
Matahari sudah tenggelam di balik bukit. Sinar kemerahan yang tadi menerangi bumi, kini digantikan oleh warna gelap. Malam telah tiba. Rembulan muncul separuhnya, bintang pun hanya terlihat sedikit, tidak banyak seperti biasanya.
Satu sosok mirip manusia dengan kulit tubuh kemerahan sedang berjalan memasuki istana yang besar. Dengan langkah lebar, sosok tersebut berjalan sambil memanggul seorang bocah kecil belasan tahun di pundak kanannya.
Bocah tersebut tidak bergerak sama sekali karena memang dia pingsan terkena totokan. Bocah tersebut memang bukan lain adalah Chen Li, sedangkan sosok yang saat ini sedang berjalan memasuki istana, adalah sosok iblis yang tadi sempat bertarung melawannya.
Si iblis masih terus berjalan menyusuri halaman yang luas dengan pemandangan indah. Di halaman tersebut terdapat banyak prajurit iblis dan siluman. Mereka memberikan hormat saat iblis itu lewat.
Setelah sekian lama berjalan, akhirnya dia sampai juga di sebuah ruangan utama. Sebuah ruangan yang luas dengab ornameh antik memenuhi ruangan tersebut.
Di ruangan itu ada sekitar lima belas iblis yang berbeda-beda kondisinya, tapi sama menyarankannya. Mereka itu adalah para iblis kepercayaan Kaisar Iblis Tiga Mata Tiga Tanduk.
Kekuatan mereka jangan ditanyakan lagi. Mungkin hampir setara dengan Pendekar Dewa tahap enam. Paling bawah setingkat dengan Pendekar Dewa tahap lima.
Di hadapan para iblis, ada satu sosok iblis yang lebih menyeramkan lagi. Sosok itu memakai jubah hitam pekat yang terus mengeluarkan asap hitam pula. Jubahnya sangat mewah, bahkan jubah itu sendiri seperti memiliki kekuatan dahsyat.
Wajahnya sangat seram. Dua taring tumbuh melebihi dagunya sendiri. Matanya berwarna merah darah. Sedangkan satu mata lagi yang terletak di tengah-tengah kening, berwarna campuran. Yaitu setengah merah setengah hitam. Di bagian pinggir kanan dan kiri kepalanya, tumbuh sepasang tanduk dengan panjang kurang lebih satu jengkal. Satu lagi tanduk tumbuh tepat di atas keningnya. Tiga mata dan tiga tanduk.
Siapa lagi kalau bukan Kaisar Iblis Tiga Mata Tiga Tanduk?
Iblis yang membawa Chen Li sudah tiba di hadapannya. Dia langsung memberikan hormat kepada junjungannya tersebut.
"Siapa yang kau bawa itu?" tanya Kaisar Tiga Mata Tiga Tanduk dengan suara datar.
"Dia seorang anak kecil yang tampan Kaisar. Sepertinya bocah ini anak dari manusia yang Anda cari-cari selama ini," jawab si iblis penuh hormat.
"Benarkah apa yang kau katakan itu?"
__ADS_1
"Tentu saja, hamba berani menjamin dengan nyawa,"
"Bagaimana kau bisa seyakin itu?"
"Karena hamba mendengar sendiri bahwa bocah ini memanggilnya ayah. Kalau bukan anaknya, siapa lagi?"
"Bagaimana kau bisa mendengarnya?"
"Saat itu hamba sedang mengawasi mereka dari jarak jauh. Ayah dan anak ini sedang berlatih di hutan pinggir sungai. Saat ayahnya pergi, hamba langsung mendekatinya lalu bersembunyi di semak-semak. Tidak disangka bocah ini bisa tahu, setelah itu dia menyerang hamba. Harus hamba akui bahwa anak ini cukup hebat, hanya saja belum cukup kalau untuk menandingi hamba. Setelah itu hamba menotoknya lalu segera di bawa kemari," kata si iblis menjelaskan dengan singkat. Ada nada bangga dalam ceritanya barusan.
Bahkan Kaisar Tiga Mata Tiga Tanduk pun tertawa puas mendengarnya. Beberapa kali dia terdengar memuji iblis berkulit merah tersebut.
"Bagus, bagus. Tidak salah aku menyuruhmu untuk menjalankan tugas ini. Sekarang, kau buka totokkannya supaya dia bangun dan bisa bicara. Tapi jangan sampai berontak," pinta sang Kaisar.
Tanpa banyak bicara lagi, iblis itu lalu membuka totokan Chen Li sehingga dia segera bangun dan tersadar. Awlanya dia kaget, tapi tak lama dia menyadari apa yang sudah terjadi saat seluruh tubuhnya tidak bisa di gerakkan. Kecuali bagian wajah saja.
"Hahaha, kau tahu siapa aku?" tanya Kaisar kepada Chen Li.
"Tentu saja, kau adalah iblis yang akan ayah bunuh sebentar lagi," katanya tegas.
"Hahaha, sungguh anak yang pemberani. Tidak kusangka manusia itu mempunyai seorang anak yang istimewa. Bagus, bagus, biar aku tunggu apakah ucapanmu itu akan terbukti atau tidak," kata Kaisar Tiga Mata Tiga Tanduk penuh nada ejekan kepada Chen Li.
"Tunggu saja sebentar lagi. Kau pasti akan segera tahu bahwa ucapanku akan terbukti,"
"Baguslah. Aku akan menunggunya. Untuk sementara, kau akan aku tawan di sini supaya nanti ayahmu bisa melihat bagaimana kau mati. Atau bahkan mungkin sebaliknya, kau yang akan melihat ayahmu mati,"
"Banyak bicara. Kalau memang kau mau membunuhku, bunuh saja sekarang. Tidak perlu menunggu nanti," kata Chen Li sedikit berteriak.
__ADS_1
"Hahaha, benar-benar anak yang istimewa. Ikat anak ini sekarang juga. Jangan biarkan dia terus membual," tutur sang Kaisar kepada si iblis berkulit merah tadi.
"Baik Kaisar,"
Seketika itu, iblis tersebut langsung menotok Chen Li kembali. Bocah istimewa tersebut pingsan lagi, buru-buru si iblis mengikat Chen Li pada sebuah tiang.
Suara tawa gembira kembali terdengar memekakkan telinga. Kali ini buka hanya Kaisar saja yang tertawa. Tetapi semua iblis yang ada di sana pun ikut tertawa.
Shin Shui baru saja selesai dari pembicaraannya bersama Kaisar Naga Merah. Mereka berencana akan melakukan pemberontakan sekitar satu minggu lagi.
Selama satu bulan belakangan, Kaisar Naga Merah bersama yang lainnya sudah mengumpulkan kekuatan sebanyak mungkin. Tak kurang dari seratus ribu rakyat Negeri Siluman, mendukung rencana pemberontakan ini. Sebab mereka sudah merasakan bagaimana kejamnya Kaisar Tiga Mata Tiga Tanduk.
Kalau di jumlah, kira-kira Kaisar Naga Merah saat ini mempunyai dua ratus ribu pasukan perjuangan yang siap mempertaruhkan nyawanya di medan perang.
Pasukan yang berani mati.
Selama ini, mereka semua dilatih oleh Shin Shui dan Kaisar Naga Merah sendiri. Walaupun Kaisar itu masih ragu dengan jumlah pasukannya, namun Shin Shui terus membujuknya bahwa kemenangan akan mereka dapatkan.
Karena Kaisar Naga Merah sudah mendapatkan keyakinan penuh, maka mereka memutuskan untuk melakukan penyerangan sebentar lagi. Tak di sangka, sesuatu justru telah terjadi.
Saat ini Shin Shui sedang melesat cepat menuju ke tempat di mana Chen Li berada. Firasatnya mengatakan sesuatu telah terjadi kepada anaknya. Maka dengan kecepatan tinggi, akhirnya dia telah tiba si sana dalam sekejap mata.
Shin Shui telah sampai, dia keheranan karena tidak melihat Chen Li di sana. Dia berjalan bolak-balik memeriksa ke beberapa tempat sekitar, tapi tetap dia tidak menemukan anaknya.
"Li'er, kau di mana?" Shin Shui berteriak sekencang mungkin memanggil anaknya.
Sayang, yang dipanggil tidak ada menyahut. Dia terus mencari-cari sebusa mungkin, tempat sekitar sudah dijelajahi. Tapi jejak anaknya tidak ditemukan.
__ADS_1
"Sesuatu pasti telah terjadi kepada Li'er," gumam Shin Shui semakin merasa ganjil dengan kejadian ini.