
"Sekte mana yang kakak maksudkan?" tanya Shin Shui setelah bisa menguasai diri kembali.
"Sekte Serigala Putih," jawab Maling Sakti dengan nada penuh serius.
Hampir saja Shin Shui pingsan mendengar kabar tersebut. Bagaimana mungkin sekte besar seperti Sekte Serigala Putih mampu dipaksa untuk bergabung bersama orang-orang yang ingin menghancurkan Kekaisaran Wei? Walaupun Shin Shui sudah mengetahui bahwa kelompok musuh kali ini sangat lihai dalam mencari informasi, tetap sungguh kabar ini membuatnya sangat terkejut.
Jauh lebih terkejut daripada ada orang yang tiba-tiba menagih hutang.
Tidak disangka sama sekali bahwa sekte terbesar itu mampu kebobolan informasi. Sudah pasti ada hal penting yang menjadi aib sekte dan telah diketahui pihak musuh. Sehingga mau tidak mau, mereka bergabung dengannya.
"Kakak Yang …"
Shin Shui tidak mampu melanjutkan bicaranya karena Yang Lin sudah memotong.
"Aku harap adik Shin Shui tidak lupa bahwa aku tidak pernah berbohong. Semua informasi yang telah aku berikan, berani dipertanggungjawabkan secara keseluruhan," kata Yang Lin si Maling Sakti memotong pembicaraan Shin Shui.
"Baik, baik. Aku percaya kepada informasi yang telah diberikan kakak Yang. Hanya saja, aku sungguh tidak menyangka bahwa sekte pilar utama Kekaisaran Wei mampu dijebol rahasianya oleh musuh,"
"Aku pun sama sepertimu adik, hanya saja aku sudah menduga semua ini. Sehingga kabar yang seperti barusan, bagiku hanya kabar biasa. Mungkin baru sekarang kau mengerti maksudku bahwa yang aku maksudkan musuh semakin banyak itu, adalah hal seperti inilah contohnya," kata Yang Lin lalu meneguk arak.
Maling Sakti Hidung Serigala Serigalanya memang benar, Shin Shui baru paham sekarang terkait maksud perkataan orang itu sebelumnya. Kalau seperti ini kejadiannya, maka bukan tidak mungkin sekte besar lainnya juga akan mengalami hal yang sama.
Bahkan mungkin bisa saja Sekte Bukit Halilintar mengalami hal semacam itu. Yang tentunya lebih parah daripada dua minggu lalu.
"Baiklah, kita bicarakan hal ini di ruangan tetua. Sekarang kakak Yang ikut aku keluar," ajak Shin Shui tanpa berlama-lama lagi.
Yang Lin mengangguk. Keduanya lalu segera pergi dari tempat menyepi untuk mengabarkan berita menggemparkan ini. Saat keluar, dua murid penjaga merasa heran karena mereka tidak mengetahui bagaimana ada orang lain selain Shin Shui.
Namun untuk bertanya, tentu keduanya tidak berani sama sekali. Mereka hanya memberikan hormatnya sampai bayangan Shin Shui tidak kelihatan.
Sebelum menuju ke sekte, Shin Shui lebih dulu mengajak Yang Lin ke kediamannya. Sekaligus dia juga ingin memperkenalkannya kepada Chen Li.
Saat itu hari sudah pagi hari. Biasanya kalau jam segini, Chen Li suka berlatih di bawah pohon sakura.
Dan ternyata memang benar. Anak kesayangannya sedang berlatih bersama Eng Kiam.
__ADS_1
Diam-diam Shin Shui mengirimkan serangan jarak jauh yang sangat cepat ke arah Chen Li.
"Wush …"
Sebuah kerikil sebesar ibu jari kaki melesat sangat cepat ke arah bocah kecil itu. Kalau Chen Li tidak mengetahui serangan ini, sudah pasti tubuhnya akan dapat ditembus oleh kerikil tersebut karena sudah mengandung tenaga dalam hebat.
Namun, telinga Chen Li justru lebih tajam daripada telinga orang normal pada umumnya. Walaupun lesatan kerikil tersebut tidak mengeluarkan suara, tapi bocah itu mampu mengetahuinya.
"Blarr …"
Ledakan terjadi. Gelombang kejut tercipta lumayan besar. Rupanya hal itu disebabkan karena Chen Li mengirimkan pula serangan balasannya.
Akibatnya, dua tenaga dalam berbenturan. Walaupun Chen Li tidak sampai terluka, tapi tetap saja tubuhnya bergetar karena tidak kuat menahan gejolak tenaga dalam yang dia rasakan.
"Ayahh …" teriak Chen Li saat mengetahui siapa yang sudah menyerangnya.
Bocah itu berlari menghampiri Shin Shui diikuti oleh Eng Kiam di belakangnya. Bahkan kedua bocah tersebut terlihat semakin akrab dan dekat.
"Ayah, berkat metode latihan ayah, kemarin Li'er naik tingkatan," katanya membanggakan diri kepada sang ayah.
"Benar ayah, Li'er sudah naik tingkat kemarin,"
"Bagus, ayah suka. Nona Eng, terimakasih kau sudah mau menjaga Chen Li selama dua minggu ini," kata Shin Shui kepada Eng Kiam.
"Sama-sama tuan pahlawan. Aku malah senang karena bisa menemani tuan muda dan menyiapkan semuanya," kata Eng Kiam.
"Baik, terimakasih. Kalau kau menginginkan sesuatu, katakan saja kepadaku," kata Shin Shui kepada Eng Kiam sambil memandangnya dengan lembut.
"Terimakasih tuan pahlawan,"
Shin Shui hanya mengangguk saja. Dia suka terhadap gadis kecil itu, sebab menurutnya, gadis kecil tersebut berbeda dengan orang-orang sebayanya.
Shin Shui kemudian memperkenalkan Maling Sakti Hidung Serigala kepada Chen Li dan Eng Kiam.
"Li'er, Kiam'er, perkenalkan, ini adalah kakak angkat baru ayah. Namanya Maling Sakti Hidung serigala, atau Yang Lin. Berikan hormat kepada pamanmu ini," kata Shin Shui menyuruh Chen Li untuk memberikan hormat.
__ADS_1
"Li'er memberi hormat kepada paman Yang. Semoga paman panjang umur," ujar Chen Li sambil menjura.
Begitupun yang dilakukan oleh Eng Kiam. Dia juga turut memberikan hormatnya.
"Hahaha, keponakan yang baik. Adik, kau sepertinya memiliki seorang anak yang berbakat. Suatu saat nanti aku ingin berlatih dengannya," kata Yang Lin.
Shin Shui hanya tersenyum melihat kakak angkat barunya tersebut. Ternyata dia juga senang terhadap seorang anak kecil. Apalagi anak yang berbakat.
"Li'er, Kiam'er, kalian lanjutkan berlatih. Ayah masih ada urusan lain yang lebih penting," kata Shin Shui kepada anaknya.
Chen Li mengangguk, kemudian dia segera pergi berlatih kembali. Setelah itu, dengan cepat Shin Shui dan Yang Lin menuju ke ruang para tetua.
Seperti diceritakan sebelumnya bahwa di sana hanya ada dua tetua saja. Karena yang lain sedang turun gunung.
Tapi begitu Shin Shui dan Yang Lin tiba di sana, ternyata ada beberapa orang lainnya.
Kaisar Wei An.
Kaisar itu datang bersama lima orang pengawal pribadi yang merupakan Pendekar Dewa tahap tiga.
Shin Shui dan Yang Lin masuk ke ruangan. Pendekar Halilintar itu berjalan seperti sedang terluka.
"Ah, kebetulan sekali Kepala Tetua datang, Kaisar sudah menunggu Kepala Tetua sejak kemarin," ucap Thai Li menyambut Shin Shui dan Yang Lin sambil mempersiapkan tempat duduk.
Shin Shui melihat juga bahwa Kaisar Wei An lima pengawal pribadinya sudah duduk di tempat tamu istimewa yang sudah disediakan di sana.
"Hormat untuk Kaisar, semoga panjang umur," ujar Shin Shui.
Hanya dia saja yang memberikan hormatnya. Sedangkan si Maling Sakti Hidung Serigala Yang Lin, sama sekali tidak memberikan hormat. Bahkan terkesan acuh tak acuh.
"Ah, Pendekar Shin Shui jangan sungkan," jawab Kaisar Wei An.
Shin Shui kembali ke tempatnya. Dia duduk berdampingan bersama dua tetua sekaligus kakak angkatnya.
"Siapa orang ini?" tanya Kaisar sambil melirik Yang Lin.
__ADS_1