
Orang tua berpakaian serba putih itu terbelalak saking kagetnya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau rencananya akan gagal. Padahal dia sudah yakin kalau dirinya bakal dapat membunuh Pendekar Merah lewat cara seperti barusan.
Siapa sangka, yang terjadi justru malah dia mengalami kegagalan. Bukannya mendapat keberhasilan, mungkin dia bakal mendapat kematian.
Kesalahan kakek tua itu adalah terlalu percaya diri. Karena terlalu percaya diri, terkadang seorang manusia malah membuat suatu kesalahan besar.
Jika terlalu percaya diri, apakah hasilnya akan selalu menyengsarakan?
Pedang hitam yang tergenggam di tangan kanannya bergetar. Telapak tangannya sendiri terasa kesemutan sampai ke pangkal lengan. Seluruh tubuh kakek tua itu pun mengalami suatu getaran. Getaran yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Apakah getaran rasa takut? Atau getaran putus asa?
Wushh!!!
Kakek tua itu berusaha semaksimal mungkin untuk melompat mundur ke belakang. Setelah mengerahkan hampir semua kekuatan, akhirnya dia dapat melepaskan pedangnya yang beberapa saat lalu menempel dengan pedang Pendekar Merah.
"Kau benar, aku sudah melakukan kesalahan besar. Sekarang aku tahu bagaimana kemampuan Pendekar Merah yang kemunculannya amat menggemparkan itu," kata si kakek tua itu sambil sedikit mengeluh.
"Terlambat. Tahu atau tidak tahu, hal itu tidak akan mengubah nasibmu selanjutnya,"
"Tepat. Aku yakin nasibku tidak dapat berubah,"
"Bagus kalau kau menyadarinya. Sekarang, terimalah kematianmu,"
Wushh!!!
"Kematian Datang Menjemput …"
Chen Li melesat ke depan. Pedang Merah Darah yang digenggam erat di tangan kirinya melancarkan satu tusukan hebat dengan kekuatan dahsyat.
Jurus pertama dari Kitab Pembawa Maut langsung dikeluarkan. Serangan pertama datang bersama kabar kematian.
Si kakek tua yang ada di hadapannya bukan tokoh sembarangan. Meskipun usianya sudah lanjut, tapi kemampuannya tidak perlu diragukan lagi.
Wushh!!! Wutt!!!
Pedang si kakek tua juga bergerak cepat. Dua senjata pusaka kelas atas telah memperlihatkan taringnya masing-masing.
Dua jurus hebat dari dua tokoh telah dikeluarkan. Hawa di sana mendadak berubah hebat. Sinar merah dan sinar hitam terbang ke sana kemari dalam kecepatan sulit dibayangkan.
Keduanya sekarang telah bertarung dengan sengit. Si kakek tua ternyata mempunyai kemampuan yang terbilang lumayan. Kalau dibandingkan, dia jauh lebih kuat dari para tokoh yang telah Chen Li bunuh di gedung milik Hong Hua beberapa saat lalu.
__ADS_1
Gelegar!!! Duarr!!!
Jurus serangan jarak jauh dilancarkan. Benturan keras terdengar membuat telinga mendengung. Debu mengepul tinggi menutupi segala yang ada di arena pertarungan dua orang tersebut.
Pendekar Merah terus merangsek ke depan. Pedang Merah Darah melancarkan enam kali tebasan dengan gaya miring. Serangannya semakin mantap. Gerakannya semakin lincah.
Trangg!!! Trangg!!!
Benturan benda keras terus terjadi seiring berjalannya waktu. Si kakek tua berusaha agar selalu berada dalam posisi yang menguntungkan. Tubuhnya melompat dan berjumpalitan di udara untuk menghindari semua serangan Pendekar Merah.
Aura hitam mendadak menyelimuti seluruh bagian tubuhnya. Aura itu membawa kekuatan kegelapan. Mendadak kakek tua itu bergerak lebih cepat. Serangan yang dilancarkan juga jauh lebih dahsyat.
Pendekar Merah menarik tubuhnya ke belakang beberapa tombak. Dia bukan mundur, sebaliknya, pemuda itu sedang bersiap untuk melancarkan satu serangan dahsyat lainnya.
"Hujan Tanah …"
Wushh!!!
Pendekar Merah melancarkan jurus dengan bantuan kekuatan Mata Dewa unsur bumi. Tanah di sekitaran sana mendadak berhamburan ke atas lalu menyerang si kakek tua dengan cepat.
Duarr!!!
Dia tewas mengenaskan. Seluruh tubuhnya dihujani tanah yang amat keras. Orang tua itu tewas tanpa mengeluarkan suara apapun.
Pendekar Merah berdiri di pinggir lubang besar tersebut. Dia memandangi tubuh tua renta itu dengan tatapan dingin.
Pemuda itu tidak tahu siapa si kakek tua tersebut. Hanya saja meskipun begitu, dia sama sekali tidak ingin tahu. Siapapun yang membunuhnya tidaklah penting. Selama orang itu berniat untuk membunuh dirinya, maka dia harus lebih dulu membunuhnya.
"Kakek tua yang malang …" gumam Chen Li sambil membalikkan badannya.
Setelah pertarungannya selesai, dia kembali melanjutkan langkahnya ke depan. Langkah yang ringan, langkah yang cepat, dan langkah yang mantap.
###
Hari kemarin telah lewat. Sekarang telah hari baru. Waktu menunjukkan tengah malam. Pendekar Merah sedang duduk di sebuah meja restoran yang terdapat di kota tersebut.
Restoran itu terletak di pinggir sebuah danau. Restoran yang cukup besar, danau yang indah, dan keadaan yang penuh karena pengunjung.
Pemuda itu telah memesan satu ruangan khusus untuk dirinya. Ruangan tersebut berada di lantai tiga. Keadaan ruangan itu sangat mewah, berbagai macam ornamen yang terdapat di sana sudah tentu bernilai tinggi.
Berbagai macam lukisan, berbagai macam barang antik, semuanya terdapat di ruangan itu.
__ADS_1
Meskipun ruangan tersebut terbilang paling mahal dan mewah, namun biasanya ruangan itu selalu dipenuhi oleh pengunjung tertentu. Sekejap pun tidak pernah sepi.
Namun pemandangan sekarang sangat bertolak belakang, di sana sepi. Tiada siapapun kecuali pemuda itu. Ternyata dia telah menyewa seisi ruangan itu dengan harta yang dimilikinya.
Pendekar Merah duduk seorang diri. Dua macam hidangan mewah yang masih hangat telah tersedia di depannya. Beberapa guci arak juga ada. Arak itu tentunya bukan arak biasa. Arak tersebut pastinya arak wangi dan mahal harganya.
Malam semakin larut. Rembulan diluar sana semakin meninggi. Rembulan itu tampak lebih indah jika di lihat di atas air danau.
"Lebih baik masuk lewat pintu depan, jangan menjebol atap restoran. Kau datang kemari untuk berkunjung, bukan untuk mencari masalah," kata Pendekar Merah di sela-sela meneguk cawan arak miliknya.
"Hahaha … ternyata kau orang yang taat kepada aturan," sebuah suara yang sudah pernah didengar sebelumnya oleh Chen Li mendadak terdengar.
Suara itu berasal dari pintu masuk ke ruangan tersebut. Sesaat kemudian, satu sosok yang sudah berusia lanjut telah menampakkan diri.
Hong Hua.
Orang tua itu berjalan perlahan ke arah Pendekar Merah. Dia memakai pakaian kuning terang berhiaskan permata. Penampilannya seperti seorang Raja.
"Kau benar-benar datang, bahkan kau datang lebih dulu," katanya lalu duduk di kursi yang sudah tersedia.
"Saat aku bicara akan datang, maka aku pasti datang," jawab Chen Li datar.
Hong Hua tertawa lantang. Suara tawanya membuat seisi ruangan bergetar. Bahkan meja yang ada di depannya juga bergetar. Semuanya bergetar karena suara tawa itu. Yang tidak bergetar hanyalah tubuh si Pendekar Merah.
Tubuh itu masih duduk dengan tegak. Sedikitpun dia tidak terpengaruh oleh suara tawa tersebut.
"Kau sudah lama menungguku?" tanya si kakek tua itu kepada Chen Li.
"Belum terlalu lama,"
"Baguslah, berarti aku tidak mengecewakanmu,"
###
Note: Untuk yang kesekian kalinya saya kasih tau ya wkwk, kalau novel saya beda sama novel kebanyakan, maaf. Karena referensi saya penulis dulu, salah satunya Suhu Khu Lung (Gu Long).
Para penggemar wuxia mungkin tahu siapa dan apa keistimewaan beliau …
Terimakasih untuk kalian yang selalu mendukung ya. Semoga tetap setia mengikuti perjalanan Chen Li
See you☕
__ADS_1