
Wushh!!!
Segulung angin dahsyat menerbangkan debu dan membuatnya bertumpuk menjadi satu. Jubah megah Chen Li pun turut berkibar. Rambut panjangnya juga sama.
Tapi sepasang kakinya tidak bergeser. Sepasang kaki itu masih tetap berdiri dengan kokoh di tempatnya semula.
Sesaat kemudian, enam orang tua berpakaian serba hitam telah berdiri dalam jarak belasan langkah di depa Pendekar Merah.
Wajah enam orang itu sangat sangar. Tubuh mereka juga selalu memancarkan aura kegelapan cukup pekat. Sepasang matanya memandang tajam dan penuh dendam ke arah Pendekar Merah.
Chen Li tersenyum sinis. Orang-orang yang dicari telah berdiri di depan mata. Niatnya untuk menghancurkan markas Organisasi Elang Hitam sekaligus membunuh semua anggotanya, sebentar lagi mungkin akan tercapai.
"Aku Pendekar Merah," jawabnya dingin.
"Apakah sebelumnya kita mempunyai masalah?" tanya seorang di antara enam tokoh tersebut.
Usianya sekitar enam puluhan tahun. Wajahnya sudah tampak tua, bahkan keriput juga sudah terlihat. Hanya saja meskipun begitu, dia masih tampak gagah perkasa. Apalagi tatapan sepasang matanya.
Tatapan itu sangat tajam seolah mampu menembus apapun yang di lihatnya.
"Tidak sama sekali,"
"Kalau tidak punya masalah sebelumnya, kenapa saudara justru menyerang markas kami?" tanyanya lebih lanjut.
Dia masih mencoba menahan amarah yang menggebu dalam dirinya. Sebagai seorang tokoh tua, sudah pasti dia paham betul bahwa pendekar muda yang ada di hadapannya ini bukanlah pendekar biasa.
Menurut penilaiannya, kalau tidak mempunyai latar belakang istimewa, pendekar muda itu sudah pasti mempunyai kekuatan yang sulit dibayangkan.
Kalau bukan karena kedua hal di atas, bagaimana mungkin dia mempunyai nyali untuk menyerang markas Organisasi Elang Hitam seorang diri?
Menyerang markas organisasi itu memang mudah. Tapi urusan yang akan dihadapi selanjutnya tentu tidak mudah. Siapa yang tidak mengetahui Organisasi Elang Hitam? Siapa pula yang tidak pernah mendengar tentang kebesaran namanya?
"Karena aku tidak suka kepada Organisasi Elang Hitam,"
"Masalah suka atau tidak suka, itu sudah menjadi hak setiap manusia. Hanya saja hal itu tidak bisa menjadi dasar alasan saudara untuk menyerang markas kami," ucap si orang tua itu masih belum terima karena markas Organisasi Elang Hitam diserang begitu saja.
__ADS_1
"Masalah terima atau tidak terima juga hal itu sudah menjadi hak setiap manusia. Alasanku menyerang markas kalian memang karena aku tidak suka melihat dan mendengar sepak terjang kalian yang semena-mena. Kalian mau terima atau tidak, itu bukan urusanku. Bagaimanapun juga, aku akan tetap menyerang kemari," jawab Chen Li tidak mau kalah.
Si orang tua dan lima rekannya merasa sangat geram. Seumur hidupnya, mereka baru bertemu dengan seorang pendekar muda yang amat sombong seperti pemuda di hadapannya sekarang.
Pemuda itu sangat angkuh. Dia sangat percaya diri seakan mampu melakukan apa saja di markas Organisasi Elang Hitam. Memangnya, siapa dia itu?
"Mulutmu sepertinya harus sedikit diberi pelajaran. Jangan pernah berpikir bahwa kau bebas melakukan apapun di tempat ini," teriak satu tokoh lainnya.
"Sayangnya kau bicara terlambat. Jauh sebelum kemari, aku justru sudah berpikir mampu melakukan apapun di tempat ini,"
"Omong kosong. Aku peringatkan kepadamu, pergi sekarang juga atau …"
"Atau apa?"
"Atau nyawamu akan melayang …"
"Aku kemari justru sedang mencari seseorang yang sanggup mencabut nyawaku," kata Pendekar Merah sengaja menyombongkan diri.
Mendengar ucapan yang semakin tinggi dan sombong itu, sontak enam orang tokoh tersebut semakin merasa geram. Bahkan puluhan anggota Organisasi Elang Hitam lainnya juga merasakan hal yang sama.
Mereka siap mencabut nyawa manusia yang bergelar Pendekar Merah.
"Sombong sekali ucapanmu itu nak. Kau tidak ingat bahwa dirimu masih bocah bau kencur? Kalau dibiarkan begitu saja, mungkin kau malah akan bertambah sombong. Sekarang, ingin aku lihat sampai di mana kekuatanmu yang sebenarnya,"
"Serang!!!" perintah orang tua yang sejak tadi bicara itu.
Tiga puluhan anggota Organisasi Elang Hitam yang sedari tadi sudah mengelilingi Pendekar Merah langsung bergerak lebih merapat. Kepungan mereka sangat rapat, sedikitpun tidak ada celah untuk melarikan diri.
Puluhan senjata tajam sudah digenggam dengan erat di tangan mereka masing-masing. Hanya satu kali perintah, mereka kemudian menyerang ke depan ke arah Pendekar Merah.
Wushh!!! Wushh!!!
Seorang demi seorang anggota organisasi sesat itu mulai berlompatan sambil melancarkan berbagai macam serangan. Bacokan dan tusukan datang dari arah yang tidak terduga.
Segala sisi telah dikurung. Segala penjuru sudah dikuasai oleh musuh.
__ADS_1
Pada saat puluhan serangan itu hampir mengenai tubuhnya, saat itu Chen Li langsung bergerak.
Pedang Merah Darah menunjukkan taringnya lagi.
Cahaya merah berkelebat bersamaan dengan jurus pukulan yang dilancarkan oleh tangan kiri Pendekar Merah.
Hawa pukulan itu terasa sangat dingin menusuk tulang belulang. Cahaya putih kebiruan tampak menyeruak sehingga menimbulkan satu gelombang kejut.
Blarr!!!
Sepuluh anggota terlempar. Tubuh mereka langsung membeku begitu menyentuh tanah. Sepuluh nyawa manusia tewas hanya dengan sekali serang.
Bersamaan dengan itu, Pedang Merah Darah juga bergerak. Tebasan yang didasari oleh tenaga dalam langit bumi menebarkan ancaman maut. Gerakannya sangat cepat dan ganas.
Empat kali pedang pusaka itu ditegaskan, lima belas nyawa telah melayang. Kepala mereka menggelinding. Ada juga yang terluka karena dadanya dirobek oleh ketajaman ujung Pedang Merah Darah.
Lima orang sisanya ingin menyerang Pendekar Merah dari belakang. Sayangnya sebelum niat itu terwujud, bocah tersebut sudah lebih dulu mengetahuinya.
Crashh!!! Slebb!!!
Tiga kepala terlempar puluhan tombak. Dua tubuh terpotong menjadi dua bagian hanya dalam waktu yang sangat singkat.
Banjir darah terjadi. Bau amisnya langsung tercium ke seluruh bagian markas Organisasi Elang Hitam.
Tiga puluh nyawa melayang hanya dalam waktu kurang dari lima belas jurus. Enam tokoh organisasi yang menyaksikan kejadian ini dibuat terkejut.
Anak buah mereka bukanlah orang sembarangan. Semuanya setara dengan Pendekar Surgawi tahap empat. Kalau di tilik sekilas, kekuatan mereka memang lumayan. Setidaknya gabungan kekuatan tiga puluh orang itu cukup untuk melawan seorang Pendekar Dewa tahap dua.
Tapi siapa sangka, tiga puluh orang itu justru tidak berarti apa-apa di hadapan seorang anak muda yang bergelar Pendekar Merah.
Enam tokoh tersebut masih berdiri mematung di tempatnya masing-masing. Mereka belum ada yang bergerak. Dalam hatinya, keenam orang tua itu merasa takut sekaligus kagum terhadap pemuda asing tersebut.
Namun di balik itu, dia juga merasa bingung. Kalau bertarung seorang demi seorang, sudah pasti mereka tidak akan menang. Kalau dikeroyok, sudah tentu hal itu akan menjadi bahan tertawaan jika sampai tersebar ke dunia luar.
Sementara itu, setelah membunuh tiga puluh anggota Organisasi Elang Hitam, Chen Li si Pendekar Merah lantas berdiri kembali di tempatnya dengan tenang.
__ADS_1