
Provinsi Hunan, Kota Quandai …
Provinsi Hunan terletak di bagian sebelah Barat Sekte Bukit Halilintar. Jarak dari sekte ke sana tidaklah terlalu jauh. Kalau dilakukan dengan berkuda, mungkin membutuhkan waktu setidaknya dua hari untuk sampai ke sana.
Tetapi jika dilakukan dengan berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah terbilang tinggi seperti Pendekar Pedang Tombak dan Chen Li, mungkin hanya membutuhkan waktu setengah hari saja. Sebab kecepatan mereka bisa beberapa kali lipat lebih cepat daripada larinya kuda.
Kota Quandai dikenal dengan kota yang subur dan makmur. Ekonomi di kota ini selalu stabil. Banyak orang-orang dari luar daerah yang mengadu nasib di Kota Quandai ini. Kebanyakan dari mereka memilih untuk menjadi pengusaha.
Seperti usaha penginapan, restoran dan lain sebagainya. Apalagi jika mengingat kota ini memiliki pemandangan alam yang sangat indah. Banyak para pelancong dari berbagai macam daerah jauh yang sengaja datang ke sini hanya untuk menikmati keindahan alamnya saja.
Walaupun di Kota Quandai berdiri beberapa sekte kelas bawah aliran hitam dan putih, tetapi mereka jarang sekali berselisih. Karena keduanya mempunyai daerah kekuasaan masing-masing. Bahkan para petinggi masing-masing sekte berteman dengan baik.
Apalagi setelah adanya kekacauan di seluruh daerah Kekaisaran Wei. Maka tidak mengherankan jika hubungan mereka menjadi lebih akrab lagi.
Tetapi semua hal di atas hanya bisa dinikmati di hari-hari sebelumnya. Karena beberapa hari lalu, Kota Quandai telah diserbu oleh sekelompok manusia iblis yang membuat kota menjadi porak-poranda.
Hanya dalam hitungan hari, beberapa sekte telah rata dengan tanah. Anggota dan petingginya banyak yang tewas atau juga melarikan diri ke tempat yang lebih aman untuk meminta bantuan.
Menurut informasi yang di dapatkan, jumlah sekelompok orang-orang tersebut tak kurang dari empat puluh orang. Termasuk di dalamnya ada delapan Pendekar Dewa tahap dua dan dua Pendekar Dewa tahap empat.
Jumlah mereka memang sedikit. Tetapi kekuatannya sudah cukup untuk menghancurkan sekte kelas bawah. Apalagi orang-orang tersebut beraliran hitam. Sudah pasti mereka mempunyai jurus-jurus licik dan kejam.
Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding dan Chen Li, tiba di Kota Quandai saat malam hari. Keduanya mencari tempat yang terbilang aman untuk sekedar mencari penginapan dan restoran.
Setelah menemukan penginapan, keduanya memasuki kamar untuk menyimpan barang-barang. Mereka sempat mengisi perut sebelum memulai rencananya.
Di saat tepat tengah malam, di sebuah kamar penginapan tersebut. Huang Taiji Lu atau si Pendekar Tombak Tanpa Tanding terlihat sedang berbicara dengan Chen Li.
Keduanya sedang menyusun rencana pertama sebelum menuju ke rencana utama mereka.
"Li'er, malam ini kita akan mulai bergerak. Kita akan mencari di mana markas orang-orang itu. Kalau ada kesempatan, habisi musuh sebisa mungkin. Tetapi kalau tidak ada, jangan terlalu memaksakan. Kita akan mencari cara lainnya. Ini bertujuan supaya saat misi utama berlangsung, kesulitan yang akan dihadapi setidaknya berkurang karena pihak mereka sudah kita habisi lebih dulu," kata Huang Taiji Lu menjelaskan kepada Chen Li terkait rencana pertamanya.
__ADS_1
"Baik Paman. Li'er mengerti. Kapan kita akan segera bergerak?" tanya Chen Li memastikan.
"Sekarang juga kita bergerak. Kau harus ingat apa kata Ibumu. Misi ini harus diselesaikan selama empat hari. Lebih cepat, jauh lebih baik," ucapnya.
"Kalau begitu baiklah. Li'er sudah siap,"
"Bagus. Ayo kita berangkat,"
Chen Li mengangguk. Keduanya segera keluar lewat jendela kamar lalu melesat menembus kegelapan.
Dua bayangan putih bergerak sangat cepat seperti setan gentayangan. Mereka lebih dulu menyusuri beberapa tempat di sekitar kota. Tetapi hasilnya nihil.
Huang Taiji Lu baru teringat bahwa biasanya, orang-orang seperti ini akan memilih markas di pinggiran hutan. Di mana pun tempatnya, selama ada hutan, pasti mereka akan membuat markas di sana.
Bukan tanpa alasan, justru karena ada alasan lah mereka berbuat demikian.
Kalau membuat markas di pinggir sebuah hutan, setidaknya hal tersebut akan mempermudah mereka untuk melarikan diri jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Kini kedua orang tersebut sedang menuju ke pinggiran hutan Kota Quandai. Di zaman ini, hutan masih terjaga dengan baik. Belum ada polusi atau semacamnya. Sehingga hutan masih terbentang luas di setiap tempat.
Tiga puluh menit kemudian, keduanya telah sampai di tempat tujuan. Di sebuah halaman luas di tengah hutan. Berdiri puluhan tenda darurat berukuran cukup besar. Ada juga satu tenda yang sepertinya dibuat khusus untuk menjadi tempat bahan-bahan pokok atau barang-barang yang sudah mereka rampok.
Api unggun membumbung tinggi mengepulkan sedikit asap kehitaman. Sepuluhan orang terlihat sedang berjaga di sebelah kanan. Di sebelah kiri, ada juga api unggun dengan jumlah penjaga yang sama.
Di lihat dari segi kekuatan, sepertinya mereka hanya merupakan Pendekar Langit tahap tiga akhir. Bukan sebuah persoalan berarti bagi Chen Li, apalagi bagi Pendekar Pedang Tombak.
Ada seratus orang sekalipun, dia sanggup menghabisi semuanya dalam waktu singkat. Apalagi kini setelah tahu siapa dia sebenarnya.
"Li'er, kau urus di bagian sebelah kanan. Paman di sebelah kiri, kita pancing mereka secara bergantian. Pertama kau dulu, setalah itu baru Paman. Usahakan jangan terlalu menimbulkan bunyi mencurigakan supaya anggota lain tidak ada yang tahu," kata Huang Taiji memberikan instruksi kepada Chen Li.
"Baik Paman, Li'er paham. Kalau begitu, aku segera bergerak sekarang juga,"
__ADS_1
Belum habis ucapannya, orangnya sudah melesat lebih dulu.
Chen Li menggoyangkan rumput ilalang untuk memancing perhatian para penjaga. Dan ternyata usahanya berhasil.
Dua orang penjaga mendekat ke arahnya untuk memeriksa.
Belum sempat kedua penjaga itu tahu apa yang terjadi, mendadak sinar biru berkelebat dua kali lalu hilang tanpa bekas. Dua orang tersebut mengeluarkan suara tertahan.
Mereka tewas karena lehernya ditebas oleh bocah itu dalam hitungan detik. Gerakan yang cepat dan tepat.
Delapan orang penjaga lainnya merasa curiga saat mendengar teriakan tersebut. Apalagi setelah melihat dua rekannya tewas mengenaskan.
Mereka segera masuk ke dalam hutan sambil membawa obor.
Chen Li sudah menunggu orang-orang itu di tengah rimbunan pohon. Pedang Awan sudah digenggam di tangan kirinya.
"Siapa kau?" tanya seorang penjaga.
"Pendekar Tanpa Perasaan …" jawabnya dingin.
Wajahnya dingin. Bicaranya dingin. Seperti juga batang pedangnya yang dingin dan mematikan.
Selesai berkata demikian, Chen Li bergerak lagi.
Satu sinar biru menyeruak di tengah kegelapan. Satu orang menjerit menahan sakit. Perutnya robek sehingga isi perut keluar.
Tujuh orang sisanya semakin tersulut emosi. Mereka menyerang dengan serempak memakai senjatanya masing-masing.
Walaupun keadaan gelap, tapi bagi Chen Li semaunya nampak jelas. Justru di tempat gelap lah dia akan bertambah menakutkan.
Mata Dewa Unsur Bumi memang belum keluar. Tetapi kekuatannya selalu tersalurkan setiap saat setelah dia berdamai.
__ADS_1
Dua kali sinar biru berkelebat, dua nyawa telah melayang lagi.