Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Tempat Rahasia Sekte Bulan Merah


__ADS_3

"Aku ingin memasuki tempat terlarang Sekte Bulan Merah," kata Chen Li tanpa basa-basi.


Ucapan itu ternyata kembali membuat lawan bicaranya terkejut. Mereka merasa kesal, tapi tidak tahu harus bertindak bagaimana.


"Maaf, kalau boleh tahu kenapa kau ingin memasuki tempat terlarang di sekte kami?" tanya salah seorang dari Dua Penguasa Bulan.


"Aku ingin mencari Tuan Tiong Jong. Sekalian mencari juga jejak kepala tetua sekte kalian,"


Mendengar nama kepala tetuanya disebut, keduanya segera menunjukkan ekspresi gembira. Apalagi Yun Jianying. Dia sangat ingin mengetahui kabar ayahnya tersebut.


"Benarkah kau dapat menemukan Ayahku?" tanyanya cepat.


"Aku tidak bisa memberi kepastian. Tapi aku berani menjamin kalau sampai Tuan Tiong Jong ditemukan, maka ayahmu juga ditemukan,"


Yun Jianying tampak berpikir beberapa saat. Begitu pula dengan tiga orang sisanya.


"Baiklah kalau begitu. Mari ikut aku," katanya.


Wushh!!! Wushh!!!


Empat bayangan melesat lebih dulu. Kecepatan mereka terbilang tinggi, terlebih lagi tiga orang tua yang bersama Yun Jianying. Tapi Chen Li terkejut pada saat melihat ilmu meringankan tubuh gadis itupun ternyata sudah lumayan.


Namun meskipun begitu, dia tidak mau banyak bicara.


Chen Li tetap membuntuti keempat orang itu bersama Phoenix Raja. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara di antara mereka.


###


Bangunan di depan sana sangat mewah. Di atas bangunan ada sebuah patung berbentuk bulan berwarna merah.


Merah darah. Merah yang membawa keangkeran bagi setiap orang yang memandangnya.


Ratusan murid sekte sedang berlatih di halaman yang sangat luas. Yun Jianying bersama Chen Li dan yang lainnya berjalan dengan tenang. Pemuda itu tidak melirik ke kiri maupun kanan.


Tatapan matanya tetap lurus ke depan. Seolah apapun yang terjadi tidak akan mampu untuk membuat kepalanya berpaling.


Yun Jianying berjalan paling depan, saat gadis itu lewat, semua orang yang terdapat di sana segera bersujud memberikan hormat kepadanya.


Di lihat dari kejadian ini, jelas bahwa peraturan di Sekte Bulan Merah sangat ketat. Mereka sangat menjunjung tinggi pemimpinnya.

__ADS_1


Yun Jianying membawa Chen Li dan Phoenix Raja ke belakang sekte. Jumlah mereka masih sama. Dua Penguasa Bulan dan satu anggota yang tersisa dari Empat Pedang Bulan Merah pun turut serta.


Bagian belakang Sekte Bulan Merah ternyata sebuah hutan belantara yang sangat luas dsn menyeramkan. Pohon yang sangat tinggi memenuhi setiap sudut hutan tersebut.


Di cuaca yang masih mendung karena sehabis hujan, suasana di sana jauh lebih menyeramkan lagi.


Sejauh ini, belum ada satupun yang bicara di antara mereka. Orang-orang itu memilih untuk diam dengan pikirannya masing-masing.


Setelah beberapa waktu menempuh perjalanan berliku, akhirnya mereka tiba di sebuah goa tua yang terawat. Dua orang murid Sekte Bulan Merah berjaga di tempat tersebut.


Wushh!!!


Crashh!!! Crashh!!!


Tiba-tiba sinar merah berkelebat. Disusul kemudian dengan dua kepala manusia langsung menggelinding jatuh ke tanah. Sinar merah hanya satu kali berkelebat, tapi sudah sanggup menebas dua kepala manusia.


Yun Jianying terkejut. Tiga orang lainnya juga sama.


Awalnya mereka merasa penasaran, tapi setelah melihat bahwa ujung pedang yang digenggam oleh Pendekar Tanpa Perasaan mengucurkan darah segar, orang-orang itu tidak berkata apapun lagi.


Mereka telah mengerti bahwa pemuda itu yang membunuh dua murid penjaga. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa dia membunuhnya?


Empat orang itu tidak bertanya lagi. Perkataan pemuda serba putih tersebut sungguh masuk akal. Oleh sebab itulah Yun Jianying dan yang lainnya hanya mampu menelan ludah tanpa bicara.


Mereka masuk ke dalam goa hingga ke ujungnya. Gadis itu langsung menekan batu yang ada di dinding goa. Mendadak seluruh tempat itu bergetar hebat seperti dilanda gempa bumi.


Beberapa saat kemudian, sebuah jalan rahasia muncul di bawah sebelah depan sana.


"Ikuti aku dari belakang," kata Yun Jianying.


Gadis tersebut mulai masuk ke bawah. Ternyata di sana juga ada anak tangga. Kemudian ada lorong yang panjang.


Lorong itu tidak besar. Mungkin lebarnya hanya sekitar satu meter saja. Hawa di sana sangat pengap sebab tidak ada ventilasi udara.


Lorong tersebut pun berliku-liku. Semakin dalam semakin pengap. Juga semakin gelap.


Lima belas menit kemudian, lorong yang sempit berubah menjadi besar. Ruangan itu cukup luas, di sana ada beberapa ruangan. Termasuk dua buah penjara bawah tanah.


"Inilah tempat terlarang di Sekte Bulan Merah. Selain Ayahaku, jangan harap ada orang lain yang bisa kemari. Di ruangan inilah para leluhur Sekte Bulan Merah melakukan pertapaan untuk melebur dirinya. Di sebelah kiri, setelah berjalan beberapa puluhan tombak ada makam. Di sana lah tempat pemakaman bagi para petinggi sekte," jelas Yun Jianying sambil memandang ke arah Chen Li.

__ADS_1


"Terimakasih, aku mengerti. Apakah aku boleh mencari di setiap ruangan?" tanya Pendekar Tanpa Perasaan.


"Silahkan," jawab gadis itu tanpa ragu.


Chen Li mulai mencari ke setiap ruangan yang ada di sana. Begitu juga dengan Phoenix Raja. Pencarian mereka tidak menemukan apapun, padahal hampir seluruh tempat yang ada di ruangan bawah tanah itu sudah diperiksa.


Tinggal satu tempat lagi yang belum diperiksa oleh Chen Li dan Phoenix Raja. Tempat itu sebuah ruangan besar yang ditutup oleh batu hitam.


Batunya juga besar. Chen Li tahu, batu itu adalah pintu untuk masuk ke sana. Tapi bagaimana caranya agar dia masuk?


Menghancurkan batu tersebut? Tidak, tidak mungkin. Dia tidak mau membuat kerusakan di sana.


Bagaimanapun juga, dirinya masih tahu tatakrama.


"Bagaimana, apakah kau berhasil menemukan orang yang dicari?" tanya Yun Jianying.


"Belum, padahal sudah semua tempat aku periksa. Tapi hasilnya nihil,"


"Apakah tidak ada di sini?"


"Pasti ada. Aku curiga kepada ruangan yang ada di depan sana," kata Chen Li sambil menunjuk ke depan.


"Kalau menurutmu Tuan Tian Jong dan Ayahku ada di dalam sana, silahkan saja periksa. Aku tidak akan melarang,"


"Baik. Terimakasih,"


Chen Li mulai berjalan ke sana seorang diri. Tapi belum sempat dirinya mencapai tempat tujuan, tiba-tiba saja Phoenix Raja berteriak.


"Awas Tuan muda …"


Wushh!!! Wushh!!!


Puluhan batang senjata rahasia berupa pisau kecil melesat dari arah kanan dan kiri. Di susul kemudian dengan datangnya ratusan jarum energi yang tiada hentinya dari arah depan sana.


Empat pedang energi mendadak muncul pula dari arah belakang.


Semua penjuru telah dipenuhi oleh senjata energi. Semuanya keluar hampir secara bersamaan.


Untungnya Chen Li bertindak secepat kilat. Begitu dirinya mendengar teriakan Phoenix Raja, dia segera mengeluarkan kekuatan Mata Dewa untuk melindungi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2