
Chen Li si Pendekar Merah telah pergi dari restoran tadi. Begitu dia selesai menyantap makanan, pemuda itu langsung keluar dari sana.
Dia tidak mau pusing memikirkan orang-orang dunia persilatan yang ingin membunuhnya. Dia tidak memikirkan terkait orang-orang yang mengincar nyawanya. Bocah itu lebih memilih untuk membiarkan semuanya berjalan apa adanya.
Untuk apa memikirkan lebih masalah yang belum terjadi? Untuk apa pula mengkhawatirkan lebih sesuatu yang belum pasti?
Chen Li bukan termasuk tipe orang yang seperti itu. Dia lebih kepada manusia yang berpikir sederhana kalau menyangkut masalah seperti di atas.
Bocah itu berjalan dengan langkah tenang. Suasana pagi hari di Kota Qinghai memang sangat menyenangkan. Udara di sini masih sejuk. Suasananya juga masih terjaga sehingga membuat setiap orang merasa tenang.
Chen Li berjalan menyusuri perkotaan besar itu. Sepasang matanya memperhatikan ke sekeliling tempat. Dia tahu, sejak kejadian semalam, banyak orang-orang rimba hijau yang selalu mengikutinya.
Baik itu golongan putih maupun golongan hitam. Hanya saja sama seperti tadi, Pendekar Merah tidak peduli sama sekali.
Tiba-tiba perhatian Chen Li tertuju kepada seorang pria tua yang sedang dikelilingi oleh banyak orang. Meskipun hanya melihat sekilas, namun dia sudah dapat melihatnya dengan jelas.
Walaupun sepasang matanya selalu tertutup oleh kain sutera putih. Namun di balik kain itu, ada sepasang mata yang mempunyai ketajaman melebihi mata seekor harimau.
Pemuda itu kemudian berjalan mendekat ke tempat kerumunan orang tersebut. Puluhan orang telah berkumpul di sana. Awalnya Chen Li merasa kesulitan untuk masuk ke dalam dan melihat lebih jelas lagi. Namun setelah sesaat kemudian, dia mendapatkan akal.
Chen Li kemudian menyusup masuk ke dalam barisan kerumunan itu. Dia menyingkirkan orang-orang yang berkumpul dengan sepasang lengannya.
Setelah berhasil, pemuda itu kemudian melihat seorang kakek tua yang sedang rebah di sana. Kakek tua itu tampak sedang bicara, tapi entah apa yang dibicarakannya, sebab suaranya sangat perlahan sekali.
Semakin lama, kerumunan orang-orang itu semakin banyak. Bahkan entah sudah berapa kali tubuh Chen Li terinjak dan terdorong oleh mereka yang merasa sangat penasaran.
Pemuda itu masih memperhatikan si kakek tua yang rebah di tanah. Dia memperhatikan lekat-lekat mulutnya untuk mengetahui ucapan yang keluar.
__ADS_1
"Air, air, beri aku air …" suaranya sangat-sangat pelan.
Untungnya Chen Li sudah memperhatikan mulut kakek tua tersebut sehingga dia dapat mengetahui apa yang diucapkan.
"Minggir, dia adalah rekan kakekku. Aku akan membawanya pulang ke rumah," teriak Chen Li secara tiba-tiba dan membuat orang-orang yang berkerumun itu terkejut.
Tanpa memikirkan bagaimana reaski orang-orang itu, Pendekar Merah langsung membopong si kakek tua tersebut lalu dia segera pergi dari sana dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Suasana riuh untuk beberapa saat, para warga mendadak membicarakan tindakan yang dilakukan oleh pemuda asing berjubah merah itu. Mereka kebanyakan bertanya-tanya apakah yang dikatakan olehnya itu benar atau tidak.
Sayangnya, sebanyak dan seberisik apapun orang-orang yang membicarakannya, Chen Li tetap tidak akan bisa mendengar karena sekarang pemuda itu telah menghilang dari pandangan mata semua orang.
Hari mulai siang. Matahari semakin meninggi, sinarnya memancarkan panas ke bumi sehingga membuat makhluk di atas bumi merasakan panas yang tiada terkira.
Pendekar Merah membawa si kakek tua ke pinggiran hutan yang terdapat di sana. Dia membaringkan tubuh tua itu di sebuah saung bambu yang sudah sangat tua.
Dia pun turut meneguknya beberapa kali karena sama-sama merasa haus. Selama Chen Li memberikan air tersebut, si kakek mulai berhenti mengigau. Tapi kedua matanya masih tertutup.
Pendekar Merah merasa kalau dibiarkan begitu saja, maka si kakek bakal lama untuk pulih kembali. Sebab menurutnya, orang tua itu mengalami sebuah luka dalam akibat pukulan seseorang.
Oleh sebab itulah dia mengambil satu buah pil dari Cincin Ruang miliknya, pil itu berwarna kuning terang. Tanpa banyak berkata lagi, Chen Li segera memasukkan pil tersebut lalu meminumkan kembali air sungai yang tadi dia ambil.
Pil berwarna kuning terang tersebut langsung menunjukkan khasiatnya. Si kakek tua mulai merintih kembali lalu secara perlahan kedua matanya mulai terbuka.
Begitu dia benar-benar telah membuka mata, Chen Li segera menyuruhnya duduk sambil bersila. Setelah itu, dia sendiri turut bersila lalu kemudian segera menyalurkan tenaga dalam untuk cepat memulihkan kondisi si kakek.
Hawa putih tipis keluar dari telapak tangan Pendekar Merah lalu segera memasuki tubuh renta itu. Sekitar lima belas menit kemudian, Chen Li menyudahi proses penyaluran tenaga dalam tersebut.
__ADS_1
Seluruh tubuhnya segera dibasahi oleh keringat. Dia menyeka keringat di keningnya yang hampir menetes ke wajah.
"Terimakasih anak muda," ucap si kakek tua setelah tubuhnya terasa jauh lebih baik lagi.
Pada saat itu, Chen Li pun baru menyelesaikan semedinya untuk mengumpulkan kembali tenaga dalam yang terbuang untuk mengobati si kakek tua tadi.
"Kakek tidak perlu sungkan. Selaku manusia, sudah sepatutnya kita untuk saling membantu satu sama lain," jawabnya sambil memberikan senyuman hangat.
Si kakek tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Dia juga tersenyum hangat. Meskipun usianya sudah tua, namun wajahnya belum terlihat banyak kerutan. Rambutnya juga belum semuanya memutih.
"Tak kusangka ada seorang pemuda asing yang mau memberikan pertolongan kepadaku. Hemm, sungguh, Dewa telah mengulurkan tangannya untukku," kata si kakek tua sambil menggerakan tubuhnya beberapa kali.
Dia berpikir bahwa hidupnya akan berakhir pada saat itu. Alasannya karena setelah semalaman merintih menahan rasa haus dan sakit tidak ada seorangpun yang mau memberikan pertolongan. Padahal sudah puluhan orang yang melihatnya dalam keadaan terbaring lemah.
Siapa sangka, pada saat dirinya mulai putus asa, ternyata ada seorang pemuda tak dikenal yang menolongnya. Bahkan dengan pintarnya dia mengaku bahwa dirinya adalah rekan kakek dari pemuda itu.
"Semuanya telah ditentukan Kek. Aku hanya melakukan apa yang sudah seharusnya aku lakukan," jawab Chen Li dengan suara yang khas.
Bocah itu mengibaskan tangan kanannya. Tidak berapa lama, beberapa jenis makanan enak sudah ada di depan mereka berdua.
Semua makanan berasal dari Cincin Ruang. Kebetulan dalam Cincin Ruangnya masih tersisa stok makanan, meskipun tidak banyak, namun setidaknya cukup untuk membuat mereka berdua merasa kenyang.
Tidak lupa juga di depannya ada dua guci arak harum yang menyebarkan aroma wangi.
Melihat ada makanan yang terlihat sangat enak, si kakek tua menjulurkan lidahnya beberapa kali. Dia sudah tergiur. Belum lagi ditambah dengan bau arak yang sangat harum itu.
"Anak muda, apakah makanan ini bisa dimakan?" tanyanya tidak sabar.
__ADS_1
"Tentu saja Kek. Bahkan aku sengaja mengeluarkannya untuk kita makan bersama," jawab Chen Li sambil melemparkan senyuman.