
Pertarungan si bocah istimewa Li Cun sudah berlangsung selama dua puluh jurus lebih. Ternyata delapan orang itu bukanlah pembunuh sembarangan. Kecepatan serangannya menandakan bahwa mereka memang sudah terbiasa dengan bunuh membunuh.
Li Cun sendiri merasa cukup kerepotan melawan mereka. Tapi seperti yang kita ketahui, semakin dia terdesak, semakin nyawanya terancam, justru bocah itu akan menjadi lebih bersemangat.
Di saat delapan senjata mengurungnya dengan ketat, Li Feng memutarkan seruling giok hijau untuk menangkis semua senjata tersebut. Setiap tangkisan membuat lengannya kerap kali tergetar dan kesemutan.
Otaknya berputar cepat. Dia harus mencari celah bagaimana caranya untuk bisa keluar dari kepungan ini. Karena kalau tetap berada dalam posisi sekarang, sudah pasti dia akan merasa lelah karena kehabisan tenaga.
Li Cun tidak takut mati. Hanya saja dia masih belum mau kalau mati di usia sekecil sekarang. Siapa pula yang ingin mati saat belum menikmati keindahan dunia?
Tiba-tiba ketika melihat serangan delapan lawannya mengendur, Li Cun berteriak nyaring.
"Tahan!" serunya.
Delapan pembunuh bayaran itu kaget. Mereka segera menghentikan serangan secara refleks.
"Ada apa bocah? Apakah kau sudah menyerah?" tanya seorang di antara mereka.
"Cih, mana mau aku menyerah melawan kalian. Hanya saja aku kerepotan kalau menggunakan seruling saja. Bagaimana kalau aku menggunakan pedang?" tanya Li Cun menggunakan siasat wajah yang harus di kasihani.
"Tidak bisa begitu. Enak saja," kata seorang pembunuh itu.
"Cih kalian ini tua bangka tidak tahu malu. Kalau aku tewas tanpa memberikan perlawanan mau bagaimana? Mau ditaruh di mana muka kalian? Katanya pembunuh bayaran terkenal, katanya ditakuti. Masa memberikan kelonggaran kepada seorang anak kecil sepertiku saja tidak berani. Dasar besar mulut," katanya sedikit marah tapi dengan wajah menggemaskan.
Delapan pembunuh tersebut saling pandang. Mereka seperti membicarakan sesuatu bersama rekan-rekannya.
"Bagaimana? Tidak boleh? Ya sudah kalau begitu, bunuh saja aku sekarang. Aku malas bertarung dengan orang tua yang tidak tahu malu macam kalian. Mana bertarungnya keroyokan pula," ucap bocah itu menggembungkan pipinya.
Mereka kembali saling tatap bersama rekan-rekannya.
"Bagaimana? Apakah kita bolehkan saja? Tapi aku takut dia malah semakin berbahaya," kata salah seorang bersenjatakan pedang.
"Sudah, biarkan saja. Toh dia bilang akan menggunakan kedua senjatanya secara bersamaan. Bagaimana mungkin bocah sekecil dia bisa melakukan hal itu? Berikan saja keringanan," kata yang memegang tombak.
"Dia benar. Baiklah, kita biarkan saja dia menggunakan pedangnya juga," kata seorang lagi gang bersenjata tombak dua mata.
"Kalau kau sudah bicara seperti itu, baiklah. Kami mengikuti," jawab yang menggenggam golok.
__ADS_1
Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya mereka pun setuju untuk membiarkan Li Cun menggunakan pedangnya.
Lucu memang, ada hal seperti ini dalam pertarungan hidup dan mati. Padahal kejadian ini seperti mustahil, tapi ini benar-benar terjadi. Dan Li Cun sudah membuktikannya.
Siapa yang dapat tega melihat bocah selucu dia marah? Pembunuh juga manusia. Sedikit banyak dia masih memiliki sifat seperti manusia pada umumnya.
Sayangnya, mereka salah langkah untuk kali ini. Mereka telah tertipu oleh seorang bocah seperti Li Cun ini. Memang, pada dasarnya mereka belum tahu siapa dia.
Mungkin jika Li Cun sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya, maka mereka baru sadar bahwa bocah itulah si Pendekar Tanpa Perasaan.
"Baiklah bocah. Cabut pedangmu. Kita mulai dari awal lagi," kata si pemegang tombak dua mata.
"Nah, begitu baru betul. Baiklah, terimakasih paman-paman karena sudah baik kepadaku," kata Li Cun sambil tersenyum.
Pedang Awan sudah dicabut. Pedang yang lumayan indah dengan gagang berwarna biru.
Dia melangkah dengan tenang ke tengah arena pertarungan. Kejadian ini menjadi bahan perhatian orang-orang yang menyaksikan di pinggir arena. Bahkan Li Feng pun tertawa melihat akal konyolnya.
Pedang Awan dan seruling giok hijau sudah tergenggam. Pedang awan di tangan kiri. Seruling giok hijau di tangan kanan. Persiapan sudah sedia.
"Kalian sudah siap?" tanya Li Cun dengan ekspresi menggemaskan.
"Dari tadi kami siap. Kau sendiri bagaimana?" tanya yang menggenggam golok.
"Aku sudah siap sekarang. Mari kita mulai," kata Li Cun sambil tersenyum.
"Majulah!" lanjutnya.
Delapan orang yang dikenal sebagai pembunuh tersebut segera mengurungnya kembali. Seorang bersenjatakan golok menyerang lebih dulu. Goloknya dia ayunkan dengan cepat. Di susul lagi si pemegang tombak, menyusul lagi pemegang pedang.
Satu demi satu dari delapan orang tersebut mulai menggempur Li Cun seperti sebelumnya. Li Cun sendiri belum memperlihatkan kekuatan yang sebenarnya. Dia masih berkelit dari semua serangan jurus lawan.
Mencapai jurus kedua belas, serangan lawan mulai bertambah hebat. Sambaran angin yang dihasilkan terasa perih terkena kulit. Li Cun mulai panas.
Dia membentak nyaring. Seketika, tubuhnya melompat mundur ke belakang untuk mengambil posisi.
Begitu mendapatkan posisi yang tepat. Jurusnya segera keluar.
__ADS_1
"Bertempur Melawan Raja Naga …"
"Menebarkan Cahaya Kehidupan …"
"Wushh …"
Dua serangan dahsyat dia lancarkan sekaligus. Tubuhnya tiba-tiba diliputi cahaya putih dari sinar pedang. Dia mulai membalas semua serangan lawannya.
Pedangnya berkelebat menyambar semua senjata musuh. Dentingan senjata mulai terdengar kembali. Tubuh Li Cun bergerak secepat mungkin.
Pedangnya mengoyak udara. Mematahkan semua serangan lawan. Sedangkan serulingnya menggempur memberikan totokan ataupun hantaman yang berbahaya ke berbagai titik penting di tubuh.
Delapan pembunuh tersebut tersentak kaget. Mereka baru menyadari bahwa bocah itu tadi belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. Tapi sekarang, bocah itu benar-benar memperlihatkan kelihaian yang dia miliki.
Delapan pembunuh masih menyerang dari segala sudut. Tapi sayangnya semua serangan yang mereka lancarkan selalu berhasil di patahkan.
Sebaliknya, satu persatu dari mereka mulai ada yang terkena serangan balasan dari Li Cun. Baik itu yang terkena hantaman dan totokan seruling, atau juga dari sabetan dan tusukan pedang.
Semakin bertarung lebih lama, semakin menggariskan juga sepak terjang Li Cun.
"Bangsat. Kita tertipu oleh bocah ingusan," kata yang bersenjata golok geram.
"Bocah itu memang licik. Lebih baik keluarkan saja kemampuan kita," kata si pemegang pedang.
"Mampuslah kau bocah tengik," kata yang bersenjatakan tombak dua mata.
"Hehe, kita lihat saja. Dalam dua puluh jurus, siapa yang akan lebih dulu menemui Raja Akhirat," kata Li Cun lalu meningkatkan kembali kecepatan serangannya.
Selesai berkata seperti itu, tubuhnya berkelebat lebih cepat. Delapan orang itu tidak mengetahui bahwa bocah tersebut sudah mendapatkan pinjaman kekuatan dari pendekar nomor satu di Kekaisaran Wei.
Kaena itu wajar saja kalau Li Cun bisa melakukan hal mencengangkan untuk sementara.
Delapan pembunuh semakin geram. Orang yang memegang golok telah terkena totokan di pangkal lengan kirinya sehingga membuat lengan itu mati rasa.
Sontak dia langsung naik pitam. Wajahnya memerah menahan sakit. Orang tersebut menggeram keras. Tapi sayangnya hal itu sia-sia saja. Karena sebelum goloknya menyambar Li Cun, kepalanya lebih dulu menggelinding.
Pertarungannya ini hampir sama serunya dengan Li Feng yang kini masih bertarung sengit. Hanya saja bedanya jurus yang mereka keluarkan lebih berbahaya dan lebih ganas lagi.
__ADS_1