dengan tepat di ulu hati si tetua. Akibatnya adalah tetua tersebut sampai terpental kembali ke empat tetua lainnya.


Shin Shui sendiri memang sengaja tidak ingin membunuhnya secara langsung. Dia justru ingin memberikan pelajaran, pelajaran yang sangat keras bagi orang-orang sombong.

__ADS_1


Empat tetua berusaha menahan luncuran rekannya akibat pukulan Shin Shui barusan. Bukannya tertahan, justru mereka malah ikut terbawa dan berhenti ketika menabrak tiga batang pohon sampai roboh.


Baru saja mereka berdiri, entah sejak kapan, Pendekar Halilintar tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka.


Shin Shui kembali melancarkan sebuah pukulan kepada si tetua yang paling sombong tadi. Namun pukulan yang baru dia lancarkan, bukanlah pukulan biasa.


Si tetua tidak tahan lagi. Dia ambruk di tanah seperti orang mati. Padahal sebenarnya tidak mati.


Tentu saja, bagaimana caranya dia bisa berdiri segar kembali? Sedangkan Shin Shui sudah memusnahkan ilmu silatnya.


Bagi kalangan pendekar, hal semacam ini justru jauh lebih buruk dari yang namanya kematian. Sebab mereka yang mengalami kejadian ini, sembilan puluh persen akan cacat seumur hidup.


Hidup tapi seperti mati. Mati, tapi sudah jelas hidup karena masih bernafas. Namun tidak bisa melakukan apapun. Bukankah hal ini jauh lebih parah dari kematian?


Semua rangkaian kejadian ini, terjadi dengan sangat cepat dan singkat. Namun, tidak ada yang mampu menghentikan amarah Shin Shui.


Siapa pula yang berani melakukannya?


Di sisi lain, melihat seorang rekan mereka mengalami kejadian terburuk dalam hidup, keempat tetua langsung segera menerjang Shin Shui tanpa ampun lagi.


Datangnya empat serangan tersebut bagaikan sebuah hujan badai. Datang secara tiba-tiba tanpa disangka sebelumnya. Shin Shui sendiri sedikit terkejut, tapi untungnya, dia memiliki kecepatan yang jauh lebih cepat dari pada keempat penyerang tersebut.


Keempat tetua tersebut mulai menyerang Shin Shui dengan ganas dan brutal. Namun, tiba-tiba sebuah bayangan meluncur deras bagaikan anak panah ke tempat pertarungan.


"Blarrr …"


Ledakan terjadi saat bayangan tersebut tiba di sana. Dua orang Tetua Sekte Serigala Putih terpental sampai enam langkah ke belakang. Mereka bergulingan beberapa saat.


"Adik Shin, aku ingin ambil bagian," kata Maling Sakti yang kini sudah dipinggir Shin Shui. Bahkan yang barusan menyerang juga dia.


"Baik Kakak Yang. Kita bagi dua saja. Aku harap kau jangan berlama-lama, sebab kita harus buru-buru agar tidak ketahuan," ucap Shin Shui mengingatkan.


"Baik, kita mulai …"


Si Maling Sakti langsung bergerak. Tubuhnya melesat ke arah dua tetua yang tadi dia pentalkan. Begitu sampai, dua buah pukulan segera dia lancarkan kepada dua tetua tersebut.


Sinar merah mengiringi pukulan Maling Sakti. Untungnya dua tetua tersebut sudah bisa mengusai diri, sehingga mereka berhasil menghindarinya.

__ADS_1


Di sisi lain, puluhan orang yang tadi mengepung dan berdiam diri saja, kini juga mulai memperlihatkan pergerakan.


"Serang …" teriak seorang di antara mereka.


Mendengar komando tersebut, sontak puluhan orang yang diduga murid Sekte Serigala Putih itu, menyerang ke rombongan Yun Mei dan yang lainnya.


Mereka juga tentunya tidak berdiam diri, para tetua dan pendekar yang diselamatkan oleh Shin Shui, turut mengeluarkan kekuatannya untuk menghalau puluhan murid tersebut.


Hanya dalam hitungan detik, keadaan segera berubah total. Yang tadinya sepi, mulai gaduh. Yang tadinya berdiam diri, kini semuanya bergerak serempak.


Pertempuran pecah tanpa bisa dihalangi lagi. Dentingan senjata tajam dan berbagai macam jurus, mulai terlihat mewarnai langit malam.


Teriakan kematian mulai terdengar. Para murid berusaha menghalau sebisa mungkin, setidaknya sampai Kepala Tetua mereka tiba. Tetapi, entah mereka dapat bertahan atau tidak. Karena mengingat yang dihadapi para murid tersebut, bukanlah pendekar sembarangan.


Bahkan sebagian dari lawan mereka adalah tetua Sekte Bukit Halilintar. Dan semua orang tahu, bagaimana mengerikannya sekte yang satu ini.


Sementara itu, Shin Shui juga sudah sejak beberapa waktu lalu memulai lagi pertarungannya. Pendekar Halilintar itu telah mengeluarkan kekuatan sampai tujuh puluh persen.


Dua tetua berkekuatan Pendekar Dewa tahap empat, kini bukanlah masalah baginya. Walaupun pertarungan tidak bisa diselesaikan secara singkat, tapi setidaknya juga tidak akan memakan waktu terlalu lama.


Gempuran serangan bagaikan air bah mulai Shin Shui lancarkan. Kedua tangannya berkilat memberikan pukulan maut. Tubuhnya diselimuti sinar biru terang yang kerap kali mengeluarkan kilatan halilintar.


Pukulan maut datang tanpa jeda. Dua tetua Sekte Serigala Putih berusaha untuk terus menangkis dan bertahan sebisa mungkin.


Mereka mengeluarkan senjata pusaka andalannya yang berupa pedang dan tombak. Dua buah senjata tersebut dimainkan dengan gerakan tertentu untuk meladeni semua serangan Shin Shui.


Sayangnya, usaha yang mereka lakukan selalu gagal. Bagaimanapun senjatanya bergerak, Pendekar Halilintar tetap bisa menahannya dengan mudah.


Bahkan dia tidak ragu untuk membenturkan dua senjata pusaka tersebut dengan kedua tangannya sendiri.


"Trangg …"


Senjata dua tetua itu beradu dengan milik rekannya sendiri. Percikan api membumbung tinggi. Anehnya, senjata mereka tiba-tiba seperti menempel tanpa bisa dilepaskan. Entah bagaimana caranya Shin Shui dapat melakukan hal tersebut.


"Bukkk …"


Dua buah pukulan keras, dengan telak menghantam dada dua tetua. Mereka terpental sampai menabrak pohon di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2