
Shin Shui menatap tajam semua orang yang diduga menyamar tersebut. Keadaan masih sunyi. Tapi kesunyian tersebut diliputi oleh ketegangan. Lima tetua yang berada di pinggir Shin Shui sudah melakukan persiapan secara diam-diam.
Sehingga kalau ada perintah atau setidaknya orang-orang itu menyerang secara tiba-tiba, maka mereka sudah siap segalanya.
"Bagaimana kau bisa mengetahui penyamaran yang kami lakukan?" tanya sosok wanita yang menyamar sebagai Yun Mei.
"Hemm, baik. Aku beritahu kalian. Pertama, istriku tidak pernah memanggil namaku. Dari sebelum hingga sudah menikah, dia tidak pernah menyebut namaku kecuali sedang marah. Dan lagi, dia tidak pernah memanggil anakku dengan menyebut namanya juga. Perlu kau tahu, sekalipun penyamaranmu sangat sempurna, tapi perasaan anak terhadap ibunya lebih mendalam. Selain itu, aku semakin yakin saat kau menyuruh Sekte Bukit Halilintar untuk menyerah. Apalagi di tambah persetujuan dari sepuluh tetua lainnya. Dari sini saja aku sudah tahu bahwa kalian bukanlah orang-orangku. Asal kalian tahu saja, bahwa semua orang yang ada di sekteku, tidak ada yang mempunyai sifat pengecut. Lebih baik tewas dalam pertempuran daripada melakukan pengkhianatan," kata Shin Shui dengan sangat serius.
"Hahaha … hebat, hebat. Nama Pendekar Halilintar sebagai pemimpin dunia persilatan memang patut di acungi jempol. Kewaspadaan dan ketajaman matamu membuatku takjub. Jujur saja, aku salah satu orang yang mengagumi dirimu. Bahkan kalau bisa, ingin memilikimu," kata seseorang yang menyamar menjadi sosok Yun Mei.
Suaranya sangat lantang dan tegas. Tapi juga lembut. Sehingga saat dia berbicara, seperti membawa sesuatu tersendiri di dalamnya.
Dari suaranya saja sudah dapat dipastikan bahwa sosok asli wanita tersebut sangatlah cantik dan anggun. Bahkan mungkin melebihi kecantikan Yun Mei sendiri.
"Aku tidak butuh pujianmu," tegas Shin Shui.
"Tapi aku tidak sedang memuji, aku berkata yang sebenarnya," balas wanita itu.
Semakin lama suaranya semakin lembut dan penuh perasaan. Tapi di balik lemah lembutnya, terdapat sesuatu yang belum bisa di bayangkan oleh siapapun.
"Terserah. Kalina sudah tertangkap basah, lalu untuk apa masih menutupi semuanya?" tanya Shin Shui penuh wibawa.
"Hahaha, baik, baik. Demi kamu, aku akan membuka penyamaran dan permainan ini," kata si wanita kembali tertawa dengan suaranya yang khas.
Setelah selesai berkata demikian, dia bersama rekan-rekannya segera membuka penyamaran yang sudah dia lakukan beberapa waktu terakhir.
Terlihat sepuluh tetua merupakan sosok pria berusia sekitar empat sampah lima puluh tahun. Semuanya memakai pakaian serupa. Yaitu warna hitam dengan corak tertentu yang melambangkan sebuah keagungan. Tapi entah keagungan apa, mungkin keagungan kelompok mereka.
__ADS_1
Sebab Shin Shui sendiri baru pertama melihat corak tersebut selama hidupnya selama ini.
Semua tetua yang bersama Shin Shui memandang sebelas sosok di hadapan mereka. Terlebih lagi wanita yang menyamar sebagai Yun Mei.
Wajahnya benar-benar cantik. Sulit mencari bandingannya di dunia ini. Alis matanya indah dengan bola mata bening penuh keteduhan. Senyumannya mampu membuat para dewa merasa iri. Wajahnya bulat telur dengan satu lesung pipi. Dengan gincu warna merah muda, mulut mungilnya terlihat semakin menawan.
Kalau tidak kuat, sudah pasti akan terpesona dengan penampilannya ini.
Tapi begitulah manusia. Lain di luar, lain pula di dalam.
Di balik raut wajahnya yang menggambarkan seorang dewi, justru terkandung sesuatu yang mengerikan bagaikan iblis.
"Sejak kapan kalian menyamar dan mencari masalah di sekteku?" tanya Shin Shui berusaha menenangkan dirinya.
Dia tentu tidak mau asal bergerak. Apalagi menghadapi tokoh seperti mereka ini. Salah satu langkah saja sudah dapat menentukan hasil akhir.
Kembali Shin Shui dan lima tetua dibuat kaget. Itu artinya, sudah seminggu pula Yun Mei dan para tetua lain menghilang?
Tapi bagaimana mereka mampu menaklukkan para tetua dan sosok Yun Mei? Bukan perkara mudah mampu mengalahkan mereka. Apalagi Yun Mei, jurus pedangnya sudah diakui oleh kalangan rimba hijau.
Bahkan dia mendapatkan julukan sebagai Dewi Pedang karena keahliannya dalam memainkan senjata tajam itu.
"Kalian benar-benar mencari perkara denganku rupanya," kata Shin Shui dengan geram.
"Jangan marah begitu. Tenanglah, istrimu dan tetua lain masih aman. Mereka masih hidup. Tapi kau harus ingat, hal seperti ini hanya aku lakukan kepadamu seorang saja. Biasanya kalau aku melakukan hal seperti ini, maka orang-orang yang aku tawan tidak dibiarkan hidup walau satu hari. Tetapi kalau kepadamu merupakan pengecualian," kata si wanita itu sambil berjalan dengan gemulai lalu mengelilingi Shin Shui.
Bahkan dengan berani pula dia membelai wajah Pendekar Halilintar. Tidak ada ketakutan dalam wajahnya. Justru wajah cantik tersebut memperlihatkan keanggunan yang sempurna.
__ADS_1
Tapi walau bagaimanapun juga, Shin Shui tetap tidak akan tergoda. Bahkan membalas sedikit belaian wanita itu pun tidak. Hanya matanya saja mengikuti ke mana arah tangan yang lembut itu bergerak.
Cintanya terhadap Yun Mei sudah mendalam sedalam samudera. Bahkan jauh lebih daripada itu. Rasa sayangnya terhadap sang istri sudah mendarah daging.
Andai semua wanita tahu bahwa ketika pria sudah benar-benar mencintainya dia rela mengorbankan segalanya, mungkin pria yang patah hati di dunia ini akan sangatlah sedikit.
Tapi terlalu rumit untuk membicarakan masalah perasaan. Bagi sebagian orang, masalah percintaan lebih rumit dari masalah apapun di dunia ini.
"Katakan di mana istriku dan para tetua," kata Shin Shui.
"Mudah saja. Dengan syarat kau bersedia untuk menikahiku," jawab si wanita. Suaranya seperti sebuah angin malam yang mendesah manja. Benar-benar membuat seseorang merasa nyaman.
"Jangan pernah bermimpi,"
"Hemm, kalau begitu, kau bergabung bersamaku. Maka aku akan memberitahumu di mana mereka,"
"Jangan pernah berharap aku akan bergabung. Sudah aku katakan, orang-orang Sekte Bukit Halilintar tidak ada yang memiliki sifat pengecut. Jangan sama kan sekte kami dengan sekte lainnya. Kami lebih baik tewas saat bertarung daripada bergabung dengan iblis," tegas Shin Shui yang dibalas anggukan oleh lima tetua di sampingnya.
"Apakah yang kau katakan itu benar?" tanya si wanita sambil memandang tajam Shin Shui.
Pandangan matanya, bahkan lebih tajam daripada sebilah pedang. Sorot katanya mampu menembus relung hati yang terdalam. Hanya pria beruntung yang tidak tergoda dengan kesempurnaan yang dimiliki wanita tersebut.
Tak dapat di pungkiri bahwa Shin Shui sempat tergetar juga saat sorot matanya beradu dengan si wanita. Tetapi rasa cintanya terhadap Yun Mei lebih besar. Sehingga mampu mengalahkan godaan tersebut.
"Tentu saja. Sekarang beritahukan di mana mereka sebelum aku bertindak kejam," ucap Shin Shui masih berusaha untuk tenang.
"Hemm, kalau aku tidak memberitahu, memangnya kau mau apa? Apakah kau mampu berbuat kejam kepadaku?" tanya si wanita dengan anggunnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Jangan pernah berpikir kau bisa meluluhkan semua pria," tegas Shin Shui dengan suaranya yang menggelegar.