
Tak terasa sebulan sudah berlalu. Itu artinya, Shin Shui dan Chen Li juga sudah berada satu bulan di Negeri Siluman. Selama itu, ayah dan anak tersebut menghadapi berbagai macam rintangan.
Ternyata setelah kejadian di gerbang Istana Kekaisaran, Kaisar Tiga Mata Tiga Tanduk terus memburu Shin Shui dengan cara mengarahkan anak buah pilihannya. Tapi sayangnya, usaha yang sudah dia lakukan selama ini selalu menemui kegagalan.
Sebab anak buah yang dia berikan tugas untuk membunuh Shin Shui, semuanya tidak ada yang selamat. Walaupun ada, mereka hanya mampu bertahan beberapa hari sebelum akhirnya tewas juga.
Padahal Kaisar Tiga Mata Tiga Tanduk sudah mengirimkan berbagai macam iblis dan siluman, tapi tetap saja semuanya tidak ada yang mampu membunuh Shin Shui. Tentu saja, karena dia merupakan Pendekar Halilintar. Pendekar terkuat di Kekaisaran Wei pada di masa sekarang.
Saat ini, Shin Shui dan Chen Li sedang melakukan latihan sore hari di pinggir hutan yang ada sungainya. Ayah dan anak itu selalu berlatih di tempat tersebut. Kadang kala, mereka melakukan latih tanding bersama orang-orang Kaisar Naga Merah, atau bahkan dia bersama dia sendiri.
Dalam waktu satu bulan ini, karena ayahnya selalu melatih tanpa kenal lelah, akhirnya Chen Li sudah menembus tingkatan baru. Sekarang bocah istimewa itu sudah mencapai tahapan Pendekar Langit tahap satu pertengahan.
Kondisi fisiknya telah berubah. Chen Li mulai tumbuh tinggi tetap seperti ayahnya. Wajah tampannya semakin terlihat. Pasangan Yun Mei dan Shin Shui, agaknya memang sempurna. Mereka sampai-sampai bisa melahirkan seorang anak yang tampangnya bisa menggetarkan hati wanita.
Kelak jika sudah tumbuh semakin dewasa, mungkin wanita manapun akan mengejarnya.
"Li"er, kau teruslah berlatih. Ayah akan kembali ke tenda dulu. Ayah lupa, tadi Kaisar Naga Merah meminta untuk membicarakan sesuatu," kata Shin Shui kepada anaknya.
"Baik ayah. Li'er mengerti," jawab Chen Li berhenti sesaat lalu memulai kembali latihannya.
"Anak baik," kata Shin Shui mengacak-acak rambut Chen Li.
Setelah itu, dia segera melesat kembali ke tenda darurat milik Kaisar Naga Merah. Jarak tempat latihan ke tenda lumayan jauh, mungkin ada sekitar sepuluh kilo meter. Tapi itu bukanlah masalah bagi Shin Shui. Dengan kekuatan yang dia miliki saat ini, jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu lima belas menit saja.
Shin Shui sudah menghilang dari pandangan. Chen Li semakin serius melatih jurus-jurus yang di ajarkan oleh Shin Shui. Selain itu, ayahnya juga menciptakan jurus seruling baru baginya. Bahkan jurus barunya tersebut bisa saja lebih hebat daripada jurus yang ada dalam kitab Seruling Pencabut Nyawa.
__ADS_1
Hanya saja, Chen Li dilarang menggunakan jurus tersebut jika belum mencapai tingkatan Pendekar Surgawi tahap akhir. Tapi walaupun begitu, ada jurus lain yang memang diciptakan untuknya.
Selain daripada itu, Chen Li diam-diam juga melatih jurus pedang. Semenjak dia mengerti keistimewaan matanya yang bisa mengingat walau sekali pandang, Li kecil selalu membaca kitab jurus-jurus pedang hebat yang dia pinjam dari ayahnya. Tetapi, Chen Li masih ragu untuk menggunakannya saat bertarung, jadi dia memilihnya untuk tidak ditunjukkan dulu.
Mungkin suatu saat jika sudah waktunya, dia akan memainkan pedang juga di samping bermain seruling.
Sekarang Chen Li sedang memainkan jurus-jurus seruling. Gerakannya semakin gesit dan mantap. Setiap langkahnya tidak ada yang sia-sia, kaki melangkah, maka tangan bergerak menotok. Tangan kanan menyerang menggunakan seruling, tangan kiri bergerak memberikan pukulan, cengkraman, ataupun serangan telapak.
Sekali bergerak, dua serangan berbeda meluncur. Perpaduan yang sempurna.
Dia berputar-putar sampai menimbulkan pusaran angin. Jurus-jurus yang belum dia kuasai sempurna, dia ulangi terus-menerus supaya menjadi semakin matang. Kaki tangannya bergerak seirama. Dia seperti seorang penari yang handal.
Di saat sedang serius-seriusnya berlatih, tiba-tiba telinga tajam Chen Li mendengar ada suara dari balik rimbunan rumput liar. Seketika itu juga dia menghentikan latihannya.
"Kalau sudah ketahuan, untuk apa masih bersembunyi?" kata Chen Li sambil terus memandangi semak itu.
Tak lama, satu sosok yang menyeramkan keluar dari balik semak-semak tersebut. Di bilang manusia, tapi bukan. Di bilang bukan, tapi mirip manusia.
Sebab sosok itu memang mirip manusia, punya dua mata dan dua telinga, serta mempunyai kaki tangan juga. Bedanya, di atas kepala sosok tersebut terdapat empat tanduk yang panjangnya sekitar setengah jengkal. Di tambah seluruh kulit tubuhnya berwarna merah darah serta ukuran badannya di atas manusia normal.
Iblis. Tak salah lagi, sosok tersebut memang seorang iblis. Utusan daei Kaisar Tiga Mata Tiga tanduk. Dia merupakan iblis kepercayaan sang Kaisar.
"Hehehe … ternyata kau memiliki indera yang cukup tajam. Hemm …" kata iblis tersebut.
"Katakan! Apa maumu?" tanya Chen Li dengan suara membentak.
__ADS_1
"Tentu aku mau kau anak tampan. Ikutlah denganku, aku jamin kau akan senang," kata iblis tersebut sambil tertawa dengan suaranya yang tidak enak di dengar.
"Jaga bicaramu iblis jelek. Atau kalau tidak aku robek mulutmu," ucap Chen Li semakin marah.
"Kalau memang kau merasa mampu, robek saja. Hehehe, lebih baik sekarang kau ikut saja denganku,"
"Berisik. Aku robek mulutmu," bentak Chen Li lalu dia tiba-tiba menyerang ke depan.
Seruling giok hijau ia julurkan ke depan memberikan totokan ke jalan darah penting. Gerakannya cukup cepat, sekarang Chen Li sudah tiba di depan iblis tersebut. Dia mulai menyerang dengan seruling pusakanya.
Tapi iblis itu masih tetap tenang. Bahkan dia masih terus tertawa dengan suara jeleknya, membuat siapapun yang mendengarnya akan merasakan sakit telinga. Sambil tetap tertawa, iblis terus bergerak menghindari semua serangan Chen Li.
Li kecil semakin marah sebab semua serangannya gagal menemui sasaran. Dia mempercepat gerakan serulingnya. Seruling giok hijau lenyap dari pandangan. Yang terlihat hanyalah kelebatan sinar hijau menusuk ke beberapa titik penting.
Kadang kala dia menyabetkannya dengan sekuat tenaga sehingga menimbulkan seru angin yang cukup kencang dan tajam. Akan tetapi lawannya masih tetap seperti tadi, dia tidak terlihat kesulitan sedikitpun.
Chen Li bertambah kesal. Jurusnya mulai ia ubah menjadi jurus-jurus hebat. Totokan seruling semakin menggempur si iblis. Kali ini, dia tidak berani tertawa lagi. Walaupun Chen Li bukan lawannya, tapi dia tetap berlaku hati-hati.
Si iblis mulai bergerak. Kaki tangannya di ayunkan untuk membalas semua serangan Chen Li. Akibatnya, totokan yang dilancarkan oleh anak sang legenda, menjadi sia-sia.
Keadaan berbalik, Chen Li mulai merasa kewalahan. Gerakannya menjadi terbatas. Dalam lima jurus, dia sudah berada dalam keadaan terdesak hebat. Semua serangan, gagal di tengah jalan.
Dengan gerakan yang sangat cepat, tahu-tahu kedua tangan si iblis sudah berhasil meringkusnya. Chen Li meronta untuk berusaha melepaskan diri. Tapi sayang, semua usahanya sia-sia.
Tanpa banyak membuang waktu, iblis tersebut langsung menotok Chen Li hingga pingsan. Setelah itu, dia segera pergi dari sana dengan kecepatan angin.
__ADS_1