
Tepat setelah Shin Shui selesai berkata, tiga puluh serangan dari prajurit siluman telah melesat cepat ke arahnya. Shin Shui tidak memperdulikannya, dia lebih dulu melindungi Chen Li dengan cara menciptakan benteng yang mengeluarkan kilatan halilintar.
Dia ingin membuat bahwa Chen Li dalam keadaan aman. Setelah dipastikan keberadaannya, Shin Shui segera membalikan dan bersiap untuk bertarung.
Pendekar Halilintar masih sempat tersenyum dingin saat melihat semua serangan tersebut.
"Jurus seperti ini bagiku hanya mainan," katanya dengan nada penuh ejekan.
Ciri khas Shin Shui yang bisa disebut sifat gila, langsung keluar untuk memancing amarah semua lawan.
Saat serangan tiba, Shin Shui menghentakkan kedua tangannya ke depan. Bersamaan dengan itu, dari balik telapak tangannya keluar sebuah jurus yang hebat. Seketika tanah di sekitar arena terangkat lalu membentuk gulungan ombak.
Semua serangan berhasil di hadang oleh jurusnya. Ledakan terdengar saat jurus kedua belah pihak beradu, begitu keadaan normal kembali, pertarungan pun segera dilanjut lagi.
"Giliranku …" teriak Shin Shui sambil berlari.
Kecepatan larinya seperti petir menyambar bumi. Sangat cepat sekali. Dalam satu kedipan mata, Shin Shui sudah tiba di hadapan tiga ekor siluman. Tanpa membuang waktu lagi, dia langsung melancarkan jurus tapaknya ke tiga siluman tersebut.
Karena kekuatan ketiganya masih jauh di bawah Shin Shui, maka pada akhirnya mereka tidak mampu menahan hantaman telapak tangan tersebut. Alhasil ketiga siluman itu terpental jauh ke belakang. Mereka sempat bergerak beberapa saat sebelum akhirnya tewas.
Melihat kejadian ini, dua puluh tujuh rekan siluman tersebut bertambah marah. Mereka mengurung Shin Shui lagi lalu segera menyerangnya dengan serempak.
Semua serangan mengandung tenaga dalam tersendiri. Andai kata saat ini Shin Shui baru mencapai Pendekar Dewa tahap lima, maka bisa dipastikan dirinya akan kewalahan. Tapi sekarang sudah berbeda, kekuatan Shin Shui sudah berada di tahapan Pendekar Dewa tahap akhir.
Di Kekaisaran Wei sendiri saat ini dapat dihitung dengan jari siapa saja yang mampu berduel imbang dengannya. Jika di sana saja seperti itu, apalagi di sini?
Hanya dengan memutarkan kedua telapak tangannya beberapa kali, tiba-tiba sebuah sinar hijau keluar dari belakangnya. Sinar itu melesat secepat angin menerjang. Kekuatan yang terkandung pun lumayan besar.
Untuk kedua kalinya puluhan siluman tersebut menemui kegagalan dalam serangannya. Tapi mereka tidak putus asa, dengan sisa kekuatan yang ada, prajurit siluman yang berjumlah puluhan itu menerjang Shin Shui dengan ganas.
Cakaran dan cengkraman mereka meluncur deras bagaikan anak panah. Serangan datang bagaikan hujan lebat. Shin Shui masih tenang, dia melakukan gerakan sederhana untuk menahan semua serangan itu.
Kedua tangannya diayunkan dari atas ke bawah atau sebaliknya. Atau kalau tidak dari kiri ke kanan, dan kanan ke kiri. Dalam setiap ayunan tangannya, keluar secercah tenaga dalam yang mampu menekan puluhan siluman itu.
Setelah merasa puas bermain-main, Shin Shui membentak nyaring. Dia berteriak keras lalu menengadahkan kepalanya ke langit sambil merentangkan tangannya.
__ADS_1
"Hujan Halilintar …"
"Tarr … tarr,"
Hanya berselang satu kedipan mata saja, sesuatu yang mengerikan terjadi. Langit langsung bergemuruh seperti akan turun hujan. Langit yang sudah kelam, kini bertambah kelam lagi.
Selanjutnya halilintar mulai terdengar menyambar bumi tanpa hentinya. Awalnya para siluman tersebut tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi selanjutnya mereka segera paham setelah melihat lima temannya tewas dengan tubuh gosong.
"Celaka …" gumam seekor siluman. Dia nampak ketakutan setelah menyadari apa yang terjadi.
Mereka berniat untuk menghalau jurus dahsyat ini. Sayangnya para siluman terlambat dua langkah, karena baru saja niat itu muncul kembali, halilintar tersebut sudah menyambar mereka satu persatu.
Semuanya tewas seketika dengan tubuh gosong. Tidak ada yang selamat dari jurus itu, kecuali mereka yang memang mempunyai kekuatan tinggi. Siluman yang selamat hanya tiga ekor saja. Dua setara dengan Pendekar Dewa tahap satu, dan yang satu lagi tentunya si iblis berkulit merah.
"Apakah sudah dikatakan cukup?" tanya Shin Shui kepada si iblis tadi. Dia sengaja ingin meledek lawannya.
"Masih belum. Sebab masih ada tiga sosok lainnya. Termasuk aku sendiri," jawab si iblis dengan nada sombong.
"Seyakin itukah kau?"
"Bagus, keyakinanmu ternyata cukup tinggi. Marilah kita buktikan apakah ucapanmu akan terbukti atau tidak sama sekali," kata Shin Shui bernada dingin.
"Keparat …" bentaknya.
Dia menyuruh dua rekannya untuk menyerang lebih dulu. Mereka mengangguk, seketika itu juga langsung melesat menerjang Shin Shui.
Kedua siluman yang menyerang Shin Shui adalah siluman ular ungu dan rajawali biru. Keduanya melancarkan serangan maut. Si ular menyerang dengan patukan dan tubuhnya bergerak melilit Shin Shui. Sedangkan di rajawali lebih dulu terbang tinggi sebelum akhirnya melancarkan serangan berupa cakaran yang tajam.
Pendekar Halilintar itu tahu bahwa serangan ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebab kedua siluman telah mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam serangan tersebut.
Sehingga hawa yang terkandung pun beberapa kali lebih hebat lagi. Dua cahaya berbeda warna menyilaukan mata Shin Shui. Angin berhembus dingin serat tajam mengarah kepadanya.
"Jurus yang bagus," gumam Shin Shui.
"Tapak Amarah Budha…"
__ADS_1
"Wushh …"
Tanah bergetar. Angin berhembus semakin kencang. Dari dalam tanah, tiba-tiba keluar sebuah telapak tangan dengan ukuran besar.
Telapak itu bergerak ke depan untuk menahan dua serangan lawannya.
"Blarr …"
Benturan jurus tidak dapat dihindari lagi. Debu segera menutupi arena pertarungan.
Shin Shui tahu bahwa dirinya harus bergerak dengan cepat. Sebab kalau tidak, tentu dia akan mengalami hal yang lebih sulit daripada sekarang.
Maka bergitu debu menghilang, dia telah bergerak cepat dengan jurusnya.
"Langkah Halilintar …"
"Wushh …"
Shin Shui menghilang dari pandangan musuh. Detik berikutnya, Pendekar Halilintar sudah tiba di hadapan siluman ular. Tanpa membuang waktu, dia menghentakkan telapak tangan kanannya.
"Blaarr …"
Dari telapak itu keluar tenaga dahsyat yang membuat tubuh siluman ular cerai berai. Sekali serang, dia langsung hancur menjadi potongan daging kecil.
Siluman rajawali kaget, dia benriat untuk terbang tinggi saat melihat kematian rekannya yang mengerikan. Tentunya dia berniat untuk menyelamatkan diri, tapi sayang usahanya sia-sia sebab Shin Shui sudah berhasil mencengkram kedua kalinya dengan erat.
"Kena kau siluman jelak …" bentak Shin Shui.
Selesai berkata, dia langsung membandingkan siluman rajawali tersebut ke tanah. Suara berdebum terdengar menggema, tubuh rajawali itu melesak cukup dalam ke tanah. Hanya satu kali banting, dia tewas mengenaskan menyusul rekannya.
"Sekarang tidak ada yang mengganggu lagi. Aku akan memberikan pelajaran kepadamu karena sudah berani menculik anakku," kata Shin Shui kepada iblis kulit merah.
Dalam hati, iblis itu merasa gentar juga setelah melihat jurus-jurus yang Shin Shui keluarkan. Bagaimana tidak membuatnya bergidik ngeri, semua anak buahnya tewas dalam satu serangan.
Walaupun dia yakin bahwa dirinya tidak semudah itu untuk dibunuh, tetap saja dia khawatir jika mengingat betapa kejam sosok manusia yang kini ada dihadapannya itu.
__ADS_1