
"Kalau Paman Huang Taiji adalah Dewa, kenapa dia tidak dapat menyelamatkan Kekaisaran Wei dari bencana? Kalau benar dia Dewa, kenapa pula tidak dapat menyelamatkan Sekte Bukit Halilintar? Atau paling tidak, kenapa dia tidak dapat menyelamatkan kedua orang tuaku?" tanya Chen Li sedikit berteriak.
Pada saat membicarakan hal ini, suaranya mendadak serak parau. Seluruh kesedihannya, seluruh kedukaannya, menyatu dalam satu perasaan yang sulit untuk dilukiskan. Siapapun tiada yang dapat mengetahui bagaimana perasaannya saat ini.
Namun yang pasti, sekarang pemuda itu merasa hancur. Seluruh kenangan manis bersama orang-orang yang dikasihinya mendadak bemunculan dalam benak Chen Li. Semua kenangan yang telah dilewati di Kekaisaran Wei, tiba-tiba melintas dengan sangat jelas.
Dia amat sedih. Amat berduka dan merana.
Kalau kau sedang merasakan atau setidaknya pernah merasakan apa yang dirasakan Chen Li saat ini, niscaya kau bakal tahu bagaimana rasanya.
Manusia mana yang tidak bersedih saat menanyakan sesuatu yang menyangkut orang-orang terkasihnya?
Dewa Lima Unsur dan Huang Taiji terdiam untuk sesaat. Keduanya tidak langsung menjawab, sepasang matanya menatap kepada pemuda itu. Tatapannya tajam. Tapi bukan tajam karena marah. Melainkan tajam karena di dalamnya mengandung perasaan belas kasihan. Mengandung suatu perasaan kasih sayang yang tidak bisa digambarkan.
"Li'er, dengarkan penjelasanku," kata Dewa Lima Unsur berkata sangat lembut penuh kasih sayang.
Setelah menghela nafas beberapa kali, akhirnya dia segera melanjutkan, "Semua yang terjadi di muka bumi sudah tertulis sebelum bumi ini diciptakan. Sebelum manusia lahir ke dunia, mereka sudah membawa nasib dan takdirnya masing-masing. Ada sebagian takdir yang bisa diubah, ada juga yang tidak bisa diubah. Dan terkait semua yang kau tanyakan tadi, semuanya termasuk ke dalam takdir yang tidak bisa diubah,"
"Aku memang Dewa. Huang Taiji pun termasuk Dewa. Tapi kami bukan bagian dari itu. Kami juga mempunyai tugas masing-masing. Ada Dewa untuk memelihara dunia, ada pula Dewa untuk menghancurkan dunia. Pun, Dewa yang mengatur takdir manusia juga ada. Apakah kau sudah paham apa yang baru saja aku jelaskan?" tanya Dewa Lima Unsur kepadanya.
Chen Li membungkam mulutnya. Sebagai pemuda atau bahkan manusia yang kecerdasannya jauh di atas rata-rata, sudah tentu dia sangat paham apa yang Dewa Lima Unsur katakan barusan.
Dia paham seluruhnya. Dia mengerti semuanya.
Sebenarnya dia sudah tahu akan hal ini, namun karena pikirannya sedang kalut, tanpa terasa dirinya menjadi lupa segalanya. Dia lupa terhadap apa yang seharusnya memang sudah terjadi.
Terkadang kecerdasan seseorang bisa mendadak tumpul kalau orang itu merasa tidak kuat dalam menghadapi suatu masalah.
__ADS_1
"Li'er mengerti guru. Maafkan Li'er karena telah lancang. Li'er siap menerima hukuman apapun," katanya lalu segera menyembah di hadapan Huang Taiji dan Dewa Lima Unsur.
"Kau tidak perlu seperti itu Li'er, aku tidak menyalahkanmu," ucap gurunya sambil mengangkat pundak pemuda itu.
Suasana menjadi hening lagi. Chen Li semakin tertunduk lesu. Kalau selama ini dia tidak belajar dari Huang Taiji, kalau selama ini dirinya tidak belajar dari suka duka kehidupan, mungkin saat ini dia sudah menjadi mayat.
Adakah manusia yang sanggup bertahan hidup jika sudah menghadapi suatu persoalan seperti dirinya? Adakah dia yang bisa meneruskan hidup setelah kepedihan dan kesedihan mendera tiada hentinya?
Ada. Tentu saja ada.
Manusia macam apakah itu?
Manusia yang seperti Chen Li inilah. Manusia yang sudah kenyang makan kepedihan dan kesedihan itu sendiri. Manusia yang mau belajar dari segala yang sudah dilewati. Manusia seperti itulah yang dapat terus dan akan terus hidup.
"Sekarang telah tiba waktunya untuk kita berpisah," ujar Dewa Lima Unsur.
"Berpisah?" tanya Chen Li dengan keniny berkerut.
Pendekar Tanpa Perasaan diam tidak menjawab. Sejatinya, dia sendiri tidak tahu harus berkata atau menjawab apa.
"Aku hanya berharap kau selalu ada di dalam jalan yang telah ditentukan Li'er,"
"Li'er tidak akan mengecewakan guru dan Paman," jawabnya dengan nada sedih.
Hati Chen Li terasa hancur. Dirinya merasa jatuh ke jurang tanpa dasar.
Baru saja dia mengingat kenangan pedih dari yang terpedih, baru saja dia berharap bahwa kejadian paling menyedihkan tidak menimpa hidupnya lagi, tak disangka, jawabanya justru malah langsung dan sangat bertolak belakang.
__ADS_1
Chen Li kembali mengalami kejadian itu. Dia kembali merasakan perasaan itu.
Sekuat apapun manusia, kalau selalu ditimpa kepedihan dan kesedihan, air matanya pasti akan menetes.
Begitu juga dengan Chen Li. Meskipun dia bergelar Pendekar Tanpa Perasaan, namaun hal itu hanya berlaku pada saat berada di medan pertarungan. Jika berada diluar dari medan itu, justru dia sebenarnya adalah orang yang sangat berperasaan.
"Kau jangan bersedih Li'er, apapun di dunia ini, ada pertemuan pasti bakal ada perpisahan. Kau jangan khawatir, jika kota berjodoh, suatu saat kita pasti akan bertemu kembali," kata Huang Taiji dengan perlahan.
Suaranya amat dalam. Setiap kata yang dia ucapkan terasa sangat berat. Seolah setiap kata itu mengandung beban ratusan kilo. Atau bahkan mengandung beban seberat gunung sekalipun.
Wajahnya amat tenang. Matanya juga tidak menangis. Luarnya tidak menangis, karena pantang bagi seorang Dewa mengucurkan air mata. Apalagi di hadapan seorang manusia. Namun di balik semua itu, hatinya justru terasa ditusuk-tusuk oleh jutaan jarum. Hati itu terasa hancur luluh lantak.
"Tapi Paman, bukankah ini artinya Li'er akan hidup seorang diri?" tanyanya dengan suara mendalam.
Jiak Huang Taiji juga pergi, bukankah dia sebatang kara? Ke mana dia akan mengadu? Kepada siapa dia akan menceritakan segala macam keluh kesah yang diraskan? Kepada langit? Atau kepada bumi? Apakah mereka akan mendengar dan menjawabnya?
Benak Chen Li diliputi oleh berbagai macam pertanyaan. Namun satupun dia tidak mampu menjawab semua pertanyaan itu.
"Kau harus belajar mandiri. Kau harus bisa hidup sendiri. Kau juga harus ingat bahwa tidak selamnya kita akan bersama. Setiap manusia, suatu saat dia pasti akan mengalami yang namanya hidup sendiri. Kau harus selalu mengingat hal ini,"
Chen Li kembali membungkam. Apa yang dikatakan Huang Taiji sangat benar. Dia seperti baru tersadar. Pemuda yang sebelumnya merasa jatuh ke jurang tanpa dasar, sekarang justru merasakan telah naik kembali ke permukaan.
"Baik Paman. Li'er akhirnya paham semuanya. Li'er berjanji tidak akan pernah mengecewakan kalian berdua," katanya dengan suara mantap.
Wajahnya yang tadinya muram, sekarang telah cerah kembali. Senyuman kesedihan telah berganti dengan senyuman kebahagiaan.
Chen Li bahagia. Bahagia karena menemukan kunci kehidupan.
__ADS_1
"Bagus. Akhirnya kau mengerti tentang semua itu, kau benar-benar tidak mengecewakan," puji Dewa Lima Unsur dengan tulus.
Suasana yang tadinya diliputi oleh kesedihan, sekarang telah diganti dengan suasana yang diliputi oleh kebahagiaan.