
Lima gadis cantik tadi mempercepat langkah mereka. Ilmu meringankan tubuh yang mereka kuasai juga terbilang sudah kelas atas. Namun masih sangat jauh jika dibandingkan dengan Chen Li dan Huang Taiji Lu.
Lima gadis itu tidak menuju ke kota. Sebaliknya, mereka malah menuju ke tengah hutan. Gelapnya hutan tidak menghalangi pandangan mata mereka. Sebab sepertinya hutan ini memang sudah biasa di lalui. Terlihat sekilas ada bekas tapak kaki di tanah. Bahkan tapak kaki kuda juga ada.
Dari sini bisa disimpulkan bahwa hutan ini memang merupakan jalan yang saling menyambungkan daerah satu dengan daerah lainnya. Atau tempat satu dengan tempat lainnya.
Di depan sekitar jarak lima tombak ada perempatan hutan. Lima gadis itu mengambil jalan yang sebelah kiri lalu semakin mempercepat langkahnya.
Cukup jauh di depan ada sebuah bukit. Bukit iru cukup terang. Sepertinya ada penerangan. Entah itu berupa obor ataupun sejenisnya. Yang jelas, di bukit itu pasti ada kehidupan.
Lima gadis sudah menghilang. Entah ke mana perginya mereka. Dalam kegelapan malam, apalagi rerimbunan pepohonan di hutan seperti sekarang, tentu bukan hal mudah untuk mencari jejak mereka.
Chen Li dan Huang Taiji menghentikan langkah. Keduanya berdiri sambil terus memandangi bukit itu dan mengawasi keadaan sekitar.
Keadaan semakin sunyi. Rembulan tertutup awan kelabu. Suara binatang yang terdengar hanyalah jangkrik dan burung hantu. Beberapa kelelawar berdecit saling gigit.
"Paman, apakah kita harus ke sana?"
"Tentu. Lebih cepat, lebih baik. Tapi kau harus hati-hati Li'er. Pasang semua indera dengan tajam. Dalam keadaan seperti ini, kapan saja nyawa bisa terancam," kata Huang Taiji Lu.
"Baik. Li'er mengerti,"
Keduanya bergerak kembali melanjutkan perjalanan mereka. Namun belum sempat jaraknya jauh, mendadak Huang Taiji menghentikan langkahnya lalu menarik Chen Li untuk segera bersembunyi.
Kini keduanya sudah berada di balik semak-semak. Siapa pun tidak akan menemukannya
Lima gadis muncul lagi dari balik pohon-pohon besar. Meraka masih berdiri di tengah jalan.
"Kenapa kau berhenti?" tanya salah seorang merasa penasaran.
"Ada orang yang mengikuti kita,"
"Siapa? Tidak ada siapapun. Lagi pula tidak akan ada yang berani bertindak bodoh untuk memasuki sarang harimau. Kalau ada yang nekad, mereka sama dengan menyerahkan nyawanya sendiri,"
"Entahlah. Tapi aku sangat yakin ada orang yang mengikuti,"
"Mungkin hanya perasaanmu saja," kata gadis lainnya.
__ADS_1
"Mungkin dua orang tadi mengikuti kita?"
"Tidak, tidak mungkin. Sekarang mereka pasti sudah terkapar tak bernyawa. Bahkan mungkin juga sudah dimakan anjing. Sudah jelas mereka terkena jarum beracun, masa bisa hidup kembali?"
"Kau benar. Apalagi jarum-jarum itu sangat telak menusuk punggungnya. Aku rasa tidak ada yang bisa bertahan dari Racun Neraka,"
"Kau benar,"
"Sudahlah, lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan. Ketua dan yang lain pasti sudah menunggu,"
"Baiklah," jawab gadis yang sempat curiga tadi. Walaupun dia ragu-ragu, tapi pada akhirnya setuju juga untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah jarak lima gadis tersebut sudah cukup jauh, Chen Li dan Huang Taiji segera keluar dari balik semak-semak.
Keduanya mendengar apa yang dibicarakan oleh lima gadis tadi. Untungnya dua orang itu selalu siap siaga, sehingga mereka bisa selamat dari keganasan Racun Neraka.
Huang Taiji dan Chen Li sendiri belum pernah mendengar tentang racun tersebut. Namun dari namanya saja sudah jelas bahwa racun itu sangat mematikan.
Apalagi salah seorang gadis tadi juga berkata tidak ada yang bisa selamat dari keganasan Racun Neraka. Mengingat hal tersebut, Chen Li merasa bergidik juga. Untung bahwa firasatnya selalu terbukti, sehingga sebelum bahaya mengancam, dia terkadang suka mengetahuinya.
Keduanya bergerak kembali mengikuti lima gadis tadi. Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuannya.
Obor sebagai penerangan utama ada di segala penjuru tempat. Di masing-masing tenda itu terdapat juga lentera.
Lima gadis tadi memasuki tenda paling besar. Entah apa yang akan mereka laporkan.
Di belakang tenda paling besar, ada sebuah kurungan kayu hitam yang lumayan besar. Sekilas saja Huang Taiji Lu tahu bahwa itu adalah tempat para tawanan.
"Paman, apakah kita akan bergerak sekarang?" tanya Chen Li dari balik dahan pohon yang rimbun.
"Tahan dulu Li'er, kita harus istirahat untuk memulihkan kondisi. Kita akan bergerak secara senyap, jangan secara terang-terangan. Apalagi jumlah di sini jauh lebih banyak daripada sebelumnya,"
"Baik Paman,"
Di saat mereka sedang berbicara, mendadak ada suara desingan angin tajam yang mengarah kepadanya. Untung Chen Li dan Huang Taiji Lu selalu waspada. Mereka keburu menghindar.
Ternyata desingan tadi berasal dari anak panah yang dilesatkan sangat cepat sekali.
__ADS_1
Tiga orang pendekar segera menuju ke pohon di mana Chen Li dan Huang Taiji Lu bersembunyi.
"Ada apa?"
"Aku yakin ada orang di sini," kata pendekar yang melesatkan anak panah.
"Mana? Buktinya tidak ada. Mungkin kau terlalu kelelahan sehingga daun pohon saja kau anggap orang," ejek salah satu rekannya.
"Cihh, sudahlah, mari kita kembali lagi,"
Tanpa banyak berkata, mereka segera kembali lagi ke tempat semula.
Chen Li dan Huang Taiji menghela nafas lega. Mereka sudah mengalami kejadian sama di malam ini. Untung saja nasibnya mujur.
"Li'er kita cari tempat untuk bersembunyi dulu. Kita harus benar-benar mempersiapkan semuanya,"
Chen Li mengangguk. Keduanya segera pergi dari sana.
Huang Taiji sendiri cukup kaget, ternyata orang-orang yang ada di sana sangat peka terhadap keadaan. Terbukti dua kali berturut-turut mereka hampir kepergok.
Mungkin alasannya karena aura pembunuhan yang masih terpancar keluar dari tubuh keduanya. Sehingga hal tersebut memudahkan musuh untuk mengetahui keberadaannya.
Malam semakin larut. Bahkan rembulan sudah berada di bagian barat. Sepertinya pagi akan segera tiba. Chen Li dan Huang Taiji memutuskan untuk beristirahat di sebuah goa kecil.
###
Pagi hari telah tiba. Suara burung bernyanyi dengan riang.
Pendekar Tanpa Perasaan dan Pendekar Pedang Tombak langsung menjalankan misi mereka setelah melakukan sarapan pagi.
Keduanya berpencar cukup jauh. Mereka berdiri menunggu di suatu tempat yang diduga sebagai jalan keluar masuk orang-orang dalam tenda.
Mereka percaya bahwa orang-orang itu pastilah tidak akan terus berdiam diri di sana. Apalagi tujuan utamanya memang bukan untuk bersantai di tengah hutan.
Karena alasan tersebut lah Chen Li dan Huang Taiji berjaga di jalur utama. Tujuannya supaya mereka bisa mengurangi masalah dengan cara membunuh siapapun orang yang keluar.
Dugaannya terbukti. Lima orang penjaga biasa berjalan melewati jalur yang di sebelah barat. Yang berjaga di sana adalah Chen Li.
__ADS_1
Begitu kelima orang tadi sudah cukup jauh jaraknya, bocah itu langsung meluncur daru dahan pohon. Tangan kanannya melancarkan serangan jarak jauh yang membuat lima penjaga tadi terdorong ke depan.