
Tiga wanita tersebut langsung terdiam. Terlebih lagi dia yang baru saja tertusuk pisau energi milik Shin Shui si Pendekar Halilintar.
Dia meringis menahan sakit. Tapi tidak berani unruk bersuara lebih keras. Wanita bercadar itu kemudian menyalurkan hawa murni untuk menutup keluarnya darah. Setelah tertutup, dia mengkonsumsi pil untuk menghilangkan rasa sakit yang dideritanya.
Wanita tersebut memang merupakan Pendekar Dewa. Harusnya luka seperti itu saja tidak akan membuatnya meringis.
Hal tersebut memang benar. Semakin tinggi tingkatan seseorang, maka semakin tahan juga orang tersebut akan berbagai macam luka.
Namun, dia juga hanya merupakan seorang wanita. Lagi pula, rasa sakit yang ditimbulkan oleh pisau energi tadi sungguh sangat menyakitkan.
Rasanya tubuh seperti di iris-iris. Bahkan sedikit mendatangkan rasa ketakutan. Seperti mengandung semacam sihir.
Tak ada yang berani menatap Pendekar Halilintar. Mereka tertunduk menahan rasa takut.
Hanya satu orang wanita saja yang sedari tadi menatap mata Shin Shui tanpa berkedip. Seolah wanita tersebut ingin mencolok matanya lalu dia ambil bola mata tersebut.
Tak ada rasa takut. Tak ada rasa kagum lagi.
Yang ada hanyalah kebencian dan dendam kesumat yang telah tumbuh mekar seperti halnya bunga mawar.
Luka yang lama kini semakin menjadi setelah bertemu langsung dengan orang yang dituju. Ibarat api disiriam minyak. Amarahnya semakin berkobar. Dendamnya semakin membara.
"Kau tahu siapa aku?" tanya si wanita yang kini seperti nenek tua kepada Shin Shui.
"Tidak," jawab Pendekar Halilintar.
"Benarkah?"
"Aku tidak suka berbohong,"
"Kau tidak mengenaliku karena penampilanku sekarang mirip nenek tua, sudah lama tak berjumpa, atau karena memang kau sudah melupakanku?"
"Entah, aku sungguh tidak tahu siapa dirimu sebenarnya. Yang aku rasa, kita pernah berjumpa. Tapi kapan dan di mana, aku tidak tahu,"
Wanita tersebut tersenyum masam. Entah rasa apa yang dia rasakan saat ini. Yang jelas, hatinya terasa sakit sekali. Dia ingin menangis, tapi dia mencoba untuk tetap tegar.
"Aku Kwee Moi," katanya singkat, padat dan jelas. (Di novel pertama sudah dijelaskan saat perjalanan Shin Shui menuju ke Gunung San-ong)
Shin Shui terkejut setengah mati. Kalau dia tidak bisa menguasai diri, mungkin Pendekar Halilintar akan melompat saking kagetnya mendengar pengakuan tersebut
"Apa? Ka-kau, Kwee Moi?" tanya Shin Shui masiha tidak percaya.
__ADS_1
Wanita tersebut mengangguk pelan. "Benar, aku Kwee Moi. Apakah mau masih ingat aku?"
"Tentu saja aku ingat. Tapi, kenapa sekarang kau menjadi seperti ini? Dan kenapa juga kau berpindah menjadi seorang pendekar wanita aliran hitam?"
"Demi membalas dendamku. Apapun akan aku lakukan,"
"Kau dendam kepadaku?"
Kwee Moi tidak menjawab. Dia hanya mengangguk dan masih terus memandangi Shin Shui.
"Kenapa kau menaruh dendam kepadaku?"
Shin Shui masih terus mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan. Bagaimanapun juga, dia harus tahu garis besarnya. Tidak mungkin seseorang menaruh dendam tanpa adanya alasan.
Jika ada seseorang yang bicara bahwa dia melakukan sesuatu tanpa alasan, itu adalah salah satu contoh kebodohan yang nyata.
Sebab apapun di dunia ini, semuanya pasti mengandung alasan. Bahkan dunia diciptakan juga karena sebuah alasan.
"Karena kau tidak membalas cintaku. Kau lebih memilih dia daripada aku. Apakah kau tak tahu seberapa besar penderitaanku selama ini? Apakah kau tahu betapa besarnya cintaku kepadamu?" teriaknya tak tahan lagi. Dia menangis. Air matanya mulai membasahi kedua pipi.
Cinta.
Karena cinta, seberapa banyak manusia yang berubah jalan hidupnya? Seberapa banyak manusia yang bersedih karena cinta? Seberapa banyak manusia yang rela berkorban demi cinta?
Betapa agungnya Sang Cinta itu.
Dia tidak terlihat. Bahkan dari sejak bumi pertama kali diciptakan sampai sekarang, belum ada satupun manusia yang melihat bentuk cinta.
Namun nyatanya, keagungan cinta tidak pernah berkurang walau satu persen sekalipun.
Terkadang cinta itu seperti Tuhan. Tidak terlihat, tapi semua orang percaya akan keagungannya.
"Maafkan aku. Karena cinta tidak bisa dipaksa," jawab Shin Shui.
Jawaban yang singkat namun tepat. Karena cinta bukanlah paksaan.
Kwee Moi sebenarnya sadar dan tahu akan hal tersebut. Tapi itu dulu. Karena sekarang dia telah berbeda. Apapun yang tidak bisa dia miliki, harus mati.
Termasuk orang yang dia cintai sendiri.
"Aku tahu, karena itu, daripada kau dimiliki oleh orang lain, lebih baik kau mati di tanganku," nada bicaranya berubah.
__ADS_1
Tidak lagi seperti tadi. Air mata kesedihan yang keluar, kini telah menjadi air mata penuh dendam yang membara.
"Kalau kau mampu, lakukanlah," kata Shin Shui tenang.
Dia tidak takut. Kalaupun harus mati di tangannya, dia rela. Namun, apakah benar wanita itu sanggup untuk membunuhnya?
"Baik. Aku akan mencobanya. Kalau bukan kau yang tewas, maka aku yang harus mati," kata Kwee Moi.
Selesai berkata, tubuhnya langsung menghilang dari pandangan. Sedetik kemudian, wanita tersebut telah tiba persis di hadapan Shin Shui.
Satu pukulan keras langsung dia layangkan. Datangnya pukulan secepat dia menghilang. Arah sasarannya jantung.
Kalau jantung Shin Shui terkena pukulan Kwee Moi, dapat dipastikan jantung itu akan langsung meledak.
Sebab pukulannya bukan sembarang pukulan. Itu adalah pukulan dahsyat. Di bumbui dengan perasaan marah, kesal, gemas, dendam, semuanya bercampur menjadi satu sehingga menciptakan kekuatan yang jauh lebih hebat.
Sialnya, yang dia lawan adalah Shin Shui. Si Pendekar Halilintar yang kekuatannya sudah tidak diragukan lagi.
Pendekar yang namanya telah menyebar ke seluruh penjuru.
Belum sempat tangannya mencapai sasaran, Shin Shui lebih dahulu bergerak. Tangan kanannya di kibaskan sehingga membuat tangan Kwee Moi meleset dari sasaran.
Tangan kiri Shin Shui segera menepak pundak Kwee Moi. Tidak terlalu keras, tapi sudah cukup untuk membuatnya hampir jatuh tersungkur.
Sebenarnya Shin Shui terkejut saat menyadari kekuatan Kwee Moi sudah mencapai Pendekar Dewa tahap lima. Hanya dalam waktu yang terbilang singkat, ternyata wanita tersebut mampu mencapai tingkatan setinggi itu.
Padahal, menaikkan tingkatan pelatihan tidaklah mudah. Mungkin hanya dia sendiri yang memiliki metode mempercepat naiknya tingkatan seseorang. Itupun dengan bantuan berbagai macam sumber daya langka yang sudah sangat jarang di Kekaisaran Wei.
Kalau ada orang lain mampu melakukan hal yang sama, perkiraan masuk akalnya adalah bahwa orang tersebut telah melakukan cara sesat.
Seperti halnya Kwee Moi.
Tubuh yang kini mirip nenek tua itu tersungkur. Tapi sebelum menyentuh tanah, dia melompat lagi dengan tangan kanan menjadi tumpuan.
Berikutnya, kaki kanan memberikan tendangan dari atas ke bawah mengincar kepala Shin Shui.
"Plakk …"
Tangan dan kaki bertemu. Kwee Moi terjengkang dua langkah. Kakinya terasa sangat perih dan bergetar. Sedangkan Shin Shui hanya diam saja.
"Kau tidak bisa membunuhku. Lebih baik kau berlatih sepuluh tahun lagi lalu carilah aku. Dalam waktu sepuluh tahun, mungkin kekuatanmu telah meningkat lebih tajam lagi," ucap Pendekar Halilintar tenang.
__ADS_1