
"Tentu saja, karena itulah Li'er jangan mengecewakan kakek guru. Mulai sekarang, Li'er harus rajin berlatih dengan tekun dan sungguh-sungguh. Jangan manja lagi, kau ini anak seorang kepala Tetua. Harus bersikap gagah dan berwibawa," kata Shin Shui dengan wajah serius.
Karena melihat keseriusan ayahnya itu, Chen Li pun tidak berani lagi tertawa. Dia juga tahu bahwa ayahnya memang seorang pendekar besar yang namanya harum di mana-mana. Di takuti lawan, di segani kawan.
Berpikir seperti ini, timbulah keinginan dalam hatinya untuk mengubah semua sikap manjanya. Dia berjanji kepada diri sendiri untuk tidak manja lagi.
"Baik ayah, Li'er janji mulai sekarang tidak akan manja lagi. Tidak akan membuat ayah dan ibu malu. Li'er janji," katanya dengan wajah serius tapi nampak lucu.
"Bagus, bagus. Ini baru namanya putera ayah dan ibu. Sekarang, kau latihlah semua jurus yang ada dalam Kitab Seruling Pencabut Nyawa itu," kata Shin Shui.
"Baik ayah. Sekarang juga Li'er akan mulai berlatih sesuai perintah ayah," ucapnya lalu pergi lagi ke tengah halaman.
"Bagus. Berlatihlah dengan giat, ayah akan kembali ke sekte dulu,"
"Baik ayah," ucap Chen Li.
Shin Shui sempat mengacak-acak rambut anaknya itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan Chen Li sendirian.
###
Tiga minggu sudah berlalu, selama seminggu belakangan, Chen Li selalu berlatih tiga kali dalam sehari. Dia melatih Tujuh Langkah Halilintar dan juga melatih jurus-jurus yang tertera di dalam Kitab Seruling Pencabut Nyawa.
Ternyata, jurus-jurus dalam kitab itu hanya terdiri dari tujuh bagian saja. Memang tidak banyak, namun setiap jurus itu bukanlah jurus tingkat kelas bawah.
Semakin tinggi tingkat pelatihan si pengguna, maka kehebatan jurus ini akan bertambah berlipat-lipat. Semakin matang, akan semakin hebat pula.
Singkatnya, jika Chen Li sudah mencapai level Pendekar Dewa, maka semakin tinggi tahapannya, semakin dahsyat juga jurus-jurusnya. Bahkan bisa jadi jurus yang ada dalam kitab itu mampu menandingi salah satu dari tiga kitab pusaka tertinggi yang Shin Shui pelajari. Yaitu Kitab Halilintar, Kitab Dewa Iblis, dan yang terkahir adalah Kitab Tapak Penghancur.
Berikut nama-nama Kitab Seruling Pencabut Nyawa:
1). Suara Seruling Penyejuk Jiwa
__ADS_1
2). Memukul Batu Mengangkat Air Sungai
3). Menggempur Harimau di Hutan
4). Bertempur Melawan Raja Naga
5). Meniup Seruling Menarik Sukma
6). Alunan Nada Dewa Kematian
7). Suara Penghancur Alam Semesta
Setiap jurusnya memerlukan tenaga dalam dengan jumlah berbeda-beda. Semakin tinggi jurusnya, maka semakin besar tenaga dalam yang dibutuhkannya.
Semakin matang si pengguna, maka semakin dahsyat juga akibat yang akan ditimbulkannya.
Saat ini sore hari, suasana di Sekte Bukit Halilintar ramai seperti biasanya. Para murid ada yang sedang istirahat, ada yang sedang latihan, ada juga yang sedang bercanda dengan rekan-rekannya.
Shin Shui sendiri baru saja masuk ke ruangan para tetua bersama Chen Li. Seperti biasa, kalau ada waktu senggang, dia akan menemani Chen Li berlatih. Kadang-kadang Yun Mei pun turut juga menemani suami dan anaknya itu.
Sungguh, keluarga kecil yang bahagia.
Sepanjang jalan pulang tadi, Shin Shui tidak henti-hentinya memuji kecerdasan Chen Li. Sebab dalam waktu tiga minggu, anaknya itu sudah berhasil menghafal semua jurus yang ada di dalam Kitab Seruling Pencabut Nyawa.
Walaupun Chen Li belum mampu menguasai semuanya, tetapi dia sudah hafal semua isinya. Chen Li baru saja bisa menggunakan sampai jurus keempat. Tapi walaupun begitu, hal tersebut sudah termasuk pencapaian yang luar biasa.
Yang lebih hebatnya lagi, dalam waktu tiga minggu, Chen Li sudah naik tingkat dua hari lalu. Sekarang dia sudah berada di levelan Pendekar Bumi tahap enam. Tinggal satu tingkat lagi, maka dia akan mencapai tingkatan Pendekar Langit.
Semua hal itu tentunya tidak lepas dari bantuan tangan 'dewa' Shin Shui. Pendekar Halilintar itu memberikan berbagai sumber daya langka bagi anaknya. Bahkan dia memberikan buah-buahan yang berguna untuk menguatkan tulang dan memurnikan tenaga dalam Chen Li.
Sebab semakin murni tenaga dalam seseorang, maka semakin hebat juga tenaga dalam yang terkandung dalam tubuhnya. Tidak berbeda jauh dengan Shin Shui sendiri.
__ADS_1
Saat Shin Shui menceritakan kemajuan puteranya itu kepada semua tetua, mereka tampak tersenyum girang dan bangga. Bahkan sebagian dari mereka tidak sabar ingin melihat Chen Li dewasa.
"Kepala tetua, bagaimana kalau kita menguji kemampuan Tuan Muda? Dengan begitu, kita akan tahu sampai di mana ilmunya," ucap Seorang tetua Sekte Bukit Halilintar.
Shin Shui tidak langsung menyahut. Kemudian dia memandangi Yun Mei. Wanita itu tidak mampu membantah lagi, dia hanya mampu mengganggu.
"Baiklah, aku setuju dengan usulmu itu. Dengan begini, kita akan tahu bagaimana keseriusan Li'er dalam mempelajari ilmu yang aku berikan," kata Shin Shui menyetujui usulan salah satu Tetua Sekte Bukit Halilintar.
Setelah itu, Pendekar Halilintar melirik kepada Chen Li. Seperti mengerti apa yang akan dikatakan ayahnya, maka Chen Li kecil pun segera berkata. "Li'er menuruti semua kata ayah," ucapnya.
"Bagus. Kalau begitu, mari kita semua ke halaman dam mencari lawan yang cocok untukmu," kata Shin Shui.
Para Tetua Sekte Bukit Halilintar pun kemudian melangkahkan kaki keluar menuju para murid yang sedang beristirahat itu.
Meliat semua Tetua bahkan sampai Kepala Tetua mereka keluar, maka semua murid menghentikan kegiatan mereka. Para murid itu lalu berbaris secepat mungkin.
Jika kau pergi ke Sekte Bukit Halilintar, maka kau akan mengerti bagaimana displinnya sekte itu dalam menerapkan tatakrama dan sopan santun.
Semua murid masih diam berdiri. Tak ada yang bicara satu pun. Mereka menunggu para Tetua bicara terlebih dahulu.
"Murid-murid, apakah di antara kalian semua ada yang ingin mencoba latihan bersama Tuan Muda?" tanya seorang tetua kepada semua murid.
Tak ada yang berani menjawab. Bahkan mengangguk pun tidak. Mereka takut, kalau bertarung dan tidak sengaja melukai Chen Li, maka Shin Shui akan marah. Karena alasan itulah, kemudian Shin Shui melangkah maju ke depan.
"Kalian jangan takut. Kalau tidak sengaja melukai Li'er, aku tidak akan menghukum kalian. Ayo, siapa yang mau latihan dengannya," kata Shin Shui agak lantang.
Masih tidak ada juga yang berani menjawab. Menurut pandangan para murid, jika bertarung melawan Chen Li, itu artinya mereka sudah berani kurang ajar terhadap Shin Shui. Sekalipun itu hanya latihan semata.
"Baiklah kalau begitu, daripada tidak ada yang berani menjawab, lebih baik aku saja yang memilih lawan untuk Chen Li di antara kalian," ucap Shin Shui.
"Kamu, kemari mendekat," kata Shin Shui menunjuk seorang murid pria.
__ADS_1
"Baik Kepala Tetua," jawab murid itu sambil menghormat kemudian segera menghampiri Shin Shui.