
Sebenarnya si Jendral Besar dari Selatan tidak terima atas perkataan Shin Shui yang sangat pedas itu. Seumur hidup, baru kali ini ada orang yang berani bicara lancang terhadapnya.
Ucapan Pendekar Halilintar barusan, sungguh lebih pedas daripada mulut tetangga.
Tetapi untuk membalasnya, Jendral Besar harus berpikir beberapa kali sebelum bertindak. Walaupun kekuatan dia sendiri sudah mencapai Pendekar Dewa tahap tujuh awal, tapi itu semua masih belum cukup untuk menandingi Pendekar Halilintar.
Dia sadar diri bahwa kekuatannya belum sebanding dengan Shin Shui. Karena alasan tersebut, sebisa mungkin Jendral Besar dari Selatan berusaha untuk bicara setenang mungkin.
"Maaf tuan pendekar, kenapa kau berkata seperti itu? Bukankah sebelumnya kita tidak pernah ada urusan? Bahkan bertemu pun baru kali sini saja," ucap Jendral Besar dari Selatan mencoba menahan emosi.
Shin Shui tersenyum sinis. Senyuman yang sangat membuat orang kesal. Siapapun yang menjadi sasaran senyuman itu, maka orang tersebut pasti akan merasa amarah naik ke ubun-ubun.
Jika sasarannya tidak marah, kalau bukan orang berbudi luhur, mungkin orang tersebut merupakan orang yang sudah mati.
"Kau benar. Kita baru bertemu kali ini saja. Tetapi kalau bicara tidak mempunyai masalah denganku, kau sudah melakukan kesalahan besar. Siapapun yang mengganggu Kekaisaran Wei, maka orang itu akan berurusan denganku," kata Shin Shui.
Nadanya tegas, berwibawa dan membawa pengaruh seorang pemimpin besar.
"Jadi maksudmu, kau menganggapku musuh?"
"Lebih dari pada musuh,"
"Lalu, apa maumu?" tanya Jendral itu sudah tidak bisa menahan amarah.
"Kalau bukan membunuhmu? Apalagi?"
Selesai berkata, Pendekar Halilintar langsung bergerak dengan sangat cepat. Hanya dalam satu kedipan mata saja, dia telah menghilang dari pandangan.
Satu kedipan kemudian, Shin Shui sudah berada tepat di hadapan Jendral Besar dari Selatan.
Kalau orang lain yang menjadi lawannya, niscaya dia tidak akan sanggup untuk mengelak dari serangan pertama Shin Shui yang berupa pukulan kejam tersebut.
Untungnya, Jendral Besar dari Selatan bukan orang lain. Tidak percuma juga dia menjadi Jendral selama puluhan tahun ini.
Kekuatannya tentu sudah di atas rata-rata. Mendapati serangan tiba-tiba, tubuhnya secara refleks langsung mengelak ke pinggir sambil melancarkan serangan balasan.
Sebuah sinar hitam melesat cepat menyambar Shin Shui. Sinar tersebut mengandung bau busuk.
Kalau sampai Shin Shui terkena serangan sinar itu, maka dapat dipastikan tubuhnya akan melepuh.
__ADS_1
Untungnya Pendekar Halilintar telah siap atas segala kemungkinan hal yang akan terjadi. Dia langsung mengibaskan tangan kirinya sehingga mendadak muncul sinar biru yang menjadi tameng.
Sinar hitam langsung lenyap saat mengenai pelindung berwarna biru milik Shin Shui. Jendral Besar dari Selatan semakin terkejut.
Sinar hitam tersebut walaupun hanya satu buah, tetapi sudah cukup untuk membunuh beberapa Pendekar Surgawi tahap tiga.
Jadi bisa diperkirakan kekuatan yang ada di dalamnya memang cukup lumayan.
Sayangnya, Pendekar Halilintar tidak lembek. Dia jantan dan bermental baja.
Bukan seperti pria yang malu untuk mengungkapkan cintanya kepada sang kekasih.
Setelah sinar hitam tadi tersedot oleh tameng berwarna biru milik Shin Shui. Tiba-tiba dari tameng tersebut melesat kembali selarik sinar yang sama.
Bentuknya memang sama. Tetapi kekuatan dan efeknya, sangat jauh berbeda.
Jendral Besar dari Selatan semakin terkejut. Dia tidak menyangka bahwa ada orang yang bisa mengembalikan jurusnya seperti barusan.
Sebisa mungkin dia menghindari jurusnya sendiri yang dilancarkan oleh lawan. Pria kekar itu melenting tinggi ke atas berniat untuk mengirimkan serangan balasan lagi.
Dua sinar merah tua keluar dari telapak tangannya meluncur ke arah Pendekar Halilintar. Cahayanya mampu membuat malam menjadi terang untuk beberapa saat.
Lima pedang energi langsung tercipta dan sengaja dia benturkan dengan jurus lawan.
"Blarrr …"
Benturan keras terjadi lagi beberapa kali. Halaman luas mulai mengalami kerusakan. Jurus kedua tokoh tersebut memang jurus dahsyat. Sehingga bisa menghancurkan segala yang ada di sekitarnya.
Jendral Besar dari Selatan terpental lima langkah ke belakang.
"Kekuatannya sungguh luar biasa. Kalau seperti ini, maka aku harus mengeluarkan kekuatanku yang sesungguhnya," gumamnya sambil mengeluarkan tenaga dengan jumlah besar.
Kekuatan dahsyat segera merembes keluar dari tubuh Jendral Besar dari Selatan. Sekarang seluruh tubuhnya telah diselimuti oleh sinar merah tua yang bercahaya.
Di belakangnya ada sepasang sayap cukup besar.
Sepertinya dia memang ingin mengadu nyawa dengan Pendekar Halilintar.
Di sisi lain, dua puluh pengawalnya tiba-tiba bergerak menyerang Shin Shui. Tujuannya tentu ingin membantu tuan mereka.
__ADS_1
Hanya saja, sebelum kedua puluh orang tersebut mengenai sasaran, ada sepuluh bayangan yang menghadang mereka.
Sepuluh pendekar yang menghadang tersebut adalah para Tetua Sekte Bukit Halilintar dan beberapa Tetua Sekte Serigala Putih yang dipimpin oleh Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.
"Kalian pikir bisa menyentuh Pendekar Halilintar? Hemm, jangan bermimpi," kata Huang Taiji Li si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.
Kedua puluh orang pengawal Jendral Besar dari Selatan terlihat tidak senang. Tanpa banyak basa-basi lagi, mereka secara serempak langsung menyerang sepuluh tokoh yang berada di pihak Pendekar Halilintar.
Dua puluh pengawal segera melancarkan serangan pertama dengan jurusnya masing-masing.
Dua puluh melawan sepuluh. Itu artinya, pihak Shin Shui harus melawan dua orang sekaligus. Tapi hal tersebut bukanlah masalah bagi mereka, apalagi kekuatan lawan sudah dapat terukur.
Walaupun untuk sebagian orang mungkin sedikit susah, tapi mereka masih yakin mampu mengalahkannya walaupun membutuhkan waktu cukup lama.
Huang Taiji Lu langsung bergerak diikuti sembilan tokoh di belakangnya. Masing-masing sudah memilih lawan yang sesuai.
Pendekar Pedang Tombak memilih lawan terkuat di antara dua puluh pendekar. Kedua lawan menggunakan senjata berupa kapak kembar dan busur yang terbuat dari batu giok.
Huang Taiji Lu langsung mencabut senjata andalannya.
Pedang Tombak Surga Neraka.
Senjata unik tersebut segera melancarkan serangan pertama berupa tusukan dan sabetan dalam sekali serang.
Hanya satu kali bergerak, dua serangan langsung dia lancarkan.
Dua lawannya menerima serangan tersebut menggunakan masing-masing senjata.
Benturan logam keras terjadi. Percikan api membumbung tinggi ke udara. Ketiganya langsung bertarung sengit di dalam gulungan sinar yang mereka ciptakan. Jurus demi jurus mulai dikeluarkan.
Sementara itu, sembilan tetua yang lain juga sudah mendapatkan masing-masing lawan.
Sebelas pertempuran hebat terjadi di Sekte Serigala Putih. Semua tokoh yang terlibat dalam pertarungan, merupakan para pendekar yang sudah mempunyai nama di dunia persilatan.
Benturan keras terdengar silih berganti memecahkan keheningan malam. Berbagai macam sinar melesat tanpa henti.
Suara teriakan semakin terdengar membahana.
Shin Shui sekarang sedang bertarung sengit melawan Jendral Besar dari Selatan.
__ADS_1
Kedua tokoh kelas atas tersebut tersebut mengeluarkan berbagai macam jurus yang sudah mereka kuasai.