Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Sumpah Yang Terbukti


__ADS_3

Sinar merah memanjang nampak membelah udara. Kekuatan kegelapan menyeruak menyelimuti jagat raya. Dewa Merah semakin ganas, gerakannya semakin cepat.


Kekuatan hasil latihannya selama puluhan tahun mengurung diri dikeluarkan dengan sempurna. Kakek tua itu tampak seperti iblis yang sedang marah besar. Dua batang tongkat pusaka miliknya bergerak tanpa berhenti dan menyerang tanpa ampun.


Kakek Sakti Manusia Dewa dibuat sedikit kewalahan. Apalagi dia diserang dari dua sisi yang berbeda. Sepasang tangan yang sudah renta itu terpaksa harus menangkis secara bergantian.


Dia bukan ahli dalam memainkan senjata. Jangankan menggunakan pedang, menggunakan tongkat saja, orang tua itu tidak bisa.


Kakek Sakti Manusia Dewa adalah seorang ahli memainkan tangan kosong. Senjatanya cuma sepasang tangan itu. Kekuatannya bertumpu pada setiap gerakan tangannya. Karena itulah, dia melatih sepasang tangannya sekuat mungkin sehingga setara dengan sekelas senjata pusaka kelas atas.


Kakek Sakti Manusia Dewa bergerak lebih ganas. Dia menangkis semua serangan Dewa Hitam dan Dewa Merah dengan segenap kekuatan.


Dewa Hitam melancarkan satu tebasan pedang jarak jauh. Aura hitam menyelimuti bumi. Satu sinar hita melesat menembus udara.


Wushh!!! Wushh!!!


Ketiga tokoh tersebut bertarung semakin sengit. Semakin dahsyat. Dan semakin mengerikan.


Jurus yang dikeluarkan semakin luar biasa. Seluruh tenaga dalam, seluruh kekuatan mereka, semuanya dikerahkan hingga ke titik tertinggi.


"Dua Tangan Dewa Membawa Maut …"


Wushh!!!


Kakek Sakti Manusia Dewa mengeluarkan jurus terkuat yang dia miliki. Sepasang tangan itu kemudian mengeluarkan segulung tenaga teramat dahsyat yang mengerikan.


"Tongkat Naga Merah …"


Wushh!!!


Sepasang tongkat milik Dewa Merah bergerak melebihi sambaran halilintar. Sepasang tingkat itu mengeluarkan aura merah pekat yang kemudian membentuk dua ekor naga.


Dua naga itu menerjang ke depan berusaha membunuh musuh tuannya.

__ADS_1


"Pedang Kegelapan, Cahaya Hitam Membawa Kematian …"


Wushh!!!


Tidak mau kalah dari dua rekannya di masa lalu, Dewa Hitam juga turut mengeluarkan jurus tertinggi yang dia miliki. Pedang berwarna hitam itu mengeluarkan aura kegelepan yang mengerikan. Sinar hitam meluncur deras seperti anak panah yang diluncurkan sekuat tenaga.


Tiga jurus menakutkan dari tiga tokoh tua tanpa tanding sudah dikeluarkan. Kalau sudah seperti ini, siapa yang dapat membayangkan akibatnya? Siapa yang dapat menahannya?


Tiga jurus meluncur deras dalam waktu bersamaan. Ketiga jurus maha dahsyat tersebut berbenturan di tengah jalan.


Gelegar!!! Roarr!!! Duarr!!!


Ledakan dahsyat, suara menggelegar, teriakan iblis, semuanya bercampur menjadi satu dalam satu kesempatan. Semuanya menyatu secara bersamaan.


Debu mengepuk setinggi mungkin. Gelombang kejut menyapu segala yang ada di tempat itu sejauh beberapa kilo meter. Langit berguncang seperti mau runtuh. Bumi bergetar seperti ingin mengeluarkan segala yang ada dalam perut bumi.


Gelegarr!!!


Ledakan paling keras terdengar.


Setelah beberapa saat kemudian, tiga sosok telah terkapar di tanah. Anehnya, mereka justru berbaring berdekatan. Entah kapan ketiganya bergerak mendekat, yang jelas, ketiganya sekarang berada dalam posisi telentang dan hampir menempel.


Mereka terluka parah. Tiga tokoh tua tanpa tanding itu mengeluarkan darah dari mulutnya masing-masing. Ternyata jurus mereka seimbang, meskipun Dewa Hitam dan Dewa Merah bersatu untuk melawan Kakek Sakti Manusia Dewa, nyatanya kekuatan gabungan itu tidak mampu melebihi, kecuali hanya setara dengannya.


"Ternyata kau masih berada di atas kami," kata Dewa Hitam kepada Kakek Sakti Manusia Dewa dengan susah payah.


"Kalian tetap tidak bisa melebihi kemampuanku. Hanya saja aku tidak percaya bahwa kalian bakal bersatu untuk membunuhku, andai saja kalian berusaha seorang diri. Niscaya kalian yang akan tewas, sedangkan aku selamat. Tapi sekarang, sepertinya kita harus tewas bersama. Aii, semuanya sudah ditentukan," jawab Kakek Sakti Manusia Dewa sedikit menyesal.


"Kau benar. Dulu kita pernah bersama. Dulu, kita juga pernah bersumpah akan mati bersama. Sekarang hal itu benar-benar terbukti. Setelah sekian lama berpisah, lalu bertemu kembali kemudian bertarung. Pada akhirnya, kita harus rela mati bersama," sambung Dewa Merah.


Ketiganya menghela nafas dalam-dalam. Entah apa yang sedang mereka rasakan, sebab tidak ada yang mengetahuinya secara pasti.


"Lebih baik begini. Aku sudah bosan dengan hiruk-pikuk kehidupan ramai ini. Aku bosan dengan segala macam yang dilakukan manusia. Menurutku, mati jauh lebih baik," ujar Dewa Hitam lebih lanjut.

__ADS_1


Kakek Sakti Manusia Dewa mengangguk. Dewa Merah juga mengangguk. Ketiganya menghela nafas, mereka memejamkan matanya masing-masing.


Setelah itu, tiga sinar mendadak turun dari langit. Kemudian setelah beberapa saat, tiga sosok itu telah menghilang dari pandangan. Mereka tidak ada di tempat tersebut. Entah ke mana perginya, yang jelas, mereka tidak akan kembali untuk selamanya.


###


Kaisar Wei An, Shin Shui dan Yun Mei serta Yuan Shi si Raja Seribu Pedang sedang berjuang keras melawan dua Kaisar dari negerinya masing-masing.


Kaisar Tang Yang dan Kaisar Sung Poan Siu.


Meskipun musuhnya hanya berjumlah dua orang saja, tapi kekuatan mereka melebihi kekuatan ratusan ribu pasukan. Kedua Kaisar tersebut telah mencapai tahap tertinggi dalam hal keilmuan.


Mereka telah mencapai puncak. Mereka juga sudah mencapai kesempurnaan dalam seni bela diri. Bahkan Shin Shui dan Kaisar Wei An sendiri masih berada di bawah mereka berdua.


Kalau kenyataannya seperti itu, bisa dibayangkan bagaimana mengerikannya kekuatan Kaisar Tang Yang dan Kaisar Sung Poan Siu. Jika salah satu di antara mereka saja kekuatannya sulit untuk dibayangkan, lantas bagaimana jadinya jika mereka menyatukan kekuatan?


"Kaisar Wei An menantuku, semua ini karena ulahmu yang keras kepala. Coba kalau kau tidak berlaku demikian, mungkin perang terbesar ini tidak akan terjadi sekarang. Tapi karena sikapmu yang merasa paling tinggi, terpkasa kejadian ini harus terjadi," kata Kaisar Tang Yang kepada Kaisar Wei An.


Kaisar termuda dalam sejarah Kekaisaran Wei itu tersenyum dingin. Dia tidak peduli lagi kepada yang namanya mertua. Selama mertuanya melakukan tindakan diluar batas, maka dirinya tidak akan tinggal diam.


Kaisar Wei An yang biasanya sopan, sekarang justru malah sebaliknya.


"Menurutmu, adakah seorang Kaisar yang rela memberikan negerinya sendiri kepada manusia iblis semacam kau? Jika aku di posisimu dan kau di posisiku, apakah kau akan melakukan seperti yang kau harapkan? Aku seorang Kaisar, aku harus bertanggungjawab demi keberlangsungan kehidupan di negeriku sendiri," jawab Kaisar Wei An dengan geram.


Wajahnya memerah. Sepasang matanya juga sama. Dia benar-benar marah kepada mertuanya sendiri.


"Menanti tidak tahu diri. Aku bicara baik-baik kepadamu, tapi kau malah menjawab tanpa sopan santun. Apakah seperti itu perlakuan seorang Kaisar?" bentak Kaisar Tang Yang.


"Tutup mulut busukmu itu. Aku sudah muak mendengar ocehanmu. Apa yang kau katakan sekarang, sebenarnya sangat bertolak belakang dengan yang sebelumnya. Iblis tetaplah iblis," teriak Kaisar Wei An tidak mau kalah.


###


Btw itu yang dobel udah dihapus ya. Cuma dari pihak MT gabisa dihapus. Jadi maaf.

__ADS_1


Terkait panjangnya chapter perang, maaf karena ini namanya juga perang terbesar. Sehingga mungkin wajar kalau sedikit panjang. Namun yang jelas, sebentar lagi perang ini berakhir.


__ADS_2