Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Membebaskan Para Tawanan


__ADS_3

Setelah hampir setengah hari perjalanan, akhirnya Shin Shui, Maling Sakti dan Chen Li sampai juga di tempat tujuan mereka. Ketiganya saat ini berada di sebuah kaki bukit yang dipenuhi pepohonan rimbun. Andai saja tidak sedang musim salju, mungkin pemandangan di sana akan sangat indah.


Sayangnya, sekarang saatnya salju turun ke bumi. Sehingga pemandangan indah tersebut tidak mampu dinikmati.


"Kakak Yang, di mana gunung yang kau maksudkan itu?" tanya Shin Shui heran.


"Di balik bukit ini ada sebuah jalan rahasia. Kalau kita memakai jalan itu, nanti kita akan muncul tepat di tujuan utama," jawab Maling Sakti.


Shin Shui mengangguk. Akhirnya dia akan segera bertemu dengan sang istri. Tetapi sebelum mereka memulai kembali, seekor burung elang terbang berputar tiga kali lalu turun tepat di bahu Shin Shui.


Di kaki elang tersebut terdapat surat balasan. Shin Shui segera membuka surat itu.


"Permintaan pahlawan akan segera kami kabulkan. Nanti malam, kami bersama kawan seperjuangan akan segera mengunjungi Sekte Serigala Putih. Aku sendiri akan turun tangan langsung,"


"Kepala Tetua Sekte Kayu Hitam."


Shin Shui merasa lega. Ternyata suratnya dibalas dengan kabar baik.


"Apa yang mereka katakan?" tanya Maling Sakti.


"Sekte Kayu Hitam akan datang malam nanti. Bahkan bersama para pendekar yang sejalan dengan kita,"


"Bagus. Kalau begitu, kita harus cepat,"


Mereka melanjutkan perjalanan lagi. Setelah beberapa waktu melewati bukit, akhirnya ketiganya sampai di jalan rahasia yang dimaksudkan.


Ternyata jalan itu berupa jalan bawah tanah. Namun walaupun begitu, di dalamnya terdapat banyak sekali lorong. Kalau salah langkah, bisa-bisa mereka nyasar ke jurang. Di jalan bawah tanah itu juga terdapat banyak sekali rumput beracun.


Jika tidak hati-hati, maka racun tersebut akan meracuni tubuh. Untung bahwa Shin Shui bersama Maling Sakti. Keahliannya dalam hal seperti ini, tidak usah diragukan lagi.


Tepat ketika senja tiba, Shin Shui, Maling Sakti dan Chen Li, sampai juga di tempat tujuan utama.


Mereka berada di puncak gunung. Menurut Maling Sakti, istri dan para tetua Sekte Bukit Halilintar di tawan di bawah kaki gunung.

__ADS_1


Sebelum turun ke sana, mereka lebih dulu memandangi situasi alam sekitar. Tidak berapa jauh di depan sana, terlihat sebuah bangunan tua. Walaupun umurnya ratusan tahun, tetapi kemegahan dan kebesaran masih tampak dengan jelas.


Halaman yang luas, bangunan menjulang tinggi. Suara murid bergemuruh. Semua itu disaksikan oleh tiga sosok pendekar tersebut.


"Kita mulai bergerak. Kalian jangan jauh dariku," kata Maling Sakti.


Pria itu segera menuruni gunung. Walaupun licin, tetapi hal tersebut bukanlah masalah bagi ketiganya.


Lima belas menit kemudian, mereka sampai di kaki gunung. Dan ternyata benar, tepat di bawah kaki gunung, ada sebuah goa yang dijaga oleh empat orang murid Sekte Serigala Putih.


Kalau di lihat dari kekuatan, keempatnya merupakan Pendekar Surgawi tahap tujuh akhir. Sedikit lagi akan mencapai Pendekar Dewa tahap satu.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Shin Shui.


"Kau dan Li'er masuk ke sana. Bebaskan istri dan para tetua, biarkan empat orang penjaga itu bertarung denganku untuk mengalihkan perhatian," ujar Maling Sakti.


"Kaka Yang yakin?"


"Kau jangan khawatir Adik Shin. Aku tahu apa yang harus aku lakukan,"


Setelah semuanya setuju, Maling Sakti akhirnya mulai melakukan langkah pertama.


Dia melesat sangat cepat ke depan para murid penjaga. Niatnya untuk memancing keempat murid tersebut meninggalkan mulut goa.


"Heh bocah-bocah keparat," kata Maling Sakti penuh ejekan.


Keempat murid penjaga masih terbilang muda. Umurnya mungkin baru tiga puluh tahun. Mendapatkan ejekan seperti itu dari orang tidak dikenal, tentu mereka merasa geram.


Darah mudanya terasa mendidih. Tanpa banyak berkata, keempat murid penjaga segera pergi meninggalkan mulut goa dan mengikuti ke arah perginya sebuah bayangan.


Bayangan si Maling Sakti Hidung Serigala.


Pria itu membawa empat murid penjaga tersebut ke dalam hutan. Sedangkan Shin Shui dan Chen Li segera masuk ke dalamnya.

__ADS_1


Goa itu cukup luas. Terdapat beberapa penjara bawah tanah yang dilindungi tenaga dalam besar.


"Pantas saja meraka tidak bisa membebaskan diri. Ternyata penjara ini di lindungi kekuatan yang lumayan. Hemm, sepertinya mereka juga di totok hingga pingsan seperti itu," kata Shin Shui merasa kesal.


Pendekar Halilintar langsung menghimpun tenaga dalam. Chen Li di suruh untuk menjauh sedikit supaya tidak terkenal efek. Begitu tenaga dalam terkumpul, Shin Shui segera menghantamkannya ke semua penjara bawah tanah tersebut.


"Blarrr …"


Ledakan terdengar ketika tenaga Shin Shui menghancurkan "segel". Selepas itu, dia segera membuka seluruh penjara lalu melepaskan totokan lebih dulu. Kemudian, Shin Shui dan Chen Li segera memeriksa orang-orang yang tertawan di sana.


Tidak lupa juga keduanya memberikan pil yang berfungsi untuk memulihkan tenaga dalam waktu singkat.


Namun sebelum mereka tersadar sepenuhnya, Shin Shui memilih untuk membawa orang-orang yang tertotok itu ke tempat yang lebih aman.


Kini Yun Mei dan para tetua Sekte Bukit Halilintar serta beberapa pendekar lainnya, sudah berada di tempat aman. Mereka sedang diberi perawatan sederhana oleh Shin Shui untuk memulihkan kondisi tubuh.


"Atur nafas kalian. Konsentrasi supaya pil itu cepat memberikan khasiat. Waktu kita tidak banyak, aku harap kalian mampu melakukannya," kata Shin Shui sambil menyalurkan tenaga dalamnya kepada semua orang di sana.


Sedangkan Chen Li berada di tempat lain untuk mengawasi keadaan sekitar barangkali ada orang-orang Sekte Serigala Putih yang menuju ke tempat tersebut.


Di sisi lain, Maling Sakti Hidung Serigala sedang bertarung bersama empat murid penjaga. Walaupun kekuatan mereka baru mencapai Pendekar Surgawi tahap tujuh akhir, tetapi nyatanya empat murid tersebut mampu memberikan serangan balasan yang lumayan.


Terlebih lagi kerja samanya. Mereka sangat kompak sekali. Dua menyerang dan dua lagi bertahan.


Tetapi Maling Sakti tidak diam saja, dia tahu waktu yang tersedia sangatlah sedikit. Sehigga dirinya tidak mau berlama-lama dalam pertarungannya.


Dengan segera kedua tangannya mengeluarkan sinar hijau menyala. Dia melesat cepat ke arah empat murid penjaga. Gerakannya bagaimana kilat. Sangat cepat dan tepat sasaran.


Dua tangan itu melancarkan dua buah pukulan keras ke empat lawannya. Karena saking cepatnya, mereka semua tak mampu menahan. Keempat murid penjaga Sekte Serigala Putih langsung terkapar.


Semuanya terluka parah. Tidak ada yang sanggup bangun lagi karena luka mereka. Rasa sakit segera menjalar ke seluruh bagian tubuh. Suara rintihan mulai terdengar dari mulut mereka.


Hanya dalam satu kali serangan, empat murid berhasil dilumpuhkan. Sebenarnya wajar, sebab pria itu benar-benar mengeluarkan kekuatan hampir empat puluh persen untuk melancarkan pukulan barusan.

__ADS_1


Maling Sakti tidak mau menunggu, dia segera melesat secepat mungkin ke arah Shin Shui dan yang lainnya berada. Sebenarnya dia ingin sekali menghabisi empat murid penjaga, sayagnya waktu tidak tepat. Sebuah firasatnya mengatakan bahwa dirinya bersama Shin Shui sudah ketahuan.


__ADS_2