Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Mendatangi Markas Pusat Organisasi Elang Hitam


__ADS_3

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Dua hari sudah berlalu.


Sekarang tengah malam. Malam ini masih sama seperti malam sebelum-sebelumnya. Namun apa yang akan terjadi di malam ini, tentunya tidak akan sama seperti malam kemarin.


Chen Li dan Ah Kui sudah berada di tempat di mana waktu pertama kali mereka mengintai markas pusat Organisasi Elang Hitam.


Pemuda itu sudah mempersiapkan segalanya. Baik luar maupun batin, hati ataupun pikiran, semuanya sudah siap.


Selama dua hari belakangan ini, Chen Li sama sekali tidak melakukan apa-apa. Dia hanya bangun untuk makan atau mengerjakan hal pokok lainnya. Setelah semua itu selesai, maka pemuda itu akan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


Selain makan lalu tidur, rasanya tidak ada kegiatan lain lagi yang dia lakukan selama dua hari belakangan ini.


Semua itu dilakukannya bukan karena malas, hal tersebut dilakukan karena Chen Li sedang menyiapkan semuanya. Jika ingin melakukan suatu yang besar, maka setidaknya kau perlu mengistirahatkan tubuhmu semaksimal mungkin.


Pendekar Tanpa Perasaan berdiri tegap. Jubah putihnya berkilau di kegelapan malam. Ikat kain sutera yang mengikat rambutnya pun turut berkibar seperti layaknya rambut panjang yang dibiarkan terurai.


Topeng setengah wajah masih menutupi sepasang matanya. Meskipun mata itu masih tertutup, namun kekuatannya sudah bisa dirasakan oleh siapapun.


Pedang Medah Darah sudah berada di punggung. Seruling Dewa telah diselipkan di pinggang sebelah kiri. Burung Phoenix Raja bertengger anggun di pundak kanannya.


Ah Kui berdiri di belakang Chen Li. Orang tua itupun berdiri tegap. Wajahnya terlihat tenang, tapi hatinya sedang bergemuruh. Bagaimanapun juga, dia mengetahui resiko dari apa yang akan dilakukan pemuda itu.


"Aku pergi," kata Chen Li singkat.


Suaranya sudah terdengar dingin. Sedingin wajahnya. Sedingin malam ini.


"Baik," jawab Ah Kuk dengan singkat pula.


Mereka tidak berkata apapun lagi. Detik selanjutnya, dua orang itu telah melesat pergi dari sana. Yang satu pergi ke arah depan, satu lagi pergi ke arah sebaliknya.


Wushh!!!


Chen Li sudah tiba di gerbang utama markas pusat Organisasi Elang Hitam. Sekarang di sana sudah ada penjaga kembali, jumlahnya masih sama. Tapi orangnya berbeda.


Wutt!!! Crashh!!!


Darah menyembur deras. Hanya sekali gebrak, semua nyawa penjaga gerbang itu berhasil direnggut oleh ujung Pedang Merah Darah.


Brakk!!!


Pintu gerbang hancur berkeping-keping ditendang oleh Chen Li.


Begitu dirinya masuk, ribuan anak panah sudah melesat dari seluruh penjuru mata angin. Ribuan anak panah itu mempunyai daya kecepatan dua kali lebih cepat dari pada umumnya.

__ADS_1


Wushh!!!


Burung Phoenix Raja langsung bergerak. Dia berputar mengelilingi area sekitar, dari sayapnya keluar api yang membara. Hanya beberapa kejap saja, semua anak panah itu telah hangus terbakar.


Semuanya kembali menjadi seperti semula.


Belum sempat Pendekar Tanpa Perasaan melangkah jauh, serangan yang sangat dahsyat kembali menghampiri dirinya.


Ribuan batang tombak menusuk secepat kilat. Belum lagi bola api yang datang dari segala penjuru pula.


Beberapa perangkap dahsyat telah menerjang seperti hujan deras.


Gelegar!!!


Dentuman dahsyat terdengar memekakkan telinga. Pendekar Tanpa Perasaan mengeluarkan jurus yang tidak kalah dahsyatnya untuk menghancurkan perangkap tersebut.


Burung Phoenix Raja tidak berhenti bergerak. Keduanya bahu membahu menghancurkan semua perangkap yang memang sudah terpasang di sana.


Hingga beberapa saat lamanya, mereka terus bertarung sengit melawan perangkap tersebut. Sekitar lima belas menit kemudian, akhirnya Chen Li berhasil keluar sebagai pemenang.


Semua perangkap telah sirna. Keadaan mendadak hening seperti semula.


Suara yang ditimbulkan memang sangat keras, tapi kenapa tiada seorangpun yang datang ke tempat tersebut? Apakah tidak ada yang mendengar semua kejadian tadi? Hemm, rasanya tidak mungkin.


Beberapa terbang telah kembali dia lewati. Puluhan penjaga juga sudah dia bunuh lagi. Berbagai macam perangkap pun kembali menghadang, namun akhirnya dia tetap bisa melewati semua rintangan tersebut.


Gerbang terkahir sudah tampak di depan mata. Gerbang yang sekarang tampak jauh lebih megah, lebih kuat dan lebih kokoh lagi.


Sebelum Pendekar Tanpa Perasaan memutuskan untuk bergerak kembali, sebuah suara mendadak terdengar memecahkan keheningan di sana.


"Tamu agung dari manakah yang datang kemari?"


"Dari mana aku datang, dari sana aku berasal," jawab Chen Li setelah menghentikan langkahnya.


"Apakah ada suatu keperluan tertentu sehingga Tuan datang jauh-jauh kemari?" tanya suara tersebut.


"Benar, pertama, aku ingin melihat wajahmu. Kedua, aku ingin masuk ke dalam,"


Wushh!!!


Segulung angin menerjang dahsyat. Sesaat kemudian, beberapa puluh tombak di depan Chen Li, sekarang sudah ada satu sosok iblis berwarna hitam legam. Di punggungnya tumbuh sepasang sayap, dua taring tumbuh menyeramkan.


"Ternyata iblis," desis Chen Li.

__ADS_1


"Hahaha, begitulah. Kalau boleh tahu, siapakah Tuan ini?" tanyanya sambil tersenyum sinis.


"Wakil Malaikat Maut yang akan mencabut nyawamu,"


Wushh!!!


Belum selesai ucapannya, Pendekar Tanpa Perasaan telah melesat ke depan. Gerakannya sangat cepat, juga tidak disangka-sangka.


Cahaya putih meluncur bersama dengan sinar merah darah. Hawa panas menggumpal di tempat tersebut.


Prakk!!!


Seruling Dewa memperlihatkan kesakitannya. Hanya sekali hantam, batok kepala iblis hitam itu seketika hancur lebur. Dia tidak sempat berteriak. Bahkan tidak sempat memberikan perlawanan.


Apa yang dilakukan oleh Pendekar Tanpa Perasaan barusan sangat berjalan singkat. Sehingga siapapun tidak akan ada yang dapat menduga sebelumnya.


Krett!!!


Gerbang itu tiba-tiba terbuka lebar. Chen Li kemudian masuk ke dalam tanpa membuang-buang waktu.


Namun baru saja tubuhnya masuk, dua bayangan kuning dan ungu tiba-tiba saja muncul dari sisi kanan dan sisi kiri lalu langsung menerjang ke arahnya.


Dua buah serangan hebat datang tanpa diduga. Lima belas tusukan dan dua puluh tebasan sudah menghujani tubuh Pendekar Tanpa Perasaan.


Tubuh pemuda itu langsung terkurung di antara dua sinar yang membawa maut tersebut. Pertarungan sengit sudah terjadi hanya dalam waktu singkat.


Crashh!!! Crashh!!!


Dua kepala manusia tiba-tiba terlempar cukup jauh. Disusul kemudian oleh dua tubuh yang ambruk sehingga menimbulkan suara berat.


Brugg!!!


Semuanya langsung selesai. Serangan berupa tusukan dan tebasan sudah menghilang.


Kalau penggunanya sudah mampus, bagaimana mungkin serangannya dapat dilancarkan?


Chen Li berjalan kembali. Sekarang dia baru menyadari bahwa ternyata, markas pusat Organisasi Elang Hitam itu sangatlah luas. Bahkan luasnya hampir sama dengan sebuah sekte kelas atas.


Terbukti sekarang, dari sejak tadi, dia belum juga tiba di gerbang paling dalam. Padahal dirinya sudah melangsungkan beberapa pertarungan. Baik itu melawan manusia, iblis, atau bahkan melawan perangkap yang dahsyat.


Pada saat dirinya mulai merasa kesal, tiba-tiba saja pemuda itu menghentikan langkahnya. Sepasang matanya kemudian menatap tama ke arah tulisan yang cukup besar dan indah.


"Selamat Datang di Markas Pusat Organisasi Elang Hitam".

__ADS_1


__ADS_2