
Pedang Halilintar sudah dicabut kembali. Shin Shui berdiri menatap nanar sejauh mata memandang. Ying Mengtian masih dalam posisi telentang.
Tidak ada darah yang terlihat keluar. Tidak nampak rasa sakit di wajahnya.
Justru yang ada adalah rasa bangga dan senyuman penuh keakraban. Seperti senyuman seorang sahabat kepada sahabatnya. Seperti senyuman seorang ibu kepada anaknya. Atau seperti juga senyuman seorang kekasih kepada kekasihnya.
Sangat manis, sangat lembut dan sangat teduh.
Shin Shui belum bereaksi apa-apa. Dia masih terdiam seribu bahasa. Tanpa berucap kata, Pedang Halilintar sudah dua masukkan kembali ke Cincin Ruang.
Pendekar Halilintar mulai berlutut. Dia mengangkat kepada Ying Mengtian lalu disimpan di pahanya.
Shin Shui memperlakukan Kepala Tetua Sekte Serigala Putih itu seperti kepada orang tuanya sendiri. Air matanya mulai menetes.
Ini adalah pertama kalinya Shin Shui menjatuhkan air mata karena lawannya. Pertama kali sepanjang perjalanannya dalam dunia persilatan.
"Anak bodoh. Kau jangan menangis, jangan cengeng. Kau harus ingat statusmu. Kau sudah melakukan hal yang memang harus dilakukan," ucap Ying Mengtian.
Suaranya masih sama. Tidak terlihat bahwa dia sedang menahan sakit. Bahkan suaranya seperti orang yang sedang berbahagia.
"Bagaimana aku tidak menangis? Kau seniorku, kau bagian keluargaku. Orang-orang terpenting dalam hidupku. Dan sekarang, kau justru akan tewas karena aku. Kalau aku tidak meneteskan air mata, manusia macam apa aku ini?"
"Hahaha, dasar bocah bodoh. Sudahlah, untuk apa kau bersedih? Aku yang menjadi korban saja sangat gembira bisa mati di tanganmu. Apalagi, aku tewas karena tusukan Pedang Halilintar. Senjata terhebat pertama di zaman ini," kata Ying Mengtian serius.
Bagi sebagian pendekar, bisa tewas di tangan pendekar yang sangat berpengaruh, apalagi merupakan pendekar terkuat, sudah pasti merupakan kebangaan tersendiri.
Apalagi tewasnya karena senjata terhebat. Sudah pasti ini adalah sebuah pencapaian yang tidak semua pendekar akan merasakan.
"Andai kau tidak menempuh jalan ini, mungkin sekarang kita akan bertarung bersama lagi seperti perang besar lalu," kata Shin Shui menyesalkan.
__ADS_1
''Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Lagi pula, aku melakukan ini semua demi reputasi sekte. Kalau tidak bisa melindungi reputasi sekte, bagaimana nantinya aku menghadap ke para leluhur yang memperhatikan di alam sana? Biarlah aku yang menjadi korban, asalkan sekte bisa aman dan namanya tidak berubah buruk,"
Apa yang dilakukan oleh Ying Mengtian memang sangat beralasan. Dia berpindah jalan karena sebuah ancaman dari sekelompok orang. Rahasia terbesar sekte terbongkar. Daripada reputasi merosot tajam, lebih baik dia mempertahankannya.
Walaupun nama dia sendiri akan di pandang buruk, tetapi hal itu bukanlah masalah. Bagi para pemimpin yang mempunyai rasa tanggung jawab tinggi, sudah pasti mereka akan memilih jalan ini.
Lebih baik nama sendiri hancur daripada harus sekte sendiri yang hancur.
Apalah arti sebuah nama dan julukan kalau dibandingkan dengan sekte yang menyangkut banyak orang?
"Shin Shui, aku sudah tidak kuat lagi. Tolong panggilkan satu orang tetua kemari," ucap Ying Mengtian.
Shin Shui mengangguk. Kemudian dia segera memanggil satu orang tetua Sekte Serigala Putih. Seperti yang di inginkan oleh Ying Mengtian.
"Aku menghadap kepala tetua. Apakah ada permintaan lain dari Anda?" tanya si tetua yang baru datang.
"Ada, sesuai seperti apa yang aku katakan sebelumnya. Saat aku tewas, Sekte Serigala Putih harus menutup diri dalam jangka waktu yang belum bisa ditentukan. Kalian jangan berurusan dengan dunia luar. Anggap saja ini sebagai hukuman, kalau pun mau keluar, tutupi identitas asli kalian. Tetapi ingat, kalau Kekaisaran Wei terancam bahaya, kalian harus turun gunung. Demi tanah air, jangan takut berkorban nyawa. Aku harap kalian bisa menerima semua ini, perbanyak melatih diri selama berada dalam masa pengasingan,"
"Semua perintah kepala tetua akan kami laksanakan. Apakah ada permintaan lagi?"
"Ada, jangan menaruh dendam kepada Sekte Bukit Halilintar. Mereka adalah saudara kita. Kalian justru harus membantunya ketika mereka berada dalam kesulitan. Dan tentang pemakamanku, aku ingin bersemayam di dalam goa. Jangan menggelar upacara besar, cukup disaksikan orang-orang kita saja sudah lebih dari cukup,"
"Baik. Aku mengerti,"
"Bagus. Nah, sekarang pergilah. Sampaikan pesanku sekarang juga,"
Si tetua mengangguk. Dia langsung kembali untuk memberitahukan semua perkataan Ying Mengtian si Kaisar Buas kepada seluruh anggota Sekte Serigala Putih.
"Shin Shui, pertahankan semua pencapaian yang telah kau raih. Dan ingat, awasi anakmu. Aku melihat suatu saat nanti dia akan menjadi seorang pendekar yang dapat melebihimu. Semua pencapaian yang kau raih saat ini, kelak dia akan merasakannya juga, bahkan lebih," ujar orang tua itu berpesan kepada Shin Shui.
__ADS_1
"Baik senior. Aku mengerti, terimakasih sudah mengingatkan,"
"Jangan sungkan. Waktuku sudah dekat. Kelak di kehidupan kedua, aku harap kita dapat bertemu lagi dan tidak bersebrangan lagi. Kebaikanmu akan aku balas. Ah iya, terimakasih sudah mengabulkan permohonanku. Aku sangat senang," kata Ying Mengtian sambil tersenyum.
Sebuah senyuman yang meneduhkan. Dan sebuah senyuman untuk terkahir kalinya.
Karena untuk sekarang dan ke depan, nama Ying Mengtian akan terkubur dalam perjalanan sejarah Kekaisaran Wei.
Kini Kaisar Buas telah pergi. Pergi ke alam nirwana untuk bertemu dengan leluhurnya.
Bahkan karena saking gembiranya, dia masih tersenyum sekalipun nyawanya sudah melayang.
Ratusan murid Sekte Serigala Putih segera memburu. Mereka mencoba untuk saling mendahului.
Suara jerit tangisan segera terdengar membahana ke seluruh jagat raya. Ratusan murid dan tetua menangisi kepergian sosok yang sangat mereka hormati selama ini.
Malam semakin larut, jerit tangisan semakin terdengar.
Saat ini jasad Ying Mengtian sudah du bawa ke sekte. Shin Shui dan rombongan pun turut serta. Mereka ingin memberikan penghormatan terakhir. Terlebih lagi Shin Shui.
Suasana mulai gaduh ketika semua murid mengetahui kematian kepala tetua mereka.
Ying Mengtian di taruh di kuil yang ada di sana. Jasadnya sudah dimasukkan ke dalam peti mati. Rencananya, besok pagi hari para murid akan membawa peti itu ke goa belakang sekte sesuai pesan Ying Mengtian sebelum tiba kematiannya.
Kejadian ini sungguh menggemparkan seluruh anggota sekte. Mereka ingin tidak percaya, tetapi sayangnya bukti sudah di depan mata.
Untung bahwa mereka berasal dari aliran putih. Sehingga semua pesan yang dikatakan oleh orang tua itu, dilaksanakan dengan baik oleh semua anggota.
Tidak ada yang dendam kepada pihak Shin Shui. Justru sebaliknya, mereka menyambut hangat dan memperlakukannya dengan baik sebagai seorang istimewa.
__ADS_1
Malam itu tidak ada yang tidur. Shin Shui bersama semua orang di pihaknya dan para tetua Sekte Serigala Putih, kini sedang berada di sebuah ruangan khusus.
Mereka akan berbicara hal-hal penting lainnya.