
Wushh!!!
Wuttt!!! Wutt!!! Wutt!!!
Nenek Pedang Tunggal segera mencabut pedang pusakanya lalu melancarkan beberapa kali tebasan begitu senjata itu keluar. Tebasannya dibarengi dengan segala macam perasaan sehingga menambah daya kekuatan dalam serangan tersebut.
Huang Taiji memiringkan tubuhnya lalu melompat mundur untuk membebaskan diri dari serangan tersebut.
Wushh!!!
Nenek Tunggal Pedang tidak berlama-lama lagi. Dia sudah melesat sambil melancarkan sebuah tusukan hebat yang mengarah ke jantung lawan.
Trangg!!!
Saat pedangnya tinggal satu jengkal ke sasaran utama, Huang Taiji sudah mencabut pula pusakanya.
Pedang Tombak Surga Neraka.
Kedua pusaka kelas atas itu menempel tidak bisa dilepaskan. Nenek Pedang Tunggal terkejut untuk yang kesekian kalinya karena dia tidak mampu menarik kembali pedangnya.
Bukk!!!
Huang Taiji melayangkan tendangan yang mengenai dada si wanita tua itu dengan telak. Tubuhnya terdorong mundur ke belakang sambil tetap memegang erat pedang yang tiba-tiba bisa lepas tersebut.
Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding menjejakkan kakinya ke tanah. Dia meluncur deras sambil memberikan tusukan maut menggunakan ujung mata tombaknya.
Desiran angin tajam turut menerjang si nenek tua. Datangnya serangan itu sangat tiba-tiba dan tidak pernah diduga sebelumnya.
Nenek Tua Pedang Tunggal bergulingan di tanah beberapa kali berusaha menyelamatkan dirinya. Setelah beberapa kali bergulingan, tiba-tiba dia melompat lalu memberikan tebasan jarak jauh.
Wushh!!!
Sinar hitam berkelebat menyerang ke arah Huang Taiji.
Blarr!!!
Benturan dahsyat terdengar. Bumi sedikit bergetar dibuatnya. Sekarang mereka telah saling serang lagi. Kilatan dua pedang memenuhi alam raya. Dua tokoh dunia persilatan melancarkan jurus mautnya secara bergantian.
Nenek Pedang Tunggal berada dalam posisi bertahan. Seluruh serangannya gagal dilancarkan akibat serangan Huang Taiji datang tiada hentinya.
Pertarungan dua orang tua itu sudah sampai belasan jurus. Serangan mereka bertambah hebat. Jurus yang dikeluarkan lewat senjata pusaka itu juga sangat dahsyat. Setiap serangan ataupun jurusnya masing-masing mungkin dapat mencabut puluhan nyawa manusia biasa sekaligus.
__ADS_1
Huang Taiji mencecar lawan dengan ganas. Dia seperti seekor harimau tua yang sedang marah besar. Baik tusukan tombak maupun tebasan pedangnya, dia layangkan dengan segenap kemampuan.
Lebih dari setengah tenaga dalamnya telah dikeluarkan sehingga menambah seram sepak terjang pria tua itu. Dia tidak berhenti menyerang ke arah lawan. Seluruh titik penting di tubuh manusia menjadi sasaran utama dalam setiap serangannya.
Pedang berkelebat menebas. Ujung mata tombak melesat menusuk.
Puluhan jurus berlalu. Nenek Pedang Tunggal semakin berada di posisi yang tidak diuntungkan. Selama ini, wanita tua itu hanya mampu bertahan dan membalas serangan jika ada kesempatan.
Wushh!!! Trangg!!!
Nenek Pedang Tunggal terpental jauh ke belakang. Dia mengalami luka dalam yang cukup parah. Mulutnya beberapa kali memuntahkan darah segar.
Dia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa Huang Taiji mempunyai kekuatan yang demikian mengerikan. Baru sekarang dia salah menilai kekuatan lawannya.
Nenek Pedang Tunggal merasa malu sekaligus marah. Secara tidak langsung dia telah menelan ludahnya sendiri. Sebelumnya, wanita tua itu sempat menyombongkan dirinya bahwa Huang Taiji bukanlah lawannya.
Tak disangka, yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Malah dia sendiri yang bukan tandingan pria tua itu.
Huang Taiji tidak mau memberikan hati lagi, dia sudah bertekad untuk menurunkan tangan keras kepada manusia seperti Nenek Pedang Tunggal.
"Menyapu Ombak Membelah Samudera …"
Wushh!!!
Gelegar!!!
Suara dentuman yang sangat keras terdengar menggelegar. Bumi terasa bergetar hebat. Debu mengepul tinggi menghalangi pandangan semua orang yang ada di sana.
Saat semuanya sudah kembali seperti semula, Huang Taji, Chen Li dan Huan Ni Mo dibuat terkejut setengah mati.
Dua sosok bayangan telah berdiri di hadapan mereka. Yang satu sudah mereka kenali, tapi yang satu lagi, belum sama sekali.
Orang yang baru bertemu itu memakai pakaian serba hitam. Jubah hitamnya berkibar dengan megah tertiup angin yang membawa hawa panas. Orang tersebut berdiri dengan tenang, wajahnya menggambarkan kebencian yang mendalam.
Matanya menatap tajam seperti mata pisau. Kedua tangannya di taruh di belakang.
Huang Taiji yang paling terkejut di antara dua orang lainnya. Jurusnya yang dikeluarkan lebih dari setengah kekuatan, ternyata mampu ditahan lawan. Bahkan dia sendiri tidak tahu bagaimana orang itu menahannya.
Biasanya, jika Huang Taiji mengeluarkan tenaga sebesar itu, siapapun lawannya tidak akan sanggup berdiri dengan tenang lagi. Minimal orang itu akan terlempar ataupun terdorong beberapa langkah jika memang lawannya tangguh.
Tapi tampaknya hal di atas tidak berlaku bagi manusia berpakaian hitam yang ada di hadapannya saat ini. Orang itu benar-benar berdiri dengan tenang serta kokoh. Tidak bergeser sedikitpun.
__ADS_1
Siapa orang itu? Apakah kekuatannya sangat hebat sehingga dia bisa melakukan hal mustahil ini?
Huang Taiji hanya tersenyum simpul. Siapapun dia, pria tua itu tidak akan gentar sedikitpun.
Angin berhembus lirih menerpa tubuh. Pakaian semua orang yang ada di sana berkibar pelan. Matahari semakin naik tinggi dan sinarnya mulai terasa panas menyengat kulit.
Mereka masih berdiri dalam diam. Tidak ada satu orangpun yang berani bicara. Mulut mereka tidak bicara. Tapi matanya lah yang bicara.
"Sungguh hebat, kekuatan yang sangat luar biasa. Entah siapakah Tuan besar ini, mohon maaf jika aku yang rendah tidak dapat mengenali," kata Huang Taiji tersenyum sambil merendah.
Dia berusaha untuk tetap selalu tenang. Apapun yang terjadi, masalah apapun yang dihadapinya, dia harus berusaha untuk tetap tenang.
"Aku Naga Hitam Bersayap Delapan," jawabnya dengan dingin.
Huang Taiji mengangguk pelan. Sementara Huan Ni Mo tersentak, dia pernah mendengar tentang nama itu. Apalagi di daerahnya sendiri, nama Naga Hitam Bersayap Delapan benar-benar membawa ketakutan tersendiri.
"Entah angin apakah yang membuat Tuan Naga Hitam datang kemari," ujar Huang Taiji tenang.
Si Naga Hitam memandangnya semakin tajam. Senyuman sinis dia lemparkan dengan jelas.
"Kau yang sudah membunuh empat orang tua di hutan sebelumnya?"
"Benar,"
"Apakah kau juga melukai seorang bocah kecil yang ada bersama mereka?"
"Tidak, bukan aku yang melakukannya,"
"Lantas siapa?"
"Aku," Chen Li mendadak menjawab. Dia langsung melangkah ke depan dan berdiri tenang di samping Huang Taiji.
Tatapan mata Naga Hitam Bersayap Delapan memandang Chen Li lebih tajam lagi. Selapis hawa pembunuhan merembes keluar dari tubuhnya.
"Jadi kau yang sudah melukai anakku sehingga dia mengalami luka parah?"
"Hemm, hal itu karena anakmu saja yang memang lemah," jawab Chen Li datar.
Meskipun dia sedang berhadapan dengan tokoh besar, Chen Li akan tetap bersikap seperti biasanya jika berhadapan dengan seorang musuh.
Siapapun orangnya, selama dia bertentangan, maka bocah itu akan tetap berlaku sama.
__ADS_1