Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kematian Datang Menjemput


__ADS_3

Tidak terasa, satu bulan sudah berlalu kembali. Selama sebulan itu, Chen Li mengadaptasikan dirinya di Lembah Ketenangan. Seminggu pertama, dia terkadang masih merasa kesepian.


Hal itu sangat wajar, apalagi jika mengingat bahwa usianya masih remaja. Sebagai seorang remaja, sudah pasti yang mereka inginkan adalah bergaul dengan teman sepantaran dengannya.


Namun apa yang dia alami sekarang adalah sebaliknya. Teman setianya hanya kesepian. Sahabat karibnya hanya kesendirian. Setiap hari, yang dia lihat hanya itu-itu saja.


Selain hanya melihat tumbuhan dan berbagai macam bunga, Chen Li hanya bisa melihat hewan-hewan penunggu Lembah Ketenangan.


Sebulan belakangan ini, Huang Taiji sengaja belum memberikan pelatihan apapun untuknya. Selama ini, dia hanya memberikan arahan dan nasihat serta berbagai macam teori kepada Pendekar Tanpa Perasaan.


Saat ini waktu menunjukkan sore hari. Chen Li dan Huang Taiji duduk di batu hitam biasanya. Keduanya sedang menikmati keindahan air terjun yang terus turun dengan deras.


"Li'er, sebulan ini kau belum melakukan latihan apapun. Sekarang waktunya telah tiba, ke depannya, kau harus berlatih keras untuk mewujudkan cita-citamu," kata Huang Taiji secara tiba-tiba.


"Baik Paman, kalau begitu, apa yang harus Li'er lakukan sekarang?" tanya Chen Li kepada Huang Taiji.


"Sekarang kau harus bertapa sekaligus berendam tepat di bawah air terjun itu," perintah Huang Taiji sambil menunjuk kepada air terjun yang dimaksud olehnya.


"Berapa lama Li'er harus melakukannya?"


"Tujuh hari tujuh malam"


"Apa?" teriak Chen Li sangat terkejut.


"Benar. Tujuan Paman menyuruhmu melakukan hal itu sebenarnya untuk menguatkan kondisi tubuhmu," kata Huang Taiji menjelaskan maksudnya.


Chen Li yang sebelumnya sempat kaget, sekarang mendadak mengerti setelah dia mengetahui maksud dari pamannya tersebut.


"Baiklah kalau begitu. Sekarang juga Li'er akan melakukannya," ujar Chen Li.


Dia langsung melompat ke depan. Sekali kakinya menjejak tanah, tubuhnya langsung meluncur deras lalu sesaat kemudian, bocah itu telah tiba di tempat yang dimaksud.


Chen Li langsung mengambil posisi duduk bersila. Sesaat kemudian, Pendekar Tanpa Perasaan telah menyatu dengan alam.


Dia sudah tidak ingat apapun lagi. Chen Li hanya merasakan bahwa dirinya berada dalam ketenangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.


###


Tiga tahun telah berlalu.

__ADS_1


Chen Li sudah menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh Huang Taiji. Selama tiga tahun belakangan berlatih dengan keras tanpa mengenal ampun, sekarang kekuatan bocah itu telah meningkat beberapa kali lipat.


Kekuatan dua bola Mata Dewa semakin sempurna. Tenaga dalam langit bumi warisan Shin Shui juga sama. Sekarang bocah itu telah berubah menjadi satu sosok pemuda tampan rupawan.


Saat ini Chen Li dan Huang Taiji sedang berdiri berhadapan. Keduanya hanya terpaut beberapa langkah saja. Mereka berdiri di tengah sebuah lapangan yang ada di Lembah Ketenangan.


"Li'er, kita lakukan latih tanding. Paman ingin mengetahui sampai di mana kemajuanmu, Paman ingin tahu sampai di mana kemampuanmu yang sekarang," kata Huang Taiji dengan tenang.


"Baik Paman, Li'er akan mencobanya sekarang juga," jawab Chen Li.


Huang Taiji bersiap. Chen Li juga sudah siap. Kedua sosok manusia itu berdiri dengan kuda-kudanya masing-masing. Jubah mereka berkibar tertiup angin musim semi.


Wushh!!!


Chen Li bergerak dengan kecepatan diluar nalar. Huang Taiji juag bergerak dalam waktu yang bersamaan. Keduanya menyatu dalam satu gulungan kekuatan yang diciptakan.


Dua sinar putih menggulung menciptakan satu pusaran dahsyat. Gelombang kejut menerbangkan bebatuan yang ada di sana. Debu mengepul. Kerikil melesat terlempar ke segala arah.


Wushh!!!


Pada saat seperti itu, sinar merah mendadak meluncur menukik dari atas ke bawah. Sinar itu persis seperti sebuah meteor yang jatuh ke bumi dengan kecepatan sangat tinggi.


Siluman pemberian dari Kaisar Naga Merah itu melancarkan sejumlah serangan kepada Pendekar Tombak Tanpa Tanding. Sepasang sayapnya mengepak dengan kuat. Setiap kepakan sayap itu mampu menghancurkan satu buah batu besar.


Gelegar!!!


Dentuman dahsyat terdengar. Huang Taiji terdorong dua langkah ke belakang. Chen Li sendiri terlempar sejauh lima langkah.


Wushh!!! Wushh!!!


Meskipun keduanya terpundur ke belakang, tapi mereka segera melanjutkan kembali pertarungannya begitu mendapatkan posisi yang tepat.


Trangg!!! Trangg!!!


Pedang Tombak Surga Neraka telah dicabut oleh Huang Taiji. Pedang Merah Darah sendiri sudah dikeluarkan oleh Pendekar Tanpa Perasaan.


"Kematian Datang Menjemput …"


Wushh!!!

__ADS_1


Jurus pertama dari Kitab Pembawa Maut telah dikeluarkan oleh Pendekar Tanpa Perasaan.


Pedang pusaka itu melesat sangat cepat. Cahaya merah menembus udara kosong. Pedang itu mengincar dada Huang Taiji.


Trangg!!!


Pedang Tombak Surga Neraka menahan serangan dahsyat itu. Huang Taiji mementalkan senjata tersebut, setelah itu, dia mulai membalas serangan yang diberikan oleh Pendekar Tanpa Perasaan.


Jurus Huang Taiji keluar.


Senjata itu langsung mengurung Chen Li dari segala arah. Aura panas dan dingin menyatu dalam satu serangan. Keduanya sudah bertarung dengan sengit kembali.


Pertarungan mereka telah berlangsung selama puluhan jurus. Selama ini, Huang Taiji telah mengeluarkan kekuatannya hingga lima bagian.


Orang tua itu merasa bangga saat menyaksikan bahwa keponakannya telah berhasil mengimbangi gerakannya.


Mereka bertarung dengan gerakan yang sulit diikuti oleh mata biasa. Keduanya tampak seperti dua sukma yang melesat ke sana kemari.


Wushh!!! Duarr!!!


Chen Li terlempar sepuluh langkah ke belakang. Pendekar Tanpa Perasaan bergulingan di tanah puluhan kali. Begitu dia berdiri kembali, setetes darah segar telah meleleh dari sudut bibir bagian kanannya.


"Cukup Li'er," teriak Huang Taiji sambil mengangkat tangannya.


Pada saat itu sebenarnya Chen Li sudah siap kembali untuk melanjutkan pertarungan, namun pada saat mendengar teriakan tersebut, Pendekar Tanpa Perasaan langsung menahan serangannya.


Huang Taiji melompat tinggi lalu meluncur dengan deras dan berhenti tepat di hadapan Chen Li.


"Kekuatanmu sudah mengalami banyak peningkatan dari tiga tahun belakangan. Sekarang, pondasimu sudah semakin kokoh. Kemampuanmu juga semakin matang, dan jurus-jurus yang kau kuasai semakin sempurna," ujar Huang Taiji menjelaskan.


Chen Li merasa amat bangga mendengar perkataan Huang Taiji. Ingin rasanya dia berjingkrak riany, hanya saja, Pendekar Tanpa Perasaan mencoba untuk menahan hasrat tersebut.


"Terimakasih atas pujian Paman. Tapi pujian itu belum pantas ditujukan kepadaku," kata Chen Li merendah.


"Bagus, sekalipun kau sudah mendapatkan sebuah kemajuan yang luar biasa, tapi ternyata kau mampu menahan diri agar tidak sombong. Kagum, kagum, Paman sangat kagum kepadamu," puji Huang Taiji kembali.


"Terimakasih Paman. Semua ini bisa Li'er capai karena berkat kesabaran Paman dalam mendidikku,"


Huang Taiji mengangguk puas. "Beberapa saat lagi, kau akan mendapatkan seorang guru baru. Kelak, dialah yang akan mendidikmu hingga mencapai tingkat kesempurnaan. Dia juga yang akan menyempurnakan Mata Dewa yang ada dalam dirimu,"

__ADS_1


Chen Li terbengong. Guru baru? Siapa yang dimaksud guru baru? Apakah dia juga manusia? Atau bukan?


__ADS_2