
Kaisar Wei an duduk di bangku mewah yang memang disediakan untuknya.
Suasana di dalam ruang pertemuan mendadak sepi. Semuanya tegang, karena mereka tahu persoalan yang akan dibahas kali ini tidak main-main lagi.
Keadaan tanah air mereka sudah benar-benar di ujung tanduk. Kapanpun, bencana yang mengerikan bisa saja terjadi.
Para penyerang Kekaisaran Wei layaknya bom waktu. Mereka bisa meledak kapan saja.
"Semoga Kaisar sehat selalu dan panjang umur. Langit memberkati orang seperti Kaisar," kata Shin Shui mengawali pembicaraan sambil memberikan hormat lalu diikuti yang lainnya.
Kaisar Wei An mengangguk dan membalas tersenyum pula.
"Kedatangan kami kemari, rasanya Kaisar sudah mengetahui," kata Shin Shui langsung ke pokor permasalahan.
Saat situasinya begini, dia memang tidak suka basa-basi. Sebab setiap waktu amat berharga.
"Tentu, karena itu kita langsung bicara ke inti saja. Silahkan bicarakan dulu laporan apa yang telah Pahlawan dapatkan. Aku tahu kau sudah melakukan penyelidikan," katanya dengan suara berwibawa.
Shin Shui mengangguk. Kemudian dia mulai menceritakan pengalamannya pribadi saat turun gunung. Dia menceritakan bagaimana keadaan di perbatasan Timur sana.
Keadaan di setiap kota, daerah, bahkan provinsi. Dia ceritakan semua. Bahkan Shin Shui juga menceritakan tentang adanya pendekar yang sengaja menyamar menjadi dirinya yang berjuluk Iblis Seribu Wajar dari Timur.
Shin Shui juga menceritakan cara bagaimana rencana musuh untuk merebut Kekaisaran Wei. Termasuk juga dengan menyamar menjadi bangsa pribumi dan menyerang secara diam-diam.
Bahkan dia sendiri mengakui bahwa rencana musuh yang sekarang jauh lebih mengerikan daripada musuh di masa lalu saat perang besar pertama. Rencana yang sekarang benar-benar matang dan rapi. Sepertinya mereka memang sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari.
__ADS_1
Sehingga begitu tiba waktunya, wajar kalau mereka sudah sangat siap dengan segala kemungkinan.
"Kalau berita yang Pahlawan sampaikan itu benar, maka artinya Kekaisaran Wei memang sudah di ujung tanduk. Aku tidak menyangka bahwa mereka benar-benar nekad ingin merebut wilayah ini. Yang lebih parahnya lagi, mereka tidak segan untuk mengingkari perjanjian antar Kekaisaran yang sudah dibuat di masa lalu saat zaman Ayahku memimpin," katanya dengan ekspresi yang susah untuk dijelaskan.
"Yang terpenting tujuan utama bisa tercapai. Kekuasaan di tangan kanan, harta di tangan kiri, bagaimanapun caranya, mereka akan mendapatkan kedua-duanya," kata Shin Shui.
"Benar, memang begitulah sifat manusia. Lantas, apakah kau sudah mengetahui siapa Tuan Sung sebenarnya?"
"Tentu saja. Kalau bukan Kaisar Sung Poan Siu, siapa lagi?"
Kaisar Wei An hanya bisa menghela nafas sedih. Kaisar Sung Poan Siu sudah bersahabat cukup lama dengannya. Tak nyana, justru secara tidak langsung dia telah memutuskan tali persahabatan dengannya.
"Lalu, kenapa Sekte Serigala Putih bisa melakukan pengkhianatan seperti itu? Aku tidak menyangka bahwa mereka bisa melakukan tindakan serendah ini," katanya gemas.
"Aku sendiri tidak percaya pada awalnya. Tapi aku harus percaya, sebab aku sendiri yang membunuh Kaisar Buas Ying Mengtian. Mereka melakukan itu semua karena tentu saja aibnya atau bahkan aib sekte di masa lalu sudah diketahui oleh musuh. Kalau tidak begitu, mana mungkin dia mau melakukannya? Tak ada yang bisa membuat manusia seperti mereka berubah haluan kecuali terbongkarnya aib,"
"Semua orang juga sama, tapi Kaisar harus ingat bahwa demi harta dan kekuasaan, manusia berani melakukan segala cara. Tidak peduli cara itu baik atau buruk,"
Kaisar Wei Am terdiam membisu. Dia tidak mampu lagi menjawab, karena perkataan Shin Shui memang tidak perlu dijawab.
Hatinya terasa sangat sakit. Seperti ditusuk puluhan ribu jarum sekaligus. Sahabatnya memutuskan tali persahabatan demi kekuasaan. Mertuanya sendiri juga melakukan hal yang sama. Apakah ada hal yang lebih menyakitkan daripada ini?
Pada awalnya dia memang tidak terlalu percaya dengan kabar tersebut. Tapi setelah sekarang sudah ada banyak bukti, apakah dia harus tidak percaya juga? Tentu saja tidak. Dia bukan manusia yang buta.
Hanya saja sampai sekarang Kaisar Wei An masih tidak menyangka sama sekali.
__ADS_1
Bahkan istrinya sendiri selaku anak dari Kaisar Tang Yang juga tidak percaya.
Semua tokoh yang hadir di ruangan pertemuan memberikan laporannya masing-masing. Setiap orang mempunyai pengalaman tersendiri saat terjun ke lapangan.
Semua masalah ditampung menjadi satu. Sekarang mereka sedang memutar otak mencari cara tentang bagaimana bisa menghalau pergerakan musuh.
"Baiklah, aku akan menyuruh pasukan tentara untuk berjaga di setiap daerah yang sudah kalian laporkan. Setiap titik harus dijaga ketat. Tentara yang akan aku kirimkan bakal lebih banyak daripada sebelumnya. Sebagian pendekar Istana juga akan aku perintahkan untuk bergerak. Bagaimana, apakah usulku bisa diterima?" tanya Kaisar Wei An kepada semua orang yang hadir.
Walaupun dia Kaisar, tetapi dirinya harus tetap menanyakan persetujuan setiap orang. Sebab sekarang bukan saatnya untuk memikirkan kedudukan, melainkan mengutamakan kebersamaan.
"Bagus, memang seharusnya begitu. Aku sudah memerintahkan semua orang untuk bergerak. Termasuk Kekaisaran sendiri. Seluruh aliran hitam sudah aku suruh untuk melakukan hal yang sama. Sekarang Li'er bersama Kakak Huang sedang menuju ke dua sekte aliran hitam terbesar. Mereka juga akan minta bantuan ke sana. Untuk orang-orang yang ada di sini, tolong lakukan juga hal yang sama. Kerahkan pendekar pilihan atau murid pilihan untuk turun gunung,"
"Selalu waspada dan curiga kepada setiap orang. Sebab jika saat seperti ini, siapapun bisa menjadi musuh kita. Aku harap jika kita bersatu, masalah besar setidaknya akan berkurang. Mulai dari sekarang, persiapkan segala kemungkinan. Sediakan tempat yang aman untuk rakyat dan pelarian. Jangan sampai perang nanti memakan banyak korban tak bersalah," kata Shin Shui kepada semua yang hadir.
Suaranya lantang dan berwibawa. Sosok kepemimpinan yang luar biasa terpancar dari tubuhnya.
Jika dia sudah berkata seperti itu, jangankan para pendekar dan kepala tetua, Kaisar sendiri harus menuruti perkataannya.
"Aku minta kalian harus bisa menjaga kondisi. Biarlah masalah kecil angkatan muda kita saja yang membersihkannya. Sudah waktunya untuk mereka turun langsung di kehidupan yang keras. Sedangkan kita mempersiapkan hal yang lebih besar lagi. Aku rasa jika semua lini bergerak, situasinya akan lebih baik," lanjutnya.
Semua tokoh yang hadir di sana mengangguk setuju. Semua yang dikatakan oleh Pendekar Halilintar sangat masuk akal. Sehingga tidak ada yang berani membantah di antara mereka.
"Baik, kami semua mendengarkan. Perintah akan segera dilaksanakan," kata para tokoh serentak.
Pandangan mereka kepada Shin Shui bertambah lagi. Mereka merasa benar-benar beruntung mempunyai tokoh seperti Shin Shui.
__ADS_1
Harapan orang-orang ini adalah semoga angkatan muda sekarang lebih baik daripada mereka semua. Setidaknya mereka ingin angkatan muda bisa menciptakan dunia yang lebih damai daripada saat ini.