Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertarungan Antar Siluman


__ADS_3

Dua ekor siluman singa hitam meraung keras. Mereka terpental dan langsung ambruk tak bangun lagi. Mati.


Chen Li tidak berhenti sampai di situ saja. Dia kembali memainkan jurus-jurus ampuh miliknya.


"Bertempur Melawan Raja Naga …"


"Kegelapan Menyelimuti Bumi …"


Wushh!!!


Wushh!!!


Seruling giok hijau memancarkan cahaya kehijauan yang semakin terang. Pedang hitam mengeluarkan asap hitam pekat.


Dua senjata pusaka itu sudah menunjukkan taringnya. Cahaya hitam berkilat tanpa jeda. Cahaya biru menerjang di udara kosong.


Prakk!!!


Crashh!!!


Dua ekor siluman singa hitam kembali meregang nyawa di tangan seekor bocah kecil. Sebelas siluman singa hitam sisanya merasa sangat marah.


Melihat empat rekannya sudah terkapar tanya nyawa, mereka meraung lebih keras lagi. Bumi bergetar sedikit saat sebelas siluman itu meraung.


Dalam waktu singkat, mereka sudah melancarkan berbagai macam serangan ke arah Chen Li. Berbagai macam sinar keluar menerjang ke arahnya.


Blarrr!!!


Ledakan terdengar. Chen Li nekad menahan jurus gabungan dari sebelas siluman itu. Debu mnegepul tinggi.


Begitu keadaan kembali normal, yang terluka bukan dirinya. Justru enam ekor siluman singa hitam sudah tewas. Kepalanya pecah berantakan. Entah dengan cara bagaimana dia melakukannya.


Tanpa banyak membuang waktu, bocah kecil berjuluk Pendekar Tanpa Perasaan itu langsung menyerang kembali. Pedang Hitam yang membawa hawa pembunuhan kental sudah bergerak.


Ujung pedang bergetar mengeluarkan bunyi nyaring. Gerakannya lebih cepat dan lebih ganas dari pada sebelumnya. Lima singa hitam yang tersisa berusaha menghindari semua serangan tersebut.


Mereka melompat ke sana kemari, kadang-kadang melancarkan serangan balasan. Sayangnya, keadaan itu tidak berlangsung lama.


Karena empat jurus kemudian, Chen Li mulai menebas kepala lima siluman itu satu persatu. Raungan demi raungan terdengar.


Hanya dalam waktu singkat, lima belas ekor siluman singa hitam, tewas di tangannya.


Chen Li masih berdiri memandangi bangkai siluman-siluman itu. Dia yakin, pasti ada persoalan lain di balik penyerangan mereka ke sekte ini.


Karena tidak mungkin jika para siluman menyerang membabi buta tanpa alasan. Sudah pasti, dibalik semua ini, ada sebuah persoalan yang harus dipecahkan dengan segera.


Harus ditemukan sumbernya secepat mungkin. Karena kalau tidak, bukan tidak mungkin jika siluman lainnya akan menyerang kembali.


Lantas, sebenarnya persoalan apa yang membuat siluman itu menyerang?

__ADS_1


Di sisi lain, San Ong juga sudah bertarung sengit melawan siluman kera biru. Walaupun satu lawan satu, ternyata lawannya mempunyai kekuatan yang cukup lumayan.


Dari tiga ekor siluman kera biru, diperkirakan kekuatan masing-masing di antara mereka setara dengan Pendekar Dewa tahap lima akhir.


Saat ini keduanya sedang bertarung seru. San Ong menyerang melancarkan tujuh pukulan beruntun. Setiap pukulan yang dia kerahkan, mengandung hawa panas yang menggidikan.


Setiap pukulannya dilancarkan dengan kekuatan penuh. Sehingga hasilnya sudah jangan ditanya lagi. Tembok sekalipun bisa dia jebol dengan mudah.


Tubuhnya berputar sambil terus melancarkan berbagai macam serangan hebat. Siluman kera biru terlihat terdesak dengan gempuran serangan San Ong yang tiada hentinya itu.


Beberapa kali terlintas di wajahnya dia menggambarkan ekspresi kesakitan. Setiap kali beradu pukulan dengan San Ong, kera biru selalu merasakan kepalan tangannya pegal.


Kalau dia manusia, mungkin sudah sejak tadi bicara kesakitan. Sayangnya dia seekor siluman. Yang bisa dia lakukan hanya menjerit menahan rasa sakit itu.


Si kera biru tiba-tiba melompat mundur ke belakang. Tubuhnya sudah penuh dengan luka yang diakibatkan dari pukulan San Ong.


Grrr!!!


Kera biru menggeram. Listrik yang selalu menyelimuti tubuhnya bertambah besar. Ada kekuatan lain yang mendadak merembes keluar.


San Ong mengambil posisi siap siaga. Dia sudah tahu bahwa kera biru itu akan mengeluarkan kekuatannya yang terakhir.


Kilatan listrik di tubuhnya semakin kuat.


Wushh!!!


Mendadak sebuah bayangan biru melesat dan sudah ada di depan San Ong.


Blarr!!!


San Ong tidak menyangka sama sekali bahwa kera biru itu memiliki kecepatan seperti barusan. Akibatnya dia sempat terpaku sehingga tidak tahu kalau bahaya sudah tiba di depan mata.


"Siluaman sialan. Mampus kau!!" teriaknya.


San Ong menggeram pula. Dua lengannya sudah berubah menjadi merah darah. Matanya berkilat memancarkan amarah yang meluap-luap.


Wushh!!!


Hawa panas menyebar di sekitar tempat pertarungannya. Kedua tangan yang mengandung hawa panas itu langsung melancarkan serentetan pukulan dan tendangan dahsyat.


Dua siluman kera berkekuatan tinggi sudah kembali bertarung sengit. Pukulan dan tendangan yang mereka layangkan, mampu untuk mencabut nyawa manusia biasa.


Blarr!!!


Sebuah bayangan terpental. Tubuhnya meluncur deras ke belakang.


Siluman kera biru!!!


Chen Li yang menyaksikan pertarungan dari sisi terkejut melihatnya. Siluman kera biru itu ternyata sudah tak bernyawa.

__ADS_1


Kepalanya hampir pecah. Tangan dan kakinya dibuat patah oleh San Ong.


"Mengerikan," gumamnya.


Padahal tanpa disadari, dia justru lebih mengerikan daripada San Ong sendiri.


"Dia pantas mendapatkannya Tuan muda," kata San Ong yang tiba-tiba keluar dari kepulan debu.


Chen Li tidak menjawab. Dia hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun. Sebab bocah itu, kini sedang menyaksikan kembali pertarungan lainnya.


Ong San menggempur seekor siluman kera biru. Kedua kaki dan tangannya memberikan serangan yang ganas. Dahsyat. Dan tentunya mematikan.


Dia menjerit mengeluarkan suaranya yang mampu membuat telinga sakit. Kedua pukulan bertenaga tinggi dilayangkan.


Bukk!!!


Keduanya terpental. Tapi si kera biru terlihat lebih menahan rasa sakit. Bahkan dia sempat melompat-lompat saking sakitnya.


Melihat lawannya kalah kuat, Ong San tidak menunda waktu lagi. Tubuhnya segera melesat lalu melayangkan dua pukulan jarak jauh.


Sinar putih berkelebat menghantam si kera biru. Untungnya dia bukan seekor siluman biasa. Dua pukulan jarak jauh itu bisa ditahan meskipun tubuhnya terdorong satu langkah ke belakang.


Tapi dia tidak menyangka setelah serangan jarak jauh itu, ternyata datang juga serangan jarak dekat yang tidak kalah hebatnya.


Pukulan Ong San datang bagaikan air hujan turun ke bumi. Begitu cepat. Begitu banyak. Hanya dalam waktu singkat, keduanya telah beradu pukulan hingga debu mengepul.


Benturan dan dengusan terdengar memecah senja yang kelabu. Si kera biru terpental kembali. Dia benar-benar kewalahan melawannya.


Padahal segenap kemampuan sudah dikeluarkan hingga ke titik tertinggi. Sayangnya, semua usaha itu sia-sia semata.


Grrr!!!


Wushh!!!


Si kera biru melesat lagi. Tubuhnya mengeluarkan aliran listrik lebih besar lagi. Tanah retak. Udara terasa sesak.


Blarr!!!


Ledakan terdengar lagi.


Sesosok bayangan terpental jauh ke belakang. Tapi bukan Ong San. Melainkan si kera biru itu sendiri.


Kepalan tangannya mengeluarkan darah cukup banyak. Onh San masih berdiri. Bedanya, seluruh bulu di tubuhnya sudah mengeras seperti duri yang dibuat dari baja. Tajamnya bukan main.


Wushh!!!


Kali ini giliran dia yang melesat ke depan. Tangan kanannya mengepal kencang. Hawa panas terasa membakar kulit.


Pukulan terakhir langsung dia layangkan dengan kekuatan penuh.

__ADS_1


Blarr!!!


Tanah berlubang. Siluman kera biru itu melesak masuk ke dalam tanah. Dia tewas. Organ dalamnya pecah berantakan.


__ADS_2