Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Ketakutan Kepala Desa


__ADS_3

Si kepala desa itu tersentak kaget melihat apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Belum pernah dia melihat ada seorang bocah kecil yang mampu mementalkan para pengawalnya tanpa menyentuh sedikitpun.


Selama ini, dia selalu membanggakan para pengawalnya tersebut. Terbukti bahwa selama dia menjabat, tidak ada seorang pun yang berani kurang ajar kepadanya. Apalagi sampai mencari masalah seperti sekarang.


Siapapun akan menuruti perkataannya. Dia sudah lama menjadi kepala desa. Orang tua itu hidup bergelimang harta. Sedangkan rakyatnya hidup dalam penderitaan. Sebab apa yang seharusnya menjadi hak rakyat, dia telan sendiri bersama dengan rekan-rekannya.


Chen Li terus melangkahkan kakinya ke depan. Enam orang pengawal si kepala desa tidak berani lagi melakukan tindakan bodoh. Sebagai pendekar, mereka paham betul bahwa bocah ini mempunyai kekuatan yang jauh melebihi dirinya.


Karena itulah, keenam pendekar tersebut hanya bisa berdiri di pinggir bersama para warga sambil menahan rasa sakit.


"Mau apa kau? Mendekat selangkah lagi, aku akan melaporkanmu kepada tentara pemerintah," ucap kepala desa itu mulai ketakutan.


Tetapi Chen Li sama sekali tidak menghiraukannya. Dia terus berjalan dengan santai tanpa mendengar apa yang dikatakan oleh orang tua itu.


Setelah jarak antara keduanya tinggal dua tiga langkah, barulah Chen Li menghentikan langkahnya.


"Aku peringatkan sekali lagi kepadamu orang tua, berikan hak yang seharusnya jadi milik rakyat. Beri mereka uang dan gandum. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika bertindak sedikit kasar," kata Chen Li dingin.


Dia paling benci kepada orang-orang yang seperti si kepala desa tersebut. Kalau saja orang tua di hadapannya ini pendekar, niscaya dia sudah menghunuskan ujung pedangnya.


Sayang, dia tak lebih hanyalah orang tua yang sudah bau tanah. Hanya saja ambisinya untuk memperkaya diri sendiri tidak luntur walau usianya sudah setua itu.


Ambisi memang akan selalu ada dalam setiap diri manusia. Sebelum nyawa melayang, maka ambisi itu akan tetap ada dan mungkin akan tumbuh seiring berjalannya waktu.


Ini sudah menjadi hal wajar. Setiap manusia pasti mempunyai ambisi. Hanya saja, ada dua tipe manusia dalam hal ini. Apakah dia yang bisa mengendalikan ambisinya, atau dia yang tidak bisa mengendalikan ambisinya?


Si kepala desa tentunya termasuk tipe kedua.


"Siapa kau sebenarnya?"


"Margaku Shin, namaku Chen Li," jawabnya dengan nada dan ekspresi wajah kaku.


Si kepala desa langsung merasakan seperti para petani sebelumnya. Dia merasa seluruh tubuhnya lemas tak berdaya. Keberaniannya hilang. Wajahnya yang kejam mendadak lenyap tak berbekas.

__ADS_1


"Ja-jadi ka-kau …"


"Ya, aku anak dari Shin Shui, si Pendekar Halilintar. Pahlawan Kekaisaran Wei. Orang kedua setelah Kaisar Wei An, aku rasa kau sudah mendengar tentang ayahku bukan? Nah, sekarang tinggal pilih. Kau boleh memilih untuk melanjutkan jabatanmu, dengan catatan mulai sekarang akan berlaku jujur. Atau kau tetap pada pendirianmu, dengan catatan jabatanmu hancur. Dan kau tidak akan bebas dari hukuman. Silahkan, pilihan ada di tanganmu," kata Chen Li masih dengan ekspresi yang sama.


Tentu saja si kepala desa akan memilih pilihan yang pertama. Siapa yang mau jabatannya hancur dan hidupnya juga sama? Siapapun pasti tidak mau.


Hanya orang-orang bodoh yang akan memilih pilihan kedua.


Keirngat dingin sudah membasahi seluruh tubuh si kepala desa. Dia sekarang sedang membungkuk hormat tanpa berani mengangkat kepala.


Begitu juga dengan semua orang yang ada di sana.


Chen Li membeberkan siapa dirinya dengan tujuan yang sama seperti sebelumnya. Bagaimanapun juga, dia masih kecil. Belum tentu kepala desa itu benar-benar mengubah sikapnya jika hanya mengandalkan dirinya saja.


Namun jika dia menyebut nama ayahnya, pasti orang tua itu tidak akan berani lagi membuat penderitaan bagi rakyatnya.


Jangankan begitu, kalau sekarang Chen Li menyuruh si kepala desa memenggal kepalanya sendiri, dia yakin bahwa orang tua itu bakal melakukannya.


Chen Li tkdak dapat memungkiri bahwa ayahnya memang sosok yang paling ditakuti, dihormati, dan disegani. Dia ingin seperti itu, lebih tepatnya lebih daripada pencapaian ayahnya.


Entah. Yang jelas untuk saat ini Chen Li hanya bisa berusaha sekeras dan sekuat yang dia bisa.


"Sa-saya memilih pilihan pertama Tuan muda. Saya berjanji akan menjalankan tugas seperti yang telah ditetapkan," kata orang tua tersebut dengan nada yang lemah lalu kepalanya semakin tertunduk.


"Bagus, kalau begitu sekarang kau suruh orang-orangmu untu memberikan sesuatu yang aku minta sebelumnya,"


"Ba-baik Tuan muda,"


Si kepala desa lantas mengajak beberapa bawahannya untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Chen Li sebelumnya.


Orang tua tersebut segera kembali dengan membawa sesuatu dari Cincing Ruang miiknya. Setelah itu dia langsung memberikan kepingan emas kepada para warga lengkap beserta gandung dan bahan makanan lainnya.


"Para warga sekalian, maaf jika selama ini saya telah lalai. Lain waktu kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Kalau sampai terulang, saya siap menerima hukuman yang setimpal," ucap si kepala desa di depan semua warga yang hadir di sana.

__ADS_1


Chen Li tersenyum melihatnya. Dia senang jika bisa membuat bahagia orang lain. Karena pada saat itu, dia juga merasakan kebahagiaan yang sulit untuk diceritakan.


"Nah orang tua, kalau begitu aku pamit undur diri. Kau harus ingat semua yang aku katakan," ucap Chen Li.


"Apakah Tuan muda tidak mau minum teh sebentar?"


"Terimakasih. Lain waktu kalau ada kesempatan, aku pasti mampir lagi. Sekarang urusanku masih banyak,"


"Baiklah kalau begitu Tuan muda. Semoga Dewa selalu melindungimu," kata si kepala desa.


Chen Li mengangguk tanda terimakasih. Para warga juga menyatakan terimakasih yang mendalam.


Segulung angin mendadak muncul. Debu berterbangan. Setelah lenyap, Chen Li sudah tidak ada lagi di sana.


"Benar-benar anak yang luar biasa," gumam si kepala desa sambil menggelengkan kepalanya.


###


Bocah itu kini sudah berada di penginapan sekaligus restoran bersama tiga sahabatnya. Mereka baru selesai makan malam saat Chen Li tiba.


"Lama sekali kau Chen Li. Dari mana saja?" tanya Li Meng Li sedikit kesal.


"Biasa, aku mencari kesenangan," jawabnya singkat lalu mulai menyantap makanan yang ada di meja.


"Besok pagi kita segera berangkat ke Sekte Seribu Iblis," ujar Yuan Shao.


"Baik," jawab mereka serempak.


Setelah bercerita sambil bercanda, pada akhirnya empat bocah tersebut segera pergi ke kamarnya masing-masing untuk melangsungkan istirahat. Tubuh mereka sudah merasa lelah setelah melewati berbagai macam kejadian di perjalanan.


Hanya beberapa saat saja, masing-masing dari mereka sudah terlelap bersama mimpi-mimpinya.


###

__ADS_1


Pagi-pagi sekali mereka sudah bangun. Kini keempatnya sudah membersihkan diri sekaligus sarapan. Moi Xiuhan sedang membayar biaya mereka semalaman.


Setelah dia kembali dari meja kasir, empat bocah tersebut segera melanjutkan perjalanan supaya bisa tiba lebih awal.


__ADS_2