
Huang Taiji hanya bisa menghela nafas. Meskipun hatinya kesal, namun dia tidak tega jika melihat Chen Li kelaparan. Jangankan dirinya, orang lain sekalipun pasti akan melakukan hal yang sama dengannya.
Siapa yang akan tega melihat bocah kecil menggemaskan seperti Chen Li menderita lapar? Siapapun pasti tidak akan tega. Jangankan manusia, Dewa sekalipun mungkin akan merasakan hal yang sama.
Huang Taiji segera mengambil beberapa potong daging. Kemudian dia menyuapi Chen Li dengan penuh kesabaran dan penuh kasih sayang.
"Paman, aku …"
"Jangan bilang kau minta arak. Jika itu yang kau minta, Paman tidak akan mau menyuapimu lagi," tegas Huang Taiji memotong bicaranya Chen Li.
Bocah itu langsung merengut. Ternyata pamannya sudah mengetahui apa yang dia minta. Chen Li langsung membungkam mulutnya, dia tidak bicara lagi.
Beberapa saat kemudian, Chen Li tidak mau lagi disuapi. Bocah itu mendadak bangun dan tangan kanannya langsung menyambar guci arak yang menebarkan bau harum itu.
Huang Taiji bengong. Ang Mo Bian juga sama. Kedua orang tua itu merasa terkejut melihat Chen Li yang secara cepat sudah mendapatkan tenaga.
Meskipun si Pengemis Sakti Bertangan Enam tidak mengetahui kejadian sebenarnya, namun kakek tua itu tahu betul bahwa Chen Li dan Huan Ni Mo mengalami luka yang sangat parah.
Dua orang itu setidaknya tidak akan mampu menggunakan tenaga dalam beberapa hari ke depan. Baik itu tenaga luar, maupun tenaga dalam.
Namun ternyata, Chen Li mampu mengeluarkan tenaganya saat itu juga. Padahal dirinya baru saja sembuh, bahkan belum sembuh total.
Siapa yang akan percaya kejadian ini jika tidak menyaksikannya secara langsung?
"Dia benar-benar istimewa," kata Ang Mo Bian kepada Huang Taiji.
Meskipun kakek tua itu baru pertama kali melihat Chen Li, namun sebagai tokoh tua yang banyak mempunyai pengalaman, dirinya sudah tahu betul bahwa bocah itu bukanlah bocah sembarangan.
"Dia memang istimewa," jawab Huang Taiji sambil tersenyum.
Sementara Chen Li sendiri tidak mendengarkan kedua orang tua itu bicara. Saat ini dia sedang makan dengan lahap. Tangan kanan mengambil daging, tangan kiri menenggak arak.
Bagi sebagian orang, mungkin dia akan dianggap aneh karena sudah doyan arak. Padahal usianya masih bocah, tapi jika masalah arak, bocah itu selalu paling utama.
Tapi bagi yang paham, justru tidaklah aneh. Karena saat Chen Li meminum arak, ada kekuatan tersendiri yang mengalir ke seluruh tubuhnya.
"Suatu saat nanti, dia pasti akan melebihi ayahnya," kata si Pengemis Sakti Bertangan Enam lebih lanjut.
__ADS_1
"Entah sudah berapa banyak orang yang berkata demikian. Tapi aku mempercayainya, karena aku sendiri merasakan hal yang sama,"
Huang Taiji dan Ang Mo Bian terus berbicara tentang Chen Li. Yang dibicarakannya tetap tidak peduli.
"Li'er, bagaimana ceritanya kau bisa tertangkap oleh mereka?" tanya Huang Taiji setelah Chen Li selesai makan.
"Mereka datang secara tiba-tiba. Li'er sendiri tidak mengetahui kedatangannya. Tahu-tahu empat orang itu sudah ada di dalam kamar. Mereka langsung membekuk Nyonya Huan Ni Mo. Setelah itu, mereka juga berniat untuk membekuk Li'er sendiri,"
"Kau tidak melawan mereka?" tanya Huang Taiji.
"Tentu saja Li'er melawan. Tapi baru beberapa gebrakan saja, Li'er sudah berapa dalam genggaman mereka. Selanjutnya entah apa yang terjadi,"
Huang Taiji dan Ang Mo Bian menganggukkan kepalanya.
"Paman, kapan Nyonya Huan akan tersadar?" tanya Chen Li sambil mendekati wanita itu.
"Sebentar lagi dia akan sadar,"
Baru saja selesai bicara, Huan Ni Mo mendadak mengeluh perlahan. Wanita itu langsung bangun dan duduk dengan mimik wajah kebingungan.
"Nyonya Huan sudah sadar? Mari makan dulu, kau butuh asupan makan agar tenagamu cepat pulih," kata Chen Li sambil memberikan sepiring daging.
"Di mana empat keparat itu?" tanya Huan Ni Mo menahan amarah yang meluap dalam dadanya.
"Mereka sudah mampus. Kau tenang saja, dendammu sudah aku balaskan," kata Huang Taiji sambil tersenyum kepadanya.
"Kau membunuh mereka sendirian?"
"Tentu saja,"
"Bagaimana kau mampu melakukannya?" tanya Huan Ni Mo penasaran.
Dia sendiri merasa heran kepada Huang Taiji. Dia tahu sampai di mana kekuatan pria tua itu, meskipun belum pernah bertarung, namun Huan Ni Mo sudah bisa mengukur kekuatannya.
"Karena aku tahu kelemahan mereka. Oleh sebab itulah mereka bisa mampus di tanganku,"
Huan Ni Mo hanya tertawa getir. Mau tidak mau, dia harus percaya kepada perkataan Huang Taiji.
__ADS_1
"Aii, aku tidak melihat ada Tuan Ang di sini. Maafkan aku tidak mengapa sejak tadi," katanya setelah menyadari bahwa di sana ada juga tokoh besar lainnya.
"Nyonya Huang tidak perlu seperti itu kepadaku. Aku jadi merasa tidak enak hati,"
"Hahaha, Tuan Ang memang tidak berubah. Bagaimana kau bisa ada di sini?"
"Karena goa ini adalah tempat tinggalku yang sementara,"
Ang Mo Bian kemudian menceritakan hal sama seperti yang diceritakan kepada Huang Taiji sebelumya. Wanita itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Keadaan memang sudah kacau balau. Karena itulah, jika aku sudah pulih seperti sedia kala, aku akan pergi ke sarang mereka dan membunuhnya dengan kedua tanganku," tegas Huan Ni Mo merasa marah kepada orang-orang yang menjajah negaranya.
Tiga orang yang ada di sana mengangguk.
Secara tiba-tiba, Huang Taiji melesat keluar goa. Gerakannya itu dilakukan secara mendadak. Sehingga siapapun tidak ada yang menyangkanya.
Di luar goa, dua orang sudah berdiri berhadapan dengannya. Yang satu merupakan wanita berusia sekitar enam puluhan tahun. Sebagian rambutnya sudah memutih. Pakaiannya bewarna hijau tua. Di punggungnya terdapat satu batang pedang cukup panjang.
Di samping wanita tua itu ada bocah berusia sekitar lima belas tahunan. Dia seorang gadis yang cantik. Rambutnya dikepang dua. Wajahnya bulat telur, gadis kecil itu memakai pakaian berwarna biru muda. Sepasang pedang kembar disimpan rapi di punggungnya.
Gadis itu berdiri dengan kedua tangan melipat dada. Keuda bola matanya tajam. Bibirnya selalu tersenyum sinis. Sekilas saja bisa dipastikan bahwa gadis kecil itu adalah gadis yang sombong.
"Angin apakah yang membawa kalian datang kemari?" tanya Huang Taiji.
"Muridku ingin menantang bocah kecil yang selalu bersamamu," kata si wanita tua dingin.
"Chen Li?"
"Mungkin,"
"Tapi, kenapa muridmu bisa secara tiba-tiba menantangnya?"
"Apapun alasannya, itu bukan urusanmu. Yang jelas aku mengundangmu tiga hari kemudian. Kami tunggu kalian di Bukit Merah Salju," kata si wanita tua masih dengan nada yang sama.
Walaupun wanita tua itu tidak mau menceritakan alasannya secara pasti, tapi Huang Taiji sudah tahu yang sebenarnya. Kalau bukan untuk ketenaran, memangnya alasan apalagi?
Saat ini Chen Li sedang naik daun. Bocah kecil itu selalu dibicarakan setiap orang. Kalau di pertarungan nanti si gadis kecil bisa menang melawannya, sudah pasti namanya akan berkibar.
__ADS_1
Cara ini adalah cara yang umum dan paling mudah untuk mengangkat nama dalam dunia persilatan.