
Di depan semua orang yang ada di ruangan tersebut, berbagai macam hidangan sudah tersajikan. Di luar, puluhan murid Sekte Serigala Putih sedang berjaga-jaga.
Walaupun kematian kepala tetua ini tidak ada orang luar yang melihat, namun bisa saja mereka sudah tahu.
Karena mengingat sebagian kelompok selalu mengawasi mereka. Selain itu, orang-orang yang berkecimpung dalam dunia persilatan, biasanya mempunyai berbagai macam jurus.
Mulai dari yang unik, bahkan sampai yang aneh.
Puluhan murid itu ada yang berjaga di depan pintu gerbang, halaman, bahkan di berbagai penjuru.
Di dalam ruangan khusus, para petinggi mulai berbicara penting terkait kejadian yang telah mereka lalui belakangan ini.
Dimulai dari pihak tuan rumah, mereka mengatakan bahwa beberapa waktu lalu ada sekelompok orang yang datang sambil memberikan ancaman.
Terkait ancaman apa itu, si tetua tidak menceritakannya dengan jelas. Namun yang pasti, Shin Shui sudah mengetahui inti masalahnya.
"Apakah mereka mengatakan sesuatu?" tanya Shin Shui.
"Benar. Mereka mengatakan akan mengawasi kami setiap saat. Jadi bukan tidak mungkin kalau sekarang saja mereka sudah mendengar berita tentang kematian kepala tetua. Ya, aku sangat yakin bahwa mereka sudah tahu," ucap seorang tetua.
Baik Shin Shui maupun yang lain mengangguk. Sedikit banyak Pendekar Halilintar sudah mengetahui bagaimana pergerakan musuh. Mereka akan menyebarkan propaganda, menarik orang-orang secara paksa untuk berada di pihaknya, atau kalau tidak, menyerang orang-orang ketika berada dalam keadaan lengah.
Di saat mereka semua sedang berbicara ngalor ngidul, tiba-tiba Shin Shui teringat sesuatu.
Bukankah sebelumnya dia sudah mengrimkan surat kepada Sekte Kayu Hitam dan meminta bantuan? Dan juga, bukankah sekte itu telah setuju akan membantunya dan akan datang tengah malam nanti?
'Bukankah sekarang lebih dari tengah malam? Walaupun baru lebih sedikit, tetapi aku tahu bagaimana orang-orang Sekte Kayu Hitam. Mereka adalah salah satu sekte aliran hitam yang sangat disiplin. Hemm, pasti ada sesuatu yang telah terjadi di sana,' batin Shin Shui.
Perasaan Shin Shui mulai tidak enak. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu sedang terjadi di sana.
Namun Shin Shui bingung, apakah dia harus pergi ke sana, atau diam di sini? Kalau diam di sini, bagaimana dengan di sana? Kalau terus di sini, bagaimana nasib orang-orang di sana?
Shin Shui berada dalam kebingungan. Dia bingung menentukan langkah mana yang harus di ambil.
Diam-diam, Shin Shui memulihkan tenaga dalamnya kembali. Setelah benar-benar pulih, dia mulai berpikir kembali.
Tak lama, Shin Shui telah menentukan pilihan. Dia akan pergi ke Sekte Kayu Hitam.
__ADS_1
Firasatnya semakin lama semakin tidak enak, dia sangat yakin bahwa di sana sedang terjadi sesuatu. Itu artinya, dia harus bergerak cepat.
Ketika para tetua sedang bicara satu sama lain, Shin Shui meminta izin untuk keluar bersama istrinya, Yun Mei.
Mereka keluar. Keduanya berhenti di tempat yang agak sepi.
"Apakah ada yang ingin kau bicarakan Shushi?" tanya Yun Mei merasa penasaran.
Seingatnya, Shin Shui tidak pernah melakukan hal seperti ini. Kalau dia melakukannya, sudah pasti ada hal penting yang sedang terjadi.
"Ada,"
"Apa?"
"Aku akan pergi ke Sekte Kayu Hitam. Firasatku mengatakan di sana sedang terjadi sesuatu,"
"Kapan kau akan pergi?"
"Sekarang,"
"Aku serahkan kepada kalian. Aku akan pergi sendiri supaya tidak memakan waktu terlalu lama. Kalau urusannya selesai, sebelum pagi hari, aku pasti akan kembali. Tetapi kalau menjelang pagi tidak kembali, kau suruh saja Kakang Yang bersama Li'er untuk pergi ke Sekte Kayu Hitam," kata Shin Shui.
"Baik, aku mengerti. Tapi, kau yakin akan mengajak Li'er bersamamu? Bukankah kau bisa saja menghadapi masalah sulit? Aku tidak ingin membahayakan Li'er, dia masih kecil. Aku takut kenapa-napa, terlebih lagi, aku tidak ingin melihat anakku terluka," katanya kurang setuju dengan ucapan Shin Shui.
"Memei, kau percayalah kepadaku. Li'er berada dalam lindunganku dan Kakak Yang. Tidak akan terjadi apa-apa, lagi pula, Li'er adalah penerusku. Aku harus mendidiknya keras sejak saat ini,"
Yun Mei tidak langsung menjawab. Terkadang perasaan seorang ibu, jauh berbeda dengan perasaan seorang ayah.
"Hahhh … baiklah. Aku mengerti, nanti akan aku sampaikan," ujar Yun Mei pada akhirnya mengerti maksud Shin Shui.
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu, kau jaga diri baik-baik. Kalau pemakaman sudah selesai dan aku belum pulang, kau kembalilah dulu ke sekte,"
"Baik, aku paham,"
Shin Shui mengangguk. Dia mencium bibir istrinya lalu memeluknya dengan erat. Dua orang itu bermain beberapa saat untuk sekedar melepas kerinduan.
"Hati-hati," kata Yun Mei.
__ADS_1
"Pasti," jawab Shin Shui.
Dia langsung pergi menembus gelapnya malam. Ketika berada di tempat yang sepi, Shin Shui memilih untuk terbang tinggi bersama kelelawar yang sedang berputar-putar di angkasa.
Yun Mei langsung kembali ke ruangan setelah bayangan suaminya pergi. Dia menjelaskan semuanya kepada orang-orang yang ada di sana.
Tidak ada yang berani menyalahkan tindakan Shin Shui. Justru mereka semua mendukungnya karena orang-orang tersebut, tahu bagaimana sifat Pendekar Halilintar.
Di tempat lain, Shin Shui menambah kecepatannya. Semaki malam, semakin cepat juga dia melesat di udara. Hawa yang dingin tidak mampu menyurutkan semangat Shin Shui.
Jarak ke Sekte Kayu Hitam membutuhkan waktu sekitar setengah hari.
Tetapi bagi Shin Shui, jarak itu dapat dia lipat. Dengan terbang dalam kecepatan tinggi, maka sudah pasti waktunya dapat di persingkat.
Di tengah udara, Pendekar Halilintar dapat melihat sesuatu jauh di depan sana.
Sebuah cahaya kuning kemerahan berkobar membumbung tinggi ke udara. Ada asap hitam juga yang menyertai cahaya itu.
Shin Shui tergetar. Dia menjadi semakin yakin bahwa di sana sedang terjadi sesuatu diluar dugaannya. Sebab cahaya kuning kemerahan itu berasal tepat di dari tempat berdirinya Sekte Kayu Hitam.
Sebisa mungkin dia mempercepat laju terbangnya. Cahaya biru yang dipantulkan dari jubahnya terlihat menerangi malam gelap.
Beberapa saat kemudian, Pendekar Halilintar telah tiba di tempat tujuannya.
Sekte Kayu Hitam.
Shin Shui semakin terkejut ketika melihat para murid sekte dan yang lainnya, sedang berjuang melawan puluhan orang tak dikenal.
Beberapa bagian bangunan telah di bakar. Bahkan gedung utama juga di bakar. Hawa di sana sangat panas sekali. Hawa panas bercampur bersama semangat para murid Sekte Kayu Hitam.
Di segala penjuru, terjadi pertempuran. Baik para murid, para tetua, maupun kepala tetuanya sendiri.
Shin Shui tidak langsung turun tangan. Dia berusaha untuk tetap tenang dan mencoba mencerna kejadian yang kini terjadi di depan matanya.
Pertempuran semakin hebat. Api semakin membara. Suara jeritan kematian dan teriakan membangkitkan semangat, menggema ke seluruh tempat.
Shin Shui mulai turun dari atas atap sekte. Pendekar Halilintar itu mendarat tepat di tengah-tengah pertempuran.
__ADS_1