Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Cemas


__ADS_3

Angin berhembus mengibarkan pakaian dan dedaunan. Pepohonan tumbang berserakan di mana-mana. Tiga orang manusia terkapar di tanah tanpa nyawa. Bau amis darah menyeruak ke segala penjuru.


Shin Shui masih berdiri mematung dengan kedua tangan di belakang. Pendekar Halilintar hanya bisa menghela nafas melihat berbagai macam kekonyolan yang telah dia lewati belakangan ini.


Apakah manusia memang seperti itu? Selalu bersifat konyol yang bahkan mereka tidak sadar akibat dari kekonyolan itu sendiri?


Shin Shui berjalan santai ke belakang. Dia melihat Huang Taiji sedang berdiri kokoh dan melemparkan senyuman hangat kepadanya.


Huan Ni Mo juga tersenyum. Tapi di balik senyuman itu, ada sebuah wajah yang tidak bisa menyembunyikan kekagetan dalam dirinya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Huang Taiji kepada Shin Shui setelah jarak keduanya berdekatan.


"Aku tidak papa. Kakak Huang sendiri?"


"Aku baik, kau jangan khawatir,"


Shin Shui melirik ke Huan Ni Mo, saat itu Wanita Tombak Asmara sedang memandang ke arahnya. Hanya saja dia tidak berani berbicara lebih dahulu.


"Lama sekali kita tidak bertemu, bagaimana kabar Nyonya Huan saat ini?" tanya Shin Shui sambil tertawa.


"Aku baik-baik saja. Benar, memang sudah lama kita tidak bertemu, terkahir bertemu saat itu ketika kita menghajar manusia iblis," jawabnya sambil tertawa.


Senyuman dan suara tawa Huan Ni Mo mendadak lenyap dan digantikan rasa cemas ketika Shin Shui memandang ke arah Chen Li yang sedang terluka parah. Dia ingin bicara lebih jauh, tetapi mulutnya sudah tidak mampu untuk berkata.


Seolah mulut itu telah dikunci rapat. Yang terlihat hanyalah bibir tuanya yang sedikit bergetar.


Shin Shui memandang ke arah Chen Li dengan tatapan mata penuh selidik. Dia melirik sekilas ke arah Huan Ni Mo, wanita itu semakin merasa ketakutan.


Bagaimana jika Pendekar Halilintar malah salah paham? Bagaimana kalau dia sampai marah besar dan secara tiba-tiba membunuhnya?


Memikirkan hal tersebut, Wanita Tombak Asmara itu bertambah cemas. Dia sadar bahwa dirinya bukan tandingan Shin Shui. Jika tidak sedang marah saja kekuatannya sangat mengerikan, apalagi saat dia marah?


"Adik Shin, kau jangan salah paham. Nyonya Huan No Mo tidak bersalah. Dia tidak tahu apa-apa. Kalau kau mau membunuh, bunuh saja aku yang telah gagal menjalankan kewajiban. Aku tidak mampu menjaga Li'er dengan baik," ucap Huang Taiji sambil maju selangkah sehingga posisinya tepat berada di hadapan Shin Shui dalam jarak tiga langkah.

__ADS_1


Shin Shui tidak menjawab apapun. Dia masih diam seribu bahasa.


Melihat kenyataan ini, Huang Taiji semakin yakin bahwa saudara angkatnya sedang marah besar. Jika dia sudah marah, jangan harap bisa lari dari cengkramannya.


"Adik Shin, kalau kau mau bunuh, cepat bunuh saja aku. Jangan terus diam seperti ini, jika kau punya mulut, kenapa tidak mau bicara?"


"Kau pikir aku marah dan mau membunuh Wanita Tombak Asmara?" tanya balik Shin Shui kepada Huang Taiji.


"Bukankah memang itu yang akan kau lakukan?"


"Tidak, sama sekali tidak. Kau salah Kakang Huang. Aku tidak marah dan tidak akan membunuh siapapun," ucap Pendekar Halilintar sambil tersenyum.


Huang Taiji semakin kebingungan. Bagaimana mungkin Shin Shui tidak merasakan apapun dan bahkan bisa tersenyum saat melihat anaknya terluka parah? Apakah dia sudah tidak lagi menyayangi Chen Li?


Berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya. Tetapi dia masih belum bisa menjawab.


"Kau sudah tidak peduli terhadap anakmu?"


"Bagaimana mungkin aku bisa tidak peduli kepada darah dagingku?"


"Siapa bilang Li'er sekarat dan akan mampus?"


"Bukankah kenyataannya begitu?"


"Kau salah lagi. Li'er sudah tidak papa, sebentar lagi dia akan siuman," kata Shin Shui dengan santai.


"Mari kita pergi mencari makan," lanjutnya.


Mereka bertiga segera melesat pergi dari tempat tersebut meninggalkan tiga mayat manusia dan kehancuran alam sekitar. Tiga bayangan manusia meluncur sangat cepat. Jika orang biasa, jangan harap bisa melihatnya dengan jelas.


Setelah menempuh jarak beberapa kilometer jauhnya, akhirnya tiga tokoh besar itu telah tiba di perkotaan kembali. Mereka langsung memasuki restoran yang paling megah dan mewah yang ada di kota tersebut.


Kali ini Shin Shui tidak lagi menyamar seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya. Pendekar terkuat di Kekaisaran Wei itu menampakkan diri yang sebenarnya.

__ADS_1


Begitu dia masuk, seluruh pengunjung yang ada di sana langsung merasakan tekanan dari sebuah aura agung. Walaupun belum pernah berjumpa langsung dengannya, tapi setiap orang tahu bahwa aura itu hanya dimiliki oleh satu orang saja.


Kalau bukan Shin Shui si Pendekar Halilintar, siapa lagi?


Semua pengunjung membungkuk memberikan rasa hormat kepadanya. Shin Shui langsung membangunkan mereka, karena jika dia tidak begitu, sampai besok pun orang-orang tersebut tidak akan bangun.


Suasana langsung hening. Tidak ada yang berani bicara lantang. Mereka bercerita bersama rekannya dengan suara lirih. Saling berbisik-bisik.


Shin Shui mendekati seorang kasir lalu memesan kamar. Seorang pelayan segera mengantarkannya. Begitu tiba di kamar, Chen Li langsung dibaringkan.


Tetapi belum sampai lima belas menit, bocah itu mendadak membuka mata dan langsing melompat memeluk ayahnya.


"Ayah …" teriaknya langsung memeluk Shin Shui dengan erat.


Teriakannya terdengar manja. Mengandung kerinduan yang mendalam.


"Ayah kira kau bakal mampus Li'er," kata Shin Shui mengejek anaknya sendiri.


"Di dunia ini, mungkin hanya Ayah yang tega berkata demikian kepada anaknya sendiri," jawab Chen Li sedikit kesal.


"Hahaha, kan Ayah hanya mengira,"


"Cihh, jika aku mati hanya karena kejadian sebelumnya, maka aku tidak pantas menjadi anak dari Pendekar Halilintar," jawab Chen Li dengan bangga.


Ayah dan anak itu tertawa bersama. Keduanya langsung bercanda seperti adik bertemu kakaknya. Mereka sama-sama rindu, seolah sudah sekian lama tidak bertemu.


Jika Shin Shui dan Chen Li bahagia, maka Huang Taiji dan Huan Ni Mo justru malah bingung. Keduanya benar-benar tidak habis mengerti. Mereka tidak menyangka bahwa di dunia ini, masih ada bocah yang sangat istimewa seperti Chen Li.


Huang Taiji yang merupakan pengawal Dewa saja bingung melihatnya. Apalagi Huan Ni Mo?


Sebelumnya Shin Shui memang sangat khawatir saat melihat Chen Li tidak sadarkan diri karena terluka parah. Dia hampir saja marah melihat kondisi anaknya yang sangat mengenaskan itu.


Untungnya Shin Shui bukan tokoh sembarangan, detak jantung anaknya yang sudah lemah, secara tiba-tiba menjadi normal kembali. Anehnya lagi, Shin Shui melihat dalam tubuh Chen Li ada sebuah kekuatan aneh yang mengalir ke seluruh aliran darahnya.

__ADS_1


Jika Shin Shui belum mengetahui bahwa Chen Li memiliki kekuatan para Dewa, maka Pendekar Halilintar itu tidak akan percaya atas kejadian yang tanpa sengaja di lihatnya tersebut.


__ADS_2