Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Satu Orang Yang Hidup


__ADS_3

Pikiran delapan tokoh Organisasi Elang Hitam langsung melayang tidak karuan. Mereka tiba-tiba membayangkan bagaimana kalau detik selanjutnya dia yang menjadi korban keganasan pemuda itu? Apakah nasibnya akan sama buruk? Atau bahkan mungkin lebih buruk lagi?


Siapapun tidak ada yang menjawabnya. Toh bayangan yang muncul dalam benak orang-orang itu belum terjadi.


Tapi kalau dipikir lebih mendalam, belum itu bukan berarti tidak.


Kalau begitu, apakah sebentar lagi akan terjadi?


Pertarungan berjalan semakin seru dan menegangkan. Bayangan merah darah dari senjata pusaka Chen Li terus berputar di tengah udara. Bayangan itu bukan seperti udara, melainkan seperti iblis yang sedang mencari mangsa.


Berbagai macam jurus kelas atas kembali dilayangkan oleh masing-masing tokoh itu. Beberapa jurus simpanana dan jurus yang jarang dikeluarkan, sekarang sudah dilancarkan pula.


Pendekar Tanpa Perasaan masih berada dalam kepungan musuh. Tubuhnya terus dikurung oleh berbagai macam jurus dan serangan yang menyeramkan. Siapapun tidak akan ada yang sanggup membayangkannya.


Tapi meskipun tubuhnya terus dikurung, walaupun dirinya selalu dikepung, pemuda itu tidak merasa gentar sedikitpun.


Yang terjadi justru malah sebaliknya. Pendekar Tanpa Perasaan semakin brutal. Sepak terjangnya semakin mengganas.


Di tengah badai serangan lawan, pemuda berpakaian serba putih itu lantas menerjang ke depan. Tangan kanannya mengeluarkan jurus sebagai bentuk perlawanan. Sedangkan tangan kirinya mengirimkan sejumlah serangan menggunakan Pedang Merah Darah.


Pedang Merah Darah.


Sebuah pedang pusaka tingkat tinggi yang menggetarkan langit dan bumi. Cahaya merah manjang menembus gelapnya malam. Cahaya itu membawa kengerian, juga membawa kabar kematian.


Crashh!!!


Satu kepala manusia terlempar hingga sepuluh tombak jauhnya. Jumlah musuh kembali berkurang satu hanya dalam waktu jeda yang terbilang singkat.


Darah kembali berceceran. Darah itupun kembali menggenang seperti genangan air hujan. Bedanya, yang sekarang nampak bukan genangan berwarna putih, melainkan berwarna merah.


Merah darah.


Jurus Pedang Sang Dewa kembali dilayangkan dengan dahsyat. Jurus itu merupakan jurus pedang tertinggi yang berhasil dilatih oleh Chen Li.


Meskipun jurusnya sangat sederhana, tapi kehebatannya jangan ditanyakan lagi. Terkadang sesuatu yang sederhana itu dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan. Sangat luar biasa, dan pastinya sangat dashyat.


Slebb!!!


Hanya berselang lima jurus, satu orang tokoh Organisasi Elang Hitam kembali tumbang. Lambung orang tua itu tertusuk oleh Pedang Merah Darah hingga tembus ke belakang.


Tinggal enam orang yang tersisa. Keenamnya sudah merasakan ketakutan berlebih. Semua kekuatan sudah dikerahkan, seluruh serangan hebat sudah dilancarkan, tapi kenapa Pendekar Tanpa Perasaan masih bisa berdiri segar bugar?

__ADS_1


Mereka sangat yakin bahwa jurusnya mengenai telak tubuh pemuda tersebut. Pun mereka juga sangat percaya bahwa setiap serangannya berhasil mengenai badan Pendekar Tanpa Perasaan. Tapi lagi-lagi, kenapa semua serangan itu belum juga mampu melumpuhkannya?


Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Apakah dia jelmaan seorang iblis yang tak dapat ditembus oleh senjata pusaka?


Dua buah tebasan golok tiba-tiba melesat dari arah belakang Pendekar Tanpa Perasaan. Kecepatan tebasan itu sulit dibayangkan, cahaya putih keperakan berkelebat di bawah ganasnya semua serangan, hanya sekilas, cahaya itu telah menerjang tubuh Chen Li.


Trangg!!! Clangg!!!


Niatnya untuk membunuh, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Golok yang dia yakini dapat menembus punggung Pendekar Tanpa Perasaan, ternyata sekarang golok itu telah patah menjadi dua bagian.


Bagaimana hal itu dapat terjadi?


Siapapun tidak akan ada yang sanggup menjawabnya. Sebab kejadiannya sangat berjalan dengan cepat. Sangat singkat sekali.


Tokoh tersebut segera menyurut mundur ke belakang dengan kecepatan tinggi. Sayang, secepat apapun dirinya, dia masih belum sanggup untuk menandingi kecepatan Pendekar Tanpa Perasaan.


Crashh!!! Bukk!!!


Darah menyembur dari batang leher salah satu tokoh tersebut. Berbarengan dengan itu, kaki kanan Pendekar Tanpa Perasaan langsung melancarkan sebuah tendangan keras.


Orang tua itu terlempar jauh. Tubuhnya bergulingan di tanah hingga menabrak dinding bangunan. Setelah itu, tubuh renta tersebut langsung diam tidak bergerak.


Lima orang lawan yang tersisa semakin geram. Mereka sangat marah melihat ketujuh rekannya tewas di tangan yang sama.


"Mampus kau …" bentak salah seorang tokoh.


Wushh!!!


Empat tusukan dan lima tebasan pedang langsung dilancarkan pada saat ucapannya selesai. Kilatan pedang yang amat tajam tampak menyelimuti bumi. Hanya sekejap mata, serangan tersebut sudah tiba di depan mata.


Brett!!!


Cahaya merah lebih dulu mendahului serangan tokoh tersebut. Tubuhnya langsung lunglai. Pedangnya jatuh lebih dulu ke tanah. Sementara orangnya terbelalak dengan tatapan mata tidak percaya. Dia sempat mengeluarkan suara tertahan dari tenggorokannya.


Berikutnya, orang tua itupun tewas menyusul semua rekan-rekannya.


Pertarungan sudah berjalan tiga puluhan jurus. Bagi Pendekar Tanpa Perasaan, pertarungan ini amat membosankan. Menurutnya sudah terlalu lama dia bertarung, tapi belum ada satupun serangan yang membuatnya berlaku waspada.


Atas dasar kebosanan itulah, Chen Li berniat untuk mengakhirinya pertarungan itu sekarang juga.


Wushh!!!

__ADS_1


Hawa kematian kembali menyelimuti alam semesta. Suara raungan naga terdengar menggelegar seperti ledakan halilintar di tengah malam yang sunyi.


Sepasang mata Pendekar Tanpa Perasaan berubah hebat.


Berubah menjadi lebih menakutkan.


Grrr!!!


Bayangan lima ekor naga muncul di belakang tubuh Chen Li.


Wushh!!! Srett!!! Slebb!!!


Serangan terakhir yang sangat dahsyat sudah dilancarkan. Hanya sekali bergerak, beberapa nyaww manusia telah melayang. Malam ini, Chen Li bukan seperti manusia. Dia tidak pantas disebut manusia. Pemuda itu malah lebih pantas disebut Malaikat Pencabut Nyawa.


Semua musuhnya telah mampus. Tiada seorangpun yang terisa dari mereka kecuali hanya satu orang saja.


Pedang Merah Darah berhenti tepat satu buku jari di depan kening tokoh tersebut.


Pertarungan berakhir. Semua jurus mengerikan pun sudah lenyap.


"Kau belum mati," kata Chen Li kepada tokoh yang tersisa tersebut.


Orang itu bertubuh kurus kering. Postur tubuhnya tidak terlalu pendek juga tidak terlalu tinggi. Di tangan kanannya tergenggam sebatang tongkat bergagang merah dengan mata tombak hitam legam.


Saat ini dia sedang memejamkan matanya. Seolah tokoh tersebut sudah siap kalau memang nyawanya harus melayang.


Siapa sangka, ternyata nyawa itu masih bersemayam dalam tubuhnya. Hingga detik ini, dia masih hidup.


"Aku, aku masih hidup?" tanyanya dengan tatapan mata tidak percaya.


"Benar, kau masih hidup. Berdiri," perintah Pendekar Tanpa Perasaan.


Meskipun dirinya masih dalam keadaan perasaan takut, namun tak urung dia langsung menuruti perkataan Chen Li. Orang tua tersebut kemudian berdiri sambil menyeka keringat di keningnya.


Dia belum bicara lagi. Lebih tepatnya, dia tidak berani bicara sepatah katapun.


"Dari semua orang yang ada di sini, hanya kau yang masih hidup,"


Orang tua itu seakan tidak percaya. Dia lantas memandang ke sekelilingnya. Ternyata benar ucapan si pemuda tersebut, semua rekannya, semua anggotanya, kini telah terkapar tak bergerak sedikitpun.


"Mereka benar-benar mati," gumamnya sambil menatap lantai di bawah kakinya.

__ADS_1


__ADS_2