
Sepuluh orang prajurit penjaga itu langsung mengambil sikap waspada pada saat melihat kedatangan dua orang asing tersebut. Penjagaan Kekaisaran Sung sangat ketat, siapapun yang akan masuk ke wilayah Kotaraja, apalagi orang asing, pasti akan ditanyai berbagai macam pertanyaan.
"Biar aku yang bicara dengan mereka. Kau diam saja," bisik Ah Kui kepada Chen Li.
Pemuda itu hanya mengangguk perlahan. Sedikitpun dia tidak memberikan jawaban. Chen Li cukup mengerti bagaimana posisinya saat ini.
"Siapa kalian?" tanya seorang prajurit penjaga kepada Ah Kui.
"Namaku Ah Kui, aku datang dari Kota Qinghai," jawab Ah Kui dengan sopan sambil melemparkan sebuah senyuman hangat bersahabat.
"Ada keperluan apa kalian ingin memasuki Kotaraja ini?"
"Ada suatu urusan pribadi yang tidak mungkin bisa aku ceritakan,"
"Bisa kau tunjukkan bukti kependudukan?"
"Bisa,"
Ah Kui segera merogoh sebuah lencana tanda kependudukan asli Kekaisaran Sung. Lencana itu tampak biasa, setiap warga penduduk Kekaisaran Sung, pasti mempunyai lencana tersebut.
Prajurit yang memeriksa tanda kependudukan Ah Kui mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.
"Lalu dia siapa? Apakah dia juga sama penduduk asli Kekaisaran Sung?" tanyanya sambil melirik kepada Chen Li.
"Dia keponakanku. Datang dari jauh dan kemari karena sengaja aku bawa,"
"Dia tidak bisa masuk," tegas prajurit tersebut.
"Aku sudah membawanya jauh-jauh, dia ingin menyaksikan keindahan dan kemegahan Kotaraja Kekaisaran Sung. Untuk kali ini, mohon beri kemudahan kepadanya," pinta Ah Kui.
Prajurit tersebut tampak bersikeras. Dia tetap tidak membiarkan Chen Li masuk ke Kotaraja.
Ah Kui tidak kebingungan, dia kemudian mengeluarkan satu kantong kecil keping perak dari Cincing Ruang miliknya, lalu orang tua tersebut segera memberikannya kepada si prajurit secara sembunyi-sembunyi.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah sekarang dia boleh masuk?" tanyanya setengah berbisik.
"Hemm, tentu saja boleh. Hayo cepat masuk, kasihan mereka yang menunggu sejak tadi," ujar prajurit tersebut menggiring Ah Kui sambil memegangi pundaknya.
Ah Kui tersenyum, dia melirik kepada Chen Li lalu segera mengajaknya masuk ke dalam.
"Ternyata mereka juga sama," bisik Chen Li setelah keduanya berjalan masuk ke dalam Kotaraja.
"Siapapun pasti membutuhkan uang," jawab Ah Kui tertawa.
Di dunia ini, manusia mana yang tidak membutuhkan uang? Di atas muka bumi ini, siapa yang tidak ingin mendapatkan uang dengan cara sangat mudah?
Siapapun pasti ingin. Bukan hanya mereka, bahkan mungkin kitapun sama.
Keduanya mulai berjalan menyusuri Kotaraja Kekaisaran Sung. Kalau dari jauh saja sudah tampak indah dan megah, apalagi kalau dari dekat?
Tak bisa dipungkiri, Chen Li sendiri merasa terkagum-kagum oleh keindahan dan kemegahan Kotaraja ini. Hidup di Lembah Ketenangan selama beberapa tahun ini sungguh amat menyiksa dirinya.
Usia dua puluhan tahun adalah usia di mana saat seseorang sedang banyak rasa ingin tahunya. Rasa penasaran akan suatu hal baru sedang mencapai puncaknya.
Kalaupun pernah, mungkin pemuda tersebut sudah lupa. Karena terkahir kali dia hidup bebas berkelana adalah sebelum terjadi perang terbesar di Kekaisaran Wei, dan pada waktu itu usianya sangat belia. Berbeda dengan sekarang di mana dirinya sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa.
Mengingat semua kenangan yang terjadi selama hidupnya, Chen Li jadi teringat tanah kelahirannya sendiri.
Apa kabar Kekaisaran Wei? Apa kabar orang-orang di sana? Apakah tempat lahirnya masih indah seperti dulu? Masih sama? Masih menyimpan sejuta kenangan bahagia? Atau malah justru sebaliknya?
Meskipun waktu sudah larut malam, namun keadaan di Kotaraja itu masih sangat ramai. Bahkan semakin malam malah semakin ramai orang-orang yang berkeliaran. Ah Kui banyak menjelaskan beberapa hal kepada pemuda tersebut.
Mereka sesekali berjalan berdesak-desakan dengan para warga setempat atau bahkan para pelancong yang sengaja jauh-jauh datang ke Kotaraja tersebut.
"Di mana markas pusat Organisasi Elang Hitam?" tanya pemuda itu di sela-sela mereka berjalan santai.
"Di tengah-tengah kota. Sebentar lagi kita akan segera ke sana. Tapi aku minta kepadamu jangan langsung bergerak," ucap Ah Kui mengingatkan.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" tanya Chen Li tiba-tiba merasa menjadi orang bodoh.
Apakah saat seseorang merasa bahagia, dia bisa mendadak menjadi bodoh?
"Aii, kau ini bagaimana? Tentu saja sebelum bergerak, kita harus mempersiapkan dulu semuanya. Kita mesti menyusun langkah apa saja yang harus dilakukan," kata Ah Kui sedikit gemas saat mendengar pertanyaan Chen Li.
Pemuda menepuk keningnya sendiri. Dia seperti orang yang baru saja sadar dari mimpi indahnya.
"Aihh, kau benar. Kenapa aku tiba-tiba seperti orang bodoh," katanya sambil tertawa getir.
Ah Kui tidak menjawab. Sejatinya perkataan Chen Li barusan tidak membutuhkan sebuah jawaban. Alasannya karena jawaban itu hanya diketahui oleh Pendekar Tanpa Perasaan sendiri.
Memasuki Kotaraja lebih dalam, keduanya disuguhkan dengan berbagai macam gedung-gedung mewah yang berjejer dengan rapi. Penjagaan di dalam pun semakin ketat. Hampir di setiap sudut tempat terdapat tentara Kekaisaran.
Beberapa bangunan megah yang dijadikan sekte mulai terlihat. Semuanya termasuk ke dalam sekte kelas atas. Meskipun jarak satu sekte dengan sekte lainnya terbilang cukup jauh, namun setiap orang-orangnya dapat melihat satu bangunan sekte dengan bangunan sekte lainnya.
"Apakah semua bangunan megah ini merupakan sekte golongan putih?" tanya Chen Li penasaran.
"Tidak semuanya golongan putih. Yang tadi kita lewati dikhususkan untuk sekte golongan hitam, yang sekarang sedang kita jelajahi dikhususkan untuk sekte golongan putih. Dan di depan sana, ada lagi satu wilayah yang sengaja dikhususkan untuk para golongan tengah," kata Ah Kui menjelaskan.
Pendekar Tanpa Perasaan menganggukkan kepalanya beberapa kali, sedikit banyaknya sekarang dia sudah mulai mengerti.
Ternyata Kotaraja Kekaisaran Sung benar-benar merupakan pusat para pendekar.
"Tiga golongan ditempatkan di wilayah yang bisa dibilang berdampingan, apakah mereka tidak pernah berselisih?"
"Berselisih sudah pasti. Hanya saja setiap dari golongan sudah melakukan perjanjian bahwa mereka tidak akan melakukan kekacauan di Kotaraja ini. Kalau di antara mereka ada yang berselisih, maka mereka akan mencari tempat untuk menyelesaikannya. Kecuali kalau perselisihan itu sudah memuncak, maka ceritanya bakal lain lagi,"
Untuk kesekian kalinya Chen Li dibuat terkagum-kagum dengan Kotaraja yang sekarang sedang dia pijaki. Selain itu, mau tak mau Chen Li juga harus memuji jalannya pemerintahan Kekaisaran di sini.
Alasannya karena sangat jarang ada pemerintah yang dapat menyatukan sebuah golongan besar di wilayah yang berdekatan.
Biasanya, jangankan di Kekaisaran lain, bahkan di Kekaisaran Wei sendiri, setahu Chen Li hal yang berlaku di sini, justru tidak berlaku di tempat lain. Di Kekaisaran Wei justru letak satu sekte ke sekte lainnya sangat berjauhan. Perduli apakah itu satu golongan atau berbeda golongan, yang jelas letaknya pasti tidak berdekatan.
__ADS_1
Tujuannya mungkin demi menghindari sebuah perselisihan.
"Kekaisaran Sung memang berbeda dengan Kekaisaran lainnya," gumam pemuda itu.