
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sekarang adalah hari di mana tepat tiga bulan saat Shin Shui membuat janji dengan Kakek Tua Jubah Hitam dan yang lainnya ketika dia berada di kediaman kakek tua itu.
Waktu menunjukkan siang hari. Sebentar lagi matahari akan tiba tepat di tengah kepala. Suasana di Sekte Bukit Halilintar lebih ramai daripada biasanya.
Beberapa orang tokoh dunia persilatan nampak telah hadir di ruangan khusus pertemuan. Mereka di antaranya adalah Yuan Shi si Raja Seribu Pedang, Kakek Tua Jubah Hitam, Serigala dari Lembah Kematian, dan beberapa tokoh lain dunia persilatan lainnya ada juga di sana.
Mereka telah sepakat untuk berkumpul di Sekte Bukit Halilintar dan akan membahas tentang pergolakan atau badai yang sedang terjadi di Kekaisaran Wei.
Tuan rumah juga sudah nampak di sana. Yun Mei, tiga murid Pendekar Belalang Sembah yang juga menjadi Tetua Sekte Bukit Halilintar, Thai Lu dan Ong Kwe Cin serta beberapa tetua lain telah duduk bersama para tamu.
Tak ketinggalan tentunya Huang Taiji Lu si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding. Di sisinya ada Chen Li si bocah kecil yang berjuluk Pendekar Tanpa Perasaan.
Eng Kiam juga ada di salam ruangan pertemuan tersebut. Hanya saja dia duduk dekat di samping kakeknya. Kakek Tua Jubah Hitam.
Para tokoh rimba hijau itu sedang bercerita beberapa hal ringan sambil menunggu kedatangan Shin Shui. Seperti yang diketahui bahwa Pendekar Halilintar itu sedang turun gunung untuk membasmi musuh-musuhnya. Terutama sekali orang yang sedang menyamar menjadi dirinya.
Kurang lebih semingguan yang lalu dia sudah berada dalam perjalanan pulang. Namun sampai sekarang belum juga nampak batang hidungnya.
"Mohon maaf kepada Tuan sekalian, suamiku sedang turun gunung, sehingga mohon dimaklumi kalau dia datang sedikit terlambat," kata Yun Mei merasa tidak enak kepada para tamunya.
"Wakil Kepala Tetua Yun Mei terlalu sungkan. Tidak perlu seperti itu, kami semua mewajarkan. Lagi pula, kami tidak keberatan sama sekali," kata Kakek Tua Jubah Hitam dengan ramah.
"Kalau boleh tahu, apa alasan Pendekar Halilintar turun gunung?" tanya Yuan Shi merasa penasaran sekali.
Dia tahu Shin Shui sejak awal mula kemunculannya di dunia persilatan. Bahkan dia juga masih akrab hingga detik ini. Kalau sampai dia turun gunung, itu artinya ada sesuatu yang sedang terjadi dan tidak bisa di anggap remeh.
"Suamiku turun gunung untuk menuju ke perbatasan Timur Kepala Tetua Yuan Shi. Lebih tepatnya dia sedang mencari seseorang yang menyamar menjadi dirinya. Konon katanya orang tersebut selalu membuat kekacauan atas nama suamiku. Sehingga namanya dibuat sedikit tercemar oleh orang itu. Karena alasan itulah dia turun gunung," kata Yun Mei menceritakan alasan Shin Shui kembali melakukan pengembaraan.
__ADS_1
Para tamu kaget. Mereka sudah lama mendengar kabar ini. Hanya saja, orang-orang itu tidak menyangka sama sekali jika Shin Shui akan turun tangan secara langsung.
"Mencari permusuhan ataupun mencari masalah dengan Pendekar Halilintar, itu sama saja dia telah menantang maut. Artinya, orang tersebut telah bermusuhan juga dengan Malaikat Maut," kata Serigala dari Lembah Kematian.
Ucapannya itu mendapat anggukan dari semua orang yang ada di ruangan tersebut. Mereka sangat tahu bagaimana sifat Shin Shui.
Kalau Shin Shui bicara musuhnya harus mati, maka dia pasti mati. Kalau dia bicara akan mengejarnya ke mana pun, maka walaupun musuhnya lari ke ujung dunia, Pendekar Halilintar itu pasti akan tetap mengejarnya.
"Kalau dia sudah berniat untuk bertindak, langit pun tidak bisa menghalanginya," kata Huang Taiji Lu secara tiba-tiba.
Para tamu menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Mereka belum mengenal siapakah tokoh ini.
Melihat ekspresi para tamu yang keheranan, akhirnya Yun Mei memperkenalkan dia kepada orang-orang.
"Aihh maaf, hampir saja aku lupa. Perkenalkan, dia adalah Kakak Huang Taiji Lu si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding. Beliau ini adalah Kakak angkat suamiku," kata Yun Mei memperkenalkan Huang Taiji.
"Ah, kiranya saudara angkat dari Pendekar Halilintar. Salam hormat dan salam kenal untuk saudara Huang," kata Kakek Tua Jubah Hitam penuh hormat diikuti yang lainnya.
Walaupun orang-orang tersebut tidak tahu sampai di mana kekuatan Huang Taiji, namun mereka sangat yakin bahwa orang tersebut pasti mempunyai kekuatan hebat. Sebab tidak mungkin Shin Shui mengangkat saudara kalau orang itu tidak memiliki keistimewaan tersendiri.
###
Di tempat lain …
Shin Shui sedang terbang di angkasa seperti layaknya burung rajawali. Dia terbang dalam kecepatan tinggi menembus awan yang menggumpal.
San Ong dan Ong San dia masukkan ke dalam Kantong Siluman. Tujuannya tentu supaya dirinya bisa bergerak lebih leluasa lagi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Shin Shui telah mendarat dan turun tepat di halaman Sekte Bukit Halilintar.
Semua murid Sekte Bukit Halilintar segera menunduk begitu melihat kepala tetuanya sudah tiba.
"Terimakasih semuanya. Silahkan kalian bangkit berdiri kembali dan lanjutkan aktivitas kalian," ucap Shin Shui sambil tertawa dan penuh wibawa.
Semua orang yang menghormat segera bangkit berdiri. Mereka mendengarkan apa yang diperintahkan oleh Shin Shui.
"Lapor kepala tetua, Anda sudah ditunggu oleh para tetua dan para tamu di ruangan pertemuan," kata seorang murid utama Sekte Bukit Halilintar setelah menyambut kedatangan Shin Shui.
"Terimakasih atas informasinya, aku akan segera ke sana. Sekarang, kau boleh beristirahat," kata Shin Shui sambil menepuk pundak si murid utama tersebut.
Dia kemudian berjalan dengan langkah ringan menuju ke ruangan pertemuan. Para murid sekte merasa sangat kagum kepadanya. Setelah beberapa saat, akhirnya dia tiba di depan pintu.
"Ayah datang …" kata Chen Li secara tiba-tiba.
Pintu terbuka. Tampak seorang berpakaian serba biru sedang tersenyum ke arah para tamu dan tetua yang ada di sana.
Semua orang bangkit berdiri untuk memberikan hormat mereka. Shin Shui membalas penghormatan itu, dia kemudian mengambil tempat duduk yang sudah disediakan sebelumnya.
"Para tuan sekalian, mohon maaf kalau kedatanganku sedikit terlambat. Ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan lebih dulu," kata Shin Shui memulai pembicaraannya.
"Tidak perlu sungkan seperti itu Kepala Tetua Shin Shui. Kita bukan orang luar, jadi jangan membawa masalah ini ke dalam hati," kata Yuan Shi si Raja Seribu Pedang.
"Terimakasih atas kemudahan hati Kepala Tetua Yuan Shi," jawab Shin Shui.
"Apakah kalian sudah makan siang?"
__ADS_1
"Belum Sushi, mereka semua menunggumu. Jadi belum ada yang mau makan," jawab Yun Mei karena melihat para tamu tidak ada yang berani menjawab.
"Aiii, mari-mari, kita makan saja dulu. Anggap saja rumah sendiri, jangan malu-malu," ujarnya sambil tertawa diikuti para tamu yang lainnya.