Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Rencana Ang Mo Bian


__ADS_3

Sebelum menjawab pertanyaan Huang Taiji, kakek tua itu lebih dulu nakan beberapa potong daging dan menenggak guci araknya.


"Aku tinggal di sini sebetulnya belum lama. Aku sedang melakukan pengembaraan karena mendapatkan informasi ada banyak para pengacau yang berani kurang ajar di Kekaisaran Wei," kata si Pengemis Sakti Bertangan Enam itu.


Huang Taiji cukup kaget juga mendengar jawaban dari Ang Mo Bian. Biasanya, kakek tua itu tidak sudi berkeliaran lagi, apalagi dirinya sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan sejak sepuluh tahun yang lalu.


Jangankan untuk mengembara kembali, bahkan untuk keluar dari tempat pertapaan terakhir dan mengurus segala macam urusan di Partai Pengemis saja dia sudah malas.


Tak disangka sekarang justru dirinya berani turun tangan menampakkan dirinya kembali di dunia ramai.


"Aihh, aku tidak menyangka jika Tuan Ang mau mengembara kembali setelah lama bertapa," kata Huang Taiji.


Ang Mo Bian tersenyum simpul. Walaupun terlihat senyuman tulus, tapi di dalamnya terkandung sebuah beban kepedihan yang sukar untuk dikatakan.


"Kalau aku tidak turun tangan, bukankah aku akan menjadi manusia paling jahat yang membiarkan rumah sendiri di hancurkan orang lain? Tokoh-tokoh aliran hitam saja tidak tinggal diam saat menyadari bahwa rumahya diambang kehancuran, masa aku yang terkenal menentang mereka malah diam berpangku tangan? Bukankah sangat lucu jika hal ini sampai terjadi? Sebetulnya aku memang sudah malas untuk kembali lagi ke dunia yang penuh tipu daya ini. Hanya saja, aku tidak bisa begitu saja meninggalkan sebuah kewajiban yang sudah ada sejak dahulu kala,"


Ang Mo Bian sudah tua. Dia telah berbeda, tidak sama seperti dahulu lagi. Siapapun orangnya, jika usianya sudah lanjut, pasti orang itu ingin sekali menikmati masa-masa tuanya dengan penuh ketenangan. Penuh kebahagiaan, dan penuh kedamaian.


Tapi mau bagaimana lagi? Negaranya sedang dijajah oleh mereka yang rakus akan kekuasaan. Jika dirinya tidak turun gunung, jika orang-orang asli dari negara itu tidak turun tangan, lantas mau siapa lagi yang melawan bangsa penjajah itu?


Mau tidak mau, dia harus melepaskan impian kedamaian di sisa hidupnya. Meskipun pada awalnya terpaksa, namun pada akhirnya dia harus mau menerima kenyataan.


Biasanya, orang-orang yang sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan, mereka memang tidak mau untuk turun gunung lagi. Apalagi jila harus mencampuri segala macam urusan. Pantang bagi mereka untuk masuk ke dalamnya.


Namun jika masalahnya menyangkut tanah air sendiri. Maka hal di atas akan menjadi pengecualian. Karena itulah, belakangan ini banyak sekali bermunculan tokoh-tokoh tua yang sudah lama tidak menampakkan dirinya.


Salah satunya adalah Ang Mo Bian si Pengemis Bertangan Enam.

__ADS_1


"Tuan Ang benar. Menurutku, masalah yang sekarang sedang terjadi di Kekaisaran Wei adalah masalah paling gawat. Mungkin perang nanti juga akan jauh lebih dahsyat dari pada sebelumnya. Aiii, manusia memang rakus terhadap kekuasaan," keluh Huang Taiji.


Wajahnya tampak murung. Pikirnanya mendadak bercabang. Ternyata setelah terjun ke dunia manusia, dia menjadi paham bagaimana rumitnya kehidupan ini.


"Memang begitulah kenyataannya. Dari sejak dahulu kala hingga sekarang, manusia akan melakukan segala macam cara jika menyangkut kekuasaan,"


"Benar. Kekuasaan memang bisa mengubah segalanya. Ngomong-ngomong, apakah Tuan Ang sudah mempunyai rencana untuk ke depannya?" tanya Huang Taiji penasaran.


Dia ingin tahu bagaimana rencana tokoh tua itu. Biasanya, orang seperti Ang Mo Bian yang sudah kenyang akan pengalaman, mereka akan melakukan berbagai macam rencana diluar dugaan semua orang.


"Sudah. Aku menyuruh semua ketua cabang yang ada di seluruh penjuru untuk turun tangan. Bahkan ketua Partai Pengemis sendiri aku suruh pula untuk ambil bagian. Sebagian anggota aku suruh menyamar menjadi orang-orang musuh kita. Mereka akan menyusup dari dalam menggali informasi dan menggagalkan beberapa rencana musuh. Dengan begitu, sedikit banyaknya ancaman musuh akan gagal. Dan informasi penting dari mereka, setidaknya bisa kita ketahui,"


Huang Taiji mengangguk-anggukkan kepalanya puas. Walaupun rencana Ang Mo Bian hampir sama dengan rencana para tokoh lainnya, tetapi dia tetap kagum.


Partai Pengemis sangat banyak anggotanya. Jika sampai mereka diperintahkan untuk turun tangan semuanya, bukankah ini menjadi kabar yang sangat baik?


"Tuan Huang tidak perlu sungkan. Sekarang di Kekaisaran Wei ini tidak ada lagi golongan hitam, putih ataupun merdeka. Yang ada hanyalah golongan sama dengan tujuan yang sama pula. Yaitu mengusir penjajah, berjuang sampai titik darah penghabisan,"


"Benar. Di balik dahsyatnya badai yang menyerang, terdapat banyak sekali pelajaran yang dapat diambil,"


"Tepat. Memang begitulah kehidupan. Terkadang bencana harus diturunkan supaya manusia sadar dan mau merangkul sesamanya,"


Keduanya tertawa bergelak. Mereka bersulang arak beberapa kali karena merasa sangat gembira. Meskipun masalah besar ada di depan mata, tapi keduanya akan selalu merasa gembira.


Apapun yang terjadi, orang-orang seperti mereka akan tetap seperti itu. Alasannya karena kedua orang tersebut sudah mengerti arti kehidupan.


Waktu terus berjalan. Saat mereka berdua asyik bicara, Chen Li mendadak mengeluh pelan. Bocah itu telah sadar dari pingsannya.

__ADS_1


"Di mana aku," gumamnya lirih.


Huang Taiji merasa sedikir kaget sekaligus gembira. Dia langsung menghampiri Chen Li dan mengusap kepalanya secara lembut penuh kasih sayang.


"Kau ada di tempat yang aman Li'er,"


"Paman, bagaimana aku bisa ada di sini?"


"Nanti Paman akan menceritakannya kepadamu setelah keadaanmu membaik. Sekarang istirahatlah," kata Huang Taiji lembut.


Chen Li mengangguk pelan. Mulutnya meringis menahan sakit yang masih sedikit menderanya.


"Paman, aku mempunyai suatu permintaan. Aku harap Paman bisa mengabulkannya," kata Chen Li.


Suaranya berubah parah. Wajahnya juga nampak sangat muram. Seolah bocah itu sedang menanggung beban berat yang tiada seorang pun tahu. Siapapun yang mendengar perkataannya, orang itu pasti akan merasa iba sekaligus sangat khawatir.


Huang Taiji pun begitu. Hatinya seketika merasa perih. Pikirannya menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Apakah dia gagal menyelamatkan Chen Li? Apakah benar dia akan tewas?


"Permintaan apa Li'er? Katakan, katakan saja. Paman pasti akan mengabulkannya, kau jangan khawatir," kata Huang Taiji menahan rasa sedih di hatinya.


"Aku, aku lapar. Paman mau kan menyuapiku kali ini saja?" tanya Chen Li sambil memandangnya.


Huang Taiji gemas. Antara kesal dan kasihan bercampur menjadi satu. Wajahnya tampak lucu sekali. Dia sudah sangat khawatir, bahkan pikirannya juga sudah tidak karuan.


Dia berpikir bahwa bocah itu akan tewas sehingga meminta sebuah permintaan terakhir. Siapa sangka, ternyata justru malah sebaliknya.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Malah berlagak sok sedih segala macam," kata Huang Taiji menahan rasa kesal di hatinya.

__ADS_1


"Kalau langsung bicara, pasti Paman akan marah. Sekarang Paman sudah berjanji, ayolah Paman. Suapi aku," katanya manja. Sifat kekanak-kanakannya keluar.


__ADS_2