
Pendekar Langit yang menjadi lawan Chen Li semakin merasa terdesak hebat. Dia sendiri tidak percaya bahwa bocah kecil sepertinya yang kini menjadi lawannya mampu mendesak.
Padahal kekuatan dia sendiri beberapa tahapan lebih tinggi. Tetapi buktinya, bocah itu memang benar-benar mampu membuatnya berada dalam posisi tidak menguntungkan.
Chen Li semakin ganas. Seruling giok hijau bergerak seperti secercah bayangan. Jurus ketiga dari Kitab Seruling Mencabut nyawa yaitu Menggempur Harimau di Hutan, sudah sejak tadi dia keluarkan.
Mencapai jurus ke dua puluh, lawannya itu terpental karena dadanya tertotok seruling. Chen Li tidak diam saja, tubuhnya melesat cepat lalu menghantam telak kepala Pendekar Langit itu.
Tanpa dapat dicegah lagi, dia langsung terkapar tewas dengan kepala pecah.
Pertarungan Eng Kiam masih berlangsung. Lawan yang dia hadapi cukup kuat. Tetapi belum mampu mendesaknya dengan hebat.
Pedang beracun itu terus bergerak mengincar mangsanya. Setiap kali di ayunkan, setiap itu juga lawan merasakan hal lain. Ada tekanan tersendiri setiap kali pedang iti bergerak.
Tetapi dia juga bukan pendekar lemah, jurusnya mulai dia keluarkan. Jurus hebat dari Sekte Langit Merah memberikan ancaman bagi Eng Kiam.
Namun gadis itu tetap tidak merasa kewalahan. Justru sebaliknya, dia selalu memanfaatkan celah dari kelemahan jurus lawan.
Hal ini menjadi kesulitan tersendiri baginya. Sehingga mencapai jurus kesembilan belas, pedang beracun milik Eng Kiam telah menggores dada pendekar itu. Dia tewas bersimbah darah.
Setelah lawannya dipastikan tidak ada lagi, Eng Kiam segera menghampiri Chen Li sambil berusaha untuk tetap menjaganya.
Pertarungan di tempat itu belum selesai semuanya. Sebab masih ada dua belas pendekar lain yang sedang bertarung melawan lawannya masing-masing.
Jurus khas dari Lembah Kematian mulai keluar menebarkan ancaman bagi lawan. Jurus Sekte Langit merah juga sudah dilancarkan.
Pertarungan mereka berjalan semakin seru. Apalagi kedua belah pihak sama-sama memiliki jurus hebat dari tempatnya masing-masing.
Chen Li memperhatikan pertarungan itu dengan seksama. Baginya, ini bisa menambah ilmu dan pengalaman bagi dia sendiri.
Saat pertarungan memasuki jurus dua puluh tiga lebih, satu persatu Pendekar Langit dari Sekte Langit Merah mulai terdesak.
Perlahan namun pasti, pendekar dari Lembah Kematian mulai menguasai medan pertarungan. Lima belas jurus selanjutnya, semua Pendekar Langit menemui ajal mereka di ujung senjata dan jurus para pendekar Lembah Kematian.
__ADS_1
Setelah pertarungan selesai, mereka segera lari ke tempat lain untuk menyaksikan pertarungan yang lebih dahsyat dan lebih menegangkan lagi.
Di sana, Kakek Tua Jubah Hitam sedang mencecar Hua Kim dengan sangat ganas. Semua jurus yang dia miliki keluar bersama amarah yang sudah memuncak. Puluhan jurus sudah mereka lewati bersama.
Terlihat beberapa luka akibat hantaman tongkat sudah banyak bersarang di tubuh Hua Kim. Tubuh pemuda itu penuh dengan bekas luka dan pakaiannya sudah koyak.
Kakek Tua Jubah Hitam benar-benar mengeluarkan jurus dahsyatnya.
Saat pertarungan berlangsung sengit, tiba-tiba saja kakek tua itu melompat tinggi. Tongkat kepala ular kobra dia ayunkan dengan sekuat tenaga.
"Memukul Batu Memecahkan Karang …"
"Wushh …"
Tongkatnya belum tiba, tetapi angin dahsyatnya sudah lebih dulu menghantam Hua Kim. Tubuh pemuda itu amblas ke dalam tanah sedalam betis. Semua tubuhnya terasa mati. Tidak bisa di gerakan sama sekali.
Dia berteriak sekencang mungkin untuk mengeluarkan tenaga sisanya dan berusaha melepaskan diri dari racun yang sudah mematikan tubuhnya. Tapi sayangnya perbuatan itu hanyalah sia-sia saja.
Berbarengan dengan itu, pertarungan beberapa Pendekar Dewa dari Lembah Kematian yang bertarung melawan Pendekar Dewa dari Kekaisaran lain juga hampir mencapai puncaknya.
Terlihat enam pendekar dari lembah itu sudah mengganas menghajar semua lawan dengan jurusnya masing-masing. Beberapa kali terjadi benturan keras yang mengguncangkan tempat sekitar.
Lima jurus selanjutnya, perlahan pihak Lembah Kematian berada di atas angin. Dan tidak lama kemudian, empat orang pendekar sudah berhasil mengalahkan masing-masing lawannya.
Walaupun pendekar dari Lembah Kematian sendiri mengalami kerugian karena luka yang mereka derita tidaklah ringan. Tidak berapa lama, dua pertarungan lainnya sudah selesai pula.
Kakek Tua Jubah Hitam dan pendekar lain segera menjauhi arena yang kini masih menjadi tempat pertarungan dahsyat. Dia membawa mereka yang terluka ke kediaman sederhananya untuk mengobati dengan segera.
Walaupun kakek tua itu bukan merupakan tabib, tapi dia juga merupakan seorang ahli racun. Jadi sedikit banyak dia paham tentang pengobatan.
Sementara itu, pertarungan Shin Shui melawan Hek Jiu Lin si Tangan Langit Membalik Bumi sudah berlangsung selama lima puluh jurus lebih.
Kepala Tetua Sekte Langit Merah itu semakin merasa terdesak karena serangan Shin Shui yang datang bergulung-gulung seperti amukan ombak di laut.
__ADS_1
Pendekar Halilintar itu tidak memberikan sedikit ruang sama sekali untuknya melancarkan jurus dahsyat. Selain jurus-jurus sederhana dan mudah di keluarkan, tidak ada cara lain lagi bagi Hek Jiu Lin untuk menangkis semua gempuran yang diberikan oleh Shin Shui.
Shin Shui memang sudah marah besar. Amarahnya semakin meluap karena dia merasa kecewa sekali dengan Sekte Langit Merah. Bahkan sudah beberapa kali mereka mengganggunya dan selalu berusaha untuk membunuh.
Karena itulah, hari ini dia tidak akan membiarkan Kepala Tetua itu lolos dari tangan mautnya.
"Amarah Dewa Halilintar …"
"Wushh …"
"Gelegarr …"
Langit kembali mengamuk. Hujan kilatan petir dan suara bergemuruh meramaikan suasana kembali. Jurusnya ini sempat mempengaruhi pendekar lainnya. Tiga pertarungan lain berhenti untuk beberapa saat karena kekuatan Shin Shui yang sangat menekan suasana.
Dalam keadaan seperti itu, kesempatan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Serigala dari Lembah Kematian dan dua rekannya. Mereka menyerang juga dengan jurus-jurusnya yang tak kalah dahsyat.
Suara bergemuruh dari berbagai jurus semakin menggelegar. Bumi berguncang hebat. Sinar terang dari berbagai jurus itu menyilaukan siapapun yang memandang.
Shin Shui sudah siap dengan jurusnya. Kekuatannya bertambah hebat dua kali lipat. Dia kembali menerjang Hek Jiu Lin tanpa ampun.
Pedang Halilintar berkelebat memberikan ancaman maut. Tangan kirinya bergerak diikuti dengan sebuah sinar biru terang. Gempuran serangan dalam sekali gebrak sudah keluar.
Walaupun Hek Jiu Lin sempat mengeluarkan jurusnya saat Shin Shui menyiapkan diri, tetap saja hal itu tidak membawanya ke posisi yang lebih baik.
Justru sebaliknya, dia malah berada di posisi yang tidak menguntungkan. Dia semakin terdesak hebat.
Pendekar Halilintar mencecarnya dengan berbagai macam jurus dan serangan sekaligus. Beberapa saat kemudian, Kepala Tetua Sekte Langit merah itu tida dapat mempertahankan nyawanya lagi.
Dia telah tewas saat Pedang Halilintar memenggal kepalanya.
Di sisi lain juga terjadi hal yang sama. Tidak berapa lama setelah Shin Shui membunuh Hek Jiu Lin, Serigala dari Lembah Kematian dan dua rekannya sudah berhasil memenangkan pertarungan pula.
Kemenangan kembali berpihak kepada Shin Shui. Walaupun mereka semua terluka berat, tetapi hal itu lebih baik daripada kehilangan nyawa.
__ADS_1