
Lima pendekar tersebut saat ini sedang melakukan pertarungan jarak dekat. Keempat lawan membagi posisinya masing-masing.
Semua sisi telah tertutup oleh satu lawan. Tak ada celah untuk menyerang dan tak ada cara untuk mengambil keuntungan.
Strategi bertarung keempat pendekar tersebut bisa dibilang lumayan baik. Sebab keempatnya bisa melindungi satu sama lainnya. Dua orang maju menyerang, dua orang lagi bertahan atau kadang kala melakukan serangan secara bersamaan serta mendadak.
Karena kekuatannya 'terbatas', Li Feng sempat merasa kesulitan menghadapi keempat lawannya. Tapi tidak lama, hal itu mungkin terjadi hanya sekitar empat atau lima jurus saja.
Selanjutnya Li Feng sudah paham betul bagaimana gaya bertarung keempat pendekar tersebut. Karena hal itu, Li Feng memutuskan untuk mengincar yang paling lemah diantara keempatnya.
Kalau belakangan dia bertarung dengan tangan kosong, maka kali ini dia berniat untuk mengeluarkan senjatanya.
Tangan kanan dia kibaskan sedikit. Tiba-tiba saja dari udara hampa muncul sebatang pedang berwarna hijau. Bahkan bajanya hijau pula.
Pedang Hijau Daun.
Walaupun bukan pusaka kelas satu, tapi pedang itu bisa diandalkan. Pedang Hijau Daun sejajar tingkatannya dengan Pedang Awan.
Seumur hidup, baru kali ini lagi dia menggunakan senjata selain Pedang Halilintar.
Tetapi hal itu bukankah masalah besar. Sebab jika seorang pendekar sudah mencapai tahapan tertinggi, jangankan pedang karatan, ranting pohon sekalipun bisa dia gunakan sebagai senjata ampuh.
Setelah Pedang Hijau Daun sudah tergenggam di tangannya. Li Feng segera memburu seorang pendekar yang paling lemah.
Orang itu menggunakan senjata dua kapal kembar yang cukup lebar. Kapak tersebut menebarkan cahaya perak terkena sorot matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
Li Feng mulai mencecar pendekar kapak itu dengan Pedang Awan Hijau. Senjata itu memantulkan sinar kehijauan yang membawa hawa sejuk.
Tangannya mulai memainkan jurus pedang sederhana namun mematikan. Dia menggetarkan ujung pedang sehingga terlihat menjadi beberapa bagian.
Pendekar kapak mulai kewalahan sebab serangan lawan tidak mengendur walau secuil. Justru yang ada, semakin lama serangannya semakin datang beruntun.
Tiga rekannya berniat untuk menolong, tapi sayangnya tidak bisa sebab kedua pendekar itu kini sudah menyatu dengan sinar yang mereka keluarkan sendiri dari masing-masing senjatanya.
"Trangg …"
"Trangg …"
Pedang dan kapak bertemu di tengah jalan. Percikan api melayang di udara kemudian lenyap tanpa bekas.
Dua belas jurus sudah berlalu. Li Feng semakin berada di atas angin. Tanpa sungkan lagi, Pedang Hijaun Daun dia sabetkan sekuat mungkin.
"Crashh …"
__ADS_1
Darah segera menyembur keluar dari mulut dan dada si pendekar kapak. Sepanjang dada kanan sampai dada kiri terlihat luka sabetan yang menganga lebar. Dalam hitungan detik, pendekar kapak sudah ambruk tanpa nyawa. Dia jatuh telentang sehingga lukanya semakin tampak jelas.
Melihat satu rekan mereka tewas, tiga pendekar itu tak dapat menahan diri lagi. Sekali lompat, tiga serangan dari tiga penjuru sudah datang kembali.
Kali ini Li Feng tidak mau berlama-lama, tubuhnya segera berputar dan pedangnya dia gunakan untuk menangkis tiga serangan lawan.
Dua orang pendekar langsung terlempar sejauh lima langkah. Sedangkan pemimpin mereka yang lebih tua, tersentak dua langkah.
Li Feng tidak berhenti begitu saja. Dengan gerakan amat gesit, tubuhnya sudah tiba di hadapan dua pendekar.
"Rembulan Bersinar Terang …"
"Wushh …"
Sinar terang mendadak keluar dari pedangnya. Sebuah cahaya kuning emas menyambar dua pendekar. Hanya satu kali gebrakan, mereka telah tewas juga menyusul yang lainnya.
Leher mereka hampir putus. Bahkan darah masih saja keluar.
Kini yang tersisa hanyalah satu pendekar saja. Yaitu si orang tua yang memimpin gerombolan ini.
"Hehe, kali ini hanya ada kau dan aku. Mari kita bertarung lebih serius lagi. Rasanya sudah cukup aku main-main," kata Li Feng dengan dingin.
"Bangsat. Mampus kau …"
"Rajawali Mengibaskan Sayap …"
"Wushh …"
Angin besar membawa hawa kematian berhembus kencang. Tubuh orang itu segera melesat ke depan walaupun jurusnya belum sirna.
"Sabetan Padang Rumput …"
"Wushh …"
Kembali orang tua itu melancarkan sebuah serangan ganas. Sekali bergerak, dua jurus dahsyat keluar dengan sempurna.
Pendekar tua iru percaya bahwa jika dia menyerang dengan dua jurus secara bersamaan, pasti Li Feng tak akan bisa lolos dari maut.
Keyakinan seperti ini memang bisa mempengaruhi jiwa seseorang. Yang sudah putus harapan, bisa kembali lagi ada harapan.
Tapi kali ini dia sudah salah. Li Feng tetaplah Li Feng. Dia bukan orang lain dan orang lain bukan dirinya.
Hanya dengan melakukan gerakan sederhana, dua serangan dahsyat itu luput mengenai sasaran. Entah bagaimana caranya dia bisa menghindar.
__ADS_1
"Sekarang giliranku,"
"Tujuh Tebasan Maut …"
"Wushh …"
Sinar hijau kembali berkelebat memburu si pendekar tua. Beberapa kali Li Feng menggerakkan pedangnya dengan serangan yang sama.
Tapi si pendekar tua masih bisa bertahan walaupun bajunya telah koyak akibat jurus barusan itu.
Wajahnya sudah pucat seperti mayat. Untuk kedua kalinya dia merasa putus harapan. Tapi di dalamnya, ada sebuah dendam menggelora yang sudah memberikan kekuatan pada detik terkahirnya.
Pendekar tua selamat dari maut. Namun siapa sangka, serangan susulan sudah tiba pula.
Dengan gerakan sedemikian rupa, akhirnya sebuah sinar merah keluar dari pedangnya. Dia mengibaskan pedang tersebut sekuat tenaga.
Dan hasil yang dihasilkan pun cukup dahsyat. Sebuah angin besar segera menerkam tubuh Li Feng.
Sayangnya kibasan itu tidak cukup sama sekali. Apalagi saat ini Li Feng sudah berlaku serius.
"Menembus Hujan Badai…"
"Wushh …"!
Li Feng bergerak secepat kilat. Tahu-tahu dia sudah ada di depan tubuh pendekar tua tersebut.
Tusukan dan sabetan pedang kembali terlihat. Sinar itu begitu terang dan mengeluarkan suara gemuruh menakutkan. Si pendekar tua cukup kewalahan, tapi dia segera dapat mengimbanginya dengan jurus-jurus dahsyat juga.
Tiga puluh sembilan jurus terlewati. Pertarungan semakin lama semakin menakutkan. Kilatan cahaya dari serangan dua pendekar memenuhi langit. Gemuruh yang tercipta mampu membuat para binatang ketakutan.
Pada jurus ke empat puluh satu, Li Feng mengubah gaya serangnya. Dia membentak nyaring lalu pedangnya segera berkelebat menyambar lawan.
Sebuah cahaya memanjang membawa kabar kematian. Dua jurus berikutnya, Pedang Hijau Daun telah menembus jantung si pendekar tua.
Darah muncrat dari mulutnya. Begitu Pedang Hijau Daun dicabut, saat itu juga dia roboh ke tanah.
Sepanjang jalannya pertarungan, Li Cun melihat pertarungan 'kakaknya' itu tanpa berkedip. Bocah itu dibuat terpukau olehnya.
Tempat sekitar kembali sunyi sepi. Tak ada lagi suara pertarungan. Tak ada lagi bentakan dahsyat. Yang ada hanyalah puluhan nyawa tewas mengerikan.
"Kakak, apa yang kita lakukan selanjutnya?" tanya Li Cun.
"Kita harus segera ke perguruan tadi. Waktu sudah hampir malam," ucap Li Feng.
__ADS_1
"Baik,"
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang,"