
Cahaya putih menyilaukan menyelimuti langit dan bumi. Langit mendung. Hawa menjadi tidak karuan. Kejadian seperti pada saat Dewa Lima Unsur turun ke bumi kembali terjadi lagi.
Langit mendaa terbelah. Dari atas langit tiba-tiba muncul seperti tangan raksasa yang terjulur ke bumi. Tangan itu terus turun hingga meraih Dewa Lima Unsur dan Huang Taiji.
Pandangan mata Chen Li tidak dapat melihat apapun kecuali hanya warna putih yang sangat menyilaukan. Beberapa saat kemudian, semuanya lenyap.
Keadaan menjadi seperti semula. Alam semesta tenang kembali. Langit dan bumi kembali diam.
Chen Li juga diam. Dia diam berdiri sambil memandangi tempat tadi berdirinya dua sosok yang sangat berarti baginya. Pemuda itu tidak bergerak sedikitpun.
Tubuhnya ada di sana. Tapi jiwanya entah ke mana.
Apakah jiwa itu pergi bersama Dewa Lima Unsur dan Huang Taiji? Ataukah jiwa pemuda itu masih ada namun sudah mati?
Malam telah tiba. Rembulan tampak redup. Awan kelabu menyelimuti jagat raya. Angin yang biasanya berhembus, sekarang tidak ada sama sekali. Suara binatang malam yang bisanya ramai pun hilang entah ke mana.
Ke mana mereka semua? Apa yang sudah terjadi dengan mereka? Apakah mereka sama seperti Chen Li, merasakan kesepian dan kesunyian?
Pemuda itu sedang duduk di atas batu hitam tempat biasa berdiam bersama Huang Taiji dan Dewa Lima Unsur.
Di atas batu itu biasanya ada tiga orang. Tapi sekarang hanya satu orang. Di tempat yang biasanya ramai oleh suara canda tawa itu, sekarang malah sepi sunyi.
Chen Li sedang mengenang masa-masa indah bersama dua orang gurunya tersebut. Dia duduk dengan arak di tangan. Sepasang matanya memandang ke bawah air sungai yang jernih.
Tampak ikan-ikan pergi hilir mudik bersama rekan atau mungkin keluarganya. Mereka tampak bebas. Tampak gembira ria.
Sedangkan Chen Li? Sekarang justru sedang berduka.
Apakah yang merasakan duka hanya manusia? Apakah para binatang hanya bisa merasakan bahagia, tapi tidak merasa duka? Kalau benar iya, bukankah lebih baik menjadi seperti mereka?
Chen Li menenggak guci araknya. Dia ingin melupakan berbagai macam persoalan yang saat ini sedang mendera dirinya. Meskipun persoalan itu tidak dapat dihilangkan selamanya, namun setidaknya dia dapat melupakan untuk sementara.
Pemuda itu terus minum hingga akhirnya dia larut dalam dunianya sendiri. Tubuhnya rebah di atas batu hitam. Hanya sekejap, dia telah tertidur pulas bersama duka yang tidak pernah menghilang.
Pagi-pagi sekali Chen Li baru bangun dari tidurnya. Suara burung telah kembali terdengar riuh. Sinar mentari kembali terang menyapa alam semesta.
Sekarang hari baru. Semangat Chen Li juga baru.
Meskipun semua duka lara belum sepenuhnya hilang, namun setidaknya dia sudah lebih baik dari hari kemarin.
__ADS_1
Bukankah menurut pepatah juga begitu? Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.
Chen Li berendam di sungai untuk membersihkan diri. Setelah selesai, dia langsung mengenakan pakaian baru.
Pakaian dengan jubah megah yang warnanya sama. Pakaian itu berwarna putih. Jubahnya juga putih. Bahkan topeng yang sebagian menutupi wajahnya agar sepasang matanya tidak terlihat pun berwarna putih mula.
Putih adalah suci. Putih juga bersih.
Kenapa pemuda itu menyukai warna putih?
Alasannya mungkin karena dia ingin mencuci bersih dunia yang kotor ini. Alasan lain mungkin karena Chen Li ingin membersihkan dunia dari tangan-tangan manusia yang kotor.
Setelah memantapkan tekad dan membulatkan niat, dia lantas berdiri. Ikat kepala berwarna putih yang terbuat dari kain sutera dia kencangkan sedikit. Sabuk kain di pinggangnya dibersihkan dari debu yang diakibatkan hembusan angin.
Semuanya sudah siap. Segala macam bekal telah diperoleh.
Sekarang waktunya untuk turun gunung.
Wushh!!!
Bayangan putih meluncur deras ke depan seperti rajawali yang terbang dengan cepat. Pakaian dan jubah mewahnya berkibar agung. Sepasang sayap mendadak tumbuh di belakang punggung pemuda itu.
Ke mana tujuannya sekarang? Apakah dia akan langsung menuju ke Kekaisaran Wei?
Melainkan menuju ke Kekaisaran Sung.
Dia punya janji kepada seseorang. Lebih tepatnya janji kepada dirinya sendiri untuk kembali dan menemui orang itu.
Siapakah yang akan dia temui?
###
Chen Li sudah tiba di tempat tujuannya. Pemuda itu berdiri sesaat beberapa puluh tombak di terbang pintu masuk kota tersebut.
Sebuah gerbang besar nan megah terpampang di depan mata. Di atasnya ada sebuah tulisan yang dibuat dari tinta emas.
Tulisan itu sangat indah. di bawah tempaan sinar matahari, huruf yang di tulis tampak jauh lebih indah lagi.
Kota Qinghai.
__ADS_1
Tulisan yang dimaksud memang nama kota itu.
Setelah tiga tahun menutup diri, ternyata keadaan di Kota Qinghai masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Tiada yang berbeda di kota itu kecuali bertambahnya bangunan megah yang berjejer.
Deretan bangunan hampir sama rata. Sama indah, sama megah. Berbagai macam toko yang ada pun semakin banyak lagi.
Para warga sekitar yang sebelumnya tidak punya lapak tetap, sekarang mereka telah mempunyai toko sendiri. Sepertinya belakangan ini, ekonomi di kota tersebut terbilang maju. Dan hal itu terbukti sekarang.
Chen Li mulai melangkah perlahan memasuki gerbang tersebut. Sepanjang dia melangkah, matanya tidak berhenti mengawasi keadaan di sekitar.
Tempat yang dia cari pertama kali adalah restoran mewah. Selama tiga tahun belakangan ini, dia hanya memakan makanan itu-itu saja.
Sekarang setelah turun gunung dan bebas dari kurungan, tentu saja dia ingin menikmati makanan yang enak dan mewah.
Masalah berapa biaya makanan tersebut, tidak perlu diragukan lagi. Hartanya melimpah. Apalagi yang dia takutkan?
Pemuda itu berjalan masuk ke sebuah restoran terbesar yang ada di sana. Tidak tanggung-tanggung, saking besar dan mewahnya restoran tersebut, bahkan ruangannya berjumlah lima lantai.
Seorang pelayan wanita yang umurnya berkisar dua puluh lima tahunan menyambut dirinya dengan sopan dan ramah.
"Silahkan masuk Tuan Muda," katanya sambil membungkuk hormat.
"Terimakasih,"
Chen Li masuk ke dalam. Dia memandang beberapa saat ke sekeliling ruangan paling bawah. Ternyata di sana sangat penuh. Tidak ada meja kosong sama sekali. Bahkan beberapa orang rela makan sambil berjongkok ataupun berdiri.
Pemuda itu kemudian naik, tujuan Chen Li bukan lantai paling bawah. Melainkan lantai paling atas.
Setiap lantai yang dia lewati selalu ramai oleh pengunjung. Mereka yang datang pun dari berbagai macam kalangan. Termasuk ada juga yang berasal dari kalangan pendekar.
Kehadirannya ternyata membuat semua orang memandanginya. Berbagai macam pandangan mata mereka lemparkan kepada Chen Li. Ada yang menatap kagum, menatap dengan sorot mata bertanya-tanya, atau bahkan menatap karena tidak suka terhadapnya.
Terlepas apapun tatapan yang para pengunjung berikan, pemuda itu tidak ambil pusing. Sejatinya dia tidak terlalu perduli terhadap pandangan orang lain kepadanya.
Kenapa mereka menatap Chen Li sedemikian rupa?
Jawabannya hanya satu.
Karena pakaian yang dia pakai sangat mewah. Karena pedang yang berada di punggungnya sangat antik. Siapapun dapat menilai bahwa pedang tersebut mempunyai nilai yang sangat tinggi.
__ADS_1
Setiap senjata pusaka antik dan bernilai tinggi, pasti sangat berharga. Selain berharga, pastinya juga sangat tajam.
Orang-orang dunia persilatan yang manakah yang tidak tertarik kepada senjata pusaka antik dan tajam?