
Gelegar!!!
Pedang Hitam yang merupakan sebilah senjata pusaka kegelapan mengeluarkan sebuah kekuatan dahsyat. Satu garis sinar hitam memanjang ditebaskan oleh Pendekar Tanpa Perasaan.
Tiga puluhan pasukan musuh langsung ambrik ke tanah. Mereka jatuh bersamaan dan mati secara serentak. Tiga puluhan manusia yang menjadi korban keganasan Pedang Hitam, semuanya tewas dalam keadaan kepala terlepas dari tempatnya.
Berikutnya giliran seruling giok hijau yang menunjukkan taring. Senjata pusaka warisan dari Pendekar Guntur, guru dari Shin Shui, itu mengeluarkan satu alunan nada yang sulit untuk dijelaskan.
Gelombang suara terdengar hingga ratusan kilometer. Suaranya bagaikan suitan raja iblis yang sedang memanggil anak buahnya. Dua puluhan pasukan musuh tewas dengan darah yang terus keluar dari mulut dan telinganya.
Perang besar yang terjadi kali ini benar-benar dahsyat. Jumlah musuh seperti tkdak ada habisnya. Ibarat pepatah mengatakan, mati satu tumbuh seribu.
Hal tersebut benar-benar terjadi saat ini. Semua pendekar kelas atas Kekaisaran Wei telah banyak membunuh pasukan musuh. Tapi bukannya bertambah sedikit, jumlah lawan justru malah bertambah banyak dua kali lipat.
Posisi seluruh pasukan Kekaisaran Wei dikepung dari segala penjuru. Semua pasukan musuh mengeluarkan segenap kemampuannya hingga ke titik tertinggi.
Shin Shui bergerak semakin liar. Dia seperti seorang Dewa yang sedang mengamuk. Siapapun yang menghalanginya, pasti akan meregang nyawa.
Ribuan nyawa manusia telah dibuat melayang oleh Pendekar Halilintar. Mereka tewas secara mengenaskan. Semuanya terjadi dalam sekejap mata.
Saat ini Pendekar Halilintar sedang menerjang dua ribuan pasukan musuh dari dua Kekaisaran besar. Jurus Amukan Dewa Naga Halilintar masih dikeluarkan dengan segenap kekuatan.
Suara amukan naga terdengar semakin menggelora. Seperti raungan ribuan iblis yang ingin membalaskan dendam. Neraka berguncang. Bumi bergetar hebat karena kekuatan Pendekar Halilintar yang sangat dahsyat.
Pedang Halilintar bergerak seperti kilat yang menyambar bumi. Pedang itu tidak nampak lagi bentuknya. Yang terlihat hanyalah segaris cahaya biru terang yang selalu melancarkan aura agung tersendiri.
Saat Shin Shui sedang menikmati pembunuhan masalah yang sedang dia lakukan saat ini, mendadak lima sinar hitam turun dari langit lalu berhenti puluhan tombak di depannya.
Duarr!!!
Ledakan terdengar saat lima sinar tersebut menginjak tanah. Debu mengepul tinggi menghalangi pemandangan semua orang yang terlibat di sana.
Detik berikutnya, lima sosok manusia berkerudung hitam telah berdiri menantang. Mereka menggunakan senjata yang berbeda. Tapi meskipun begitu, dari setiap senjata tersebut, sudah tentu mengandung kekuatan luar biasa.
"Sekarang kau tidak bisa lari lagi," kata seorang di antara mereka.
"Aku tidak berniat untuk lari walau satu langkah pun," jawab Shin Shui dengan dingin.
Dia berdiri kokoh. Tubuhnya seperti sebatang tombak yang ditancapkan sedalam-dalamnya. Dia tidak bergerak walau sedikitpun. Matanya menatap dengan dingin ke arah lima sosok manusia tersebut.
"Bagus, kalau begitu bersiaplah untuk menuju ke neraka,"
__ADS_1
"Aku selalu siap,"
Begitu ucapan Shin Shui selesai, lima tokoh dari Kekaisaran tetangga langsung menerjang dengan kekuatan dahsyat.
Lima batang senjata pusaka yang berbeda segera menghunjam tubuh Pendekar Halilintar dengan ganas. Kilatan sinar hitam berkelebat membelah kesunyian.
Semua serangan yang dilancarkan merupakan jurus kelas atas yang jarang terlihat dalam pertarungan biasanya. Mereka menyerang dari segala sisi.
Pendekar Halilintar tersenyum. Senyuman dingin yang membawa maut bagi siapapun yang melihatnya.
Dan kebetulan, lima sosok tersebut juga melihat senyuman itu.
Wushh!!!
Shin Shui bergerak. Pedang Halilintar melancarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata. Satu kelebatan sinar biru terang memancar menerangi seluruh tempat.
Slebb!!!
Satu nyawa telah melayang. Orang itu tertusuk oleh ujung Pedang Halilintar yang sangat tajam. Hanya sekali bergerak, satu lawannya mampus tanpa sempat memberikan perlawanan apapun.
Empat rekannya merasa seperti melihat Malaikat Maut. Mereka tidak mengetahui bagaimana Pendekar Halilintar bergerak sehingga dapat membunuh rekannya hanya dalam sekali gebrak.
Semua kejadian tersebut terjadi dalam hitungan detik. Tidak akan ada yang percaya kabar ini jika tidak melihat secara langsung.
Dia melakukan gerakan yang sama. Pemimpin dunia persilatan Kekaisaran Wei itu mengeluarkan jurus yang serupa seperti sebelumnya.
Hawa kematian terasa sangat kental. Malaikat Maut seolah berada di belakang mereka dan berusaha untuk mengejarnya.
Sinar biru terang terlihat lagi.
Hanya sesaat, hanya sekejap.
Satu kepala manusia terlempar cukup jauh. Darah segar kehitaman muncrat ke segala penjuru.
Tiga orang musuhnya kembali dibuat terkejut setengah mati. Sekarang mereka percaya dengan kabar yang beredar luas.
Di mana dulu pernah ada satu kabar mengatakan bahwa Pendekar Halilintar mempunyai satu jurus yang belum menemukan tandingannya. Konon katanya jurus itu sangat dahsyat, sangat cepat, sangat mengerikan.
Sekarang mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana jurus tersebut. Dan tiga sosok itu benar-benar percaya.
Sayangnya mereka terlambat.
__ADS_1
Karena terkait jurus tersebut, siapapun yang melihatnya, orang itu akan mati.
Wushh!!!
Sinar biru terang melesat lagi dengan kecepatan mengerikan.
Tiga tokoh yang tersisa telah siap siaga. Mereka siap atas segalanya, sebuah jurus pamungkas sudah disiapkan dengan segenap kemampuannya. Mereka adalah tokoh kelas atas, sudah pasti kekuatan dan jurusnya tidak mungkin diragukan lagi.
Mereka mempunyai jurus yang dahsyat. Jurus yang hebat. Apalagi dengan tingkatan kekuatannya yang sekarang.
Tapi, apakah benar mereka mampu menandingi kedahsyatan jurus Pendekar Halilintar yang satu ini?
Slebb!!! Crashh!!! Crashh!!!
Sinar biru terang berkelebat tiga kali dengan cepat. Desingan angin tajam terasa merobek kulit. Jurus itu benar-benar cepat. Benar-benar mengerikan.
Tiga tokoh kelas atas yang dimiliki oleh pihak musuh telah mampus kembali. Merela meregang nyawa, lagi-lagi ketiganya belum sempat memberikan perlawanan apapun.
Tiga orang itu tewas membawa rasa penasaran.
Mereka tidak pernah menyangka bahwa di dunia ini, ternyata ada jurus yang mampu bergerak secepat cahaya.
Darah kental masih menetes di ujung Pedang Halilintar. Shin Shui berdiri di tengah-tengah lima korban keganasan jurusnya.
Dia sedang menanti. Menanti datangnya tokoh lain yang ingin menjajal kekuatannya.
Waktu terus bergerak dengan lambat. Cahaya matahari mulai geser ke sebelah barat. Puluhan ribu nyawa manusia telah bergelimpangan seperti domba yang tewas kelaparan.
Seluruh tokoh kelas atas yang dimiliki oleh Kekaisaran Wei telah bertempur melawan tokoh dari Kekaisaran lain yang sepadan dengan mereka.
Perang yang terjadi semakin luar biasa. Alam semesta seolah terkesima oleh semua pertarungan yang terjadi.
Ye Rou yang merupakan Kepala Tetua dari Sekte Teratai Putih, saat ini sedang bertarung sengit melawan satu orang tokoh dari Kekaisaran Tang.
Selendang pusaka miliknya berkibar anggun diterpa angin dingin.
Walaupun usianya sudah tua, tapi ternyata kecantikannya masih terlihat dengan jelas. Kecantikan yang bercampur dengan kegarangan.
Wushh!!!
Selendang putih yang merupakan pusaka tingkat tinggi itu bergerak cepat ke depan. Luncurannya sangat cepat, seperti seekor ular yang menyambar mangsanya.
__ADS_1
Tidak kenal ampun. Tidak kenal belas kasihan.
Duarr!!!